INVESTIGASI

Minum Miras Oplosan, Selamat, Minum Lagi, dan…

“Nggak menyangka meninggal. Pas pagi sempat ngobrol, ngobrolin temannya yang meninggal duluan.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 25 April 2018

Rumah Sakit Umum Daerah Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Sejak Jumat hingga Senin, 6-9 April 2018, rumah sakit itu secara berturut-turut menerima pasien keracunan. Bukan akibat keracunan makanan biasa, tapi karena menenggak minuman keras oplosan.

Jumat, 6 April 2018, menjelang sore, para perawat dan dokter di Instalasi Gawat Darurat RSUD Cicalengka sangat sibuk. Satu per satu pasien korban miras oplosan berdatangan. Bahkan, karena ruang IGD sudah penuh, pihak rumah sakit sampai mengeluarkan pelbet (kasur lipat) di lorong depan ruangan itu.

Banyak pengunjung yang heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Puluhan orang yang ternyata keluarga pasien miras oplosan itu berdatangan. Rata-rata pasien mengeluhkan sakit perut, mual, pusing, serta muntah-muntah.

Suasana semakin mencekam ketika di antara pasien yang datang itu ada yang meregang nyawa di hadapan keluarga dan pengunjung lain. Isak tangis pun meledak di ruangan itu. Sebagian ada yang mencoba bersikap tenang, tapi ada pula yang emosional. Beberapa pengunjung, dokter, dan perawat mencoba menenangkan para keluarga korban yang tewas akibat menenggak miras oplosan.

Ku aing paehan siah, Simbolon…! Moal tenang hirup sia maehan anak aing…! (Saya bunuh kamu, Simbolon! Tidak akan tenang hidup kamu membunuh anak saya),” teriak histeris salah satu orang tua korban. Ia ditenangkan anggota keluarga dan pengunjung rumah sakit lainnya.

Korban minuman keras (miras) oplosan mendapat perawatan lanjutan oleh petugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/4). Hingga saat ini total 103 korban miras oplosan masuk RSUD Cicalengka dengan 29 korban dirawat di IGD, 19 korban rawat inap, 31 korban meninggal dan sisanya telah dibawa pulang oleh keluarganya.
Foto : Novrian Arbi/Antara

Entah kenapa saat itu hampir semua keluarga korban menyebut-nyebut nama Simbolon. Siapa Simbolon dan apa hubungannya dengan para pasien korban miras oplosan itu? Usut punya usut, ternyata pasien-pasien itu korban pesta miras oplosan yang dibeli dari pedagang miras bernama Samsudin Simbolon, warga Kampung Bojongasih, Desa Cicalengka Wetan, Kecamatan Cicalengka.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung yang diperoleh detikX, saat itu jumlah korban miras oplosan mencapai 155 orang. Pasien yang masuk RSUD Cicalengka sebanyak 103 orang dan yang tewas 32 orang. Pasien di RSUD Majalaya sebanyak 26 orang dan yang tewas 3 orang. Lalu di RS AMC Cileunyi tercatat 26 orang dan yang tewas 7 orang.

Yang memprihatinkan adalah salah satu korban miras oplosan yang terakhir tewas di Cicalengka bernama Diki, 25 tahun, warga Warunglahang, Cicalengka. Ia sebelumnya dilarikan ke RSUD Cicalengka pada Minggu, 8 April lalu. Setelah menjalani perawatan, nyawa Diki masih bisa diselamatkan dan akhirnya diperbolehkan pulang.

Namun, bukannya kapok menenggak miras racikan Samsudin, Diki malah kembali nongkrong dan ikut berpesta miras oplosan lagi. Kembali ia dibawa ke RSUD Cicalengka. Tapi kali ini nyawanya tak tertolong dan meninggal pada Rabu, 11 April, pukul 10.10 WIB.

“Minggu ke sini (RSUD Cicalengka), terus pulang. Eh, Rabu ke sini lagi, meninggal pukul 10.00 WIB,” ujar Dafa, 18 tahun, salah seorang rekan Diki, kepada detikX di kamar mayat RSUD Cicalengka, Jumat, 13 April.

Dafa menuturkan, Diki menenggak miras oplosan bersama tiga rekan lainnya yang juga tewas sebelumnya, yaitu Ugun, Hari, dan Iki. Mereka menggelar pesta miras oplosan di pangkalan ojek jembatan tak jauh dari Jalan Raya Bypass Bandung-Garut.

Keluarga membawa jenazah korban meninggal akibat keracunan minuman keras (miras) oplosan ke dalam mobil ambulans di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4). Pihak RSUD Cicalengka menyatakan korban yang diduga keracunan miras oplosan sebanyak 41 orang dan 18 orang diantaranya meninggal dunia serta beberapa korban lainnya dalam kondisi kritis.
Foto : Raisan Al Farisi/Antara

“Katanya minum lagi, padahal sudah selamat. Nggak menyangka meninggal. Pas pagi sempat ngobrol, ngobrolin temannya yang meninggal duluan,” ujar Dafa geleng-geleng kepala.

Korban pertama yang masuk RSUD Cicalengka bernama Hari Faisal, 20 tahun. Warga Desa Babakan Peuteuy, Cicalengka, ini merupakan pengemudi ojek pangkalan persis di depan RSUD Cicalengka. Nyawanya bisa diselamatkan oleh tim dokter rumah sakit tersebut.

“Saya minum malam Jumat, pukul 21.00 WIB. Sama teman namanya Ibeng. Minum berdua di pinggir jalan dekat apotek sana,” tutur Hari saat ditemui detikX di taman RSUD Cicalengka, Jumat, 13 April.

Hari mengatakan masuk rumah sakit pada Senin, 8 April, dan keluar keesokan harinya. Ia membeli miras oplosan di toko milik Julianto Silalahi, anak buah Samsudin, di Jalan Raya Bandung-Garut. Ia membeli dua botol, yang harga satu botolnya Rp 20 ribu.

“Habis minum nggak kerasa apa-apa. Tiga hari kemudian baru terasa. Mata buram, kepala pusing, mual-mual, dan perut panas,” ujar pria yang tubuhnya kurus dan saat itu mengenakan kemeja motif salur warna cokelat tersebut.

Ia mengaku seminggu sekali mengkonsumsi miras oplosan yang disebutnya Ginseng itu. Ia sengaja melakukan itu agar badannya tetap enak, bukan untuk berbuat onar atau keributan. Ia menenggak miras oplosan sejak umur 15 tahun.

Kenapa pilihannya miras oplosan? Dengan cepat Hari menjawab, karena murah. Sebab, bagi dia dan teman-temannya, harga miras pabrikan tergolong mahal. Ia mencontohkan, sebotol Ginseng bisa dibeli dengan harga Rp 20 ribu, sedangkan harga anggur Rp 45 ribu per botol, anggur merah Rp 60 ribu, dan Kuda Emas Rp 35 ribu. “Nah, kalau oplosan bisa beli dua botol dengan harga Rp 40 ribu,” ucapnya.

Petugas membawa kardus yang berisi bahan untuk miras oplosan saat melakukan penggerebekan di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (8/4). Pasca meninggalnya 11 orang warga akibat menenggak miras oplosan, petugas Satpol PP, TNI dan Polri melakukan penggerebekan tempat penjualan dan pembuatan miras di enam titik wilayah Cicalengka.
Foto : Raisan Al Farisi/Antara

Hari mengatakan miras oplosan yang dia minum berbeda dengan miras oplosan sebelum-sebelumnya. Ia merasakan dan mencium bau alkohol yang sangat menyengat, bahkan sekali minum, dadanya terasa panas dan langsung mabuk. “Padahal sebelumnya baru mabuk kalau minum tiga botol,” tuturnya.

Hari memang tak sampai masuk ruang rawat inap. Ia langsung mendapat penanganan oleh dokter dengan memasukkan slang melalui hidungnya. Isi lambungnya dikuras. Lewat slang yang dimasukkan ke hidung itu, cairan berwarna hitam keluar. Ia juga diinfus.

Saat itu ia terbaring lemas di kasur. Ia merasa ketakutan dan terus berdoa serta berzikir. Apalagi saat itu ia melihat beberapa pasien yang juga sama-sama korban miras oplosan mulai berdatangan dengan kondisi kritis.

“Saya takut mati. Baca doa dan terus istigfar. Sebelah saya kritis. Nggak enak saja perasaan. Saya kapok, nggak akan minum-minum lagi, kasihan sama orang tua dan istri,” kata dia setengah berjanji.

Hal yang sama dirasakan Tobi, 18 tahun, warga Kampung Cibeneur, Desa Nagreg, Kecamatan Nagreg. Ia bersyukur selamat dari minuman maut itu. Ia bersama Iwan, 28 tahun, teman minumnya, selamat. Satu temannya lagi, Tatang, 32 tahun, meninggal di rumah sakit. Sebelumnya, mereka bertiga minum miras oplosan di sekitar SPBU Lingkar Nagreg.

“Saya menyesal, saya nggak tahu akan seperti ini. Saya janji nggak mengulangi perbuatan ini,” ucap Tobi, yang mengenakan jaket dan peci putih. Ia duduk ditemani pamannya bernama Yayat, 47 tahun.

Anih, 69 tahun, masih berduka karena ditinggal anak perempuannya yang menjadi korban miras oplosan pertama kali yang tewas di RSUD Cicalengka. Dina Mariana, 29 tahun, terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah meminum miras maut itu pada Jumat, 6 April lalu.

Big bos miras pplosan maut, Samsudin Simbolon (kaos bergaris) menyerah di Sumsel
Foto : Istimewa

Anih terkejut mendengar kabar kematian anaknya di rumah sakit. Padahal saat itu Anih tengah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah majikannya. Ia mengakui anaknya tersebut memang suka miras. “Dia (Dina) memang suka minum, tapi nggak keseringan,” ucap Anih dengan suara lirih.

Selain Dina, cucu lelakinya bernama Nova pun gemar miras. Bahkan Nova sempat masuk rumah sakit dalam waktu bersamaan. Hanya, Nova masih bisa diselamatkan nyawanya, sedangkan kondisi Dina sudah sangat parah.

Sempat ngaredok leunca, makan nasi liwet, sambal, dan petai semangku. Dina suka makanan pedas,” ujar Anih sambil mengusap air matanya.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat AKBP Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan rata-rata korban miras oplosan, yang totalnya 45 orang, itu adalah golongan masyarakat menengah ke bawah dan usia remaja. Mereka minum miras maut itu karena faktor lingkungan.

“Ini faktor lingkungan. Itu penyakit sosial atau penyakit masyarakat. Mereka kan ingin terlihat lebih keren dengan mencoba minum minuman,” ujar Trunoyudo saat dimintai konfirmasi detikX pada Jumat, 13 April lalu.

Karena ini bagian dari penyakit masyarakat, pihak Polda Jawa Barat melakukan sosialisasi dan edukasi yang sifatnya mengimbau masyarakat menjauhi minuman keras. Polda Jawa Barat akan bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam melakukan upaya preventif tersebut.


Reporter/Penulis: Gresnia F Arela, Wisma Putra (Bandung)
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE