INVESTIGASI

Menyelam
di Antara Lumpur Laut

Evakuasi jenazah korban dan serpihan pesawat Lion Air terkendala lumpur di dasar laut. Penyelam menilai lebih sulit dibanding evakuasi AirAsia pada 2014.

Sepatu anak-anak yang diduga penumpang Lion Air yang jatuh. Foto : Luthfiana Awaludin/detikcom

Kamis, 1 November 2018

Mata Akhmad Rokhiyat menelisik tajam ke arah tumpukan benda dan serpihan pesawat Lion Air yang dikumpulkan oleh Tim Basarnas di Dermaga Jakarta International Container Terminal 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebuah koper hitam yang kondisinya hancur berantakan menarik perhatiannya.

Beberapa saat kemudian, Akhmad memalingkan pandangannya ke arah kakak iparnya, Siti Nuraini, sambil menggeleng-gelengkan kepala, tanda bahwa apa yang dicarinya tak berada di situ. Siang itu Akhmad dan Siti datang ke Posko Terpadu Basarnas Tanjung Priok untuk mendapatkan kepastian nasib seorang kerabatnya, Akhmad Endang Rochmana.

Endang adalah salah satu penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang, yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin, 29 Oktober 2018. Dua pekan sekali, Endang, yang menjabat Kepala Subbagian Keuangan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Provinsi Bangka Belitung, memang pulang ke Tasikmalaya, Jawa Barat.

“Saya datang ke sini karena sebelumnya mendapat informasi di sini ada barang-barang kakak saya. Saya berharap, kalau bisa, selamat dengan sehat sentosa. Tapi, bila takdir berkata lain, semoga cepat ditemukan dalam keadaan yang utuh, yang baik,” ujar Akhmad di posko utama Tanjung Priok kepada detikX, Selasa, 30 Oktober 2018.

Kapal KN SAR Basudewa.  
Foto : Ibad Durohman/detikcom


Di bawah laut itu visibilitasnya 3-4 meter. Jadi kendalanya itu. Hanya, arus menyebabkan tingkat visibilitas menurun. Kalau lumpur naik, itu paling visibility-nya cuma 1 meter.”

Bukan hanya Ahmad, ratusan keluarga penumpang pesawat nahas itu masih menanti kejelasan nasib keluarga mereka. Pesawat beregister PK-LQP itu membawa total 178 penumpang dewasa, 1 anak-anak, dan 2 bayi, selain pilot dan kru. Hingga saat ini, sudah ada 48 kantong jenazah yang dikirim ke RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Kantong-kantong itu berisi potongan tubuh manusia dan serpihan pesawat.

Pada Rabu, 31 Oktober, tim Disaster Victim Identification Mabes Polri mengumumkan satu jenazah sudah teridentifikasi atas nama Jannatun Cintya Dewi. Jenazah Jannatun bisa diidentifikasi berkat sidik jarinya yang masih utuh. Jenazah penumpang yang beralamat di Sidoarjo, Jawa Timur, itu sudah dimakamkan oleh keluarganya.

Tim Basarnas pun masih bekerja 24 jam setiap hari sejak pesawat Lion Air itu jatuh di 50 kilometer dari tepi Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Selasa, 30 Oktober, itu, misalnya, Kapal Negara SAR Basudewa kembali memberangkatkan 40 penyelam dari kesatuan Basarnas Special Group untuk melakukan operasi pencarian korban dan serpihan badan pesawat.

Sebanyak 16 penyelam diterjunkan ke dua titik penyelaman setelah tes sonar kapal Basarnas memantulkan objek yang dicurigai sebagai bodi pesawat. Namun, setelah 30 menit dilakukan penyelaman di dasar laut Karawang, yang punya kedalaman 32 meter, bodi pesawat berwarna putih itu belum juga ditemukan.

Amirullah, penyelam Basarnas
Foto : Ibad Durohman/detikX

Efram Yuliawan, salah satu personel Basarnas yang ikut dalam misi penyelaman, mengungkapkan evakuasi jenazah para korban terkendala arus bawah laut yang cukup kencang. Arus itu mengangkat partikel lumpur naik ke permukaan dan menyebabkan jarak pandang terbatas. “Di bawah laut itu visibilitasnya 3-4 meter. Jadi kendalanya itu. Hanya, arus menyebabkan tingkat visibilitas menurun. Kalau lumpur naik, itu paling visibility-nya cuma 1 meter,” kata Efram kepada detikX sesaat setelah KN SAR Basudewa bersandar, Selasa, 30 Oktober.

Bagi Efram, operasi pencarian korban kecelakaan pesawat Lion Air ini sedikit lebih sulit dibandingkan dengan operasi pencarian korban AirAsia, yang jatuh di Laut Jawa dekat Selat Karimata pada 2014. Meski laut di sana lebih dalam, yaitu 35 meter, kondisi dasarnya berupa pasir, bukan lumpur, sehingga jarak pandang bisa menembus 6 meter.

Meski begitu, lelaki 31 tahun kelahiran Madiun, Jawa Timur, itu tetap optimistis, dalam beberapa hari ke depan bodi pesawat dan para korban akan segera ditemukan. “Prediksi belum bisa saya pastikan. Mudah-mudahan dua hari ke depan ketemu. Saat ini pencarian itu fokus di radius 2 mil dari perkiraan lokasi jatuhnya pesawat. Pokoknya kita sisir,” ucapnya.

Amirullah, anggota penyelam Basarnas lainnya, mengungkapkan hal yang sama. Cuaca di atas laut Karawang selama dua hari ini sebetulnya sangat mendukung. Tidak mendung dan tidak hujan. Namun kondisi dasar laut yang berlumpur itu membuat regu penyelam harus sering gigit jari karena tak berhasil menemukan jasad korban atau puing pesawat.

Menurut Amirullah, prioritas penyelaman sebetulnya adalah menemukan korban. Namun, bila menemukan benda-benda yang terkait dengan badan pesawat, itu juga akan diangkat ke permukaan. “Jadi dalam dua hari ini kita belum menemukan badan pesawat. Kalau puing-puing sudah,” katanya kepada detikX, Selasa, 30 Oktober.

Regu penyelam menemukan black box Lion Air PK-LQP
Foto : Pradita Utama/detikcom

Arus laut yang kencang juga diduga membuat objek pencarian bergeser. Karena itu, pada Rabu, 31 Oktober, Basarnas memperluas radius pencarian dari sebelumnya 5 nautical miles dari titik kejadian pada hari pertama, 10 nautical miles pada hari kedua, dan 15 nautical miles pada hari ketiga. Itu berarti pencarian dilakukan hingga perairan Indramayu, Jawa Barat.

Armada kapal yang dikerahkan pun ditambah, di antaranya KRI Regel dan Baruna Jaya. "Pada saat musibah terjadi, hingga saat ini sudah ada pergeseran-pergeseran bodi pesawat dengan arus yang ada di lokasi tersebut. Tentunya harus diperluas pola pencarian," kata Kepala Bagian Humas Basarnas Suhri Sinaga.

Dan pada Kamis, 1 November 2018, black box Lion Air PK-LQP akhirnya ditemukan. Black box tersebut ditemukan oleh penyelam TNI AL Batalion Intai Amfibi Sertu Hendra setelah melakukan penyelaman di kedalaman 30 meter.

Hendra menceritakan perjuangannya menemukan black box tersebut. Lumpur membuat pencarian kotak hitam yang berisi rekaman pembicaraan di kokpit pesawat itu makin sulit. Ia harus menggali-gali lumpur untuk menemukan black box itu. “Kami ikuti alat, kami kecilkan areanya. Lalu pada tempat yang alatnya menimbulkan sensitif tersebut kami gali, gali, dan ternyata kami mendapatkan black box," kisah Hendra.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE