INVESTIGASI

Mahar Korban Gempa Pun Lenyap Dijarah

"Bahkan mahar saya Rp 210.209 yang saya pajang itu juga sudah lenyap entah ke mana."

Penjarahan bahan bakar minyak di Palu
Foto: Pradita Utama/detikcom

Selasa, 2 Oktober 2018

Kain sarung kini menjadi andalan Rizqy Widyastuti dan keluarganya untuk tidur di lapangan terbuka saat malam tiba. Tenda darurat tidak cukup menampung para pengungsi korban gempa bumi dan tsunami Palu di kampungnya, Jalan Tombolotutu, RT 3 RW 01, Kelurahan Talise Valangguni, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah. “Aku tidur di luar terus, ini pakai sarung. Dingin sekali. Belum lagi hujan,” tutur Rizqy lewat telepon, Senin, 1 Oktober 2018.

Rumah Rizqy, yang berjarak 1,5 kilometer dari bibir Pantai Talise, terhindar dari gelombang tsunami. Namun rumahnya retak di sana-sini akibat diguncang gempa Magnitudo 7,4 pada Jumat petang, 28 September. Ibu dua anak ini merasa ngeri bila harus pulang ke rumah, bahkan sekadar untuk mengambil baju ganti. “Aku belum balik lagi ke rumah.”

Sedangkan stok makanan, Rizqy mengaku terus menipis. Hingga dua hari bencana melanda, bantuan belum juga tiba. Untuk bertahan hidup, ia dan warga sekitar mengambil dari toko sembako dan swalayan yang ada di dekat mereka. Para pemilik toko dan swayalan secara sukarela memberikan sembako itu kepada korban.

“Memang diizinkan sama yang punya toko untuk dimakan. Bantuan memang sudah masuk, cuma nggak sampai ke warga. Mungkin pemerintah tak cepat tanggap. Tadi baru masuk itu mi instan. Beras, minyak, makanan, dan kebutuhan bayi belum,” katanya.

Menurut Rizqy, setidaknya ada tujuh toko di dekat poskonya yang menggratiskan sembako bagi pengungsi. Ia sendiri mengambil makanan, diaper, susu, serta sabun. Namun ia melihat tidak sedikit pula warga yang nekat mengambil barang-barang selain keperluan sehari-hari. “Mereka kasih kami kesempatan ambil makanan. Tapi ya ada saja yang nakal ambil selain sembako,” ucapnya.

Kondisi rumah yang rusak akibat gempa dan tsunami di Desa Wani, pantai barat Donggala, Sulawesi Tengah.
Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Di berbagai tempat di Palu, warga yang belum mendapat bantuan logistik menjarah barang-barang yang ada di pertokoan, minimarket, maupun mal-mal yang ambruk. Sehari pascagempa, Sabtu, 29 September, sebuah kompleks pertokoan yang diterjang tsunami di pinggir jalan menuju Pelabuhan Pantoloan, Palu Utara, dikerumuni warga. Mereka mengangkuti barang-barang yang masih tersisa di toko.

Ada kasur baru, ban sepeda motor baru, dan benda-benda lainnya dalam kardus. Ribuan warga hilir-mudik membawa barang jarahan itu sebelum aksi mereka dihentikan aparat. Mereka juga berebut bahan bakar di mobil tangki Pertamina yang sedang diparkir di sebuah SPBU di jalan raya itu hingga naik ke kendaraan. “Sabar... sabar...,” teriak warga sambil menenteng botol hingga jerikan untuk menampung BBM.

Penjarahan BBM juga terjadi di Kota Palu, seperti di SPBU di Jalan Imam Bonjol dan tempat lainnya. Warga yang telah lama mengantre BBM hingga ke jalan raya akhirnya tidak sabar. Mereka beramai-ramai memanjat dan menduduki sebuah mobil tangki SPBU di tengah kota. Tidak ada petugas keamanan yang berjaga di SPBU itu. Kemensos menyatakan, ada tiga SPBU dan empat minimarket yang terjarah.

Bukan hanya toko, pusat perbelanjaan yang hancur pun disambangi warga. Mal Tatura, yang terletak di Jalan Emy Salean, tak luput dari penjarahan. Seolah tidak takut terhadap rapuhnya puing-puing bangunan mal, ratusan warga mengambil apa saja, termasuk makanan, baju, dan barang-barang elektronik.

Warga berebut barang-barang di Tatura Mall

Foto: Pradita Utama/detikcom

Warga mencari barang-barang di antara reruntuhan di kompleks pertokoan menuju Pelabuhan Pantoloan

Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikcom

Warga korba gempa dan tsunami di jalan raya menuju Pelabuhan Pantoloan hilir mudik mengangkut barang jarahan

Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikcom

Warga mengangkut barang jarahan, termasuk kasur

Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikcom 

Bantuan masih minim, warga Palu mengambil barang dari minimarket.

Foto: dok. Reuters

Dan, jangankan toko. Korban gempa sendiri menjadi korban penjarahan di Palu. Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang dialami oleh Ditha Ayu Kumalasari, warga Perumahan Petobo Eksklusif, Petobo. Bagian belakang rumah Dhita yang berlokasi di belakang Masjid Jami Al-Furqan rusak akibat gempa. Bahkan rumahnya itu nyaris terkubur oleh lumpur yang menyembur dari dalam tanah.

"Rumah saya juga nggak luput dari penjarahan. Beberapa pakaian saya, suami, dan anak-anak sudah tidak ada. Laptop juga. Bahkan mahar saya Rp 210.209 yang saya pajang itu juga sudah lenyap entah ke mana," tutur Ditha kepada detikX dengan nada sedih.

Merajalelanya aksi-aksi penjarahan itu membuat kepolisian bertindak tegas. Senin, 1 Oktober, pagi, sekelompok orang hendak menjarah sebuah toko ponsel di Jalan Basuki Rahmat, Kota Palu. Mereka langsung diamankan oleh polisi bersenjata lengkap. “Tiarap! Periksa semua,” ujar polisi kepada sejumlah orang yang diduga hendak mencuri itu.

Selain itu, polisi mengamankan tujuh pelaku pembobol anjungan tunai mandiri (ATM). Tercatat, ada lima kali percobaan pembobolan ATM. Sementara itu, total pelaku penjarahan di berbagai tempat yang diamankan Polda Sulteng berjumlah 45 orang. Mereka terancam hukuman berat karena beraksi di tengah bencana.

"Barang buktinya antara lain yang di Mal Tatura 14 televisi LCD, 19 printer, 2 dus spare part komputer, 4 unit AC, 1 kompresor AC, 19 unit speaker aktif, 6 amplifier, 1 CPU komputer, 3 tempat duduk," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

Wakapolri Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan polisi masih menoleransi sebagian korban yang mengambil makanan dari sejumlah tempat karena bantuan belum ada. Namun polisi akan menindak warga jika mereka mengambil uang dan barang-barang berharga lain.

"Memang ada beberapa peristiwa. Kalau ambil makanan, masih kita tolerir, mungkin perlu makanan. Tapi kalau ambil laptop, kalau pakaian pun mungkin, karena pakaian mereka nggak ada. Kalau hal lain, kayak uang dan sebagainya, kita lakukan penegakan hukum," ujar Ari.

Keluarga Ditha Ayu Kumalasari, salah satu korban terdampak gempa bumi di Petobo, Palu. Rumah Dhita rusak. Barang pribadinya dijarah orang pascagempa.
Foto: dok. pribadi

Kepolisian bakal menerjunkan lagi personelnya sebanyak 1.400 untuk meredam aksi-aksi penjarahan itu. TNI pun bakal mengirimkan personel untuk membantu mengamankan rute-rute bantuan. Selasa, 2 Oktober, atau empat hari pascagempa, BBM dan bantuan logistik baru tiba di daerah-daerah terdampak bencana di Palu.

Hingga saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat ada 61.867 orang pengungsi gempa Palu dan Donggala yang membutuhkan uluran tangan. Sementara itu, korban meninggal dari gempa bumi dan tsunami itu berjumlah 1.234 orang, yang berasal dari wilayah Kota Palu, sebagian Donggala, sebagian Sigi, dan Parigi Moutong.


Reporter: Gresnia Arela F, Syailendra Hafiz Wiratama, Selfie Miftahul Jannah (Palu)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE