INVESTIGASI

Episode Terakhir
Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet dipecat sebagai Juru Kampanye Nasional
Prabowo-Sandi setelah berbohong. Habis itu masih dipolisikan oleh Gerindra.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 10 Oktober 2018

Nurcahaya Nainggolan, yang sedang leyeh-leyeh di rumah, mendadak kaget saat Ratna Sarumpaet mengabarkan bahwa dirinya ditangkap pada Kamis, 4 Oktober 2018, malam di Bandara Soekarno-Hatta (Soeta), Cengkareng, Banten. “Saya ditangkap di pesawat. Tolong hubungi anak saya, biar saya ada yang mendampingi,” begitu perintah Ratna di ujung telepon kepada Nurcahaya, yang merupakan staf Ratna.

Mendapat perintah tersebut, Nurcahaya segera mengontak anak nomor dua Ratna, yakni Mohammad Iqbal Alhady, untuk menyusul ke Bandara Soeta. “Namanya juga orang tua. Dalam kondisi seperti itu, dia akan lebih nyaman kalau ada anak,” kata Nurcahaya saat berbincang dengan detikX, Sabtu, 6 Oktober 2018.

Sebagai staf, Nurcahaya menjadi orang yang dihubungi secara intens saat penangkapan Ratna di kursi pesawat Turkish Airlines pada pukul 21.00 WIB itu. Bahkan satu jam sebelum penangkapan, dia juga sempat berkomunikasi dengan Ratna via WhatsApp terkait hotel yang akan diinapi Ratna di Chile.

Ratna sejatinya akan mengikuti acara Women Playwrights Conference (WPI), yang diadakan di Kota Santiago, Chile, pada 7-12 Oktober. Ratna hadir sebagai anggota senior sekaligus menjadi pembicara dalam pembukaan acara tersebut. Namun rencana itu pun kandas setelah petugas Imigrasi Bandara Soeta menghampiri Ratna, yang sedang duduk di bangku pesawat nomor 12-G Turkish Airlines, yang akan menerbangkannya ke Chile.

Suasana penangkapan Ratna Sarumpaet di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Kamis (4/10).
Foto : Gloria Safira Taylor/CNN Indonesia


Saya memohon maaf kepada Pak Prabowo Subianto, yang kemarin tulus membela kebohongan yang saya buat. Saya tidak tahu apa rencana Tuhan dan berjanji akan memperbaiki.”

Pasalnya, pemain teater kawakan itu masuk daftar cekal pihak Imigrasi atas permintaan Polda Metro Jaya. Menurut Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Agung Sampurno, Ratna dicegah bepergian selama 20 hari atas permintaan cekal tersebut. Ratna kemudian digiring dari pesawat menuju ruang Imigrasi untuk dijemput petugas dari Polda Metro Jaya.

Saat itu pula, status Ratna, yang sebelumnya sebagai saksi, ditingkatkan menjadi tersangka pembuat keonaran dan penyebaran informasi bohong. Sebelum berangkat, Ratna memang sudah mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. “Beliau kan syok karena nggak menduga. Kan perginya santai saja. Kita menganggapnya panggilan sudah ada tanggal 8 Oktober dan kita sudah menunjuk kuasa hukum untuk mengundur karena pulangnya tanggal 10 Oktober nanti. Dari e-ticket-nya juga sudah jelas,” katanya.

Ratna memang sempat membuat geger publik dengan pengakuannya kepada sejumlah kolega bahwa ia menjadi korban penganiayaan, yang membuat wajahnya bengap. Kisah penganiayaan Juru Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu kemudian viral di media sosial dan menjadi pemberitaan media arus utama.

Sejumlah politikus oposisi yang menjadi mitra Ratna di Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi pun ramai-ramai memberikan dukungan moral kepada ibu artis Atiqah Hasiholan itu. Bahkan, Prabowo sempat menggelar jumpa pers khusus terkait cerita penganiayaan itu di rumahnya, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Selasa, 2 Oktober.

Prabowo mengecam penganiayaan yang terjadi terhadap Ratna di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 21 September. Penganiya Ratna diduga dua orang. Ia juga meminta bertemu dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk membicarakan kasus itu.

Ratna Sarumpaet mengenakan baju tahanan.
Foto : Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom

Namun, hasil penyelidikan polisi berkata lain. Polisi menemukan bukti bahwa pada 21 September 2018, Ratna berada di Rumah Sakit Bina Estetika, Teuku Cik Ditiro, Jakarta, untuk melakukan operasi plastik berupa penyedotan lemak di wajahnya.

Hal ini diperkuat keterangan juru bicara rumah sakit tersebut, Harisman, yang menyebut, Ratna masuk sekitar pukul 17.00 WIB sampai sekitar pukul 21.00 WIB di rumah sakit tersebut. Dan Ratna sudah membuat janji sehari sebelumnya dengan dokter langganannya yang bertugas di situ.

