INVESTIGASI

Samsudin dan Kematian Massal Akibat Miras Oplosannya

Samsudin menjadi biang kerok kematian massal akibat miras oplosan di Kabupaten Bandung. Pasal pembunuhan berencana menantinya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa 24 April 2018

Langkah Samsudin Simbolon, bos besar minuman keras oplosan dari Cicalengka, Kabupaten Bandung, melarikan diri akhirnya terhenti. Setelah menjadi buron selama 13 hari, Samsudin dibekuk tim gabungan Direktorat Narkoba Polda Jawa Barat dan Polres Bandung di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Selasa, 17 April 2018.

Pria berperawakan kecil dan kepala plontos itu tak bisa berkutik lagi ketika belasan polisi yang dibantu tim dari Polda Sumatera Selatan, Polres Banyuasin, dan Polsek Lencir mengepungnya. Mantan sopir angkot yang berdagang miras oplosan ini pun menyerah tanpa memberikan perlawanan.

Samsudin jadi buron setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian massal 45 orang akibat minuman keras yang diraciknya pada awal April 2018. Ia bersama Hamciak Manik, istrinya, Julianto Silalahi, Willy, Roysan Guntur Simbolon, Sony Samosir, Asep, dan Uwa dituduh melakukan tindak pidana penjualan miras secara ilegal. Empat nama terakhir kini masih dicari polisi.

Awalnya polisi kesulitan melacak keberadaan Samsudin karena selalu berpindah-pindah tempat. Setelah puluhan orang penenggak miras oplosannya berguguran, Samsudin kabur dari rumah gedongnya di Jalan Raya Bypass Bandung-Garut Nomor 40, Kampung Bojongasih RT 03 RW 08, Desa Cicalengka Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Awalnya Samsudin kabur menuju Banten. Lalu ia menyeberang ke Lampung, Pekanbaru, dan Palembang. Sedangkan istrinya, Hamciak Manik, serta dua anak buahnya, yakni Julianto Silalahi dan Willy, ditangkap polisi terlebih dahulu.

Bungker Milik Bos Besar Miras Oplosan Cicalengka
Foto : HYG/CNN Indonesia

Terakhir Samsudin bersembunyi di sebuah gubuk di area perkebunan kelapa sawit miliknya di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin. Setelah dua malam menginap di dalam hutan, Samsudin merasa keberadaannya tercium polisi. Ia memutuskan pindah ke salah satu rumah kerabatnya di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir.

Belasan polisi yang menggunakan speedboat mengejarnya ke lokasi. Tapi, begitu tiba di lokasi, mereka tak mendapatkan Samsudin. Baru pada 16 April lalu polisi menerima informasi keberadaan Samsudin di salah satu rumah adiknya di Jalan Tripika, Desa Mendis Jaya, Kecamatan Bayung Lencir. Ia disergap polisi ketika tengah tertidur pulas.

“Dia tertangkap di perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan. SS (Samsudin Simbolon) sedang berada di dalam rumah adiknya. Ditangkap tanpa perlawanan,” kata Kepala Polres Bandung AKBP Indra Hermawan dalam keterangan persnya di Polres Cicalengka, Kamis, 20 April lalu.

Di hadapan polisi, Samsudin tak bisa mengelak dan mengakui telah meracik serta mengedarkan miras oplosan yang menewaskan 45 orang di Kabupaten Bandung pada 6-11 April lalu. Samsudin memulai bisnis meracik dan berjualan miras oplosan sejak Agustus 2017. Setiap hari ia bisa memproduksi 20 dus atau 240 botol miras oplosan ukuran 600 mililiter yang diberi merek Ginseng.

Semua itu diolah di bungker rumahnya yang berukuran panjang 18 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 3,5 meter. Bungker itu berada di bawah gazebo dekat kolam renang rumahnya. Untuk meracik satu dus miras oplosan, Samsudin hanya mengeluarkan modal Rp 40 ribu. Miras oplosannya terbuat dari air mineral merek Minola, metanol, alkohol, ginseng merek Kuku Bima, dan pewarna makanan merek Red Bell.

Momen Samsudin Simbolon (tengah) ketika ditangkap di Sumsel
Foto :  istimewa

Satu dus miras oplosan itu Samsudin jual dengan harga Rp 270 ribu. Tak mengherankan bila Samsudin, yang sebelumnya merupakan sopir angkot, bisa menjadi kaya raya, sehingga bisa membangun rumah mewah dan punya kebun kelapa sawit seluas 29 hektare di Sumatera.

Untuk menjajakan hasil produksi miras oplosan itu, Samsudin dibantu istrinya, yang berjualan tak jauh dari rumahnya. Ia juga dibantu empat orang agen, yaitu Asep yang menjadi agen penjualan di wilayah Nagreg, Willy di wilayah Cibiru, Roysan di sekitar Stasiun Kereta Api Cicalengka, dan Julianto Silalahi di sekitar Jalan Bypass Cicalengka.

Saat rumah Samsudin digeledah polisi dua pekan lalu, di dalam bungker ditemukan miras siap edar sebanyak 224 dus atau 5.376 botol, 115 dus air mineral, 36 dus berisi 468 botol pewarna makanan, 23 jeriken ukuran 25 liter berisi alkohol, 66 dus ginseng, dan peralatan pengolahan miras lainnya, seperti ember, alat timbangan, ratusan botol, penutup botol, serta plastik.

Dipastikan, sebagai bos miras di Bandung, Samsudin memiliki kaitan dengan pembuat miras di wilayah DKI Jakarta dan Kalimantan karena kenal satu sama lain. Namun mereka tidak dalam satu jaringan.

“Dari pengungkapan kasus ini, ternyata di DKI Jakarta dan Kalimantan juga ada. Mereka melakukan secara sporadis. Keterkaitan satu sama lain, tapi bukan jaringan,” ucap Wakil Kepala Polri Komjen Syafruddin dalam keterangan pers saat melakukan inspeksi mendadak ke rumah Samsudin di Jalan Raya Bandung-Garut, Kabupaten Bandung, Kamis, 19 April lalu.

Para tersangka pengoplos minuman keras yang menyebabkan jatuhnya puluhan korban tewas di Kabupaten Bandung
Foto : Wisma Putra/detikcom

Untuk sementara, motif Samsudin dan para pemilik pabrik miras oplosan hanya bisnis semata. Apalagi mereka menjual miras dengan harga yang sangat beragam. Sayangnya, kepentingan bisnis mereka yang ingin memperkaya diri sendiri justru menghancurkan generasi muda, bahkan memakan korban tewas.

Sejauh ini polisi baru menjerat Samsudin cs dengan Pasal 204 KUHP tentang peredaran miras. Dalam pasal itu disebutkan barang siapa menjual, menawarkan, menyerahkan atau membagi-bagikan barang yang diketahui membahayakan nyawa atau kesehatan orang diancam hukuman 15 tahun atau seumur hidup. Namun tak tertutup kemungkinan Samsudin juga akan dikenai pasal pembunuhan berencana atau Pasal 340 KUHP.

“Kita kembangkan. Siapa tahu memang dia sengaja memasukkan bahan apa, kan kita nggak tahu. Nanti lihat hasil penyidikannya,” tutur Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Barat Kombes Enggar Pareanom saat dihubungi detikX, Jumat, 20 April lalu.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat AKBP Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan sejauh ini korban tewas miras oplosan terbanyak berada di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Sedangkan total korban tewas di wilayah Jawa Barat sebanyak 62 orang, yaitu di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Sukabumi, Cianjur, dan Ciamis.

Mereka ada yang meracik sendiri atau membeli dari orang lain. Di Sukabumi, tercatat ada tujuh orang tewas dengan tersangka empat orang peracik dan penjual. Sedangkan tujuh orang lainnya sempat dirawat di RSUD Palabuhanratu. “Daerah Cicalengka itu, karena memakan korban paling banyak,” kata Trunoyudo kepada detikX.


Reporter: Gresnia F Arela, Wisma Putra (Bandung)
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE