INVESTIGASI

Tangis Megawati dan Nasib Puti

“Kalah apa menang? Menang apa kalah? Menang... menang... menang... menang!”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 29 Juni 2018

“Kali ini, Bapak, saya terjunkan salah satu cucu kamu, yaitu Puti Guntur Soekarno.” Megawati Soekarnoputri terisak. Belum pernah trah Sukarno maju di ajang pemilihan kepala daerah. Tapi, karena tidak mau dikalahkan, PDI Perjuangan akhirnya menurunkan Puti ke gelanggang Pemilihan Gubernur Jawa Timur.

Megawati dalam acara peringatan wafatnya Bung Karno yang ke-48 di Blitar, Jawa Timur, 20 Juni 2018, bercerita bahwa dirinya sudah ‘meminta izin’ kepada Bung Karno terkait Puti. Dia lantas meminta rakyat Jatim menghargai jasa-jasa Proklamator dengan cara memenangkan Puti, yang menjadi calon wakil gubernur berpasangan dengan Saifullah Yusuf.

Bukan sekali itu saja Megawati turun gunung untuk pasangan calon yang diusung PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerindra, dan Partai Keadilan Sejahtera tersebut. Sehari kemudian, Ketua Umum PDI Perjuangan itu meluncur ke Kota Madiun untuk menghadiri kampanye akbar di Lapangan Gulun. Berdiri sepanggung dengan Puti, Megawati mempopulerkan keponakannya tersebut kepada simpatisan Gus Ipul-Puti.

Iki sopo, yo? (Ini siapa, ya?) Jadi perempuan dua, kan? Terus, sing ayu sopo, yo? (Terus, yang cantik siapa, ya?) Jangan ngomong Mbak Puti, lo,” ujar Megawati.

Megawati dan Puti saat berkampanye di Madiun, Jawa TImur.
Foto: Sugeng Harianto/detikcom


Jadi, dari beberapa laporan tim pengawas suara, itu ada di titik-titik tertentu yang berbeda dengan hasil quick count. Nah, dengan posisi itu, mau nggak mau semua tim harus memastikan sampai penghitungan final.”

Megawati juga menyinggung sekelumit kisah dirinya yang pernah tinggal di Kota Madiun selama tiga tahun pada saat remaja. “Sekarang kalau datang (ke Madiun) kalah, malu, lo. Kalah apa menang? Menang apa kalah? Menang... menang... menang... menang!” pekik Presiden RI kelima tersebut.

Tapi yang terjadi sebaliknya. Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) Pilkada Jawa Timur 27 Juni 2018, yang dilansir Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Gus Ipul-Puti menderita kekalahan beruntun di berbagai wilayah di Jatim. Pasangan tersebut hanya unggul di Tulungagung, Kediri, Blitar, Kota Kediri, dan Kota Blitar atas rivalnya, Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak.

Berdasarkan hasil final quick count LSI, pasangan Gus Ipul-Puti mengantongi 45,67 persen suara. Sedangkan pasangan Khofifah unggul lumayan jauh dengan memperoleh 54,33 persen suara. Begitu juga dengan hasil hitung cepat lembaga survei lainnya, semua menempatkan Khofifah-Emil, yang diusung Partai Demokrat, PPP, NasDem, dan Hanura, sebagai pemenang.

Di Kota Madiun tempat Megawati menyapa pendukung, Gus Ipul-Puti hanya menang tipis atas Khofifah-Emil. Dalam hitung cepat versi Bakesbangpol Kota Madiun, Khofifah-Emil mendapatkan 50.284 suara atau 48,76 persen. Sedangkan Gus-Ipul Puti meraup suara 52.835 atau 51,24 persen.

Yang juga mengejutkan, Khofifah-Emil bisa menyalip suara PDI Perjuangan di Surabaya, kota yang—selain Blitar—terkenal sebagai kandang banteng moncong putih. Dari sekitar 1,1 juta suara sah, Khofifah-Emil memperoleh 50,80 persen, sedangkan Gus Ipul-Puti didukung oleh 49,20 persen pemilih.

Salah seorang politikus PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari mengatakan salah satu penyebab kekalahan Gus Ipul-Puti adalah tingkat keterkenalan Puti yang masih minim di Jatim. Bahkan, seperti di Blitar, yang merupakan daerah pemilihannya sebagai anggota legislatif, masyarakat sering tertukar antara Puti dan Puan Maharani, putri Megawati.

Megawati dan Puti berziarah ke makam Bung Karno
Foto: dok. Istimewa

"Jawa Timur itu, satu, ada jeda waktu yang pendek sekali untuk memperkenalkan Puti. Bahkan di dapil kita, Blitar, itu last minutes itu masih bingung (membedakan) antara Puan (dan Puti). 'Ini Puan itu yang menteri kok bisa nyalon?' Masih gitu-gitu," kata anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu.

Memang pencalonan Puti sebagai cawagub sempat diwarnai drama. Tak lain adalah mundurnya Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dari kontestasi pilgub karena tersandung skandal foto tak senonoh. PDI Perjuangan menyodorkan sejumlah nama pengganti, seperti Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Ahmad Basarah, Bupati Ngawi Budi 'Kanang' Sulistiono, dan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Sri Untari.

Namun semuanya ditolak oleh PKB. Lantas Puti ditetapkan dengan alasan ia merupakan trah Bung Karno, yang punya magnet kuat di Jatim. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto waktu itu menyebut penetapan Puti telah dipertimbangkan secara matang, juga atas masukan keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Meski PDI Perjuangan bulat mengusung Puti, ada pandangan di lingkup internal partai itu yang kurang sepakat dengan penunjukan Puti, yang sebelumnya masuk daftar kandidat Pilgub Jawa Barat. Puti lebih menguasai Jabar karena pernah menjadi juru bicara kampanye tim pemenangan wilayah Jabar dan Bengkulu untuk pasangan Megawati-Prabowo pada Pilpres 2009.

Wakil Sekretaris Jenderal PKB Daniel Johan enggan berspekulasi mengenai masih rendahnya popularitas Puti sebagai penyebab kekalahan Gus Ipul-Puti. Untuk melihat hal itu, ujarnya, harus menunggu data riil hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum. Sampai sejauh ini, PKB juga masih menemukan data yang berbeda antara hasil quick count dan kenyataan di lapangan.

Wakil Sekretaris Jenderal PKB Daniel Johan
Foto: Gibran/detikcom

“Jadi, dari beberapa laporan tim pengawas suara, itu ada di titik-titik tertentu yang berbeda dengan hasil quick count. Nah, dengan posisi itu, mau nggak mau semua tim harus memastikan sampai penghitungan final,” kata Daniel kepada detikX.

Menurut Daniel, dari sisi partai pengusung, baik PKB, PDI Perjuangan, maupun partai lainnya telah berbuat maksimal untuk memenangi pertarungan. PKB membidik daerah Tapal Kuda hingga Madura, sedangkan PDI Perjuangan menggarap daerah Kediri ke barat atau wilayah yang dikenal dengan sebutan Mataraman. “Cak Imin sendiri selama puasa di sana terus. Keliling Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Dia sampai tidur di bus,” tuturnya.

Pengamat politik Indo Barometer, Muhammad Qodari juga melihat Puti kedodoran melawan Emil yang sudah mempunyai pengalaman menjadi kepala daerah. Dalam debat publik, Bupati Trenggalek tersebut lebih artikulatif dibandingkan Puti. Sedangkan Puti baru berpengalaman sebagai anggota DPR.

Namun, lanjut Qodari, tidak fair kalau membebankan kekalahan PDI Perjuangan itu hanya pada sosok Puti. Pasalnya, Gus Ipul pun kedodoran melawan Khofifah. Sebelum Lebaran yang lalu, survei Gus Ipul anjlok hingga terpaut 5 persen di bawah Khofifah.

"Nah, bayangkan kalau wakilnya Gus Ipul itu Azwar Anas, nggak bakalan dominan tuh Khofifah. Karena yang berhadapan sama-sama praktisi. Dan Gus Ipul juga walapun dia wakil gubernur dia ngomongnya juga normatif. Sehingga orang jadi agak ragu," kata Qodari kepada detikX.

Setelah hasil hitung cepat diketahui, Gus Ipul-Puti menghargai hasil quick count. Namun pihaknya akan terus mencermati laporan dari tim lapangan untuk dianalisis. Gus Ipul sendiri mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendukungnya.

Sementara itu, Khofifah mengatakan kemenangan dalam Pilkada Jatim merupakan kerja keras seluruh tim suksesnya. “Kalau kami sudah kepilih, ini adalah kemenangan masyarakat Jatim. Kembali kami ucapkan terima kasih kepada seluruh elemen dan masyarakat Jatim yang telah menjalankan proses demokrasi dengan sangat baik,” katanya.


Reporter: Ibad Durohman, Sugeng Harianto (Madiun)
Redaktur/Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE