INVESTIGASI

Tsunami Itu
Terus Mengejarku

Di atas mobil pikap yang menerobos malam di perbukitan hari itu, Ade teringat tsunami Palu yang nyaris merenggut nyawanya. Suaranya begitu keras dan menakutkan.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Kamis, 4 Oktober 2018

Gadis bertubuh mungil itu masih trauma bila melihat orang berlari di depannya. Ia juga terperanjat bila mendengar orang di sekitarnya berteriak. Maklum, Adetia Larasati, nama gadis berjilbab tersebut, nyaris menjadi korban gempa dan tsunami dahsyat yang terjadi pada Jumat, 28 September 2018, pukul 17.22 Wita, di Palu, Sulawesi Tengah.

Gadis kelahiran 1999 yang tercatat sebagai mahasiswi semester I Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad), Palu, itu masih ingat betul gambaran mengerikan tentang bencana yang meluluhlantakkan Kota Palu. Kini ia sudah aman tinggal di rumah kakak iparnya di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

“Aku sampai sekarang seperti orang kaget kalau ada orang lari-lari. Aku masih trauma. Setiap ada orang teriak, aku bawaannya mau berlari,” ujar mahasiswi yang biasa disapa Ade oleh teman-temannya ini, mengisahkan kembali peristiwa yang dialaminya kepada detikX melalui telepon, Selasa, 2 Oktober 2018.

Adetia Larasati, mahasiswi Universitas Tadulako yang lolos dari gempa dan tsunami Palu.
Foto: dok. Istimewa


Sampai tak terasa kami berlari itu sudah 10 kilometer. Suara gemuruh gelombang tsunami itu jelas terdengar.”

Mahasiswi asal Tanjung Pelor, Kalimantan Utara, ini belum genap satu tahun tinggal di Palu. Dia masuk Untad pada 2018 dan tinggal di sebuah rumah kos di kawasan Undata Lama, tepatnya di belakang kantor TVRI Sulteng, Jalan Rajamoili/Jalan Undata, Kota Palu. Ade indekos bersama kakak sepupunya, Shella. Dari kampus Untad ke rumah kos perlu sekitar 20 menit bila menggunakan sepeda motor. Tempat kos itu juga hanya berjarak sepelemparan batu dari bibir Partai Talise di Teluk Palu.

Jumat petang pekan lalu itu menjadi hari yang tak akan terlupakan dalam kehidupan Ade. Ia sedang bersantai di tempat kosnya seorang diri. Shella sedang berada di kampus Untad. Saat waktu salat Magrib tiba, Ade bergegas mengambil air wudu, menggelar sajadah, dan mengenakan mukena.

Namun, belum sempat mengucapkan takbir, tiba-tiba lantai kamar kosnya bergetar hebat. Bumi pun serasa bergerak turun. “Saya langsung berlari ke luar dalam keadaan gempa. Saya melihat bangunan-bangunan pada runtuh,” tuturnya.

Belum juga degub jantungnya kembali normal, Ade mendengar teriakan orang bahwa gelombang tsunami sudah naik ke daratan. “Air pasang, air pasang.” Ade pun kebingungan di tengah ratusan orang yang berlarian tak tentu arah. “Ini pada mau ke mana jadinya?” Ade bertanya ke siapa pun yang dijumpainya. “Kita ke gunung,” seorang warga menyahut.

Ke gunung apa? Di mana letaknya? Lewat mana? Pertanyaan-pertanyaan itu terus memburu Ade di tengah situasi yang mencekam. Sebagai orang baru di Palu, ia belum hafal betul seluk-beluk daerah kota itu. Apalagi jalur evakuasi bila terjadi bencana alam tidak terlihat sama sekali di sana. Sementara itu, telepon selulernya terus berdering.

Masjid Apung setelah diterjang gempa dan tsunami.
Foto: Pradita Utama/detikcom

“Kakak sepupu (Shella) aku menelepon, ‘Tia di mana? Tia di mana?’ Aku jawab, air pasang, aku mau lari ke gunung. Habis itu langsung tidak ada sinyal. Mati total,” ucap Ade.

Ade mengikuti saja ke mana orang-orang menyelamatkan diri. Melihat sebuah mobil bak terbuka melintas, Ade melompat naik. Namun mobil itu berhenti di Jembatan Talise karena jembatan itu putus. Ade turun dan melihat-lihat sekitar. Ia berlari sekuat tenaga menuju kendaraan lainnya yang ada di pinggir jalan. Namun lagi-lagi mobil itu berhenti, entah kenapa.

Sementara itu, air laut dilihatnya datang bergulung-gulung dari arah Teluk Palu. Suara gelombang tsunami itu terdengar keras sekali di kedua telinga Ade, membuat hatinya makin ciut. Di tengah ketakutan, mata Ade tertuju pada mobil bak penuh orang yang tengah tancap gas. Ade berhasil menghentikan. “Ikut… Ikut… ‘Mau ke mana?’ Orang itu bilang mau ke gunung,” kata Ade.

Mobil pikap itu pun melaju kencang, dikejar tsunami. Dari atas mobil, Ade menyaksikan rumah dan bangunan atau benda apa pun yang ada di bibir pantai dilumat oleh gelombang tsunami. “Aku melihat dengan mata telanjang, air gelombang itu naik. Aku dikejar ombak di mobil bak terbuka itu,” katanya dengan suara lemah di ujung telepon.

Mobil yang ditumpanginya terus menjauh dari pantai, menerobos gelapnya malam menuju dataran tinggi Kecamatan Tatanga. Di atas mobil itu, tak hentinya Ade mengucap syukur masih diberi umur panjang, lolos dari maut. Bayang-bayang keluarganya di Kalimantan Utara lalu menggelayuti kepala Ade di sepanjang perjalanan malam itu.

Sejumlah warga Palu mengungsi di tenda darurat di depan kantor Wali Kota Palu.
Foto: Pradita Utama/detikcom

Seluruh jaringan komunikasi di Palu memang padam seketika. Ketika mobil sudah berhenti di tempat yang aman, Ade hanya bisa celingak-celinguk. Perih di kakinya yang terluka mulai terasa. Seorang penduduk menghampiri dan menawarinya tinggal sementara waktu di rumahnya. Subuh keesokan harinya atau Sabtu, 29 September, Ade baru bisa menghubungi keluarganya di Kalimantan Utara.

Minggu, 30 September, Shella datang menjemput. Keduanya menangis berpelukan. Shella juga selamat dari gelombang tsunami setelah berhasil naik ke gunung. Lantas keduanya kembali ke kota, sebelum akhirnya pergi ke Poso. “Aku melihat rumah kosku jadi lautan lepas. Tadinya terhalang gedung,” kata Ade, yang sempat dikabarkan meninggal karena terseret tsunami oleh teman-temannya di kampus itu.

Kisah serupa dialami Widya Wati, mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Datokarama. Ketika tsunami mengempas, gadis asal Kalimantan mencoba masuk ke masjid kampusnya yang terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Namun masjid itu roboh akibat gempa. “Saya mau masuk ke masjid. Tapi, belum sempat saya masuk, masjid itu roboh. Ada beberapa teman sudah di dalam,” katanya.

Selang beberapa menit setelah gempa, mahasiswa dan warga kembali berhamburan ketika ada yang berteriak tsunami. Saat itu semua barang bawaan, termasuk sepatu, dilepaskan Widya dan ia langsung berlari menuju gunung. Gemuruh air laut yang menyapu pantai dan bangunan kampus terdengar begitu keras. “Sampai tak terasa kami berlari itu sudah 10 kilometer. Suara gemuruh gelombang tsunami itu jelas terdengar,” ucapnya.

Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kehilangan sebagian warganya saat gempa 7,4 Magnitudo mengguncang.
Foto: Muhammad Taufiqqurahman/detikcom

Setelah reda, Widya bersama teman-temannya kembali ke tempat kontrakannya untuk mengambil dokumen penting dan pakaian. Setelah itu, ia menuju Bandara SIS Al-Jufrie untuk meninggalkan Kota Palu. Kini ia selamat dan sudah berada di rumah temannya di Sidrap, Sulawesi Selatan.

Ade mengatakan, setelah rasa traumanya hilang, ia tidak akan kembali ke Palu. Keluarga memintanya pindah kuliah ke Kalimantan. “Aku ikut rencana orang tua, akan pindah ke Kalimantan dan tidak melanjutkan di Untad,” pungkas Ade.


Reporter/Penulis: Gresnia F Arela
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE