INVESTIGASI

Pembunuh yang
Tak Kasatmata

Pencemaran udara di Jakarta turut meningkatkan risiko penyakit mematikan. Perlukah health advisory?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 7 Juli 2018

Buruknya kualitas udara di Jakarta akibat polusi asap kendaraan bermotor dan pabrik serta hasil pembakaran rumah tangga memicu menurunnya kualitas kesehatan masyarakat. Bahkan beberapa penyakit yang disebabkan polusi dapat mengancam jiwa manusia bila tak ditangani dengan serius.

Bila melihat data real time tingkat polusi udara di Jakarta melalui situs Air Visual www.aqicn.org, sebagai contoh pada Kamis, 28 Juni 2018, pukul 06.00 WIB, dua stasiun pemantau kualitas udara milik Kedutaan Besar Amerika Serikat menunjukkan, Air Quality Index (AQI) Jakarta Selatan 155 alias tidak sehat.

Begitu juga untuk udara di wilayah Jakarta Pusat, yang indeks AQI-nya 152 (tidak sehat). Alat pemantau ini sudah menggunakan parameter ukuran particulate matter (PM) 2,5 atau partikel yang kurang dari 2,5 mikron (mikrometer).

Masih di situs yang sama, bila melihat hasil pemantauan kualitas udara milik pemerintah sendiri, yang terekam pada Sabtu, 23 Juni 2018, nilai AQI tercatat untuk PM 10 sekitar 80 (sedang) yang ditandai warna kuning. Bila dikonversikan ke PM 2,5, diperoleh angka 38, tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Partikel PM 2,5 dapat terhirup dan mengendap di organ pernapasan. Jika terpapar partikel PM 2,5 dalam jangka panjang, manusia dapat terkena infeksi saluran pernapasan akut, terutama anak-anak, hingga kanker paru-paru. Selain itu, PM 2,5 dapat meningkatkan kadar racun dalam pembuluh darah yang memacu stroke, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit jantung lainnya, serta membahayakan ibu hamil karena berpotensi menyerang janin.

Pemandangan Kota Jakarta yang tertutup oleh polusi udara
Foto: Grandyos Zafna/detikcom


Kalau mengatakan pencemaran udara itu adalah pencetusnya, itu bisa kita katakan. Tapi kalau penyebab tunggalnya, kita tidak bisa katakan seperti begitu."

“Hasilnya, potensi manusia yang tinggal di sana (daerah udara tidak sehat) meninggal karena stroke itu 63 persen. Juga terlihat betul baku mutu kita yang masih di bawah (standar) World Health Organization (WHO) untuk udara ambient (udara terbuka),” ujar Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu kepada detikX beberapa waktu lalu.

Pada Juni 2017, Greenpeace mencatat meningkatnya risiko kematian karena penyakit tertentu pada berbagai tingkat PM 2,5. Hasil itu didapat dari penggabungan analisis risiko Global Burden Disease Project yang dilaksanakan The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dengan tingkat PM 2,5 tahunan di Jakarta.

Ada 21 daerah di Jakarta maupun luar Jakarta yang dipantau. Sebagai contoh, kawasan Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, dengan kualitas udara (PM 2,5) 67 (tidak sehat), telah memicu peningkatan 66 persen risiko penyakit pernapasan pada anak, 28 persen paru-paru kronis, 90 persen penyakit jantung, 38 persen kanker paru-paru, dan 126 persen stroke.

Lalu, daerah Cibubur, Jakarta Timur, yang mempunyai PM 2,5 sebesar 106 (tidak sehat), telah memicu peningkatan 105 persen risiko penyakit pernapasan pada anak, 39 persen paru-paru kronis, 105 persen penyakit jantung, 55 persen kanker paru-paru, dan 150 persen stroke.

Masih menurut data tersebut, beberapa daerah, seperti Cibubur dan Warung Buncit, mengalami peningkatan risiko kematian hampir dua kali lipat akibat penyakit pernapasan akut pada anak-anak. Anak-anak cenderung menyerap polutan lebih banyak dibandingkan orang dewasa karena intensitas bernapas mereka yang lebih tinggi.

Sepuluh penyakit terbesar di Kecamatan Menteng dan Kembangan
Foto: screenshot smartcity.jakarta.go.id

Data tersebut didukung jumlah warga DKI Jakarta yang terkena penyakit yang diakibatkan pencemaran udara pada 2017. Ini terjadi di Jakarta Barat, yaitu di Cengkareng 2.867 kasus, Kalideres 1.216 kasus, Kebon Jeruk 1.081 kasus, dan Kembangan 1.045 kasus. Di Jakarta Timur, yaitu Duren Sawit 2.789 kasus, Matraman 2.150 kasus. Jakarta Pusat di Cempaka Putih 1.216 kasus, dan Senen 594 kasus.

Kemudian di Jakarta Utara, yaitu Pademangan 1.268 kasus, Cilincing 1.058 kasus. Dan terakhir di Jakarta Selatan, yaitu Tebet 921 kasus, Pasar Minggu 804 kasus, Pancoran 794 kasus, Kebayoran Lama 630 kasus, Setiabudi 608 kasus, dan Cilandak 586 kasus.

Berdasarkan sepuluh penyakit terbesar yang diderita warga DKI Jakarta yang terunggah di smartcity.jakarta.go.id, gangguan pernapasan umumnya menduduki peringkat ketiga teratas di mayoritas kecamatan di Jakarta. Di kecamatan seperti Menteng (Jakarta Pusat), Duren Sawit (Jakarta Timur), dan Kembangan (Jakarta Barat), infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) menempati urutan pertama.

Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Daeng Muhammad Faqih mengatakan debu dan timbal yang bercampur menjadi satu di udara sangat berbahaya. Apabila terhirup oleh manusia, udara kotor tersebut bisa menyebabkan penyakit kanker paru-paru maupun gangguan mata. Namun tidak bisa dikatakan udara yang tercemar itu menjadi penyebab tunggal kematian.

"Kalau mengatakan pencemaran udara itu adalah pencetusnya, itu bisa kita katakan. Tapi kalau penyebab tunggalnya, kita tidak bisa katakan seperti begitu," ungkap Dr Daeng Mohammad kepada detikX.

Aksi peduli pencemaran udara di Jakarta
Foto: Adhi Wicaksono/CNNIndonesia

Menurut Daeng, pemerintah perlu didorong untuk memiliki indikator yang jelas di masing-masing tempat atau daerah untuk memetakan kandungan partikel apa yang berbahaya di udara dan apakah telah melampaui ambang batas atau belum. Selain itu, pemerintah perlu terus mengembangkan dan memelihara taman kota guna mengurangi polusi udara.

Pada 2015, Universitas Indonesia merilis hasil penelitian bahwa sekitar 57,8 persen pasien di rumah sakit Jakarta mengalami penyakit komplikasi pernapasan. Dari keseluruhan pasien itu, sekitar 1,2 juta atau 12,6 persen di antaranya memiliki keluhan asma atau bronkitis. Dengan perkiraan biaya Rp 173 ribu hingga Rp 4,4 juta per pasien, total ongkos pengobatan akibat asma dan bronkitis bisa mencapai Rp 210 miliar sampai Rp 5,3 triliun.

Sementara itu, posisi tertinggi ditempati oleh ARI atau ISPA, yaitu 2,4 juta kasus atau memakan porsi 25,5 persen. "Dengan perkiraan biaya Rp 25 ribu sampai Rp 92 ribu, berarti biaya yang dikeluarkan total bisa Rp 225 miliar sampai Rp 11 triliun," ujar peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, seperti dikutip cnnindonesia.com.

Ditambah lagi dengan penyakit gangguan pernapasan lainnya, total biaya kesehatan yang harus dikeluarkan warga Jakarta akibat pencemaran udara itu mencapai 38,5 triliun.

Kemacetan lalu lintas menjadi penyebab buruknya kualitas udara di Jakarta
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup untuk menyikapi buruknya udara Jakarta versi Air Visual. Pemprov DKI akan mempertimbangkan apakah perlu mengeluarkan health advisory kepada masyarakat terkait polusi udara di Jakarta tersebut atau tidak. Peringatan itu nantinya ditujukan kepada warga Jakarta akan beraktivitas di luar ruangan, khususnya berolahraga.

"Dengan kualitas udara yang buruk ini, apakah masih dianjurkan untuk orang-orang seperti saya berolahraga di luar, seperti lari pagi dan bersepeda? Kalau olahraga di luar kan mengambil oksigen banyak sekali," kata Sandi.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE