INVESTIGASI

Petobo, Peradaban
Yang Hilang

Ketika bumi retak, Agustinus terpisah dari keluarganya. Sekuat tenaga membalikkan badan dan berdiri, tapi lumpur terus menariknya ke dalam tanah.

Fotografer: Pradita Utama

Rabu, 3 Oktober 2018

Setiap hari, Ditha Ayu Kumalasari menjemput kedua anaknya dari sekolah, yang jaraknya agak jauh dari rumahnya di Perumahan Petobo Eksklusif, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Bila hari Jumat tiba, Ditha menjemput buah hatinya itu lebih awal bersama orang tua murid lainnya.

Tapi, entah mengapa, Jumat, 28 September 2018, itu, saat berangkat menjemput, ada hal berbeda yang dilakukan Ditha. Ia membawa bekal dua pasang pakaian ganti buat anak-anaknya. Dan pembantunya, Nisa, yang selama ini sulit diajak ke luar rumah karena alasan pekerjaan rumah yang belum selesai, kali ini mau menemani.

“Nggak tahu kenapa saya bawa baju buat anak saya ini sepasang-sepasang. Buat yang gede sepasang, yang kecil sepasang. Nggak biasanya saya bawa baju begitu,” ungkap Ditha menceritakan kejadian sebelum gempa dan tsunami di Palu dan Donggala itu kepada detikX melalui telepon, Selasa, 2 Oktober 2018.

Tolong... tolong... anak saya di dalam! Tolong...!"

Setelah menjemput anaknya dari sekolah, Ditha juga biasanya mengambil makanan katering. Dia, yang memang jarang memasak sendiri, biasa membeli makanan katering ke rumah seorang temannya yang biasa dipanggil 'Budhe'. Habis membeli makanan di rumah Budhe, Ditha dan anak-anaknya seperti enggan beranjak pulang. Akhirnya mereka bersantai di rumah Budhe hingga sore. “Saat itu, perasaan saya nggak enak buat pulang. Ya sudah, saya putuskan nggak pulang dan nunggu di rumah Budhe sampai sore,” ucapnya mengungkap firasat tak enak itu.

Menjelang sore, mereka terkejut ketika rumah Budhe bergetar empat kali. Gempa berkekuatan kecil itu sempat membuat mereka ketakutan, apalagi dibarengi dengan embusan angin yang begitu kencang dan terik matahari yang panas. Namun, pascagempa itu, anak-anak Ditha tetap tak mau diajak pulang ke rumah.

Tanah bergelombang yang terjadi di Petobo pascagempa

Foto: Pradita Utama/detikcom

Petobo dihuni lebih dari 8.000 penduduk. Belum diketahui berapa jumlah korban dari lokasi terparah akibat bencana di Palu ini.

Foto: Pradita Utama/detikcom

Rumah dan bangunan yang hancur di Petobo

Foto: Pradita Utama/detikcom

Selasa, 2 Oktober 2018, tim SAR mulai masuk Petobo

Foto: Pradita Utama/detikcom

Ambulans dipersiapkan di lokasi ketika proses evakuasi korban mulai dilakukan di Petobo

Foto: Pradita Utama/detikcom

Akhirnya, setelah menelepon sang suami, yang bekerja di Telkom Palu, Ditha pun membawa anak-anak serta pembantunya ke kantor suaminya itu. Mereka berkumpul di ruang kerja suami Ditha hingga menjelang Magrib. Azan Magrib berkumandang. Ditha dan Nisa beranjak menuju musala yang ada di dalam gedung.

Baru saja kaki Ditha melangkah, bumi berguncang lagi, tapi kali ini lebih dahsyat. Ditha dan Nisa terlempar. Sempat bangun, keduanya terlempar kembali. Hingga kemudian keduanya bangkit dan dapat keluar dari gedung Telkom. Dari luar, Ditha melihat gedung Telkom bergoyang-goyang. Bunyi berderak terdengar. Kaca-kaca bergetar dan pecah.

Sejumlah orang berhamburan ke luar gedung dan perumahan. Ditha teringat, suami dan anak-anaknya masih berada di dalam gedung. Ia pun meminta tolong kepada orang-orang untuk mencarinya. “Tolong... tolong... anak saya di dalam! Tolong...!” pinta Ditha.

Ternyata suami Ditha dan anak-anaknya kesulitan keluar dari ruangan karena pintunya tertindih lemari. Namun akhirnya lemari itu bisa disingkirkan. Setelah anggota keluarganya lengkap, Ditha bergegas pulang ke Perumahan Petobo Eksklusif.

Tapi justru pemandangan lebih mengerikan yang mereka lihat. Rumah-rumah hancur lebur, bahkan sebagian seperti hilang ditelan bumi. Banyak rumah seolah 'tersedot' ke dalam tanah. Jalan hancur tak berbentuk lagi. Banyak lumpur yang keluar dari perut bumi dan menenggelamkan rumah-rumah di Petobo.

“Ada yang bilang, ada orang juga yang tersedot ke dalam situ (lumpur) dan tinggal kepalanya, dan alhamdullilah, dia masih bisa diselamatkan. Jadi banyak sekali korban. Jadi ketika mau lari, tanah itu terbelah dan mereka terisap ke dalam tanah. Itu dalam hitungan detik,” ucap Ditha merinding mengingat kejadian itu.

Ditha mengatakan bagian belakang rumahnya hancur. Sementara bagian depan nyaris tertimbun lumpur. Rumah di dekatnya hancur lebur dan terbenam lumpur. Banyak warga yang terjebak di dalam rumah, karena air dan lumpur yang keluar datang dari semua penjuru mata angin. “Jadi di rumah saya itu, pada saat kejadian, lumpur itu setinggi leher orang dewasa. Jadi itu bisa dievakuasi baru pukul 02.00 Wita,” katanya.

Keluarga Ditha Ayu Kumalasari
Foto: dok. pribadi

Agustinus Lalang dan Dominggus Karaeng, warga Petobo lainnya, juga selamat dari 'amukan' bumi Palu. Keduanya menyelamatkan diri dengan berbagai macam benda-benda yang ditemukan agar tak tersedot lumpur. “Mereka menyelamatkan diri menggunakan material yang ada di situ, seperti kayu, ranting, dan batang pohon. Mereka baru dijemput di Bandara Palu menuju Makassar,” kata anak Agustinus Lalang, Chrisdianto Lalang (Arung), kepada detikX, Selasa, 2 Oktober 2018.

Mereka menyelamatkan diri dari menggunakan material yang ada di situ, seperti kayu, ranting, dan pohon."

Saat terjadi gempa Magnitudo 7,4 itu, lanjut Arung, ayahnya dan Dominggus, yang merupakan sepupunya, tengah berada di dalam rumah. Mereka sempat berlari menghindari reruntuhan bangunan. Setelah merasa aman, keduanya masuk lagi ke rumah. Namun tiba-tiba, pada pukul 18.07 Wita, terdengar suara gemuruh yang keras dan menakutkan.

Agustinus dan Dominggus pun kembali lari ke luar rumah. Sayang, begitu sampai di pintu depan, keduanya langsung terpisah diterjang gelombang lumpur yang bergulung-gulung dengan cepatnya. Agustinus menutup kedua kuping dan hidungnya saat terbawa arus lumpur. Beberapa kali mencoba membalikkan badannya dan berdiri, tapi beberapa kali pula ia kembali hanyut terbawa derasnya gelombang lumpur. Akhirnya sebatang pohon menjadi penyelamat. Ia meraih akar pohon itu lalu menaikinya.

Setelah gelombang lumpur setinggi tiga meter itu berhenti, Agustinus berusaha keluar dari genangan lumpur. Lolos dari maut, ia menumpang sepeda motor menuju kantor Arung di Jalan Abdurraham Saleh sekitar pukul 22.30 Wita. “Dia (Agustinus) kuat karena sering berdoa, setiap malam selalu mengandalkan Tuhan. Ada saja yang menolong. Ada yang kasih makan, kasih air,” terang Arung, yang tinggal di kos temannya di Rambak.

Petobo pascagempa dilihat dari udara 
Foto: dok. Basarnas

Kengerian suasana di Petobo juga sempat diunggah dalam rekaman video beberapa detik oleh warga. Warga yang saat itu berada di atap rumah merekam, rumahnya seperti perahu bergerak di atas air laut. Pepohonan dan bangunan rumah bergerak begitu cepat terbawa arus sejauh beberapa ratus meter. Lumpur hitam berasal dari tanggul di bagian timur Kelurahan Petobo di Jalan HM Soeharto pun jebol. “Puji Tuhan… puji Tuhan…!” begitu ucap sang perekaman video yang viral itu.

Wilayah Petobo sendiri seperti masuk wadah blender, digulung beberapa kali oleh lumpur. Naik-turun masuk ke dalam tanah. Sebagian besar kampung di Petobo hancur total, bahkan ambles. Hamparan tanah lumpur memanjang dalam radius 2 kilometer persegi 'menelan' rumah dan harta benda lainnya. Fenomena itu lazim disebut likuifaksi. “Gulungan tanah lumpur di Petobo ini sepanjang 2 kilometer. Lebarnya lebih dari 2 kilometer,” ungkap anggota Badan SAR Nasional, Chandra, di Petobo, Selasa, 2 Oktober.

Di Petobo, terdapat banyak kompleks perumahan yang dihuni ratusan penduduk. Setelah gempa dan lumpur, perumahan ini tenggelam. Lumpur itu mulai mengeras walau di sana-sini masih ada yang basah. Dari luas itu, pihak Basarnas baru melakukan penggalian dengan menggunakan buldozer sekitar 500 meter.

Sampai saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan baru 21 orang meninggal yang bisa dievakuasi. Entah berapa orang yang menjadi korban. Berdasarkan data kependudukan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palu tahun 2018, jumlah penduduk Kelurahan Petobo (Kecamatan Palu Selatan) sebanyak 8.556 jiwa.

BNPB menyebutkan 65.733 rumah rusak akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah seluruhnya. Sebanyak 1.234 orang meninggal, 799 orang mengalami luka berat dan 99 orang hilang. Sementara itu, jumlah korban di Petobo dan Balaroa belum bisa diperkirakan. “Di Petobo (Palu Selatan) dan Balaroa (Palu Barat) belum dapat diperkirakan, karena tanahnya ambles,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Selasa, 2 Oktober.


Reporter: Gresnia Arela F, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

SHARE