INVESTIGASI

Kala Banteng
Kurang Setrum

PDI Perjuangan gagal merebut daerah-daerah kunci dalam
Pilkada 2017 dan 2018. Namun mereka menolak dikatakan lemah.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 30 Juni 2018

Ada yang tidak biasa di kediaman Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada malam setelah pencoblosan pilkada serentak, Rabu, 27 Juni 2018. Puluhan polisi berjaga di rumah yang terletak di Jalan Teuku Umar 27-A, Menteng, Jakarta Pusat, itu.

Informasi yang diperoleh detikX, malam itu beberapa elite PDI Perjuangan merapat ke rumah Megawati untuk melakukan evaluasi hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei terkait Pilkada Serentak 2018 yang dilakukan di 171 daerah.

Namun, saat detikX ingin mencari tahu perihal pertemuan itu, seorang petugas keamanan langsung menghalau. “Di sini tidak ada acara apa-apa. Kenapa tidak ke rumah SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) saja di Mega Kuningan?” kata pria berbaju safari hitam tersebut.

Tidak lama berselang, pukul 20.45 WIB, sejumlah mobil keluar dari rumah Megawati. Didahului mobil Range Rover Discovery dan dua motor Patwal, dua mobil SUV warna hitam, satu mobil Toyota Alphard, dan Land Rover Defender warna putih keluar beriringan.

Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus
Foto: Septianda Perdana/Antara Foto

Setelah itu, suasana di rumah Megawati pun kembali lengang. Hanya tersisa tiga orang penjaga di depan gerbang Presiden RI ke-5 tersebut.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto membenarkan adanya pertemuan pada malam selepas pencoblosan. Pertemuan itu sebagai evaluasi atas hasil pilkada.

“Iya, kita semalam memang ada pertemuan di Teuku Umar membahas pilkada,” kata Hasto kepada detikX di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Juni.

Berdasarkan hasil hitung cepat, memang partai berlambang kepala banteng tersebut mengalami kekalahan di empat provinsi besar. Di Pilgub Sumatera Utara, pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) kalah oleh pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas).

Kekalahan Djarot memang cukup mengejutkan. Sebab, Sumatera Utara selama ini merupakan salah satu basis suara PDI Perjuangan. Dan Djarot, mantan Gubernur DKI Jakarta, merupakan kader utama partai.

Dalam sistem otonomi daerah, posisi wali kota dan bupati sangat strategis karena mereka yang memegang wilayah. Gubernur bersifat koordinatif."

Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDIP

Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarnoputri 
Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom

Hal yang juga tidak disangka-sangka adalah kekalahan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputri saat melawan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak di Pilkada Jawa Timur versi hitung cepat.

Padahal, di atas kertas, Gus Ipul-Puti berada di atas angin. Sebab, keduanya punya nama kondang. Gus Ipul merupakan sosok ternama di kalangan Nahdliyin. Dan Puti adalah cucu Proklamator Sukarno. Apalagi keduanya diusung partai yang mendapat suara besar di Jawa Timur, yakni PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Yang juga mengejutkan adalah kekalahan PDI Perjuangan di Sumatera Selatan, yang mengusung pasangan Dodi Reza dan Giri Ramanda Kiemas, yang merupakan keponakan Taufiq Kiemas. Keduanya juga di atas kertas punya potensi menang. Sebab, Dodi Reza merupakan anak Alex Noerdin, gubernur dua periode di wilayah tersebut. Namun ternyata mereka harus mengakui keunggulan Herman Deru, bupati dua periode di Ogan Komering Ulu Timur, yang berpasangan dengan Mawardi Yahya.

Kekalahan yang dimaklumi barangkali di Jawa Barat. Sebab, di provinsi yang paling banyak penduduknya di Indonesia, yakni 46.497.175 jiwa (data kependudukan Pemprov Jabar 2017), itu, PDI Perjuangan dalam sejumlah kesempatan mengakui memang tidak pernah menang di ajang pilgub atau pemilu.

Tb Hasanuddin dan Anton Charliyan
Foto: M Agung Rajasa/Antara Foto

Namun, menurut Hasto, hasil Pilkada Serentak 2018 harus dilihat secara utuh. Bukan hanya pemilihan 17 provinsi, karena ada ratusan pilkada tingkat kabupaten dan kota. “Dalam sistem otonomi daerah, posisi wali kota dan bupati sangat strategis karena mereka yang memegang wilayah. Gubernur bersifat koordinatif,” ujar Hasto.

Dijelaskan Hasto, dari 17 provinsi yang menggelar pilgub, PDI Perjuangan menang di enam provinsi (35 persen), yakni di Bali, Jawa Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan untuk tingkat kabupaten/kota, PDI Perjuangan hanya mengikuti 152 dari 154 pilkada yang digelar. Hasilnya, 91 calon yang diusung PDI Perjuangan menang.

Sementara itu, Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari memberikan analisisnya. Menurut dia, kekalahan PDI Perjuangan di Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan disebabkan oleh faktor ketokohan calon yang diusung hingga popularitas.

"Mungkin karena ketokohan yang nggak pas, strategi kampanye yang nggak pas, tapi ini by case, ya," kata dia menduga.

Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Meski begitu, Eva membantah bila kemenangan PDI Perjuangan di hanya enam provinsi itu dikatakan sebagai kelemahan PDI Perjuangan. Sebab, ada beberapa wilayah yang, menurut Eva, memang bukan basis PDI Perjuangan. "Kayak di Jabar, yang kita kalah itu kan bukan daerah kita. Pilgub selalu kalah ya di Jatim. Jadi bukan kemudian ada orang yang menyimpulkan, 'Tuh, lihat, PDI Perjuangan calonnya rontok semua.' Ndak bisa seperti itu karena di Jatim itu kan daerah NU, bukan daerah PDI Perjuangan,” ujar Eva.

Berdasarkan catatan detikX, di Pilkada Serentak 2017, PDIP juga harus menelan pil pahit saat bertarung di pemilihan gubernur di dua provinsi relatif penting di Pulau Jawa, yakni Banten dan DKI Jakarta. Di ujung barat Pulau Jawa, yakni Banten, PDI Perjuangan mengusung petahana Rano Karno. Ia, yang berpasangan dengan Embay Mulya Syarief, kalah oleh pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy.

Dan yang sangat mengagetkan adalah saat jagoan yang diusung PDI Perjuangan di Pilgub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, dikalahkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di putaran kedua. Berdasarkan hasil pilkada serentak yang digelar pada 2017 dan 2018 itu, di Pulau Jawa PDI Perjuangan hanya menang di satu provinsi, yaitu Jawa Tengah, yang selama ini memang menjadi basis terkuat partai itu.

Pengamat politik Indo Barometer Muhammad Qodari menilai kekalahan PDI Perjuangan di berbagai tempat itu lantaran figur yang diusung. Di Pilkada Jatim, Puti dinilainya belum populer dan berpengalaman menjadi kepala daerah. "Sehingga, mesin politik nggak maksimal, setrum juga kurang," kata Qodari.

Di Pilkada Jabar, TB Hasanuddin juga kurang populer ditambah lagi penunjukannya mendadak. Sedangkan di Sumut ada elemen primordial yang bekerja. "Pertama yang paling banyak itu adalah Islam, dan suara Islam melayu kumpulnya di Eramas. kampanye dia di medsos memang mengarah ke sana," lanjutnya.

Namun, bagi Hasto, hasil pilkada membuat partainya semakin mantap menatap Pileg dan Pilpres 2019. Sebab, apabila dilihat secara global, jumlah kader PDI Perjuangan yang menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah meningkat signifikan dari 214 pada 5 tahun sebelumnya menjadi 345 orang saat ini.

“Prestasi dan kinerja para kader inilah yang akan menjadi wajah partai dalam memenangi pileg dan pilpres. Pileg dan pilpres di depan mata. Di situlah konsentrasi utama kami saat ini. Inilah yang kita jadikan mesin politik kemenangan karena Ibu Megawati telah menurunkan Joko Widodo sebagai (calon) presiden,” kata Hasto.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor:Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE