INVESTIGASI

Penjara Tanpa Jeruji

Melongok Penjara Rasa Kos-kosan di Depok

Tidak ada blok-blok penjara dengan jeruji besi yang penuh sesak dan pengap di lembaga pemasyarakatan ini. Kamar untuk para narapidana juga tidak dikunci. Simak liputan detikX ke Lapas Terbuka di Depok.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 3 Mei 2018

Mencari lokasi Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Kelas II-B Jakarta gampang-gampang susah. Selain posisinya yang tak berada di jalan utama seperti lapas pada umumnya, lapas ini ‘tersembunyi’ di dalam lingkungan kompleks Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Di lahan seluas 10,7 hektare milik BPSDM di Jalan Raya Gandul, Kelurahan Gandul, Kecamatan Cinere, Kota Depok, Jawa Barat, ini juga terdapat Akademi Ilmu Pemasyarakatan dan Akademi Imigrasi. Lapas Terbuka Kelas II-B Jakarta, yang dikenal dengan sebutan Kampung Asimilasi Gandul, terletak di bagian paling belakang kompleks.

Untuk mencapai Lapas, pengunjung harus melewati kompleks BPSDM dan menyeberangi jembatan Kali Krukut selebar sekitar 4 meter yang membelah kompleks tersebut. Meski berada di kompleks BPSDM, namun secara administratif, Kampung Asimilasi Gandul, yang berdiri di atas lahan seluas 4.415 meter persegi, masuk ke wilayah lingkungan RT 05 RW 06, Kelurahan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Oh, mau ke Lapas Terbuka, ya? Terus saja masuk. Belok kanan, lurus mengikuti jalan ini. Nanti belok ke kiri. Paling belakang, ujung, ya,” ujar salah satu anggota keamanan di pos jaga BPSDM kepada detikX saat akan menyambangi Kampung Asimilasi Gandul pada Rabu, 18 April 2018.

Suasana di dalam Kampung Asimilasi Gandul.
Foto : Ari Saputra/detikcom


Kalau kabur, mereka kan ada risikonya. Kalau kabur, dua pertiganya dia menjalani masa pidananya tanpa ada remisinya. Mereka (di sini) pada dasarnya tinggal menunggu hari (bebas)."

Plang nama ‘Kampung Asimilasi Gandul’ yang terbuat dari semen menyambut di dekat jembatan. Jangan membayangkan Anda bakal menjumpai pagar beton yang menjulang tinggi, seperti di Lapas Cipinang atau lapas lainnya, begitu masuk. Hanya area belakang, yang bersinggungan dengan Tol Depok-Antasari, yang diberi pagar.

Dari depan, bagian dalam Lapas langsung terlihat jelas. Ada bangunan bertingkat dua dengan bagian bawah sebuah kolam ikan. Sepintas, bangunan itu lebih terlihat seperti sebuah cottage besar atau restoran. Di lantai dasar bangunan itu ada ruangan terbuka.

Meja dan bangku kayu berjejer cukup rapi, juga lengkap dipasangi televisi layar datar pada dindingnya. Ruangan itu merupakan kantin sekaligus ruang tunggu bagi keluarga narapidana atau tamu yang datang membesuk. Sementara itu, lantai dua dipakai untuk kantor administrasi.

Di sebelahnya, ada bangunan dengan konsep asrama untuk para narapidana yang tengah menjalani asimilasi. Bangunan ini juga berlantai dua dan mempunyai sekitar 20 kamar dengan luas masing-masing kamar 3 x 4 meter persegi. Berbeda dengan sel-sel tahanan pada umumnya, kamar-kamar bagi napi itu lebih mirip kos-kosan.

Paviliun itu bisa menampung sekitar 100 narapidana. Namun saat ini lapas tersebut hanya sanggup membina sekitar 60 narapidana, mengingat masih adanya aneka keterbatasan. Adapun yang saat ini menjalani proses asimilasi di lapas tersebut 16 narapidana.

“Rata-rata yang tinggal di Kampung Asimilasi Gandul itu 15-20 orang setiap bulannya,” ujar Kepala Lapas Terbuka Kelas II-B Wachjoe Widowati saat memberikan keterangan secara terpisah kepada detikX, 30 April 2018.

Wachjoe menyebut para napi yang menghuni Kampung Asimilasi Gandul adalah mereka yang telah menjalani setengah hingga dua pertiga dari masa hukuman di lapas tertutup dan masuk ke tahap asimilasi. Asimilasi merupakan proses pembinaan warga binaan lapas yang telah memenuhi persyaratan tertentu dengan membaurkan mereka ke kehidupan bermasyarakat.

Mereka tinggal dua minggu hingga satu bulan di Kampung Asimilasi Gandul. Di Lapas Terbuka, semua narapidana hidup bebas, walaupun tetap diawasi oleh sipir. Pendekatan keamanan kepada para narapidana bersifat minimum security dan personal approach. Tujuannya menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri narapidana atas kepercayaan yang telah diberikan lapas.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan Kampung Asimilasi Gandul, Andi Oloan Sibarani, mengatakan kamar narapidana tidak pernah dikunci oleh sipir. Narapidana punya waktu bercengkerama lebih banyak dengan pembesuk karena jam besuk, meski hanya disediakan pada hari Minggu, lebih longgar dibanding di lapas tertutup.

Karena fasilitas yang lebih nyaman di lapas itu, alhasil jarang terjadi keributan besar di antara narapidana. Kalaupun ada masalah, biasanya hanya salah paham dan bisa diselesaikan dengan berdialog. Demikian juga dengan sistem keamanan yang bersifat minimal, belum pernah terjadi peristiwa narapidana melarikan diri dari lapas.

“Kalau kabur, mereka kan ada risikonya. Kalau kabur, dua pertiganya dia menjalani masa pidananya tanpa ada remisinya. Mereka (di sini) pada dasarnya tinggal menunggu hari (bebas),” kata Andi di Kampung Asimilasi Gandul.

Kalapas Terbuka II B jakarta, Wachjoe Widowati saat bersama warga binaan
Foto : Dok. Wachjoe Widowati

Namun sejumlah aturan dan tata tertib tetap mengikat para narapidana, misalnya, apabila ibadah salat Jumat di luar lapas, mereka dikawal petugas. Para narapidana dilarang memakai telepon seluler. Mereka diperbolehkan memiliki uang, tapi dalam jumlah tertentu, misalnya untuk membeli tambahan makanan di kantin.

Petugas juga melakukan penggeledahan rutin ke kamar-kamar untuk menegakkan disiplin para narapidana. “Kan, sudah ada aturan dari Direktorat, penggeledahan minimal satu minggu sekali. Harus kita geledah. Karena kita isinya nggak banyak, jadi kita lebih mudah memantaunya,” Andi menambahkan.

Seorang narapidana, sebut saja namanya Rudi, 18 tahun, merasakan perbedaan suasana yang drastis antara Lapas Terbuka dan Lapas Cipinang, tempatnya menjalani hukuman 5 tahun penjara akibat kasus tawuran maut. Di Lapas Cipinang, ia harus berbagi sel tahanan dengan empat narapidana dengan lampu penerangan yang hanya menyala pada jam-jam tertentu.

Lalu, selama di Lapas Cipinang, ia tidur beralas semen yang dingin. Air pun sangat susah didapatkan. Kini, menjelang bebas, ia bisa merasakan penjara yang lebih nyaman kondisinya. “Kalau di sini ibaratnya kayak sudah kembali ke kehidupan nyata,” ujar pria bertumbuh tambun itu saat ditemui di Kampung Asimilasi Gandul.

Salah satu kamar tempat menginap para narapidana di Kampung Asimilasi Gandul.
Foto : Ari Saputra/detikcom

Wachjoe mengatakan, untuk membangun suasana yang aman dan nyaman, narapidana yang masuk ke Kampung Asimilasi Gandul diseleksi dengan ketat. Semua narapidana wajib menyertakan penjamin, yaitu keluarga inti. Dan yang utama, penghuni Lapas Terbuka hanya narapidana kasus umum, bukan yang terlibat terorisme, narkoba, dan makar.

“Dan narapidana seperti rumah satu keluarga. Jadi saya ciptakan suasana aman, nyaman, tidak ada tekanan segala macam. Bisa berkegiatan secara rajin, dengan baik, alhamdulillah. Dan secara personal ngobrol, bekerja bakti bersama, apel, makan bareng-bareng,” katanya.


Reporter: M Rizal, Gresnia F Arela
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE