INVESTIGASI

Teror Begal di Kota Kembang

"Heh, kamu. Aku tembak, aku tembak!"

Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Kamis, 6 September 2018

“Kunaon di dieu, Anjing (Ngapain di sini, Anjing)?” Kristoforus Jedikson, 23 tahun, tersentak. Baru saja dia menurunkan standar sepeda motor Honda Supra-X yang dia kendarai di dekat tukang nasi goreng di Jalan Jakarta, Bandung, Jawa Barat, dua pemuda berboncengan sepeda motor tiba-tiba menghampiri dan bertanya dengan nada kasar. Irwan Setiawan, 25 tahun, yang diboncengkan Kristoforus, pun menjawab dengan penuh emosi. “Mau beli nasi goreng. Kenapa kamu?”

Tak ciut nyali, pemuda misterius yang duduk di sadel belakang turun dan menodongkan pistol ke wajah Kristoforus. Irwan berusaha merebut pistol itu. Namun, dari arah belakang, muncul lagi dua pengendara sepeda motor dan langsung memukulkan pistol ke kepala Irwan. “Heh, kamu. Aku tembak, aku tembak!!” mereka menggertak.

Di tengah kondisi mencekam itu, Kristoforus mendorong tubuh si begal hingga terjatuh dan berlari sekuat tenaga. Irwan mengikuti di belakang dengan darah segar bercucuran dari pelipisnya. Komplotan begal itu pun masih mengejar dan menembakkan pistol ke arah trotoar.

“Kami masih dikejar. Saya lari ke Jalan Anyer, langsung teriak, dan mereka sudah tidak ngejar lagi. Si Irwan di belakang saya juga teriak sambil memegangi tangan yang banyak darah,” Kristoforus menceritakan kembali peristiwa pembegalan yang dialaminya pada malam Idul Adha, 22 Agustus 2018, itu kepada detikX, Rabu, 5 September.

Polisi berhasil menangkap begal sadis yang menewaskan Shanda Puti Denata. Pelaku berjumlah dua orang, satu di antaranya ditembak mati.
Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom

Menurut Kristoforus, pembegalan itu berlangsung sangat cepat. Jalan Jakarta pada pukul 02.00 WIB sudah sangat sepi. Keduanya nekat ke luar karena terdorong rasa lapar ketika menunggui hewan kurban milik warga. Beruntung, nyawa keduanya selamat. Sedangkan sepeda motor milik ayah Kristoforus digondol komplotan begal. “Irwan sempat dirawat jalan di Rumah Sakit Bungsu. Soalnya, pas kemarin lapor, langsung sama polisi juga divisum,” ujarnya.

Selama dua bulan ini, Agustus-September, satu per satu warga Kota Bandung berjatuhan menjadi korban kebengisan begal. Begal, yang dikategorikan sebagai tindak pidana pencurian dengan kekerasan atau kejahatan jalanan, kian marak di kota berjulukan Kota Kembang itu.

Hampir bersamaan dengan Kristoforus, korban berikutnya adalah FS. Ia tengah mengendarai sepeda motor Suzuki Satria di kawasan Arcamanik Endah sekitar pukul 02.30 WIB. FS saat itu tengah memboncengkan temannya. Keduanya tiba-tiba dipepet enam begal yang mengendarai empat sepeda motor. Mereka tersungkur setelah salah satu pelaku menendang ban depan sepeda motor FS.

Melihat korban tersungkur, para pelaku langsung memukuli korban menggunakan kayu balok. FS pun terkapar di depan jalan tepat di depan sebuah kantor bank. Komplotan begal langsung membawa motor di tengah kegelapan malam. Kejadian ini diketahui setelah pemilik akun Instagram @abndulazizmaulana mengirim video peristiwa itu ke @sekitarbandungcom.

Dua jam kemudian, sekitar pukul 05.00 WIB, menjelang salat Idul Adha, dua begal nekat merampas tas seorang pengendara motor di Taman Vanda, Jalan Merdeka, di depan Markas Polres Kota Besar (Polrestabes) Bandung. Dua jam kemudian, kedua begal yang bernama Ricardo Ferino dan Fadhil Ihza Maulana itu dibekuk Satuan Reskrim Polsek Lengkong.

Penangkapan begal di Bandung yang menyebabkan Shanda tewas.
Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom

Pada 24 Agustus, komplotan begal merampas ponsel seorang perempuan warga negara Korea Selatan berumur 21 tahun di perempatan Jalan Aceh dan Jalan Lombok. Korban merupakan suporter atlet negaranya yang tengah mengikuti Asian Games 2018. Ia, yang tengah menumpang ojek online, dipepet begal.

Dua hari kemudian, Minggu, 26 Agustus, sekitar pukul 04.00 WIB, seorang ibu yang mengendarai motor dibegal hingga terjatuh. Korban baru pulang dari Pasar Ancol, Kecamatan Regol. Tapi para pelaku tak berhasil membawa barang incarannya. Satu jam berselang, dilaporkan seorang pria yang tengah melintas di Jalan Lodaya juga dibegal. Pria itu melawan begal berjumlah dua orang. Namun dompet dan ponsel korban dirampas kedua begal itu.

Melihat maraknya aksi begal itu, pihak kepolisian Kota Bandung tak berdiam diri. Setidaknya, dalam satu pekan, pada 17-21 Agustus, jajaran Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung berhasil menangkap 24 tersangka pembegalan. “Ya, kita tidak tinggal diam. Kita melakukan penegakan hukum dan tindakan preventif,” kata Kepala Polrestabes Bandung Kombes Irman Sugema melalui pesan singkat kepada detikX, 28 Agustus.

Ke-24 tersangka yang ditangkap merupakan pelaku kejahatan pencurian dengan pemberatan. Mereka antara lain 10 pelaku pencurian sepeda motor dan 13 pelaku pencurian dengan kekerasan. Semua telah melakukan 44 kali kejahatan di sejumlah titik di Kota Bandung. Rata-rata pelaku berusia muda, pengangguran, dan hanya lulusan setingkat SD dan SMP.

Tetapi pembegalan terus terjadi, dan justru membawa korban tewas. Kasus pembegalan sadis menimpa Shanda Puti Denata, mahasiswi tingkat akhir Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung. Kasus terakhir ini menyedot perhatian masyarakat karena Shanda akhirnya meninggal ketika dirawat di RS Borromeus, Bandung.

Kepada kepolisian, urusan begal ini jangan dikasihani.”

Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung yang kini Gubernur Jawa Barat

Kapolrestabes Bandung Kombes Irman Sugema
Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom

Kamis, 30 Agustus 2018, pukul 04.00 WIB, Shanda, yang diboncengkan EA (23) setelah makan bakso di Cihampelas, melaju menuju rumah temannya. Tapi, saat berada di Jalan Cikapayang, keduanya didekati kawanan begal yang menggunakan sepeda motor. Tiba-tiba tas Shanda ditarik begitu keras sehingga kedua korban terpelanting di jalan raya.

Shanda terjatuh dengan kepala terbentur aspal, begitu juga EA. Melihat hal itu, begal langsung tancap gas di kegelapan malam dengan menggondol tas Shanda yang berisi uang dan ponsel. Beberapa pengemudi ojek online yang melintas pun menolong Shanda dan EA. Saat itu juga mereka membawa korban ke Rumah Sakit Borromeus di Jalan Juanda.

Shanda mengalami koma karena menderita luka parah di bagian kepala. Sedangkan EA mengalami luka memar. Namun, keesokan harinya, Jumat, 31 Agustus 2018, nyawa Shanda tak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhir di ruang IGD RS Borromeus sekitar pukul 00.00 WIB. Shanda dimakamkan di kampungnya di Banjar, Jawa Barat, keesokan harinya.

Polisi pun memburu begal yang menewaskan Shanda dan korban lainnya. Selasa, 4 September, petugas berhasil menangkap dua pelaku. Keduanya bernama Yonas Aditya alias Adit, 26 tahun, dan Aminatus Solihin alias Ami, 24 tahun. Adit dan Ami adalah residivis. Karena mengancam petugas, Ami tewas ditembak.

Tangkapan kamera CCTV tentang pembegalan di Jalan Lodaya, Bandung.
Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom

Merajalelanya aksi pembegalan membuat Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil, geram. Dia setuju polisi melakukan tembak di tempat terhadap begundal jalanan sadis itu. “Jangan macam-macam di Kota Bandung. Saya setuju tembak di tempat saja. Kepada kepolisian, urusan begal ini jangan dikasihani,” kata Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, geram di Pendopo Kota Bandung, Jumat, 31 Agustus.

Apalagi, menurut Emil, rata-rata pelaku diketahui bukan warga Kota Bandung. Hampir dua pertiga pelaku begal, menurutnya, tak memiliki KTP Kota Bandung. Mereka memang menjadikan Kota Bandung, yang dikenal sebagai kota turis dan kota wisata, sebagai target kejahatannya.

Kombes Irman Sugema, yang baru 12 hari memimpin Polrestabes Bandung, menilai aksi-aksi begal yang marak bermotif ekonomi. Apalagi rata-rata pelaku berusia produktif tapi menganggur, yang mengambil jalan pintas mencari uang. “Salah satu pelaku yang ditangkap sebelumnya bekerja sebagai sopir. Gara-gara sepi penumpang, nggak dapat apa-apa, dia harus makan dan minum, dia lalu membegal. Itu contohnya,” ujar Irman.


Reporter: Gresnia Arela F, Dony Indra Ramadhan (Bandung)
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE