INVESTIGASI

Keberingasan Kelompok Wawan cs dan
Klaim ISIS

Seratusan tahanan terorisme menduduki penjara di Mako Brimob, Depok. Antara yang berbaiat ke ISIS dan anggota Al Qaeda berbeda sikap hingga terpecah.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 11 Mei 2018

Sofyan Tsauri masih hafal betul dengan aneka rupa bedil yang berserakan di sebuah ruangan di Rumah Tahanan Salemba Cabang Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok. Bagaimana tidak. Senjata-senjata itu pernah dia genggam ketika melatih jaringan teroris di hutan belantara Aceh.

Ada Senapan Serbu SS-1, senapan Armalite model 15 (AR-15), M-16, Bren MK-III, pistol revolver kaliber 2 inci, serta berbagai jenis pistol lainnya. “Itu kan senjata saya. Saya dapat dari Aceh, Filipina, dan membeli dari polisi yang menjual barang-barang kayak begitu. Itu adalah barang bukti sejak 2010,” ujar Sofyan kepada detikX, Kamis, 10 Mei 2018.

Delapan tahun silam itu, Sofyan ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan diadili dalam kasus terorisme. Mantan anggota jaringan teroris Al Qaeda ini dipidana 10 tahun penjara. Sebelum bergabung dengan kelompok terorisme, ia adalah personel Brimob.

Sofyan sangat heran mengapa, setelah sekian lama, barang bukti itu masih disimpan di Mako Brimob. Senjata-senjata itu pun dimanfaatkan para narapidana terorisme yang ditahan di Rutan Mako Brimob untuk berbuat kerusuhan berdarah pada Selasa malam hingga Kamis pagi, 8-10 Mei lalu.

“Kalau (senjata) dimusnahkan, memang tidak bisa dihadirkan ke pengadilan. Ya, harusnya disimpan, digudangkan, di tempat yang lebih safety sesuai standar keamanan. Tapi ini, kok, nyimpen-nya di samping tahanan teroris?” ujar pria yang kini sibuk berkecimpung dalam program deradikalisasi teroris dan dunia dakwah ini.

Para napi terorisme penghuni Rutan Salemba Cabang Mako Brimob akhirnya menyerah setelah dikepung aparat dengan kekuatan penuh.
Foto: dok Polri


Itu kan senjata saya. Saya dapat dari Aceh, Filipina, dan membeli dari polisi yang menjual barang-barang kayak begitu. Itu adalah barang bukti sejak 2010."

Dalam keterangan resminya, Mabes Polri menyatakan para napi terorisme itu membobol dinding tempat puluhan pucuk senjata itu disimpan. Selain itu, mereka merampas senjata milik aparat yang disandera dan dibunuh ketika pendudukan penjara itu berlangsung.

“Ada senjata laras panjang yang jarak tembaknya 500-800 meter. Dan itu bisa menjangkau sampai jalan raya (depan Mako Brimob),” ujar Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Syafruddin dalam keterangan pers pascarusuh di Mako Brimob, Kamis, 10 Mei.

Tidak hanya membawa senjata, seratusan napi terorisme yang menguasai tiga blok (A, B, dan C) rutan itu juga merakit bom-bom dari hasil penyitaan kasus terorisme oleh Densus 88 Antiteror. Bom berdaya ledak lumayan besar itu diledakkan polisi beberapa saat setelah sebagian perusuh tersebut menyerah pada pukul 07.15 WIB.

Terkait siapa saja terpidana teroris yang mendalangi dan terlibat kerusuhan, Polri belum memerincinya. Namun Wawan Kurniawan alias Abu Afif disebut-sebut sebagai provokator. Wawan meradang gara-gara makanan yang dibawa keluarganya disita sipir. Ia lantas mengajak kawan-kawannya berperang melawan aparat.

Wawan adalah pemimpin Jamaah Ashar Daulah (JAD) Riau, Pekanbaru, yang ditangkap Densus 88 Antiteror pada 24 Oktober 2017. Ia ditangkap bersama empat anggota jaringannya, yaitu Yoyok Handoko alias Abu Zaid, Beni Samsu Trisno alias Abu Ibrahim, Handoko alias Abu Buchori, dan Nanang Kurniawan alias Abu Aisha.

Aman Abdurrahman saat menjalani persidangan kasus Bom Thamrin.
Foto: dok. detikcom

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Rikwanto saat itu mengatakan mereka melakukan latihan fisik untuk persiapan teror (i’dad) di Bukit Gema, Kabupaten Kampar, Riau. Terduga teroris ini berencana melakukan penyerangan dengan target kantor polisi. Wawan berperan memberi motivasi kepada kelompoknya.

Ketika seribu aparat mengepung dan memberi ultimatum pada Kamis pagi, sepuluh dari 155 perusuh sempat bertahan dan menolak menyerah. Apakah kesepuluh orang itu adalah Wawan cs, belum diperoleh keterangan. Namun satu orang napi yang tewas terkena timah panas polisi dipastikan adalah Beni alias Abu Ibrahim, anak buah Wawan.

Sofyan menyebutkan Wawan atau grup JAD-lah yang paling keras melawan polisi dalam kejadian di Mako Brimob kemarin. JAD adalah kelompok yang berafiliasi dengan jaringan terorisme global Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS, yang di Indonesia belakangan kerap membidik aparat kepolisian dalam aksi-aksi mereka.

Tidak mengherankan bila ISIS langsung mengklaim sebagai dalang kerusuhan itu melalui kantor berita mereka, Amaq News Agency, pada Rabu, 9 Mei 2018. Polri juga menyatakan para penyandera menuntut dipertemukan dengan Aman Abdurahman, pria yang selama ini disebut-sebut sebagai amir atau pemimpin ISIS di Indonesia.

Aman juga meringkuk di Rutan Mako Brimob, tapi di blok yang tak dikuasai para perusuh. Pada 21 Mei nanti, pria yang keluar-masuk penjara dalam kasus terorisme ini dijadwalkan menghadapi vonis sidang Bom Thamrin pada 2016.

Adapun kelompok lain yang terlibat dalam penguasaan penjara selama 36 jam itu adalah jaringan Al Qaeda. Namun, yang agak berbeda, kata Sofyan, kelompok ini kurang setuju terhadap cara-cara biadab dengan menyiksa dan membunuh polisi. Bahkan sebagian dari mereka justru membantu sandera melepaskan diri.

Para napi yang sebelumnya berbuat kerusuhan di Mako Brimob dipindahkan ke LP Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah.
Foto: dok. detikcom

“Kita sempat memberi tahu mereka agar menyelamatkan ibu Polwan dan beberapa penyidik lainnya, itu, ya,” ujar Sofyan.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan perpecahan di antara napi menjadi pertimbangan tersendiri bagi polisi dalam menuntaskan kasus penyanderaan dan pendudukan penjara. Karena itu, sebelum opsi penyerbuan pada Kamis pagi diambil, aparat menerjunkan tim untuk bernegosiasi.

Setelah Rutan Mako Brimob bisa diambil alih kembali oleh pasukan polisi, ke-155 tahanan terorisme itu dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Menko Polhukam Wiranto mengatakan mereka selanjutnya bakal diproses hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

“Kementerian Hukum dan HAM sudah menyiapkan lokasi baru untuk napi teroris di Nusakambangan. Mengapa harus pindah, karena itu (Rutan Mako Brimob) rusak sekarang, nggak mungkin digunakan lagi,” kata Wiranto.


Reporter: Gresnia Arela F
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE