INVESTIGASI

Ngabalin, Dulu 'Corong' Prabowo, Kini Tameng Jokowi

“Ngabalin, kalau dalam dunia tinju, memiliki gaya fighter. Mungkin Pak Jokowi butuh orang seperti itu.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 31 Mei 2018

“Kami tahu munafik dan berbohong sudah jadi hiburan/kebahagiaan bagi rezim dan pengusung/pendukungnya. Terutama bagi yg kaget mendadak diangkat menjadi orang Istana-berbohong kayak apa pun sah baginya Astaqfirullah. Puasa ini. Istigfar,” demikian tweet Ratna Sarumpaet.

Sarumpaet mencuitkan kata-katanya itu lewat media sosial Twitter untuk menanggapi posting berita soal Ali Mochtar Ngabalin. Orang baru di Istana Negara ini optimistis dapat merangkul kelompok muslim merapat ke pemerintah.

Sarumpaet merupakan salah satu kolega Ngabalin yang sebelumnya selalu mengkritik pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla. Keduanya bahkan sempat satu panggung saat berorasi di depan Istana Negara, Jakarta, 4 November 2016 (Aksi 411), yang meminta agar Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) dipenjarakan karena dianggap telah menista agama Islam.

Pada saat demo besar-besaran 2 Desember 2016 atau 212 sebagai kelanjutan dari Aksi 411, Ngabalin juga terlibat aktif dalam aksi tersebut. Bahkan sampai-sampai Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku terus memonitor gerak-gerik Ngabalin serta isi orasinya sepanjang aksi itu.

Namun sejumlah kolega Ngabalin itu kini dikejutkan oleh langkah Ngabalin yang masuk Istana setelah direkrut sebagai Tenaga Ahli di Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Sementara sebelumnya Ngabalin banyak melontarkan serangan ke pemerintah, kini ia justru menjadi ‘tameng’ pemerintah dari serangan pihak yang berseberangan.

Ali Mochtar Ngabalin
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Langkah Ngabalin yang ‘lompat pagar’ ini tentu menjadi sorotan menjelang Pilpres 2019. Ngabalin dianggap bakal dijadikan tameng sekaligus pemukul lawan politik Jokowi. Apalagi, sebagai bekas anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dia paham betul lawan politik Jokowi, yang tak lain bekas koleganya saat di ‘seberang’ Istana.

Sebut saja Fadli Zon dan Fahri Hamzah, duo pimpinan DPR yang kerap membuat Istana gusar dengan serangan-serangan mereka. Bahkan akhir-akhir ini Fadli menyatakan KSP rawan dipakai sebagai tim pemenangan Jokowi untuk Pilpres 2019, overlap, dan karena itu harus dibubarkan.

“Pak Ali Ngabalin itu kawan saya dari dulu. Saya kira pandangan-pandangannya sebagian besar samalah. Saya kan nggak ada urusan dengan orang per orang. Yang kita urus adalah kebijakan-kebijakannya. Jadi, kalau nanti ada perbedaan pendapat, berdebat, ya biasa-biasa saja,” kata Fadli.

Begitu juga dengan menghadapi tokoh sekelas Amien Rais, yang tak henti-hentinya menyerang Jokowi. Rabu, 30 Mei 2018, Amien kembali membuat pernyataan heboh bahwa Jokowi bakal dilengserkan oleh Tuhan. Ngabalin tak ragu-ragu meminta Amien menjaga perkataan.

“Jangan Anda bertindak seperti Allah, kemudian menurunkan takdir, berbuat semaumu. Jangan, jangan, jangan. Jaga lisanmu sebagai tokoh," kata Ngabalin sembari berbicara bahasa Arab.

Amien Rais
Foto: Uje Hartono/detikcom

Tak hanya pernah berseberangan dengan Jokowi, dalam pertarungan pada Pilpres 2014 antara pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, pria kelahiran Fakfak, Papua Barat, itu masuk tim Prabowo-Hatta. Ia didapuk menjadi Direktur Politik Tim Pemenangan Prabowo-Hatta.

Aneka kritik keras dilontarkan pria yang selalu mengenakan sorban itu kepada Jokowi. Saat berkampanye di Papua pada Pilpres 2014, misalnya, Ngabalin meminta warga tidak memilih pemimpin kerempeng, yang tak lain adalah Jokowi.

Bahkan mantan politikus Partai Bulan Bintang itu pernah menyatakan ‘akan memaksa Tuhan untuk memenangkan Prabowo-Hatta’ ketika pasangan tersebut mengajukan gugutan hasil Pilpres 2014 ke Mahkamah Konstitusi. Namun Ngabalin menyebut, ketika Jokowi-JK dinyatakan sebagai pemenang oleh MK, ia pulalah yang pertama kali mengajak masyarakat mendukungnya.

“Pernyataan itu saya ucapkan satu jam setelah hakim MK mengetokkan palunya,” kata politikus Partai Golkar itu ketika ditemui detikX di kantornya, Bina Graha, kompleks Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jakarta, pekan lalu.

Ngabalin mengatakan sikapnya mulai berubah sejak terjalin kontak antara dirinya dan Pratikno, Menteri-Sekretaris Negara. Bahkan Ketua Badan Koordinasi Muballigh Seluruh Indonesia itu rela menerima pinangan Istana untuk menjadi salah satu anggota tim KSP.

Menurut informasi yang diperoleh detikX, Istana memang sedang butuh orang dalam yang vokal, yang mampu menangkis serangan-serangan yang ditujukan kepada pemerintah. Dan pilihan itu akhirnya jatuh pada Ngabalin, bekas lawan politik Jokowi.

Ali Mochtar Ngabalin Tenaga Ahli di Istana
Foto: dok. pribadi Ngabalin

“Bagi pemerintah, tidak ada yang namanya lawan politik. Semua adalah partner demokrasi,” kata Kepala KSP Moeldoko dalam keterangannya.

Di mata pengamat politik Muhammad Qodari, justru Ngabalin telah menemukan jalan yang benar. “Dulu Ngabalin dukung Prabowo, sekarang dukung Jokowi. Tentu ya semacam ada pesan bahwa dulu salah pilih, sekarang milih yang benar,” ujar Qodari kepada detikX pekan lalu.

Sementara itu, dari sisi pemerintah, Qodari menganggap Ngabalin merupakan representasi kekuatan umat Islam selain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sebab, Ngabalin menempati posisi sebagai Ketua Badan Koordinasi Muballigh Seluruh Indonesia.

Selain itu, menurut Qodari, Ngabalin sangat cocok jadi ‘benteng’ Istana atau pemerintah dari serangan kubu oposisi, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon. “Ngabalin, kalau dalam dunia tinju, memiliki gaya fighter. Mungkin Pak Jokowi butuh orang seperti itu untuk meladeni tokoh oposisi, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon,” ujarnya.

Namun, berkaitan dengan elektabilitas, keberadaan Ngabalin di ring Jokowi harus dilakukan survei lebih dulu. Seberapa populer Ngabalin di masyarakat berguna untuk menaikkan citra Jokowi.

Tapi, dari sekian banyak staf presiden yang ada saat ini, memang hanya Ngabalin yang cukup populer, terutama di kalangan media. Mungkin karena alasan itu pulalah Jokowi menggaetnya.

Namun, menurut Qodari, untuk menjaga atau membentengi Istana dari serangan, keberadaan Ngabalin dianggap tidak cukup. Kalangan NU dan Muhammadiyah seharusnya juga dilibatkan, terutama tokoh di kedua ormas Islam tersebut yang sudah populer.

Fadli Zon
Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono

Terhadap jejak politiknya yang pernah beda haluan dengan Jokowi, Ngabalin menganggapnya wajar. Politik adalah sesuatu yang bergerak dinamis. Dulu melawan, kini mendukung. Begitu juga sebaliknya. Bahkan Ngabalin menilai itu sebagai sebuah pendewasaan.

Disinggung mengenai kejadian di Papua empat tahun lalu, Ngabalin mengaku waktu itu dia belum tahu betul siapa Jokowi. Dalam perjalanannya, ia akhirnya tahu Jokowi adalah sosok yang ramah. Jokowi juga layak menjadi pemimpin. Lebih khusus, ia bangga Jokowi berhasil membawa perubahan di Papua.

“Saya bilang saya harus me-review itu lagi. Maka kita sebetulnya banyak membaca berita-berita yang hoax sebenarnya. Jadi saya pikir itu sudah 4-5 tahun yang lalu,” katanya.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE