INVESTIGASI

Kisah Pengungsi Palu yang Sebulan Hidup
di Kandang Bebek

Mereka tidur berimpitan.
Gelap gulita tanpa listrik. Bantuan masih minim didapat.

Foto: Kondisi sebagian wilayah di Sigi (Dok. Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Sabtu, 03 November 2018

Sejak gempa Magnitudo 7,4 mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, ada keluarga di Desa Watubula, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang terpaksa tinggal di kandang bebek. Keluarga ini minim sekali tersentuh bantuan.

Beruntung, keluarga tersebut ditemukan tim relawan Yayasan Cinta NKRI (YCNKRI) pada Sabtu, 27 Oktober 2018. Keluarga yang berjumlah delapan orang itu ditemukan relawan ketika mereka hendak pulang menuju base camp di Lapangan Kecamatan Dolo sekitar pukul 21.30 WIB.

Saat ditemukan, keluarga Nenek Yuliana itu tengah tidur di kandang bebek, yang gelap gulita karena tak ada lampu. Mereka tidur berimpitan di atas tikar, kain, dan kasur lusuh di atas papan, yang di bawahnya ada bebek-bebek peliharaan. Kandang itu tepat di belakang rumah Yuliana, yang roboh akibat gempa.

“Di kandang bebek itu ada delapan orang, termasuk anak-anak kecil dan Nenek serta suaminya yang sudah tua. Kandang bebek milik nenek itu. Rumahnya roboh semua,” kata Happy Agung, anggota relawan YCNKRI, kepada detikX, Rabu, 31 Oktober 2018.

Kondisi pengungsian keluarga Nenek Yuliana di Sigi, Palu
Foto : Dok YCNKRI


Jadi, pascagempa, warga desa memang banyak yang mengungsi ke sawah, halaman rumah, atau kebun. Saat itu sampai sekarang warga nggak berani jauh-jauh mengungsi dan harus dekat rumah karena masih takut penjarahan.”

Yuliana sempat menangis terharu karena baru pertama kali bertemu dengan tim relawan. Dari pengakuan Yuliana, menurut Agung, dua hari pascagempa sampai sekarang baru sekali mendapatkan bantuan berupa beras 2,5 kilogram dan dua kotak teh. Sejak gempa mengguncang hingga saat itu, entah mereka makan dari mana.

Itu sebabnya, malam itu juga YCNKRI dibantu warga mendirikan tenda dari terpal. Keluarga ini juga diberi bantuan beras 10 kilogram, gula, dan minyak goreng. Keesokan harinya, Minggu, 28 Oktober 2018, tim relawan kembali memberikan beras 25 kilogram dan mendirikan beberapa tenda camping buat warga lainnya yang belum mendapat tempat pengungsian yang layak.

Dari keterangan pihak pemerintah Desa Watubula, menurut Agung, awalnya warga diberi bantuan dua terpal ukuran 2x7 meter buat tenda pengungsian. Beberapa hari kemudian dijanjikan akan mendapatkan bantuan lagi. Sayang, terpal tersebut tak kunjung datang.

Masih di wilayah Desa Watubula, tim relawan juga menemukan dua keluarga yang tinggal di gubuk yang terbuat dari daun pohon kelapa. Padahal salah satu keluarga memiliki bayi yang baru dilahirkan 18 hari lalu. Tempat mereka mengungsi memang nyaris tak terlihat karena jaraknya dengan jalan raya sekitar 200-300 meter serta tertutup bangunan rumah dan rimbunnya pepohonan.

“Kalau waktu itu saya nggak dikasih tunjuk sama anak kecil dan diantar sama kepala dusunnya, mungkin mereka benar-benar nggak terakses,” ujar relawan asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, ini.

Keluarga Nenek Yuliana bersama para relawan
Foto : Dok. YCNKRI

Desa Watubula, dinilai Agung, perlu perhatian khusus. Pasalnya, banyak warga di daerah ini yang berusia lanjut dan berekonomi lemah. Sebenarnya hampir 90 persen pengungsi sudah mendapatkan bantuan. Hanya, bantuan tersebut dianggap masih minim dan kurang maksimal. “Mungkin pemerintah sudah maksimal. Tapi karena ada keterbatasan tenaga atau apalah, saya nggak tahu, masih banyak yang merasa belum mendapat bantuan,” tuturnya.

Dihubungi detikX, Sekretaris Desa Watubula, Emanuel, mengakui memang kondisi di desanya kekurangan terpal untuk tenda penyintas bencana. Sekitar 100 rumah penduduk rusak berat diguncang gempa. Ia menyebut setidaknya butuh 80-100 lembar terpal untuk kebutuhan para pengungsi. Hingga saat ini, bantuan terpal yang datang baru sekitar 20 lembar. Memang ada tiga bantuan terpal dari pusat, tapi tidak bisa dipakai karena kurang lebar.

“Jadi, pascagempa, warga desa memang banyak yang mengungsi ke sawah, halaman rumah, atau kebun. Saat itu sampai sekarang warga nggak berani jauh-jauh mengungsi dan harus dekat rumah karena masih takut penjarahan,” kata Emanuel. “Logistik sembako sebenarnya lancar. Setiap satu minggu, mereka mendapat paket beras, ikan kalengan, minyak goreng, susu bubuk, gula, dan lain-lain. Seminggu sekali,” ujarnya.

Di tempat lain di Sigi, banyak penyintas bencana yang memang tidur di tempat seadanya pascagempa 28 September 2018. Charis Sigit, relawan asal Palu, mengungkapkan, saat ia masuk Sigi tiga hari pascagempa, banyak warga yang mengungsi di kandang sapi atau unggas karena dianggap lebih aman ketimbang di dalam rumah yang rusak. Apalagi sapi-sapi itu kabur entah ke mana saat gempa terjadi. “Tapi saya belum tahu kondisi sekarang, apakah masih ada atau nggak yang menempati kandang sapi itu,” kata Sigit saat dihubungi detikX, Kamis, 1 November.

Di sisi lain, pemerintah pusat menyatakan bantuan logistik untuk warga korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah sudah banyak dibagikan. Memang banyak daerah yang sulit dijangkau karena beratnya medan sehingga pendistribusian logistik harus menggunakan helikopter.

Seorang warga melintas di antara puing-puing rumah pascagempa di Sigi . 
Foto : Muhammad Taufiqurrahman/detikcom

Selain itu, banyak logistik yang disimpan di gudang sementara. Pengiriman dari gudang ke rumah-rumah warga juga mengalami kendala. Warga yang terkena dampak berada di tempat pengungsian sampai rumahnya diperbaiki sehingga memerlukan agak waktu lama menerima bantuan.

“Tapi bantuan logistik harus disalurkan terus-menerus. Bisa per hari, tiga hari, atau satu kali seminggu dan lain-lain, tergantung kondisinya. Kendala lain di antaranya terbatasnya kendaraan dan akses jalan untuk menjangkau daerah-daerah yang remote,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho saat dimintai konfirmasi detikX, Kamis, 1 November.

Dari data BNPB per 31 Oktober 2018, total pengungsi di Sulawesi Tengah saat ini berjumlah 206.494 orang. Perinciannya, 80.034 di Kota Palu, 84.888 orang di Kabupaten Sigi, 41.019 orang di Kabupaten Donggala, dan 553 orang di Kabupaten Parigi Moutong.

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola telah memutuskan masa tanggap darurat penanganan gempa, tsunami, dan likuefaksi berakhir pada 26 Oktober 2018. Pemerintah selanjutnya menetapkan status transisi darurat ke pemulihan selama 60 hari, terhitung sejak 27 Oktober sampai 25 Desember 2018.


Reporter/Penulis: M Rizal, Gresnia F Arela
Redaktur: M Rizal
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE