INVESTIGASI

Mimpi Kembali Berjaya Lewat Tol Trans-Jawa

Bus antarkota antarprovinsi makin terpuruk sepuluh tahun terakhir ini. Akankah kembali berjaya dengan tersambungnya Tol Trans-Jawa?

Rabu, 13 Juni 2018

Sepuluh tahun lalu, berbicara tentang mudik tentu yang bakal terlintas di pikiran adalah membeludaknya calon penumpang di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, yang memang melayani rute terpadat di Indonesia. Karena hampir semua bus menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur berada di terminal itu.

Berita tentang sesaknya penumpang yang berlomba naik bus, harga tiket yang meroket hingga 200 persen, dan aksi-aksi calo tiket yang berupaya merebut penumpang menjadi judul besar di sejumlah media kala itu.

Namun kini perhatian masyarakat pada saat mudik berubah. Jalan Tol Trans-Jawa, yang melintang dari Jakarta hingga Jawa Timur, menjadi perhatian. Pasalnya, kini masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk mudik.

Bus antarkota antarprovinsi (AKAP), yang selama ini menjadi andalan di kala mudik Lebaran tiba, pelan-pelan ditinggalkan. Akibatnya, banyak perusahaan otobus yang kembang kempis, bahkan kolaps. Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) mencatat, 10 tahun lalu perusahaan otobus berjumlah 2.000, tapi kini menyusut menjadi 400 perusahaan saja.

“Itu kalau dilihat dari jumlah PO-nya saja. Kalau lihat di lapangan, saat ini persaingan PO mencari penumpang sudah terlihat sangat beringas,” kata Sekjen DPP Organda Ateng Aryono saat ditemui detikX beberapa waktu lalu di Jakarta.

Sekjen DPP Organda Ateng Aryono
Foto : Ari Saputra/detikcom

Soal penyebab menurunnya gairah transportasi bus, Ateng menyebut ada beberapa faktor. Pertama, dulu, saat bisnis bus AKAP berjaya, beberapa PO bisa melayani rute dari Medan hingga Jawa Timur, bahkan dari Aceh hingga Bali, yang jaraknya kurang-lebih 3.000 kilometer. Namun bus AKAP yang melayani trayek dengan jarak superjauh itu perlahan sirna seiring dengan adanya penerbangan murah. Apalagi pemerintah gencar membangun bandara di setiap kota besar.

“Anda bisa bayangkan tarif pesawat tujuan kota besar, misalnya rute Surabaya-Bali, itu tarifnya Rp 350 ribu. Sedangkan tarif bus Rp 300 ribuan. Jelas kalah saing bus AKAP,” kata Ateng.

Kondisi lain yang membuat sejumlah PO terpuruk oleh kebijakan pemerintah adalah program LCGC (low cost green car) alias mobil murah, sehingga warga memilih mudik dengan mobil yang mereka miliki. Layanan kereta api pun semakin baik. Hal ini dianggap ikut menyumbang bergesernya pemudik yang sebelumnya naik bus AKAP.

Ateng pun berharap pemerintah bisa mengelola transportasi massal secara menyeluruh, tidak hanya terhadap moda transportasi yang dikelola pemerintah, seperti kereta api, sehingga tidak terjadi saling ‘bunuh’ antarmoda transportasi.

Saat ini memang sejumlah PO berupaya meningkatkan layanan yang lebih prima untuk menjaring penumpang, semisal dengan menyiapkan armada double decker dan layanan VIP untuk armada busnya. Namun hal itu dianggap hanya dua jurus atau malah jurus terakhir yang bisa dilakukan perusahaan bus.

“Begini saja, bus yang single decker saja tingkat okupansinya (keterisian) cuma 40 persen. Nah, sekarang dengan double decker apakah bisa meningkat menjadi 70 persen? Ya, nggak juga,” begitu kata Ateng.

Jelang lebaran terminal Pulo gadung
Foto : Rachman Haryanto/detikcom

Ada pula yang memilih jalan dengan menurunkan tarif. Namun cara ini membuat perusahaan ngos-ngosan terkait dengan biaya operasional bus, bahkan gulung tikar. Ia kemudian mencontohkan bus-bus AKAP yang dulu berjaya tapi kini mengalami krisis, salah satunya PO Coyo, yang sudah tidak beroperasi. PO ALS, yang sebelumnya menjadi raja jalanan di Trans-Sumatera, kini jumlah armadanya semakin menciut.

Meski begitu, Ateng tetap optimistis bus AKAP akan bersinar lagi pada waktunya. Dengan catatan pemerintah membenahi sistem transportasi tanpa pilih kasih. Beberapa perusahaan bus yang sempat ditemui detikX berharap, jalan tol yang bakal tersambung dari ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa bisa menumbuhkan gairah bisnis bus AKAP yang melayani rute di Pulau Jawa.

Salah satu perusahaan bus yang optimistis adalah PO Gunung Harta, yang memiliki trayek sejumlah kota di Jawa Timur untuk tujuan Jakarta. Adanya tol dipandang mampu menambah promo penjualan tiket, yang kini juga digeber via online. "Tentunya demikian, dengan jalan tol yang sudah tersambung, masyarakat akan banyak memilih transportasi darat sebagai alternatif mudik Lebaran," tutur Direktur PT Gunung Harta Transport Solution, I Gede Yoyok Santoso, kepada detikX di kantornya di Malang, Jawa Timur, Senin, 28 Mei 2018.

Terminal Kampung Rambutan
Foto : Aulia Bintang Pratama/CNNIndonesia

Tersambungnya Tol Trans-Jawa tentu membawa dampak positif bagi transportasi darat, khususnya PO. Sebab, mereka akan lebih hemat waktu untuk mencapai tujuan. Gede memprediksi perjalanan bus akan lebih cepat tiga-empat jam dari Jakarta ke Jawa Timur dan sebaliknya.

Persaingan tak dimungkiri oleh Gunung Harta. Maka perusahaan yang bermarkas di Malang ini pun menyajikan layanan bus-bus baru dari 50 unit yang dimiliki. Sebut saja Mercedes-Benz Type OC 500 RF 2542 dan unit bus Scania K410 IB 6*2, yang dikenal memiliki sasis bus kelas atas, berbalut bodi dengan fasilitas mewah.

Keduanya merupakan sasis tiga axle, dengan penggunaan pada bus AKAP berbodi jenis high deck. Bus dengan kapasitas 36 kursi yang dilengkapi leg rest, ruang merokok, toilet, USB charger, selimut, bantal, dan audio ampli video on demand itu makin menambah kenyamanan penumpang.

 "Kami sangat concern pada layanan. Tahun depan kita luncurkan bus bertingkat setelah infrastruktur tersedia dengan baik," tambahnya.

PO Putra Mulya, yang berbasis di Wonogiri, Jawa Tengah, bergerak lebih cepat dengan mengoperasikan empat bus double decker. Menurut Wahyudi Kristiono dari bagian pemasaran PO Putra Mulya perwakilan Jakarta, grafik penumpangnya naik pesat dalam dua tahun ini sejak adanya bus double decker.

Bus double decker Putera Mulya
Foto : Syailendra Hafiz/detikX

“Bus kita baru semua. Joknya lega dan pelayanannya bagus. Harganya kompetitif. Yang lain kan ada juga yang baru, tapi kebanyakan armada lama. PO kita itu pasti mengantarkan penumpang sampai tujuan,” katanya.

Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan juga masih melihat bisnis bus AKAP akan kembali bersinar, apalagi layanan bus saat ini semakin meningkat. Namun, setahu dia, izin bus double decker belum keluar dari Kementerian Perhubungan. Apalagi model bus yang ada tempat tidurnya.

“Kalau kereta, toh terbatas relnya. Pesawat juga terbatas daya tampungnya, harganya sedikit lebih tinggi. Apalagi sejumlah PO sudah mengoperasikan bus model double decker yang menarik,” jelas Tigor.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama, Muhamad Aminudin (Malang)
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE