INVESTIGASI

Neneng,
Dari Rumah Gedongan ke Sel KPK

Neneng Hassanah kaya sejak lahir. Melibas musisi Ahmad Dani pada Pilkada Kabupaten Bekasi 2017.

Foto: Ibad Durahman/detikX

Senin, 22 Oktober 2018

Baru setahun ini Neneng Hassanah Yasin menempati rumah mewah di Jalan Raya Citarik, Kampung Bugel Salam, Desa Sertajaya, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu. Proses pembangunan rumah gedongan tersebut memakan waktu lima tahun.

Rumah Neneng, yang merupakan Bupati Bekasi dua periode, 2011-2017 dan 2017 hingga sekarang, memiliki luas 3.000 meter persegi dengan pagar setinggi 2 meter. Rumah rindang itu sudah terlihat kemegahannya dari kejauhan. Ada pilar-pilar besar yang dibangun di bagian depan. Letak rumah itu persis di tepi jalan raya, yang lebarnya sekitar 3 meter.

Ketika detikX menyambangi rumah tersebut untuk menemui keluarga atau kerabat Neneng, seorang berseragam Satpol PP bernama Candih di pos penjagaan bilang suami Neneng tidak berada di rumah. Suami Neneng, Almaida Rosa Putra, yang juga anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Partai Golkar, disebutnya sedang keluar. “Demi Allah, tidak ada orang, Mas. Hanya anak-anak Ibu Neneng dan pengasuhnya saja yang ada,” kata Candih kepada detikX, Jumat pekan lalu.

Menurut Surtiah, warga setempat, yang rumahnya tidak seberapa jauh dari rumah Neneng, proses pembangunan rumah Neneng memakan waktu lima tahun. Tanah tempat didirikannya rumah itu sebelumnya berupa sawah milik Muhammad Yasin, ayah Neneng.

Bupati Bekasi, Jawa Barat, Neneng Hassanah Yasin
Foto : Isal Mawardi/detikcom


Neneng itu keluarga besar Pebayuran (sebuah kecamatan di Bekasi Utara). Dia anak Muhammad Yasin, seorang juragan beras yang tersohor di Karawang hingga Bekasi.”

“Bu Neneng sama suaminya, Almaida Rosa Putra, tinggal di rumah itu dengan tiga anaknya. Paling besar umur 5 tahun, yang kedua umur 3 tahun, dan yang bungsu itu baru berumur 9 bulan dan masih disusui. Dan Bu Haji (Neneng) saat ini mengandung anak keempat. Hamilnya baru beberapa bulan,” ujar Surtiah kepada detikX.

Informasi yang diperoleh detikX dari sejumlah kalangan di Kabupaten Bekasi menyebutkan Neneng memang terlahir kaya raya. Ia dilahirkan di Karawang, Jawa Barat, 38 tahun lalu. “Neneng itu keluarga besar Pebayuran (sebuah kecamatan di Bekasi Utara). Dia anak Muhammad Yasin, seorang juragan beras yang tersohor di Karawang hingga Bekasi,” ujar seorang sumber detikX yang mengenal Neneng.

Karena pengaruh sang ayah pula, karier lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Jakarta, itu di dunia politik, terutama di Partai Golkar, menjadi moncer. Ia pernah menjabat Ketua Kosgoro 1957 Kabupaten Bekasi dan Wakil Bendahara Golkar Jawa Barat.

Saat berusia 29 tahun, Neneng menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Partai Golkar untuk periode 2009-2014. Namun, di pertengahan jalan sebagai anggota legislatif, Neneng mencoba peruntungan dengan menjadi kontestan di Pilkada Kabupaten Bekasi 2012. Saat itu, dia berpasangan dengan Rohim Mintareja, yang menjadi calon wakil bupati. Pasangan Neneng-Mintareja itu pun menang.

Suasana di rumah pribadi Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin.
Foto : Ibad/detikX

Bupati perempuan pertama di Kabupaten Bekasi ini pun kembali bertarung pada pilkada berikutnya, 2017. Kali ini dia berpasangan dengan Eka Supriatmaja, yang juga berasal dari Golkar. Lagi-lagi Neneng bisa mengatasi pertarungan dengan mudah dan memimpin Kabupaten Bekasi untuk kedua kalinya.

Pasangan Neneng-Eka Supriatmaja mengalahkan musisi Ahmad Dani, yang saat itu menjadi calon wakil bupati. Dhani berpasangan dengan Sa’duddin, Bupati Bekasi periode 2002-2007, yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera.

Seiring dengan mengkilapnya karier politik Neneng di Kabupaten Bekasi, harta kekayaannya pun meningkat. Pada Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) yang disampaikan Neneng pada 2015, ia memiliki harta kekayaan Rp 37.398.491.373. Sedangkan pada LHKPN 2016, harta Neneng melambung menjadi Rp 64.132.988.754 atau naik Rp 26,7 miliar.

Sementara itu, menurut data LHKPN yang ditilik dari elhkpn.kpk.go.id, saat ini harta kekayaan Neneng tercatat sekitar Rp 73,4 miliar. LHKPN ini dilaporkan Neneng pada 5 Juli 2018.

Dari laporan tersebut, Neneng tercatat memiliki harta tak bergerak berupa 143 bidang tanah. Tanah-tanah itu tersebar di Bekasi, Karawang, serta Purwakarta, yang nilainya mencapai Rp 61,7 miliar.

Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (16/10/2018).
Foto : Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Dia juga tercatat memiliki dua unit mobil keluaran tahun 1990 yang dihibahkan Rp 200 juta dan mobil Toyota Fortuner seharga Rp 479 juta. Harta kekayaan Neneng juga terdiri atas harta bergerak lainnya senilai Rp 452,7 juta.

Namun kini karier Neneng terancam kandas setelah Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Neneng sebagai tersangka kasus suap perizinan megaproyek Meikarta. Ia ditangkap di rumahnya tersebut pada Senin, 15 Oktober 2018. KPK menyebut uang suap dalam kasus itu senilai 13 miliar, dan yang sudah terealisasi Rp 7 miliar.

Belum diketahui apakah Neneng ikut mencicipi duit panas tersebut. Namun, KPK juga menjeratnya dengan pasal gratifikasi. KPK menyita uang Rp 100 juta dari rumah Neneng ketika melakukan penggeledahan. Kini Neneng resmi menjadi tahanan lembaga antirasuah tersebut. Ia ditahan di rutan KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

"Saya Neneng Hassanah Yasin mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada warga seluruh masyarakat Bekasi," kata Neneng setelah diperiksa KPK, Senin 22 Oktober 2018. 

Bukan hanya dirinya, beberapa anak buah Neneng juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu. Mereka adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Sahat MBJ Nahor, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dewi Tisnawati, serta Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Neneng Rahmi.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE