INVESTIGASI

Kala Rumah Kos Menjamur
di Atas Rel Sepur

Sekitar 50 persen jalur kereta api di Jawa Barat yang hendak diaktivasi kembali dikuasai penduduk. Salah satunya bangunan tempat kos yang berjibun di jalur Rancaekek-Tanjungsari.

Foto: Ibad Durohman

Rabu, 26 September 2018

Sulton Khadafi, mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung, hanya bisa pasrah jika harus hengkang dari kamar tempat kos yang dia huni sejak empat tahun lalu. Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah yang kini tengah menyusun skripsi tersebut pun bersiap jika harus angkat koper dari tempat kosnya yang berdiri di jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari, yang akan diaktivasi kembali oleh PT Kereta Api Indonesia.

“Saya kos di Pondok Munggarani. Lokasinya selurusan dengan Jembatan Cicin itu. Per tahun sewanya Rp 3,5 juta. Kalau yang baru mungkin bayarnya bisa Rp 4-5 jutaan,” kata Sulton saat berbincang dengan detikX di Jatinangor pekan lalu.

Menurut Sulton, harga sewa indekos di Desa Hegarmanah, yang lokasinya tidak jauh dari Jembatan Cincin, masih termurah di antara kos-kosan yang ada di sekitar kampus Universitas Padjadjaran. Sebab, akses ke tempat kos di kawasan tersebut tidak bisa dilalui mobil karena lokasinya agak di dalam. Hanya sepeda motor yang bisa melintas di kampung kos-kosan yang terletak di belakang kampus itu.

Sementara itu, di tempat kos yang bisa diakses mobil, seperti di Kampung Ciseke atau Caringin, mahasiswa setidaknya harus merogoh kocek Rp 7-10 juta per tahun untuk biaya sewa. “Kalau memang rel jadi dibangun, mahasiswa yang ingin cari kosan murah tentu sulit, Kang. Lagi pula kereta kan tidak dibutuhkan amat karena ada angkot dan bus Damri ke Tanjungsari,” ucap Sulton.   

Salah satu bangunan tempat indekos baru milik Suryadi yang didirikan di Kampung Cincin
Foto: Ibad Durohman/detikX


Jadi yang narikin sewa itu oknum liar saja, yakni oknum Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA)."

Rencana aktivasi rel kereta jalur Rancaekek-Tanjungsari, imbuh Sulton, sebenarnya bergulir sejak 2015. Buntut isu tersebut, pemilik tempat kos yang ditempati Sulton mengaku sempat waswas. Bahkan sang pemilik, yang merupakan warga Bekasi, Jawa Barat, sempat meminta penghuni siap-siap pindah. Malah ada sejumlah pemilik dikabarkan ingin menjual bangunan kos-kosan miliknya.

Ikin, 83 tahun, sesepuh warga Hegarmanah, yang ditemui terpisah, mengakui, di desanya banyak didirikan bangunan yang dijadikan tempat kos sejak 1998. Kebanyakan dari mereka merupakan warga Jakarta. “Orang asli di sini paling kalau buka tempat kosan hanya 3-5 pintu. Kalau pemilik dari Jakarta bisa puluhan pintu. Malah ada yang lebih dari seratus pintu, seperti milik Pak Surya, pemilik indekos DeSurya,” terang Ikin.

Menurut Ikin, jika memang jalur kereta yang akan melintasi Desa Hegarmanah akan dihidupkan kembali, yang akan mengalami kerugian besar tentu saja pemilik bangunan kos. Suryadi, 63 tahun, pemilik DeSurya, yang terletak di Kampung Cincin, Desa Hegarmanah, Jatinangor, membenarkan ia akan merugi kalau jalur kereta dihidupkan lagi.

“Rencana itu (reaktivasi kereta api) sudah sering saya dengar, sudah lebih dari 10 kali ya saya dengar. Nah, saya heran nih, pemerintah ngapain bangun kereta? Ada nilai ekonomisnya nggak? Kalau nggak ada, ngapain dibikin? Sedangkan di sini angkot saja pada kosong,” ujar Suryadi.

Pria lulusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara tersebut mendirikan tempat kos sejak 1999 selepas pensiun dari perusahaan pembuat tali baja di London, Inggris. Suryadi mengawali bisnis tempat kos dengan membeli lahan garapan kepada penduduk desa. Pelan-pelan lahan garapan itu pun dibangun tempat indekos.

Suryadi, pemilik tempat indekos ratusan kamar di Hegarmanah.
Foto: Ibad Durohman/detikX

Awalnya, Suryadi harus membayar biaya sewa untuk lahan garapan yang dibelinya itu. Namun lama-kelamaan dia tidak lagi membayar karena yang melakukan oknum-oknum yang tidak jelas. “Jadi yang narikin sewa itu oknum liar saja, yakni oknum Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Kalau nggak salah namanya Harsidi. Sekarang sudah pensiun kayaknya,” terang Suryadi.

Setelah 20 tahun ia menggarap lahan tersebut, kini jumlah tempat kos yang dimilikinya mencapai 130 unit. Dari pantauan detikX, bangunan tempat kos milik Suryadi merupakan yang terbesar di Kampung Cincin. Rumah kos yang diperuntukkan bagi mahasiswa dan mahasiswi itu bertarif Rp 4-5 juta per tahun.

“Reaktivasi jalur kereta cuma ngada-ngadain proyek saja. Aktifkan dulu saja tuh yang di atas yang tol Cisumdawu itu masih mangkrak bertahun-tahun, itu saja beresin dulu,” kata Suryadi.

Meski begitu, jika Pemprov Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia tetap akan menggusur, Suryadi meminta ganti rugi yang sepadan. Sebab, selama mengelola lahan tersebut, dia mengaku tertib membayar pajak bumi dan bangunan ( PBB).

Salah satu bangunan indekos di Hegarmanah yang banyak dihuni mahasiswa Universitas Padjadjaran
Foto: Ibad Durohman/detikX

Lagi pula, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Telantar, disebutkan, kalau ada tanah yang dibiarkan selama berapa puluh tahun, itu bisa dimanfaatkan warga. “Jadi kita kekuatannya berpegang pada PP No 11/2010 itu. Kan presiden yang buat itu. Kalau puluhan tahun tidak dimanfaatkan, ya bisa dikuasai penduduk lokal,” begitu kata Suryadi.

Selain membayar PBB, Suryadi membayar pajak indekos ke pemerintah daerah Sumedang, yang besarnya 5 persen per kamar setiap tahun. Meski begitu, Suryadi tetap mengakali supaya pajak yang dibayarkan tidak membebani. Caranya dengan memanipulasi harga sewa indekos menjadi lebih murah dibanding yang sebenarnya. Misalnya, harga sewa sebenarnya Rp 4 juta, tapi dia bilang ke orang pemda Rp 3 juta sewanya per tahun.

“Itu saran orang pemda. Sebab, kata dia, pajak 5 persen tergolong tinggi untuk bisnis kos-kosan,” kilah Suryadi.

Sebelumnya, warga lama Hegarmanah sedang menggugat status tanah yang dilintasi rel di desa itu. Sebab, mereka beranggapan tanah seluas lebih dari 8 hektare itu bukan milik PT KAI ataupun pemerintah, melainkan leluhur mereka yang mengelola perkebunan Belanda. Gugatan itu kini menunggu putusan Mahkamah Agung di tingkat peninjauan kembali.

Suasana petang di Kampung Cincin
Foto: Ibad Durohman/detikX

Kepala Humas PT KAI Daops II Joni Martinus saat ditemui pekan lalu mengatakan, saat ini yang menjadi prioritas reaktivasi rel kereta api adalah jalur Cibatu-Garut. Pihaknya tengah melakukan mapping terkait kondisi rel di sepanjang jalur tersebut. Proyek jalur Cibatu-Garut itu ditargetkan selesai pada 2019.

Mengenai tiga rute lainnya, termasuk Rancaekek-Tanjungsari, Martinus bilang belum bisa memastikan. “Itu wallahualam. Itu perlu proses, perlu pendanaan yang besar, perlu kajian,” ujarnya.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor:  Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE