INVESTIGASI

Ketika Teroris Merebut Penjara

Sekitar 36 jam Rutan Salemba Cabang Mako Brimob dikuasai teroris. Peristiwa fatal yang pernah terjadi di Indonesia.

Foto: dok. Polri

Jumat, 11 Mei 2018

Ketenangan suasana di kompleks Markas Komando Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa, 8 Mei 2018, petang, terusik. Terdengar teriakan-teriakan dari arah rumah tahanan yang berada di bagian dalam Mako Brimob tepat pukul 17.30 WIB. Teriakan itu berasal dari ruangan Blok C, rutan yang diisi banyak narapidana kasus terorisme.

Mendengar keributan, Bripda Muhammad Ramdani, polisi yang tengah berjaga, mendekati sel tahanan di Blok C. Ternyata yang berteriak adalah tahanan terorisme bernama Wawan Kurniawan alias Abu Afif.

Kepada Ramdani, Wawan menanyakan soal kiriman makanan dari keluarganya yang dititipkan kepada petugas rutan bagian Tahanan dan Barang Bukti bernama Budi. Ramdani menjawab tidak tahu. Mendengar jawaban yang tak memuaskan itu, Wawan marah besar sambil berkata kasar.

Makian itu membuat tahanan terorisme lainnya yang berada di Blok C tersulut emosinya. Ramdani pun mengajak petugas rutan lainnya berdialog dengan napi terorisme. Mereka meminta Budi didatangkan setelah salat isya. Bila tidak, mereka mengancam akan menciptakan keributan yang sama di Blok C, Blok B, dan Blok A.

Dua personel Brimob berjaga di depan Mako Brimob, Rabu, 9 Mei, dini hari.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

“Setelah negosiasi ditolak, 13 petugas jaga rutan kembali ke ruang CCTV. Akhirnya pintu olahraga samping dijebol dari Blok C,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Mohammad Iqbal kepada wartawan malam itu.

Melihat pintu dijebol, Kepala Tim Tindak Rutan Ajun Inspektur Dua (Aipda) Firson menghampiri sel di Blok C untuk berbicara dengan para napi. Begitu tiba, Firson malah dilempari oleh tahanan. Setelah itu, para tahanan mendobrak pintu utama Blok C. Kemudian para napi terorisme itu mengambil besi jemuran dan menghancurkan kaca-kaca rutan.

Para tahanan itu pun melempari petugas dengan asbak rokok. Firson terkena lemparan itu, sehingga mengalami luka sobek pada bagian kanan kepalanya. “Setelah kejadian itu, Tim Tindak keluar dari rutan karena piket Brimob sudah datang untuk mengamankan rutan,” ujar Iqbal.

Para napi terorisme kemudian menjebol ruang penyimpanan barang bukti senjata api dan amunisi. Ruang penyimpanan barang bukti memang berada di samping Blok A rutan itu. Setidaknya ada 36 pucuk senjata api, 300-an peluru, dan barang bukti lainnya. Bahkan, dari barang bukti yang ada, sebagian narapidana terorisme sempat merakit bom.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri M Iqbal melakukan konferensi pers terkait kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Rabu, 9 Mei.
Foto: Indra Komara/detikcom

Setelah itu, terjadi baku tembak antara tahanan terorisme dan polisi dari Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Brimob. Ada empat polisi yang menjadi korban. Mereka adalah Iptu Sulastri, Brigadir Lalu Abdul Haris, Briptu Hadi Nata Kusuma, dan Bripda Muhammad Ramdani. Semua mengalami luka parah akibat pukulan benda tumpul dan tajam. Wajah Sulastri, satu-satunya Polwan, lebam dan giginya rontok akibat dihajar habis-habisan oleh para napi terorisme.

Entah bagaimana kejadian awal kerusuhan di Rutan Mako Brimob ini menjadi viral di media sosial. Bahkan narapidana terorisme bisa mengunggah foto keberhasilan mereka merebut senjata api. Juga video keributan melalui fitur Live Instagram. Salah satunya video berisi sumpah janji (baiat) para napi kepada pimpinan ISIS.

Sejumlah wartawan yang menerima informasi secara viral itu pun mencoba meminta konfirmasi kepada Iqbal dan mendatangi Mako Brimob di Jalan M Yasin, Kelapa Dua, Depok, pada pukul 20.30 WIB. Ada sembilan polisi yang berjaga dengan memegang senjata laras panjang. Informasi simpang siur soal kerusuhan beredar, mulai penyanderaan hingga adanya korban jiwa.

Peti jenazah Bripda Wahyu Catur Pamungkas, salah satu polisi yang gugur dalam kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Iwan baru dibebaskan para napi setelah ditukar dengan paket makanan untuk para narapidana teroris itu.

Namun saat itu belum ada kejelasan hingga tengah malam. Ketika hari berganti, Rabu, 9 Mei, pukul 00.12 WIB, sejumlah polisi memasang kawat berduri di area gerbang utama pintu masuk Mako Brimob. Puluhan polisi bersenjata laras panjang juga menjaga ketat gerbang. Mereka mensterilkan area depan Mako Brimob sampai radius 100 meter.

Mulai pukul 01.30 WIB, pengamanan di Jalan M Yasin, persis di depan gerbang utama Mako Brimob, diperketat lagi. Bahkan area diperluas sampai radius 200 meter. Pengguna kendaraan atau masyarakat tidak diperkenankan lewat.

Dari pantauan detikX, Rabu, pukul 08.20 WIB, ada dua mobil ambulans masuk ke Mako Brimob. Disusul kedatangan mobil Inafis Polri dan beberapa truk polisi. Tak lama kemudian, lima ambulans dari Polres Depok dan RS Polri Kramat Jati, juga masuk ke area yang sama.

Saat itu, Iqbal mengatakan ada empat orang yang mengalami luka akibat kerusuhan, yakni Iptu Sulastri, Brigadir Lalu Abdul Haris, Briptu Hadi Nata Kusuma, dan Bripda Muhammad Ramdani. Semuanya sudah dibawa ke RS Polri Kramat Jati. Sementara itu, ada enam polisi yang masih disandera oleh napi terorisme.

Pada pukul 11.30 WIB, ada enam kantong jenazah yang diangkut ambulans keluar dari Mako Brimob menuju RS Polri Kramat Jati. Tak berapa lama kemudian, Polri mengumumkan ada lima polisi yang gugur dan satu narapidana terorisme yang tewas.

Seorang narapidana terorisme menyerah setelah berakhirnya kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.
Foto: dok. Istimewa

Kelima polisi yang gugur itu adalah Bripda Syukron Fadhil, Ipda Yudi Rospuji, Briptu Fandy, Bripka Denny, dan Bripda Wahyu Catur Pamungkas. Satu tahanan yang tewas adalah Abu Ibrahim alias Benny Syamsu Trisno, narapidana terorisme asal Pekanbaru, Riau. Kelima polisi yang gugur mengalami luka cukup parah, leher tergorok, dan terdapat tusukan di sekujur tubuhnya.

Proses penanganan kerusuhan napi terorisme di Rutan Mako Brimob terus berlangsung hingga pukul 23.30 WIB. Sebanyak 155 orang napi terorisme yang ada di rutan itu menguasai Blok A, B, dan C. Polisi terus melakukan negosiasi sampai memberikan sebuah ponsel kepada napi untuk berkomunikasi.

Kamis, 10 Mei, pukul 00.40 WIB, Bripka Iwan Sarjana, yang disandera para teroris, bisa dibebaskan. Iwan mengalami luka memar di bagian wajahnya. Iwan baru dibebaskan para napi setelah ditukar dengan paket makanan untuk para narapidana teroris itu.

Berselang tiga jam kemudian, polisi memberikan ultimatum kepada tahanan terorisme di rutan. Polisi memberikan batas waktu kepada mereka untuk menyerahkan diri pada waktu fajar. Sekitar 1.000 personel dikerahkan untuk melakukan penyerbuan ke dalam rutan apabila perusuh terus bertahan.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto dalam keterangan persnya ketika situasi sudah dikendalikan menyatakan 145 napi teroris menyerah tanpa syarat setelah diultimatum. Masih ada 10 orang di dalam yang tak mau menyerah dan masih memegang senjata.

Akhirnya, pada pukul 06.20 WIB, polisi melakukan penyerbuan terencana terhadap 10 orang yang masih bertahan itu. Terdengar suara dentuman bom dan rentetan senjata api. Kesepuluh tahanan akhirnya menyerah setelah 36 jam menguasai rutan di Mako Brimob.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Habib Rifai

[Widget:Baca Juga]
SHARE