INVESTIGASI

Penjara Tanpa Jeruji

Bekal Selangkah Menuju Bebas

"Kalau dibilang kapok, ya, kapok. Sedih juga harus jauh dari orang tua.”

Jumat, 04 Mei 2018

Begitu fajar merekah, semua penghuni Kampung Asimilasi Gandul, sebutan lain dari Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Kelas II-B, Jakarta, yang dihuni 16 orang narapidana, memulai aktivitasnya. Saban pagi, mulai pukul 07.00 WIB, mereka berjejer rapi di lapangan bulu tangkis untuk mengikuti apel bersama petugas lapas.

Bukan hanya itu. Aktivitas lalu dilanjutkan dengan mengikuti pembinaan kepribadian dan kemandirian, yang rutin dilakukan selama satu pekan hingga dua bulan, sebelum akhirnya mereka bebas. Ya, Lapas Terbuka merupakan proses pembinaan lanjutan bagi narapidana dalam tahap asimilasi di lapas tertutup.

Aneka pelatihan keterampilan disediakan bagi para narapidana, seperti beternak ikan dan unggas, bercocok tanam, sampai mengolah makanan. Tentu saja setiap narapidana punya minat berbeda-beda. Pelatihan itu akan menjadi bekal mereka mencari penghidupan dan nafkah setelah keluar dari bui.

Sebagian besar narapidana merasa beruntung masuk ke Lapas Terbuka. Sebelumnya, mereka tak membayangkan akan sebebas itu melaksanakan aktivitas di dalam lapas. Tak seperti kehidupan di lapas tertutup, yang sangat dibatasi ruang geraknya, apalagi sel tahanan selalu terkunci.

“Di sini kita benar-benar diberi kegiatan bebas. Kalau dulu (di lapas tertutup) paling ke masjid dan ke blok tahanan, begitu saja terus. Kalau di sini nggak jenuh,” ujar Syafii, 47 tahun, bukan nama sebenarnya, kepada detikX saat melongok kehidupan Kampung Asimilasi Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat, 18 April 2018.

Syafii terbelit masalah hukum, yaitu kasus pencurian genset di Hotel Tripoli, Kramat, Jakarta Pusat, pada November 2017. Oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ia divonis hukuman penjara 1 tahun 2 bulan.

Syafii sempat mendekam di balik jeruji besi ruang tahanan Lapas Kelas II-A Salemba, Jakarta Pusat, selama 7 bulan. Selama itulah dia hidup berimpit-impitan bersama 30 narapidana lainnya di dalam sel tahanan seluas 3x3 meter persegi.

Seorang Warga binaan sedang mencabut rumput yang mengganggu tanaman terong

Sebelum dikirim ke Lapas Terbuka, Syafii mengaku sempat diberi tahu petugas lapas bakal diberi kegiatan. Tapi ia tak diberi tahu tentang suasana yang sebenarnya di Lapas Terbuka. “Ternyata nyaman seperti ini, kamar luas dan bersih. Tinggal berdua,” kata Syafii, yang akan bebas pada Juni nanti.

Pria kelahiran Tapos, Bogor, Jawa Barat, itu memilih mengikuti kegiatan beternak ayam. Setiap hari ia harus membersihkan kandang ayam yang terletak di atas kolam air. Tiga kali sehari, ia juga sibuk memberi pakan dan minuman untuk 2.000 ekor ayam pedaging.

“Saya tertarik pada keterampilan ternak ayam karena dulu di kampung juga memelihara ayam. Pulang dari sini, saya akan coba bisnis ayam lagi,” ucap Syafii, yang baru satu pekan menghuni Lapas Terbuka.

Hal senada diungkapkan Roy, 19 tahun, juga bukan nama sebenarnya, narapidana kasus pencurian di kawasan Jakarta Timur. Roy sudah berada di Lapas Terbuka selama 2 bulan 5 hari. Sebelumnya, selama 11 bulan ia dibui di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur. Ia merasakan harus berbagi tidur dengan 23 narapidana lainnya dalam satu kamar.

“Di Cipinang, kadang ada yang tidur di lorong. Karena paling banyak yang tidur pakai alas itu cuma 15 orang. Kalau tempat tidur sama, ada karpet dan kasur matras,” ujar pemuda yang drop out kelas II dari sebuah SMA di Jakarta itu.

Roy saat itu diberi tahu sipir Lapas Cipinang bahwa dirinya akan dioper ke Kampung Asimilasi Gandul. Sama seperti Syafii, Roy pun tak diberi tahu tentang kondisi Lapas Terbuka dan kegiatan yang akan dia jalani.

“Kalau ditanya masalah di sana (Cipinang) dengan kondisi di sini, di sini itu lebih luas kamarnya dan bebas. Kayak hidup di vila saja di sini. Saya sekamar sendiri,” ucap Roy tersenyum.

Roy, yang tinggal seminggu lagi akan bebas, setiap hari mendapatkan pelatihan ternak ikan bawal dan lele, pembuatan nugget, bahkan sampai memotong rumput. Ia mengaku akan mengubah cara hidupnya lebih baik dengan mencari pekerjaan yang halal. Bahkan ia akan masuk sekolah Paket C untuk mengejar ijazah SMA.

Warga binaan  sedang membersihkan kolam ikan lele

“Kalau dibilang kapok, ya, kapok. Sedih juga harus jauh dari orang tua,” tutur Roy.

Semua warga binaan di Kampung Asimilasi Gandul bersama petugas melakukan perawatan lingkungan secara berkala. Bahkan, untuk makan pun, mereka memasak sendiri dibantu seorang petugas yang memberikan arahan.

Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Kegiatan Kerja Lapas Mohammad Fadil mengatakan semua kegiatan, seperti pertanian dan peternakan, dibantu ahli di bidangnya. Beberapa hasil pertanian dan peternakan, selain untuk kebutuhan makan di dalam lapas, juga dijual ke luar.

Misalnya peternakan lele, semua bibitnya yang berukuran 7-8 cm dibeli khusus dari Parung, Bogor. Setiap hari narapidanalah yang memberi pakan dan menjaga kebersihan airnya. Setelah tiga bulan pembesaran, kolam itu bisa menghasilkan 7-8 kilogram lele siap jual.

“Kita nggak jual ke pasar, tapi jual ke pengepul sekitar lokasi Gandul, Cinere, yang suka datang ke sini,” ujar Andi kepada detikX.

Begitu juga dengan peternakan ayam. Sampai saat ini, baru ayam pedaging yang dikembangkan di Lapas Terbuka. Pasalnya, perkembangan ayam pedaging lebih cepat ketimbang ayam petelur. Saat ini, ada 2.000 ekor ayam yang dipelihara di kandang ayam yang dibangun di atas kolam ikan.

Dari day old chicken (DOC), usia ayam satu hari, sampai usia panen dibutuhkan waktu selama 25 hari. Dari 2.000 ekor ayam, ditargetkan panennya akan menghasilkan 2 ton lebih untuk ayam usia 28 hari. Ayam pedaging rata-rata malas keluar dari kandang, sehingga praktis kehidupannya hanya makan dan tidur di kandang.

Pengajian yang diadakan setiap hari kamis di mushola yang berada di Kampung Asimilasi Gandul.

“Warga binaan yang memegang peternakan ada empat orang,” ujar Fadil sambil menunjuk ke sebuah papan whiteboard yang bertulisan data kontrol pakan dan kematian ayam.

Hampir sekeliling Lapas Terbuka juga dipenuhi kegiatan pertanian. Terlihat berbagai jenis tanaman sayuran tumbuh, mulai sawi, pokcoy, selada, kangkung, dan bayam. Tak hanya di lahan media tanah, sayuran itu juga ditanam secara hidroponik.

Para narapidana melakukan cocok tanam mulai pembenihan, penyemaian, pemupukan, perawatan, dan pengontrolan perkembangan tanaman, sampai panen. “Biasanya kita jual ke tukang sayur dan pegawai juga. Kalau pengepul kan skalanya nggak banyak. Di sini nanggung, kan,” ucap Fadil

Di Lapas Terbuka terdapat dua orang dokter, yaitu dokter umum dan dokter gigi yang merawat kesehatan narapidana dan petugas. Untuk ibadah keagamaan, pihak Lapas juga bekerja sama dengan Dinas Kementerian Agama Jakarta Selatan untuk mendatangkan ustaz, yang akan berceramah setiap hari seusai salat zuhur di masjid lapas.

“Kalau salat Jumat, karena jumlahnya di sini sedikit, narapidana dan petugas sama-sama keluar dari lapas di masjid besar BPSDM,” tutur Fadil.


Reporter: M. Rizal, Gresnia F Arela
Fotografer: Ari Saputra
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE