INVESTIGASI

Tinggalkan Palu Mencari Lembaran Baru

“Uang dan perhiasan milik saya inilah yang menjadi modal awal saya untuk pergi ke Makassar. Untuk buat lembaran baru.”

Korban gempa Palu mengungsi menggunakan pesawat Hercules milik TNI. Mereka menuju sejumlah kota seperti Makassar, Balikpapan, dan Jakarta.
Foto: Pradita Utama

Kamis, 11 Oktober 2018

Tak seperti hari biasanya, Jumat, 28 September 2018, itu, putra Dian Kemalasari yang baru berusia 2 tahun rewelnya minta ampun. Sejak sore, anak pertamanya itu menangis, gelisah tak keruan, dan emoh makan. Padahal jam makan sore hampir lewat. Si sulung merengek minta dibelikan biskuit.

“Anak saya biasanya anteng, tapi hari itu rewel sekali, minta dibelikan biskuit. Tapi belakangan saya bersyukur, mungkin itu cara dia menyelamatkan mamanya. Sebab, kalau tidak keluar dari rumah, mungkin kita sudah terkubur,” kata Dian kepada detikX melalui telepon, Senin, 8 Oktober.

Dian adalah salah satu penduduk Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, yang terkena dampak gempa besar yang melanda Palu dan Donggala pada pengujung September 2018. Ia, kedua anaknya yang masih kecil, serta seorang asisten rumah tangga (ART) selamat. Sedangkan sang suami tengah bertugas ke Polewali Mandar, Sulawesi Barat, saat gempa terjadi.

Namun rumah mereka di Perumahan Petobo Eksklusif Blok A No 14 kini tinggal kenangan. Rumah itu tersedot lumpur yang ‘menelan’ sebagian bumi Petobo pascagempa bermagnitudo 6 pada petang itu. Hanya bagian atap rumahnya yang kini masih bisa dilihat.

Mengenang kembali detik-detik bencana yang memilukan itu, Dian bertutur, dia dan kedua anaknya sedang memilih-milih biskuit di sebuah minimarket yang berjarak 1 kilometer dari rumahnya. Tiba-tiba guncangan hebat terjadi. Etalase dan barang dagangan berjatuhan. Dinding kaca ambyar. Langit-langit bangunan runtuh. Beruntung, Dian dan anak-anaknya serta ART yang mengantar mereka ke minimarket tidak tertimpa reruntuhan itu.

Jalan aspal terangkat karena gempa dan likuefaksi tanah di Petobo
Foto : Pradita Utama/detikcom

Dian segera memeluk erat kedua anaknya. Ia menggendong si bungsu keluar dari minimarket, sedangkan si sulung digendong ART. Namun suasana di luar minimarket lebih mengerikan. Bangunan-bangunan rata dengan tanah. Orang-orang lari berhamburan. Dian pun berlari menuju tanah lapang yang ada di dataran tinggi. Tapi orang-orang dari arah atas justru berlarian ke bawah dan berteriak-teriak ada tsunami. “Ternyata, pas saya lihat, itu bukan air, tapi aspal yang seperti gelombang tinggi. Sekitar 10 meter. Seperti tiang listrik tingginya,” Dian bercerita.

Jalan ke kompleks perumahan Dian tak berbentuk lagi. Akhirnya ia memutuskan mencari lokasi yang aman. Namun ternyata keluar dari Petobo bukan perkara mudah. Ia harus merayap di atap-atap rumah yang terbenam lumpur sambil menggendong buah hati. Gelapnya malam karena terputusnya aliran listrik membuat Dian beberapa kali menubruk reruntuhan bangunan atau terjerembap ke lumpur hingga setengah badan.

“Saya merasa sudah jalan berkilo-kilometer, karena sangat gelap dan tidak ada penerangan, tapi ternyata hanya berputar-putar saja di sekitar situ,” katanya.

Di tengah susah payah melewati rintangan yang berat itu, Dian mendengar banyak jeritan warga minta tolong. Suara tangis bayi pun seolah bersahutan di kegelapan malam. Namun Dian tidak tahu harus berbuat apa kecuali menyelamatkan diri dan keluarganya.

“Saya juga setengah mati sama anak saya. Tidak banyak juga yang selamat di situ,” ucapnya. Menjelang fajar Sabtu, 29 September, Dian tiba di pengungsian kantor Wali Kota Palu. Di tempat itu, ia baru bisa menghubungi suaminya. Keduanya bertemu keesokan harinya.

Para Pengungsi bersiap menaiki pesawat Hercules
Foto : Pradita Utama/detikcom


Tiga hari di pengungsian, Dian dan suaminya merasa tak ada pilihan lain kecuali meninggalkan Palu. Dian akhirnya hijrah ke tempat ibu mertuanya di Poso. Rumahnya yang dibangun sejak 2015 tak bisa lagi ditinggali. Mayat-mayat yang belum dievakuasi di Kota Palu saat itu membuat trauma. Belum lagi kondisi pengungsian yang penuh dengan keterbatasan.

“Tidak ada bahan makanan untuk anak saya. Masa setiap hari makan mi dan telur? Kasihan. Anak-anak juga sudah gatal-gatal karena tidak mandi. Dari hari pertama gempa, saya takut airnya sudah tercemar oleh mayat-mayat. Saya cuma tahan tiga hari di pengungsian,” kata Dian.

Dian mengaku belum bisa memastikan sampai kapan harus menumpang di rumah mertuanya. Ia juga belum mendapatkan kejelasan dari pemerintah perihal bantuan bagi warga Petobo yang terkena likuefaksi. Terlebih pemerintah sudah memastikan Petobo bakal menjadi kuburan massal dan dilarang dibangun kembali sebagai permukiman.

Beberapa hari lalu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan warga Petobo akan direlokasi ke tempat lain. "Karena memang medannya, fondasi, dan kondisi geologinya sudah tidak bisa dipakai lagi. Kalau kita bangun lagi, kita nggak tahu lagi kan kapan ada gempa. Kalau kita bangun lagi, pasti terulang lagi," ucap Basuki di Palu, Jumat, 5 Oktober.

Sama seperti Dian, Fadli Amir, seorang warga Kecamatan Palu Selatan, juga pergi meninggalkan Kota Palu. Dengan menumpang truk relawan, Fadli, istri, dan kedua anaknya berangkat menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun di Makassar tidak ada kerabat atau sanak saudara seorang pun, keputusan itu sudah bulat diambilnya.

“Ini saya sedang di mobil truk relawan di belakang. Saya sama anak-istri ikut menumpang saja ke Makassar. Kasihan istri saya menangis terus kalau di pengungsian. Dia sudah tidak tahan, ingin pergi. Saya juga trauma kalau melihat jenazah di pinggir jalan. Jadi, ketika ada kesempatan menumpang, saya langsung berangkat,” kata Fadli kepada detikX lewat telepon, Jumat, 5 Oktober.

Warga Palu mengungsi di tenda darurat di depan kantor Wali Kota Palu. Para pengungsi masih sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Foto : Pradita Utama/detikcom

Truk yang ditumpangi Fadli dan keluarganya melaju pada malam itu. Ia terbayang rumah yang ditingggalkannya. Rumah itu hancur. Beruntung, pascagempa, seluruh uang tabungan dan emas miliknya, yang dia kumpulkan bertahun-tahun, masih aman. Padahal penjarahan sempat merebak di sejumlah tempat di Palu.

“Uang dan perhiasan milik saya inilah yang menjadi modal awal saya untuk pergi ke Makassar, untuk membuat lembaran baru. Jumlahnya lumayan buat menyambung hidup di Makassar,” kata Fadli dengan suara bergetar. Entah sampai kapan, tetapi yang penting, bagi Fadli, ia bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan lebih baik di tempat baru.

Hingga Selasa, 9 Oktober, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, sebanyak 8.276 warga keluar dari Palu. Mereka dievakuasi melalui jalur udara, kapal laut, dan darat. Dari jumlah itu, 211 orang keluar dari Palu secara mandiri. Namun, BNPB mencatat, mereka yang dievakuasi itu sebagian besar bukan warga asli Palu.

Sementara itu, Bandara Mutiara SIS Al-Jufri sejak 3 Oktober sudah bisa didarati pesawat komersial jenis ATR. Sebelumnya, warga mengandalkan pesawat TNI AU Hercules untuk meninggalkan Palu menuju sejumlah daerah di Pulau Sulawesi maupun Jawa. Pada Senin, 8 Oktober, jalur pengungsi yang dievakuasi dari bandara tersebut terpantau sepi.

Namun, pada Selasa keesokan harinya, jalur tersebut kembali didatangi orang-orang yang hendak meninggalkan Palu. Jumlahnya 100-200 orang. Diperkirakan mereka takut setelah datang gempa susulan menjelang subuh. Adapun penerbangan komersial dengan pesawat-pesawat besar berangsur pulih di bandara tersebut.


Reporter: Ibad Durohman, M Taufiqurrahman (Palu)
Penulis: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE