INVESTIGASI

Bimbang di Terminal Pulogebang

Bisnis transportasi darat tak beranjak dari kelesuan. Sedangkan sarana pendukung, seperti terminal, tak juga berkembang.

Foto-foto: Ibad Durohman

Selasa, 12 Juni 2018

Pria bertubuh sedang itu tampak serius menelepon di sebuah loket bus PO Sinar Jaya di Terminal Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur. Sesekali pria yang mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru itu memainkan bolpoin di tangan kanannya. “Biar saja, Pak. Jalan saja. Sudah lama soalnya. Memang kosong, mau bagaimana lagi?” ucap pria tersebut kepada lawan bicaranya di ujung telepon.

Pria tersebut adalah Maulana Rahman, Kepala Bagian Keuangan PO Sinar Jaya di Terminal Pulogebang. Maulana tampak lesu. Bukan lantaran hari itu dia berpuasa Ramadan. Dia lesu karena harus memberi perintah kepada sopir bus di perusahaannya untuk tetap jalan ke daerah tujuan Pekalongan sekalipun bangku banyak yang kosong.

Dari pantauan detikX pada 22 Mei 2018 atau hari kelima bulan Ramadan, terminal yang diresmikan pada 28 Desember 2016 itu sepi dari hilir mudik penumpang. Puluhan bus tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur terparkir di area terminal.

Menurut Maulana, kondisi menjelang mudik tahun ini sangat jauh berbeda dengan tahun lalu. Biasanya, memasuki bulan Ramadan, calon penumpang berdatangan ke loket bus Sinar Jaya, yang berjumlah lima buah.

“Tahun lalu yang beli tiket setiap jam setidaknya ada sekitar 10 pembeli. Kalau tahun ini dalam satu jam belum tentu ada yang beli tiket,” ujarnya.

Maulana Rahman, Kepala Bagian Keuangan PO Sinar Jaya

Dari pantauan detikX, deretan bus Sinar Jaya memang mendominasi area keberangkatan Terminal Pulogebang. Namun mayoritas bus itu tidak banyak penumpangnya. Maulana menduga sepinya penumpang tersebut akibat maraknya kembali terminal bayangan di seantero Jakarta, sehingga penumpang memilih naik bus yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Tahun lalu tidak ada terminal bayangan karena penumpang di wilayah timur Jakarta dikonsentrasikan di Terminal Kampung Rambutan dan Pulogebang.

“Nah, sekarang mereka (PO bus lain) liar kembali. Akhirnya penumpang tersebar lagi. Misalnya orang yang dekat dengan Kampung Melayu pasti cari terminal bayangan yang di Kampung Melayu. Kan, lebih dekat,” ujar Maulana.

Pria yang mengaku sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di PO Sinar Jaya tersebut juga mengatakan hanya Sinar Jaya yang mematuhi aturan Kementerian Perhubungan terkait dengan mencari penumpang di terminal yang sudah ditentukan. Sedangkan perusahaan bus lain saat ini banyak yang membuka terminal bayangan.

Maulana pun berharap ada tindakan tegas dari Kementerian Perhubungan untuk menertibkan terminal bayangan. Jika tidak, Sinar Jaya akan melakukan hal serupa, yakni membuat terminal bayangan. Dari hitung-hitungan yang dilakukan Maulana, paling tidak penurunan angka penumpang yang dialami Sinar Jaya mencapai 30 persen dibanding tahun lalu.

“Tahun lalu, pas hari pertama puasa sampai puncak mudik, jumlah pembeli tiket stabil. Sekarang sudah lima hari puasa masih sepi saja,” tutur Maulana sambil menampik anggapan bahwa sepinya penumpang karena kalah bersaing dengan perusahaan bus lain yang menawarkan sejumlah kemewahan dan kenyamanan di armadanya.

Terminal Pulogebang terlihat sepi.

Keluhan sepi penumpang juga disampaikan Darsini, 50 tahun, petugas bagian pemasaran PO Pahala Kencana, saat ditemui detikX di Pulogebang. “Tahun ini sepi banget dibanding tahun kemarin. Sekarang lebih banyak bengongnya,” ujar Darsini.

Menurut Darsini, turunnya jumlah pemesan tiket bus untuk mudik Lebaran, selain akibat banyaknya terminal bayangan, disebabkan oleh layanan kereta api serta mudik gratis. Praktis, untuk saat ini, Pahala Kencana hanya bisa memberangkatkan dua bus tujuan Jawa Timur dari Pulogebang, itu pun dalam kondisi bangku penumpang tidak penuh terisi. Padahal tahun lalu, pada bulan yang sama, setidaknya ada empat bus yang diberangkatkan dari Pulogebang setiap harinya.

Sebenarnya Pahala Kencana sudah berusaha mendongkrak penjualan tiket dengan berbagai promo, seperti paket promo beli 10 gratis 1 tiket. Namun tetap saja langkah itu belum mampu menggaet minat penumpang. Sebab, saat ini sejumlah perusahaan bus baru bermunculan dengan rute yang beririsan, sementara jumlah penumpang tidak bertambah.

Pengamat transportasi Tigor Nainggolan menilai hingga saat ini akses ke Pulogebang yang hendak dijadikan terminal terintegrasi bus antarkota antarprovinsi se-Jakarta masih sulit. Kondisi itu berbeda dengan terminal integrasi di Malaysia, yang sudah terhubung dengan banyak moda transportasi lainnya, termasuk kereta api.

Dengan tidak berfungsinya Pulogebang sebagaimana mestinya, pengawasan terhadap kelayakan bus pun menjadi kekhawatiran tersendiri. Sebab, terminal merupakan tempat memeriksa kelayakan bus itu saban harinya. Saat ini banyak bus yang beroperasi dari terminal bayangan, yang pengawasannya hampir tidak ada.

Loket-loket penjualan tiket bus.

“Pulogebang itu jaraknya terlalu jauh dari pusat kota. Okelah di sana, tapi harusnya dibangun juga akses ke sana. Ini kan nggak ada. Jadi wajar penumpang malas ke sana,” katanya kepada detikX.

Mahmud, Komandan Regu Terminal Terpadu Pulogebang, mengakui saat ini sarana transportasi ke terminal memang masih kurang. Hanya ada TransJakarta yang melayani rute dari terminal ke beberapa titik di Jakarta, di antaranya TransJakarta ke Lebak Bulus, tapi bus itu hanya beroperasi hingga pukul 17.00 WIB.

Ia merasa masyarakat enggan ke Pulogebang, yang sudah mendekati wilayah Bekasi, karena jauh dari pusat kota. Rata-rata penumpang yang berangkat dari terminal tersebut per hari hanya 2.000-3.000 orang. Namun pada hari libur bisa mencapai 5.000 penumpang. “Nah, kalau ditotal, jumlah pemudik pada 2017 adalah 13.173 penumpang. Itu total penumpang yang berangkat pada masa mudik,” tuturnya.

Adapun jumlah perusahaan bus yang memanfaatkan Terminal Pulogebang, ujar Mahmud, saat ini total 187. Namun jumlah itu berkurang karena sepinya penumpang. Bahkan ada bus dengan rute Jakarta-Bandung yang menutup loketnya karena imbas sepinya penumpang di terminal itu.

“Sebenarnya, kalau dibilang sepi, nggak juga. Ramai, cuma karena calonya berbuat nggak bagus, ya jadi begitu. Tapi sudah kita tertibkan. Kita gabung dengan Tim Rajawali Polres Jakarta Timur. Kita basmi pelan-pelan,” ujar Mahmud.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE