INVESTIGASI

Mereka Lebih Berani Ketimbang Kombatan ISIS

Pelaku teror di Surabaya terbilang berani. Kombatan ISIS sekalipun belum pernah melakukan serangan bunuh diri dengan mengajak anggota keluarga.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 16 Mei 2018

Suara azan berkumandang dari speaker musala di Perumahan Wisma Indah, Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Sebagian warga yang terbangun bergegas menuju musala pada Minggu, 13 Mei 2018, pukul 04.12 WIB untuk melaksanakan salat subuh berjemaah.

Begitu juga dengan R Dita Oeprianto, 47 tahun, segera keluar dari rumahnya di Blok K No 22. Ia ditemani istrinya, Puji Kuswati, 43 tahun, bersama empat anaknya, yaitu Yusuf Fadil (18 tahun) Firman Halim (16),  Fadhila Sari (12), dan Famela Rizkita (9), menuju musala tak jauh dari rumah yang mereka tinggali sejak 2010.

Keluarga Dita pun melaksanakan salat subuh secara khusyuk bersama beberapa warga di perumahan itu. Seusai salat berjemaah, mereka pun pulang. Begitu sampai di depan rumah, tiba-tiba keluarga itu berpelukan dan menangis di depan pintu.

Seorang personel satpam perumahan, Yanto, melintas di depan rumah Dita. Ia sempat melihat keluarga Dita berpelukan dan yakin mereka menangis bersama. Yanto berpikir mungkin keluarga itu sedang menghadapi persoalan di internal keluarga, yang dikenal memiliki usaha jualan obat herbal itu.

TKP ledakan bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela.
Foto: dok detikcom


Namanya orang mengindoktrinasi, dia tidak akan membunuh dirinya. Kalau pemimpin melakukan aksi bunuh diri, ideologinya tidak berkembang. Logikanya seperti itu."

Setelah itu, Dita bersama istri dan anak-anaknya masuk rumah. Mereka pun mengganti pakaian dan membereskan barang, entah apa, yang sebagian dimasukkan ke dalam mobil Toyota Avanza. Setelah matahari meninggi, Dita dan keluarganya pun pergi meninggalkan rumah. “Pagi hari mereka berangkat bersama. Kebetulan saya yang jaga," terang Yanto.

Sementara itu, di tempat lain, Aloysius Bayu, Koordinator Relawan Sekuriti Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB), dan Yongki, 25 tahun, petugas paroki Orang Muda Katolik (OMK), sejak pukul 05.30 WIB sudah berada di gereja yang beralamat di Jalan Ngagel Madya No 1, Baratajaya, Gubeng, Kota Surabaya, itu. Bayu dan Yongki berkoordinasi untuk mempersiapkan parkiran bagi jemaat gereja yang akan melaksanakan misa dan sakramen ekaristi.

Tepat pukul 06.30 WIB, jemaah gereja mulai berdatangan. Mereka yang menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil dan motor, diatur di parkiran oleh Yongki. Sedangkan Bayu mengawasi kondisi keamanan tak jauh dari pintu gerbang masuk gereja. Tiba-tiba muncul sepeda motor bebek warna biru yang ditumpangi dua remaja dengan kecepatan tinggi.

Melihat hal itu, Bayu mencoba menghentikan pengendara motor yang melaju kencang masuk ke gereja. Bayu menghalau pengendara motor agar tidak mengarah ke parkiran. Bukannya berhenti, mereka malah membunyikan klakson. Sedetik kemudian, blarrr… pengendara dan sepeda motor itu meledak.

Bayu langsung tewas, sementara Yongki, yang berjarak 2 meter, terpental. Yongki mengalami luka patah kaki dan pendarahan pada tangannya. Jemaat yang tengah berada di dalam gereja pun berhamburan, menjauh dari sumber suara ledakan.

Ledakan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya
Foto: Deni/detikcom

“Nggak biasanya orang masuk gereja cepat-cepat. Ini aneh, masuk dengan kecepatan kencang, dicegah Mas Bayu. Klakson bunyi, langsung meledak. Pengendara dua orang anak remaja 16-18 tahunan pakai motor bebek warna hijau,” ujar Florentina Yola, adik kandung Yongki, menceritakan detik-detik ledakan bom itu kepada detikX, Selasa, 15 Mei.

Menurut Yola, bila kendaraan motor itu tak dicegah masuk lebih dalam lagi, mungkin korban akan lebih banyak lagi. Saat itu, jemaat berhamburan menjauhi suara ledakan. Mereka baru sadar suara ledakan merupakan serangan bom bunuh diri.

Di tengah kepanikan warga Kota Pahlawan terhadap serangan bom bunuh diri di Gereja Katolik SMTB, kurang dari satu jam, tepat pukul 07.15 WIB, terdengar suara ledakan bom lagi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro. Disusul dengan ledakan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno tepat pada pukul 07.53 WIB.

Dari serangan tiga bom bunuh diri itu, setidaknya 18 orang tewas dan 43 orang terluka. Dari ke-13 orang yang tewas, enam orang di antaranya adalah pelaku bom bunuh diri. Siang hari, polisi berhasil menguak identitas para pelaku serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya itu.

Mereka ternyata satu keluarga, yaitu keluarga Dita. Aksi bom bunuh diri di Gereja Katolik SMTB dilakukan oleh Yusuf Fadil dan Firman Halim. Sang ayah, Dita Oeprianto meledakkan diri di Gereja GPPS. Sementara itu, istri Dita, Puji Kuswati, bersama dua putrinya, Fadila Sari dan Famela Rizkita, yang masih di bawah umur, meledakkan diri di Gereja GKI.

Di dalam rumah Dita, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menemukan tiga buah bom kimia rakitan tipe triacetone triperoxide, yang kekuatannya lebih tinggi dari TNT. Bom rakitan ini juga dikenal dengan julukan ‘Mother of Satan’. Selain itu, ditemukan bahan lainnya, yaitu Styrofoam, belerang, aseton, HCL, akuades, H2O, black powder, dan korek api kayu.

Tri Murtiono dan keluarganya (bersepeda motor) di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya.
Foto: dok. detikcom

Dita Oepriarto ditengarai merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman, yang berafiliasi dengan ISIS. Kapolri Jenderal Tito Karnavian kepada sejumlah media menyatakan Dita terkait dengan satu keluarga yang ditangkap di Turki dan dideportasi ke Indonesia ketika akan masuk Suriah.

Aksi bom bunuh diri yang meneror Kota Surabaya tak hanya itu. Selang beberapa jam, ledakan terjadi di rumah susun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu, 13 Mei 2018, pukul 22.30 WIB. Tepatnya di hunian milik Anton Febrianto, 46 tahun, di lantai 5 Blok B No 2. Anton tewas ditembak polisi setelah bom yang dirakitnya keburu meledak di rusun.

Ledakan itu menewaskan Puspita Sari, 47 tahun, istri Anton, yang juga tercatat sebagai PNS di Kementerian Agama, dan LAR, 17 tahun, anak pertama Anton. Sedangkan tiga anak Anton lainnya, yakni AR (15), FP (11), dan GHA (11), mengalami luka-luka dan dirawat di RS Bhayangkara.

Keesokan harinya, Senin, 14 Mei 2018, pukul 08.50 WIB, Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya di Jalan Sikatan 1, Kota Surabaya, pun menjadi sasaran aksi serangan bom bunuh diri. Serangan dilakukan oleh satu keluarga yang menggunakan dua sepeda motor yang meledakkan diri tepat di depan gerbang utama kantor polisi itu.

Ledakan bom bunuh diri itu mengakibatkan 10 orang korban. Empat orang di antaranya polisi dan enam orang warga yang tengah di dekat lokasi. Sedangkan pelaku satu keluarga tewas di tempat, yakni Tri Murtiono, 50 tahun, istrinya, Tri Ernawati, 43 tahun, dan dua anak lelakinya. Sementara itu, anak bungsu mereka terpental tak meninggal dunia.

Dari rangkaian bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo selama dua hari itu, polisi menyatakan tiga keluarga tersebut saling mengenal. Motif aksi tersebut adalah balas dendam atas penangkapan amir ISIS Indonesia Aman Abdurahman dan pimpinan JAD Jatim Zaenal Anshori.

Para pelaku terlibat dalam jaringan JAD/JAT. Ketiga keluarga ini aktif mengikuti pegajian rutin yang dilakukan setiap Minggu di rumah Dita, yang disinyalir sebagai Ketua JAD Surabaya. “Ini satu buku ini, pengajian rutin setiap Minggu. Pengajian di situ, di rumah Dita, sering ketemu,” kata Kapolda Jawa Timur Irjen Machfud Arifin dalam keterangan pers pada Selasa, 15 Mei 2018.

Tiga keluarga ini memiliki guru yang sama. Dalam setiap pengajian, mereka diajar oleh dua guru, yang kini tengah diburu pihak kepolisian. “Ada dua yang diharapkan segera cepat ditangkap,” ujar Machfud.

Penggerebekan teroris oleh Densus 88 Antiteror di Manukan Kulon, Surabaya.
Foto: Zaenal Efendi/detikcom

Pengamat terorisme Muhammad Jibriel Abdul Rahman mengatakan aksi bom bunuh diri di Surabaya terbilang berani. Pasalnya, kombatan ISIS sekalipun belum pernah melakukan aksi dengan mengajak serta anggota keluarga. Meski perempuan ISIS juga melakukan bom bunuh diri di Suriah, sifatnya masih individual.

Jibriel juga menduga para pelaku mempunyai mentor yang mengindoktrinasi mereka dengan ideologi ISIS. Juga cara-cara kejam yang mereka halalkan dengan janji-janji spiritual berupa surga. Karena terhasut oleh janji surga dan keberkahan itu pulalah akhirnya pelaku berani mengajak serta keluarga mereka.

“Namanya orang mengindoktrinasi, dia tidak akan membunuh dirinya. Kalau pemimpin melakukan aksi bunuh diri, ideologinya tidak berkembang. Logikanya seperti itu,” kata Jibriel dalam perbincangan dengan detikX, Selasa 15 Mei.

Lebih jauh Jibriel mengatakan tak penting lagi bicara teror ISIS Indonesia dari organisasi yang diikuti pelaku. Sebab, pelaku adalah pihak tertentu di JAD yang terjangkiti ideologi ISIS. “JAD itu adalah jemaah. Seperti kita dipanggil Ahlussunah wal Jamaah. Sedangkan ISIS, apa pun jemaahnya, ideologinya sama,” katanya.

Sementara itu, pihak kepolisian, khususnya tim Densus 88 Polri, pascaserangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo, terus melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang yang diduga terkait bom Surayaba. Sejumlah orang telah ditangkap dan beberapa lainnya tewas ditembak.


Reporter: Gresnia F Arela
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE