INVESTIGASI

Nestapa di
Pulau Lombok

Rasa trauma masih menghinggapi warga Lombok pascagempa besar. “Rencana ke depan belum tahu. Kita di sini menunggu bantuan,” kata Amaq.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Selasa, 7 Agustus 2018

Suara azan tanda masuk waktu salat Isya berkumandang. Sebagian warga di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pun bergegas menuju masjid atau salat di rumah masing-masing. Begitu juga yang dilakukan Amaq Roi, warga Dusun Karang Anyar, Desa Gerimax Indah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, pada Minggu, 5 Agustus 2018, itu.

Tepat pukul 19.36 Wita, Amaq mendampingi neneknya menuju masjid terdekat. Setelah jemaah berkumpul, salat pun dilakukan dengan khusyuk. Tiba-tiba, bumi berguncang. Badan jemaah pun limbung. Terdengar suara berderak begitu kencang menakutkan.

Tanpa terlebih dahulu merampungkan ibadah, satu per satu jemaah mundur. Sebagian berlarian sambil mengucap takbir dan istigfar. “Allahuakbar… Astagfirullah…." Juga terdengar teriakan, “Gempaaa...." Amaq langsung meraih neneknya, yang kemudian dipeluknya sambil setengah berlari menuju ke luar.

Tidak lama, plafon masjid runtuh satu per satu digoyang gempa besar. Dinding terbelah dan genting berjatuhan. Amaq dan neneknya makin panik, karena di luar ternyata gelap gulita. Jaringan listrik PLN mati total. Warga lainnya pun berhamburan ke luar rumah menuju tempat yang lebih lapang.

Suasana di RS Tanjung, Lombok Utara, pascagempa.
Foto: dok. Reuters


Keluarga saya masih trauma. Rencana ke depan belum tahu. Kita di sini masih menunggu bantuan. Air nggak ada. Air di sini keruh dan kotor, nggak layak. Kalau listrik sudah menyala lagi.”

“Saya lagi salat di masjid antara pukul 19.30-20.00 Wita. Saya bersama nenek di masjid. Waktu gempa, saking paniknya, saya tuntun nenek lari,” ungkap Amaq saat menceritakan peristiwa gempa bumi mengerikan itu kepada detikX, Senin, 6 Agustus 2018.

Setelah menyelamatkan neneknya bersama warga lain di lapangan, Amaq teringat keluarganya yang berada di rumah. Ada kakek, paman, dan bibi yang tinggal bersamanya. Dia pun langsung lari terbirit-birit menuju rumahnya.

Tapi, sang kakek kurang beruntung. Kakek Amaq, yang saat itu beribadah di rumah, sempat lari tapi menabrak dinding rumah yang roboh terbelah. Amaq bersama paman dan bibinya yang selamat menggotong sang kakek ke pinggir jalan. “Kakek saya kaki dua-duanya kelihatan sampai tulangnya. Nggak bisa dijahit,” jelas Amaq.

Saat ini kakek Amaq dirawat di Rumah Sakit Daerah Lombok Barat. Warga lain yang terluka juga dibawa sejumlah relawan Aliansi Pusat Kesehatan Pondok Pesantren (Puskestren) dan Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes) NTB.

“Keluarga saya masih trauma. Rencana ke depan belum tahu. Kita di sini masih menunggu bantuan. Air nggak ada. Air di sini keruh dan kotor, nggak layak. Kalau listrik sudah menyala lagi,” imbuhnya.

Rumah penduduk yang porak-poranda akibat gempa
Foto: Beawiharta/Reuters

Di Dusun Karang Anyar sendiri, diperkirakan 200 rumah rusak parah. Wilayah yang terkena dampak gempa paling parah berada enam RT, mulai RT 01 hingga RT 06. Sembilan posko sejak Minggu malam dibangun di desa tersebut.

“Keluarga saya alhamdulillah (baik-baik saja). Cuma ada beberapa warga yang masuk rumah sakit, ada yang kena musibah. Ada yang kena kepala, hidung, dan kaki robek,” kata Kepala Dusun Karang Anyar, Saharudin, kepada detikX.

Saharudin mengatakan, sejak terjadi gempa, warga tak ada yang berani pulang atau tinggal di rumahnya. Mereka masih tinggal di posko-posko yang didirikan aparatur desa setempat. Para pengungsi, khususnya anak-anak, masih trauma dan mulai terserang demam. Karena itu, butuh pasokan obat-obatan dan bahan makanan.

“Yang diharapkan sekali di sini bantuan kesehatan, perawatan medis, makanan, dan minuman. Kita harapkan sekali dari pihak donatur memberikannya segera,” ucapnya penuh harap.

Kota Mataram juga bernasib serupa. Banyak bangunan rumah dan tempat ibadah yang rusak parah. Warga sampai saat ini masih berada di tenda-tenda pengungsian. Sebagian besar takut terhadap gelombang tsunami dan gempa susulan.

Kondisi Kota Mataram pukul 03.00 Wita pascagempa 5 Agustus 2018
Foto: Raditya Pratama/warga Mataram

Dusun Karang Anyar, Desa Gerimax, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat
Foto: Dedi Ahmad Mardani/relawan medis di Mataram

Gempa Lombok berkekuatan 7 skala Richter dan berpusat di lereng Gunung Rinjani. Gempa terjadi di kedalaman 15 kilometer akibat pergerakan sesar aktif Flores. Pascagempa itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 230 kali gempa susulan. Terakhir pada 7 Agustus 2018 pukul 07.00 Wita.

Warga yang mengungsi kini tinggal di tenda-tenda darurat atau tenda di pinggiran jalan. “Bantuan belum ada. Cuma masing-masing warga bawa beras dari rumah, lalu dimasak di tenda pengungsian. Sementara itu, makanan dan minuman masih aman karena kita di kota,” kata Raditya Pratama, warga Kota Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, kepada detikX.

Raditya mengatakan berangsur-angsur aliran listrik di Kota Mataram pulih. Hanya, air minum menjadi masalah. Pasalnya, sejak gempa terjadi, baik air PAM maupun sumur milik warga berubah menjadi keruh dan berwarna cokelat, sehingga tidak layak dikonsumsi.

“Alhamdulillah listrik sudah nyala. Tapi air PAM kotor. Kami juga kekurangan tim relawan. Banyak kekurangan obat. Seharusnya buat perawatan korban harus dipersiapan,” kata Dedi Ahmad Mardani, salah seorang dosen Sekolah Tinggi Kesehatan Yarsi Mataram yang menjadi relawan tenaga medis, kepada detikX.

Dedi mengatakan, sejak gempa hingga Senin, 6 Agustus 2018, siang, relawan Puskestren dan Puskesdes NTB bergerak cepat menolong warga dan mendirikan posko-posko. Sebab, relawan ini sudah terbentuk dan masih bertugas di sejumlah tempat pengungsian dampak gempa bumi di Lombok pada Minggu, 29 Juli 2018.

Pasien dievakuasi ke tenda yang dibangun oleh BNPB di halaman rumah sakit.
Foto: Andry Novelino/CNN Indonesia

Dari pantauan detikX di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, malam hari gelap gulita. Kota itu seperti kota mati karena ditinggalkan penduduknya mengungsi. Di sepanjang jalan yang terlihat hanya reruntuhan rumah. Beberapa ruas jalan juga terlihat retakan yang menganga selebar 5-10 cm.

Warga di kecamatan ini pun mendirikan sejumlah tenda darurat, seperti di sekitar lapangan Pasar Bayan. Di pengungsian ini terdapat 200-an warga. Mereka bertahan dengan menggunakan genset sebagai penerang. Sejak Senin sore, bahan makanan warga menipis.

“Belum ada bantuan sama sekali. Kita cuma ada nasi sama mi, itu pun tinggal sedikit. Untuk besok, kita tak punya apa-apa,” ujar Afifudin, warga Desa Anyar, Kecamatan Bayan.

Sebenarnya berbagai jenis bantuan sudah dikirim ke Lombok. Namun bantuan-bantuan itu belum bisa terkirim ke Lombok Utara, wilayah terparah dampak gempa. Selain banyak titik longsor dan pohon tumbang, jalanan banyak yang rusak. Jembatan Tampes, Lokok Tampes, dan Luk, yang menghubungkan Lombok Timur ke Lombok Utara, putus.

“Desa-desa juga ada yang sulit terjangkau karena berada di bukit dan jalan rusak. Bantuan logistik belum dapat menjangkau ke sana,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018.

Dari laporan Babinsa dan Bhabinkantibmas di Lombok Utara, estimasi kerusakan akibat gempa sekitar 85 persen di Kecamatan Tanjung, 80 persen di Kecamatan Kayangan, 75 persen di Kecamatan Bayan, 65 persen di Kecamatan Gangga, dan 55 persen di Kecamatan Pemenang.

Pengungsi di tenda darurat yang dibangun di kebun mereka di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Senin (6/8).
Foto: Zabur Karuru/Antara Foto

Di Lombok Utara, tercatat ada 10.218 rumah, 7 rumah ibadah, dan 40 unit sekolah yang rusak. Di Lombok Barat, terdapat 28 rumah rusak; Lombok Timur 2.993 rumah, 20 sekolah, 48 rumah ibadah, 5 fasilitas kesehatan, dan 37 kios rusak. Di Sumbawa Barat tercatat 1 rumah rusak.   

Data BNPB pada 6 Agustus 2018 pukul 08.00 WIB menyebutkan warga yang meninggal dunia akibat gempa mencapai 98 orang dan 236 orang terluka. Paling besar di Kabupaten Lombok Utara, yang menjadi titik pusat gempa. Tercatat 72 orang meninggal dunia dan 64 orang terluka.

Di Kabupaten Lombok Barat tercatat 9 orang meninggal. Di Kota Mataram tercatat 4 orang meninggal dunia, 71 orang terluka. Di Lombok Timur tercatat 2 orang meninggal, di Lombok Tengah tercatat 2 orang meninggal. Di Pulau Gili Trawang tercatat 7 orang meninggal. Sedangkan di wilayah Provinsi Bali tercatat 2 orang meninggal dan 37 orang terluka.

Sebanyak 2.000-2.700 wisatawan asing dan domestik yang berada di Pulau Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno dievakuasi tim SAR gabungan. Dengan sembilan kapal, mereka dievakuasi ke Pelabuhan Bangsal di Lombok dan Mataram. Namun, karena ombak besar dan situasi masih dilanda kepanikan, proses evakuasi sedikit terhambat.

Upaya penanganan dilakukan pemerintah dalam masa tanggap darurat pascagempa di Lombok hingga 11 Agustus 2018. BNPB sudah mengirimkan 21 ton bantuan logistik dan peralatan. Satgas Kesehatan TNI telah dikirimkan dengan menggunakan tiga pesawat Hercules C-130, yang juga membawa obat-obatan, logistik, tenda, dan alat komunikasi.

Evakuasi wisatawan Gili Trawangan
Foto: Adek Berry/AFP Photo 

KRI dr Sudarso milik TNI AL juga diberangkatkan dari Surabaya ke Lombok untuk dijadikan kapal rumah sakit. Basarnas mengirimkan personel, helikopter, kapal, dan peralatan untuk menambah kekuatan operasi SAR. Polri juga mengirimkan tenaga medis, obat-obatan, dan dua helikopter.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menerjunkan sejumlah alat berat serta menambah air bersih dan sanitasi. Kebutuhan yang mendesak saat ini bagi warga Lombok adalah makanan siap saji, air mineral, air bersih, tenda, terpal, tikar, selimut, pakaian, makanan penambah gizi, dapur umum, obat-obatan dan pelayanan kesehatan serta trauma healing. “Dan kebutuhan dasar lainnya untuk pemenuhan dasar para pengungsi,” pungkas Sutopo.


Reporter/Penulis: Gresnia FA, Syailendra Hafiz W, Ahmad Bil Wahid (Lombok)
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE