INVESTIGASI

Menghilangkan Murung Anak-anak Palu

Anak-anak korban gempa Palu dan Donggala masih trauma. UNICEF bilang butuh US$ 26,6 juta untuk tanggap darurat dan pemulihan dini anak-anak di Palu dan Lombok.

Foto: Pradita Utama/detikcom

Jumat, 12 Oktober 2018

“Selama di pengungsian, saya merasa panas, sedih, dan kedinginan di malam hari,” Aras, 9 tahun, mengisahkan hari-harinya di bawah tenda pengungsian. “Di saat itu, saya berpisah dengan keluarga saya,” ucapnya. Bocah kelas V Sekolah Dasar Inpres Tondo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, itu pun ingin segera kembali ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Lewat surat yang ditulis di atas kertas gambar, Aras, satu dari ribuan anak korban gempa Palu dan Donggala, mengucap terima kasih kepada para relawan Palang Merah Indonesia, yang telah menghibur dan mengajari ia dan teman-temannya menggambar. “Semoga kakak sehat selalu dan bisa main kembali ke pengungsian,” harap Aras.

Malla Sari, Koordinator Layanan Psychosocial Support Programme PMI di Palu, yang menerima surat itu saat bertandang ke tenda Aras di Tondo, terenyuh dibuatnya. Malla mengatakan anak-anak korban gempa di Palu masih dihinggapi kecemasan dan ketakutan mendalam. Karena itu, mereka perlu terus mendapatkan pendampingan, termasuk orang tua mereka. “Kami berharap warga dapat menerima kenyataan dengan tetap memiliki semangat dan mental kuat," tutur Malla.

Aditya dan Rizky, siswa kelas VI SD di Kota Palu, banyak menghabiskan waktu dengan bermain dan berolahraga di posko pengungsian yang terletak di Jalan S Parman, Kota Palu. Sesekali, keduanya dan sejumlah pengungsi anak lainnya membantu relawan menyingkirkan sampah untuk membunuh kebosanan.

Namun, ketika teman-temannya pulang ke tenda mereka sendiri di dekat rumah, Aditya dan Rizky langsung murung. Meski ada orang tua mereka yang juga mengungsi di tenda, tetap saja gelagat kedua bocah membuat khawatir. “Nggak tahu, mungkin keduanya teringat sama gempa atau bagaimana,” kata seorang relawan independen, Anjar Sumyana Masiga, kepada detikX, 12 Oktober 2018.

Aras menunjukkan surat berisi ucapan terimakasih kepada para relawan di Palu
Foto :Dok PMI

Aditya dan Rizky selama dua pekan ini terus merengek minta segera pergi dari posko pengungsian. Badan kedua bocah ini juga sering sakit kalau tidur beralaskan tikar di tenda. Tapi orang tua mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak gempa melanda, Jumat 28 September 2018, mereka belum berani pulang ke rumah.

Memang sebagian besar anak-anak Palu yang tersebar di berbagai posko pengungsian kini sudah mulai terserang penyakit. Penyakit itu antara lain gatal-gatal dan batuk, yang disebabkan oleh banyaknya debu yang beterbangan. Belum lagi ancaman serangan virus dari mayat korban gempa yang membusuk.

Lain lagi dengan 32 anak yang mengungsi di Posko Sekber di kantor Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah di Kota Palu. Kegiatan mereka lebih terjadwal, yakni pada pukul 09.00-11.00 Wita dan pukul 15.00-16.00 Wita. Dalam dua sesi itu, mereka mendengarkan dongeng, menyanyi, belajar, berhitung, atau mengikuti game. Sudah tak ada ketakutan di wajah-wajah mereka.

“Itu yang mengisi ada dari Dinas Sosial, UNICEF, juga dari Forum Anak Palu. Anak-anak suka sekali kegiatan bercerita. Mereka senangnya didongengin cerita binatang begitu,” kata Amrullah, salah satu staf LDP Dinas Sosial Kota Palu, kepada detikX.

Sampai saat ini, anak sekolah tingkat TK dan SD memang belum masuk satu bulan penuh. Sedangkan anak usia SMP-SMA sudah dimulai aktivitasnya sejak Senin, 8 Oktober 2018. “Saat ini sekolah belum aktif, dan anak-anak itu ketika ditanya mereka juga bingung kapan sekolahnya dimulai,” jelas Amrullah.

Relawan PMI memberikan trauma healing untuk korban gempa Palu.
Foto : Dok PMI

UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menaungi masalah anak-anak, menyebut saat ini ada sekitar 475 ribu anak korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah dan Lombok. Mereka harus diprioritaskan mendapatkan bantuan. Setidaknya, untuk masa tanggap darurat dan pemulihan anak korban gempa dan tsunami, dibutuhkan dana US$ 26,6 juta.

Dana itu untuk penyediaan air bersih, sanitasi, kesehatan, gizi, serta pendidikan dan perlindungan anak selama enam bulan ke depan. “Kami bekerja memastikan setiap anak yang terdampak punya kesempatan yang adil untuk melanjutkan proses pemulihan dan membangun kembali kehidupan mereka,” kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Debora Comini dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikX, 11 Oktober 2018.

Ada 2.700 sekolah yang terkena dampak dan pendidikan 270 ribu anak bisa terancam. UNICEF mengkhawatirkan anak-anak yang terpisah dari keluarganya dan memerlukan dukungan psikososial. Karena itu, tim UNICEF tengah membuat fasilitas berbasis masyarakat yang aman untuk perempuan dan anak-anak. “Termasuk fasilitas ramah anak-anak serta melanjutkan mekanisme pendataan dan pelacakan untuk membantu mengidentifikasi, mendata, memverifikasi, dan menyatukan kembali anak dan keluarganya,” ujar Comini.

Guna mencari korban hilang, termasuk anak-anak, PMI dan Komite Internasional Palang Merah atau The International Committee of The Red Cross (ICRC) sudah mengaktifkan website Restoring Family Links (RFL) atau Pemulihan Hubungan Keluarga. Masyarakat tinggal mengklik https://familylinks.icrc.org/indonesia dan mendaftar secara mandiri data orang yang dicari atau hilang.

“Jadi aplikasi ini adalah tools untuk restoring family, link untuk menemukan keluarga yang hilang berbasis web. Web ini dibuat ICRC untuk kebutuhan global di Jenewa,” kata Kepala Divisi Penanggulangan Bencana PMI Pusat Arifin Muhammad Hadi kepada detikX, 10 Oktober 2018.

Nasib pengungsi di perbukitan Donggala
Foto : Pradita Utama/detikcom

PMI-ICRC baru menerapkan aplikasi ini pada kasus gempa dan tsunami di Sulteng. Karena berbasis web, sudah pasti memerlukan koneksi internet. Karena itu, di lokasi bencana, PMI membuat pencatatan secara manual juga di beberapa posko. Informasi warga yang masuk langsung dicatat dan diinput ke data web, baik data orang hilang maupun yang sudah meninggal.

RFL Pool Team ICRC Posko Palu, Widia Makawimbang, mengatakan web itu sudah diaktifkan sejak 4 Oktober 2018. Hingga kini menerima data pencarian sebanyak 363 kasus (Saya Mencari) dan 44 kasus (Saya Selamat). Sementara, untuk yang case close/match ada 26 kasus.

Namun, menurut Widia, masih lebih banyak warga yang datang sendiri melaporkan kehilangan ke poskonya di Palu. Setiap hari, relawan ICRC langsung mendatangi posko pengungsian, kesehatan, dan lainnya di Palu, Donggala, dan Sigi. ICRC sendiri menurunkan empat tim yang beranggotakan 20 relawan.

"Kemarin di rumah sakit Palu tim kita ada yang mendapatkan ATP (anak tanpa pendamping). Anak umurnya 10 tahunan. Dia sendirian di rumah sakit mencari ayah dan ibunya. Kita sudah data. Dan kita nggak tahu apakah ibunya sudah meniggal atau tidak, tapi terakhir katanya sudah diketahui ada saudaranya di Jakarta, dan kemarin itu katanya sudah dalam penanganan dinas sosial,” kata Widia.


Reporter: Ibad Durohman, Muhammad Taufiqurrahman (Palu)
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE