INVESTIGASI

Daeng Aziz, Dari Reruntuhan Kalijodo Berlabuh ke Prabowo

Mengaku pengagum berat Prabowo, bekas penguasa lokalisasi Kalijodo, Daeng Aziz, nyaleg lewat Gerindra. Sempat mendukung Anies-Sandi di Pilgub Jakarta.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 19 Juli 2018

Berbalut kemeja putih dan topi koboi, penampilan pria yang duduk di bawah tenda Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Andi Pettarani, Makassar, itu cukup menarik perhatian. Gelang emas, seperti biasa, melingkar di pergelangan tangan kanannya. Bagi sebagian orang, pria yang datang ke KPUD dengan pengawalan sejumlah ajudan pada Selasa, 17 Juli 2018, siang itu tak asing lagi.

Sosoknya memang menghiasi banyak media massa ketika lokalisasi legendaris Kalijodo digusur oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dibantu ribuan aparat gabungan polisi, tentara, dan Satpol PP pada awal 2016. Dialah Abdul Aziz Emba alias Daeng Aziz, bekas penguasa lokalisasi yang terletak di Kelurahan Muara Angke, Jakarta Barat, itu, selama lebih dari sepuluh tahun.

Polda Metro Jaya sempat menetapkan Daeng Aziz sebagai tersangka dugaan prostitusi di Kalijodo. Namun, belakangan, pria berumur 51 tahun tersebut hanya disidang dalam kasus pencurian listrik di beberapa kafe remang-remang miliknya di Kalijodo. Pada 30 Juni 2016, ia divonis bersalah dan dihukum 10 bulan penjara serta denda Rp 100 juta oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Daeng Aziz mendaftar caleg dari Partai Gerindra
Foto: Muhammad Taufiqurahman/detikcom


Ini sudah sepaket. Saya sepenuhnya mendukung Anies-Sandi.”

Lama tak terdengar kabarnya, tiba-tiba Daeng Aziz mendaftar sebagai calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel. Pria asli Jeneponto, sebuah kabupaten yang berjarak 80-an kilometer dari Kota Makassar, itu, mendaftar sebagai caleg dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), partai besutan Prabowo Subianto.

Sayangnya, Daeng Aziz enggan berbicara banyak seputar pencalegannya itu. Ia hanya bilang mendaftar menjadi anggota Dewan bersama kawan-kawannya. “Saya mendaftar dulu. Kan ini belum diterima. Masih seleksi,” kata pria berkumis tersebut. “Nantilah kita bicara lebih lanjut. Jangan di sini,” tutur Daeng Aziz.

Bekas pengacaranya, Razman Arif Nasution, tak terkejut mendengar kabar majunya Daeng Aziz ke Pileg 2019 lewat Gerindra. Sebab, setelah terusir dari Kalijodo, Daeng Aziz memang diketahui merapat ke partai berlambang kepala burung garuda itu. Bahkan Daeng Aziz mendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yang diusung Gerindra pada Pilkada DKI Jakarta saat melawan Ahok-Djarot Saiful Hidayat.

Pembongkaran bangunan di kawasan Kalijodo, Jakarta.
Foto: dok. detikcom

Daeng Aziz sempat muncul di acara kampanye Anies-Sandi di Jalan Pemuda, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Minggu, 8 April 2017. Ia duduk di jajaran kursi paling depan. Bahkan Daeng Aziz sempat mengikuti sesi foto bersama Anies. Namun Anies mengaku tak tahu kehadiran Daeng Aziz. “Justru tahunya dari teman-teman (wartawan),” katanya.

Adapun Daeng Aziz sempat melontarkan pujian kepada pasangan Anies-Sandi seusai acara kampanye itu. Ia menilai pasangan tersebut sebagai paket calon pemimpin yang berintegritas, mendidik, dan mengayomi masyarakat. “Ini sudah sepaket. Saya sepenuhnya mendukung Anies-Sandi,” tutur Daeng Aziz.

Kedatangan Daeng Aziz di kampanye Anis-Sandi memancing komentar Ahok. Menurutnya, Daeng Aziz mendukung rivalnya itu karena dendam terhadap penggusuran Kalijodo. Ahok pun tak peduli. Ia tetap menggusur bedeng-bedeng di bawah flyover Kalijodo, yang disinyalir menjadi lokasi prostitusi baru.

Kafe Intan milik Daeng Aziz di Kalijodo pada saat dihancurkan.
Foto: dok. detikcom

Ketua DPD Gerindra Sulsel Idris Manggabarani mengungkapkan, Daeng Aziz mendatangi kantor DPD Gerindra Sulsel sekitar Maret 2018 untuk mendaftar sebagai caleg. Meski lupa hari apa tepatnya Daeng Aziz datang ke DPD Gerindra, Idris ingat betul saat itu Daeng Aziz mengatakan sangat ngefans pada Prabowo. Itu sebabnya, dia hanya mau ke Gerindra karena ada Prabowo.

“Dia bilang, ‘Pak, saya mau maju jadi caleg, tapi tujuan utama saya bukan mau terpilih jadi anggota DPRD. Tujuan saya supaya Prabowo menjadi presiden dan Gerindra menang. Makanya, waktu mendaftar, dia tidak peduli mau ditempatkan di nomor urut berapa. Akhirnya dia mendapat nomor urut 5,” tutur Idris kepada detikX.

Sebelum menjadi caleg, Daeng Aziz mendaftar sebagai anggota Gerindra. Daerah pemilihan yang harus ditaklukkan Daeng Aziz untuk menjadi legislator meliputi Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar. Idris optimistis Daeng Aziz bakal punya peluang menang. Sebab, nama Daeng Aziz begitu dikenal di Jeneponto. Dia juga memiliki jaringan di dua kabupaten lainnya.

"Saya melihatnya Daeng ini polos ya, tidak ada kecenderungan pintar berpolitik. Dia hanya cinta Gerindra dan loyalis Pak Prabowo. Saat 2014 saja, di Sulsel, Gerindra menang besar di Jeneponto, daerahnya Daeng Aziz,” ujar Idris.

Basuki Tjahaja Purnama
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Menurut Idris, sekalipun nama Daeng Aziz dikaitkan dengan lokasi maksiat di Kalijodo, tidak lantas namanya buruk di kampung halaman. Bahkan Daeng Aziz sangat dihormati di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. “Masyarakat di sini (Sulsel) sama sekali tidak menganggap dia sebagai mantan narapidana. Kita lebih baik memilih mantan preman daripada mantan ustaz. Saya lebih menganggap dia sebagai Robin Hood,” kata Idris.

Istilah Robin Hood yang dimaksud Idris lantaran Daeng Aziz dikenal dermawan dengan membagi lahan-lahan miliknya untuk digarap warga dan membiayai sejumlah anak untuk bersekolah dan banyak menghidupi banyak orang.

Sebelum mendaftar menjadi caleg, sepak terjang politik Daeng Aziz di Jeneponto sudah terlihat dengan menjadi tim sukses calon Bupati Jeneponto yang didukung Gerindra dalam Pilkada Serentak Juni lalu, Baharuddin Baso Jaya dan Isnaad Ibrahim. Daeng Aziz pun hadir dalam kampanye pasangan cabup-cawabup tersebut.

Soal majunya Daeng Aziz di Pileg Sulsel, DPP Gerindra menyerahkan mekanisme tersebut ke DPD setempat. "Itu mekanisme diserahkan kepada Ketua Gerindra di daerah, sekalipun mekanisme persetujuan akhir tentu ada di DPP. Hanya, biasanya, yang menjadi keputusan di daerah itu yang kita akomodasi," kata Wasekjen DPP Gerindra Sudaryono kepada detikX, Selasa, 17 Juli.

Prabowo Subianto
Foto: Wildan/detikcom

Ketua Gerindra daerah, kata Sudaryono, adalah yang paling tahu soal peta kekuatan di wilayah masing-masing. Penempatan seorang caleg merupakan bagian dari strategi. Sebab, ketua Gerindra di daerah, baik itu DPD maupun DPC, merupakan pihak yang paling tahu kebutuhan dan kekuatan politik di daerahnya.

“Yang jelas, fokus Gerindra dan Pak Prabowo adalah program-program ekonomi. Karena saat ini kondisi ekonomi Indonesia sedang dalam keadaan yang tidak terlalu baik. Harga-harga sembako mahal, telur mahal. Lapangan pekerjaan sulit dan seterusnya,” kata Sudaryono.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz W, Muhammad Taufiqurahman (Makassar)
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syaban

[Widget:Baca Juga]
SHARE