Bukan itu saja. Ratna, yang sebelumnya mengaku datang ke Bandung untuk menghadiri event internasional yang berujung penganiayaan, juga terbantahkan. Dari penelusuran yang dilakukan Polda Jawa Barat, saat itu tidak ada acara bertaraf internasional yang digelar di Bandung.

Dengan temuan-temuan itu, Ratna pun terdesak hingga akhirnya mengakui dirinya berbohong terkait cerita penganiayaan itu. Dia meminta maaf kepada sejumlah tokoh yang telah dibohongi, seperti Prabowo-Sandi dan Amien Rais. Para tokoh itu pun menyusul meminta maaf kepada publik.

“Saya memohon maaf kepada Pak Prabowo Subianto, yang kemarin tulus membela kebohongan yang saya buat. Saya tidak tahu apa rencana Tuhan dan berjanji akan memperbaiki,” kata Ratna saat jumpa pers di kediamannya, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Oktober.

Namun maaf saja tidak cukup. Sejumlah relawan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, seperti Garda Nasional untuk Rakyat (GNR), Biar Pak Jokowi Saja (BPJS), Saya Tetap Jokowi (STMJ), serta Komunitas Pengacara Indonesia Pro Jokowi (Kopi Pojok) melaporkan Ratna berikut tokoh-tokoh yang telah menyebarkan kebohongan Ratna kepada publik.

Prabowo Gelar Jumpa Pers Soal Ratna Sarumpaet
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

Mereka yang dilaporkan di antaranya Prabowo, Sandiaga Uno, Fadli Zon, dan Rizal Ramli. “Yang kami laporkan terkait dengan konspirasi dan pemufakatan jahat, fitnah Ratna Sarumpaet yang seolah-olah dirinya dizalimi,” ucap Direktur Eksekutif Kopi Pojok kepada wartawan.

Laporan itu pun berbuntut penangkapan Ratna di Bandara Soeta dan penahanannya di Polda Metro Jaya. Ratna dijadikan tersangka karena melanggar Pasal 14 UU Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan UU ITE Pasal 28 juncto Pasal 45. “Tentang ancaman hukuman di Pasal 14 dan 15 UU Nomor 1 Tahun 1946. Jabarannya, kalau dia membuat keonaran atau membuat kegaduhan dengan menyebarkan berita hoax, ancamannya 10 tahun penjara,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto.

Pasal 14 ayat 1 mengatur, orang yang sengaja menyebarkan berita bohong untuk menimbulkan keonaran dihukum 10 tahun. Pada ayat 2, penyiaran berita yang bikin onar tapi bohong juga dapat dihukum 3 tahun. Sedangkan Pasal 15 mengatur, orang yang menyebarkan kabar yang meragukan dan berpotensi bikin onar rakyat bakal dihukum 2 tahun kurungan. Adapun Pasal 28 ayat 2 UU ITE mengatur hukuman untuk orang yang menyebarkan informasi berkonten menimbulkan kebencian dan permusuhan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Selain menerapkan pasal keonaran dan penyebaran hoax, rupanya polisi tengah menelisik penggunaan dana sumbangan bagi korban Kapal Motor Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, Senin, 18 Juni 2018. Pasalnya, pembayaran biaya operasi plastik Ratna ditransfer dari rekening tempat pengumpulan sumbangan bagi keluarga korban KM Sinar Bangun. Berdasarkan UU Nomor 9 Tahun 1961 tentang  Pengumpulan Uang dan Barang, seseorang tidak boleh mengumpulkan sumbangan tanpa izin.

Aktivis Ratna Sarumpaet saat jumpa pers di kediamannya, Jalan Kampung Melayu Kecil 5. Ia memberikan keterangan pers perihal kasus penganiayaannya yang sepenuhnya Hoax. Jakarta.
Foto : Andry Novelino/CNN Indonesia

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan penyidik akan menyelidiki unsur pidana dalam penggunaan dana sumbangan yang digalang Ratna. Soalnya, ada keterangan yang menyampaikan bahwa rekening yang digunakan untuk membayar jasa di Rumah Sakit Bina Estetika sama dengan yang digunakan Ratna untuk menggalang sumbangan bagi keluarga korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba.

Dan, Senin, 8 Oktober 2018, Gerindra ikut mempolisikan Ratna terkait hoax penganiayaan itu. Gerindra merasa dirugikan atas kebohongan yang dilakukan Ratna. “Ratna sudah ditahan dan ditersangkakan, tapi ini sebagai bentuk penegakan hukum. Karena Gerindra sangat dirugikan,” kata Sekretaris Lembaga Advokasi Hukum Gerindra DKI Jakarta, Mohammad Taufiqurrahman.


Penulis: Gresnia Arela F
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE