INVESTIGASI

Ada ‘Presiden’
di Lapas Sukamiskin

“Ha-ha-ha... ya money-nya itu rokok misalnya.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 25 Juli 2018

Pria berusia 78 tahun itu biasa dipanggil Culang. Dia adalah pria keturunan Tionghoa yang terseret kasus pembobolan Bank Negara Indonesia (BNI) 24 tahun silam senilai Rp 300 miliar. Meski usianya sudah renta dan jalannya agak sempoyongan, pria ini menjadi ‘presiden’ di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Kota Bandung, selama puluhan tahun.

Jabatan itu adalah sebutan narapidana yang menjadi ketua pengurus penghuni lapas. Tugasnya antara lain mengelola administrasi untuk kebersihan dan kebutuhan para penghuni, yang menempati 478 kamar tahanan.

“Waktu zaman saya, nama ketua lapas itu Culang. Dia orang China. Dia kena hukuman 19 tahun plus 5 tahun penjara karena tak bisa kembalikan uang yang ditilapnya. Jalannya sudah miring-miring saat itu karena saking tuanya,” ujar mantan Sekjen Partai NasDem Patrice Rio Capella, yang sempat ditahan di Lapas Sukamiskin selama setahun.

Sebutan 'presiden' untuk ketua Lapas bukan tanpa sebab. Soalnya, kata Rio, untuk menduduki posisi itu, narapidana yang berminat harus bersaing secara demokratis berdasarkan suara terbanyak. Bahkan proses pemilihan juga diwarnai aksi ‘money politics’. “Ha-ha-ha... ya money-nya itu rokok misalnya,” imbuhnya.

Posisi ketua pengurus lapas memang cukup menggiurkan lantaran akan mendapat sejumlah keistimewaan. Misalnya, tidak diwajibkan membayar sumbangan dan iuran rutin. Sang ketua pulalah yang mengelola iuran para narapidana untuk kebersihan lapas, seperti menyapu dan mengepel lantai lorong-lorong dan mengurusi pembuangan sampah.

Saung 'elite' yang berada di Lapas Sukamiskin saat masih berdiri.
Foto: Baban Ganda Purnama/detikcom

Posisi itu semakin menggoda ketika Sukamiskin diputuskan menjadi penjara khusus para koruptor, yang umumnya pejabat, politikus, dan pengusaha. Sebab, uang iuran dan sumbangan jadi makin berlimpah.

Seiring dengan masuknya para narapidana berduit ke Sukamiskin, kondisi sel-sel tahanan di sana yang dahulu kusam dan lembap mendadak berubah. Sebab, masing-masing penghuni merenovasi sesuai dengan selera dan kebutuhan mereka.

Menurut Rio, perbaikan ruangan sel yang dilakukan penghuni dianggapnya wajar mengingat usia bangunan yang sudah uzur. Untuk diketahui, Lapas Sukamiskin berdiri sejak 1918. “Nah, karena lapas itu umurnya lebih dari 100 tahun, ada yang bocor, karena WC yang atas itu menetes, itu diperbaiki. Yang memperbaiki siapa? Warga binaan sendiri dan menyuruh warga binaan kriminal umum tadi,” terang Rio.

Kadang narapidana kriminal umum juga menawarkan diri untuk membuat lemari, rak buku, meja, serta ranjang di dalam sel. Selain itu, para penghuni Lapas Sukamiskin tidak perlu melakukan apel pagi seperti di lapas lainnya. Sebab, petugas lapas sungkan terhadap napi korupsi lantaran dianggap punya jaringan dan kolega orang kuat di luar penjara. Apalagi mereka memiliki banyak uang.

Alhasil, suasana di Sukamiskin tidak seperti di dalam penjara pada umumnya. Lapas Sukamiskin lebih layak disebut sebagai mes atau penginapan. Hari-hari diisi para napi dengan aktivitas yang mereka suka. “Kalau Andi Mallarangeng (mantan Menpora) saban hari main tenis. Kalau OC Kaligis sukanya joging dan nulis buku,” ujar Rio.

OC Kaligis
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Soal makanan, pihak lapas menyiapkan makanan tiga kali dalam sehari. Menunya bervariasi, kadang telur rebus, telur goreng, sup terung, terkadang daging cincang. “Tapi lebih banyak kuahnya dibanding dagingnya. Saya saja jarang kebagian daging atau terung, ha-ha-ha...,” ujar Rio.

Untuk mencukupi kebutuhan makanan, para napi korupsi ini lebih banyak menyantap makanan yang dibawa keluarga atau memesan dari luar lapas secara online. Apalagi mereka leluasa memegang ponsel. “Memang HP barang mewah? Kan, sudah kebutuhan buat mengabarkan keluarga kalau sakit atau apa. Kalau nggak bisa menghubungi keluarga, kan stres, bisa berkelahi kita,” katanya.

Namun segala keleluasaan yang didapat para koruptor yang menghuni Lapas Sukamiskin sepertinya bakal terhenti. Sebab, Komisi Pemberantasan Korupsi telah mengusulkan dan mengkaji kemungkinan mengirim napi korupsi ke Pulau Nusakambangan.

Usul tersebut langsung ditanggapi Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami. Dia akan menjadikan sel napi korupsi di Nusakambangan sebagai lapas percontohan untuk lapas-lapas di Indonesia.

"Jadi di Nusakambangan cuma ada satu lampu, dan itu akan kami jadikan percontohan karena nanti tak ada barang yang masuk kamar," ujarnya di kantor Kemenkum HAM, Senin, 23 Juli 2018.

Sel koruptor di LP Sukamiskin
Foto:  dok. detikcom

Bukan hanya itu. Di dalam sel tidak akan ada lemari. Yang ada hanya selimut dan peralatan ibadah. "Kami sudah siapkan lemari besi itu di luar. Jadi barang milik pribadi di luar, itu yang akan diterapkan. Nusakambangan kita jadikan percontohan," jelasnya.

Nusakambangan juga tak menerima kunjungan tamu. Hal itu ternyata bisa diterapkan dan dipatuhi. Harapan Sri Puguh, lapas lain juga bisa taat aturan. Berdasarkan hal itu, dia memandang lapas dengan medium security hanya bisa diberikan kepada napi produktif.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE