INVESTIGASI

Pembunuhan Tragis
di Bojong Nangka

"Woi, pelan-pelan bawa mobilnya!”

Foto: Gresnia Arela F/detikX

Kamis, 15 November 2018

Kampung Bojong Nangka, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin, 12 November 2018, malam itu cukup sepi dan lengang. Di pos keamanan RT 02 RW 07, hanya ada Soleh, 50 tahun, mantan Ketua RT 01; Agus (sekuriti Sekolah Nasional I), 24 tahun; dan Hasyim (warga). Mereka tengah meronda.

Ketiganya berkeliling bergiliran. Malam makin larut, hari pun berganti. Suasana kampung kian hening. Hingga kemudian pukul 03.00 WIB, sekonyong-konyong terdengar deru mobil yang dikemudikan cukup kencang. Mobil Nissan X-Trail itu ngebut di Jalan Bojong Nangka 2 yang sempit. Polisi tidur pun dihajar. "Woi... pelan-pelan bawa mobilnya!” teriak Soleh begitu mobil itu melintas di depannya.

Mobil SUV warna silver itu menghilang di kegelapan malam di sebuah pengkolan menuju Jalan Hankam Raya. Soleh sempat curiga mungkin mobil warganya dicuri. Tapi tak terdengar teriakan ada maling saat itu. Soleh sempat dilapori Agus bahwa mobil itu sebelumnya keluar dari tempat tinggal kakak-adik, Douglas Nainggoan dan Daperum Nainggolan, di Jalan Bojong Nangka 2.

Douglas dikenal warga bekerja pada sebuah perusahaan rokok. Di kampung itu, ia membangun rumah kos dua lantai sekaligus rumah tapak yang berada di depan kos. Rumah itu ditempati Daperum, yang dipercaya menjaga kos. Daperum punya istri, Maya Sofya Ambarita, dan dua anak. Di rumah itu, Daperum membuka toko Sanjaya. Douglas, yang masih hidup membujang, tidur di salah satu kos.

Daperum Nainggolan, Maya Sofya Ambarita, Sarah Marisa Putri Nainggolan, dan Yehezkel Arya Paskah Nainggolan
Foto: dok. facebook


Jam setengah tujuh, saya lihat sudah ada teman saya manggil. Pak, Ucok (Daperum) dibunuh. Wah, saya kaget bener.”

Hampir pada waktu yang bersamaan, sekitar pukul 03.30 WIB, Feby Lopa, salah seorang penghuni rumah kos Douglas, terbangun. Dokter muda ini heran melihat pintu gerbang terbuka. Sebab, pintu pagar itu selalu dikunci Daperum setiap malam pada pukul 22.00 atau 23.00 WIB dan dibuka kembali pukul 06.00 WIB.

Feby pun menghampiri rumah Daperum. Ia melihat televisi di rumah Daperum masih menyala. Feby mencoba memanggil-manggil Daperum dan istrinya. Tapi yang dipanggil tak kunjung menyahut. Ah, mungkin mereka sudah tertidur pulas, pikirnya. Feby pun kembali melangkah ke kamar kosnya.

Sampai ketika hendak berangkat kerja pada pukul 06.30 WIB, Feby melihat pintu gerbang masih terbuka. Feby kembali melongok ke dalam rumah. Beberapa kali pula ia mengetuk pintu dan memanggil, tapi tetap tak ada sahutan. Begitu mendekatkan matanya ke jendela berkaca hitam, ia langsung menjerit sekuat tenaga. Ia melihat tubuh Daperum dan Maya terkapar bersimbah darah.

Jeritan Feby mengagetkan seisi rumah kos. Desi, penghuni kamar di lantai 2, langsung membangunkan Salman, 44 tahun, suaminya. "Bangun... bangun..., itu Ibu Dokter teriak. Waktu itu, saya langsung bangun, terdengar teriakan, tolong… tolong…!” ungkap Salman menceritakan ketika dibangunkan istrinya kepada detikX, Rabu, 14 November 2018.

Setelah tahu apa yang terjadi, Salman lari tergopoh-gopoh ke rumah Ketua RT 02 RW 07, Agus Sani, 53 tahun. “Pak, ada pembunuhan di rumah bos kontrakan (Dauglas),” begitu kata Salman dengan nada bergetar. Keduanya lantas menuju tempat kejadian perkara (TKP). Warga sudah mengerumuni rumah Daperum.

Rumah yang ditempati Daperum sekeluarga
Foto: Gresnia Arela F/detikX

Agus Sani pun menghubungi Polsek Pondok Gede. Soleh, yang ronda pada malam hari dan sudah berjaga di Sekolah Nasional pada pagi harinya, mencoba mendekati rumah Daperum. “Jam setengah tujuh saya lihat sudah ada teman saya manggil. Pak, Ucok (Daperum) dibunuh. Wah, saya kaget bener,” ucap Soleh sambil menepuk jidat.

Soleh tak percaya karena waktu ronda ia tak melihat situasi yang mencurigakan kecuali mobil silver yang ngebut. Anjing jenis mongler warna cokelat yang dinamai Kancil tak menggonggong. Biasanya anjing itu menyalak bila ada orang baru datang. “Kalau penghuni (kos) yang sudah lama mondar-mandir di sini, biasanya dia ngendus saja,” kata Hilarius Bruno, 29 tahun, penghuni kos kepada detikX.

Hilarius juga mengungkapkan, ia bersama istrinya baru pulang sekitar pukul 22.00 WIB. Ia masih sempat berpapasan dengan Daperum, yang tengah membenahi barang dagangan. Seperti biasa, Hilarius dan istrinya selalu menyapa Daperum dengan memanggilnya “Om”. Tapi sapaan keduanya kali ini tak dijawab Daperum, kecuali hanya menoleh saja.

Jimmy Worang, 53 tahun, yang juga penghuni kos lantai dua, menyaksikan pada pukul 23.00 WIB, saat baru pulang kerja, Daperum masih sibuk. Di pelataran rumah kos, ada tiga mobil milik Douglas yang diparkir, yaitu Honda HR-V warna hitam, Nissan X-Trail warna silver, dan mobil boks yang biasa dipakai untuk bisnis rokok. Tak ada suara atau kejadian apa pun malam itu sampai ia dan keluarganya beranjak tidur pada pukul 01.00 WIB.

Namun, paginya, sejumlah polisi datang dan membuka rumah Daperum. Polisi menemukan tubuh Daperum dan Maya mengalami luka memar di kepala dan sayatan yang parah di lehernya. Kedua anak mereka, Sarah Marisa Putri, 8 tahun, dan Yehezkiel Arya Paskah, 6 tahun, juga ditemukan tak bernyawa di kasur kamarnya. Keduanya mengalami sayatan, tapi kemungkinan besar tewas akibat kekurangan oksigen karena dicekik.

Foto diduga pelaku pembunuhan, HS
Foto: dok. Istimewa

Mobil korban pembunuhan satu keluarga di Bekasi yang ditemukan polisi
Foto: Isal Mawardi/detikcom

Kasus pembunuhan itu mengejutkan, karena selama ini keluarga Daperum dan keluarganya dianggap baik dan tak memiliki musuh. Hal itu juga diakui warga lainnya, Talita, 29 tahun karyawan toko fotokopi yang tak jauh dari rumah Daperum. Memang, pada Senin sore, Talita datang ke toko Daperum untuk membeli sabun colek. Saat itu, Daperum meminta Talita mengambil sabun sendiri, karena ia tengah serius berbicara dengan orang melalui telepon selulernya.

Talita mendengar Daperum berbicara dengan nada rendah sampai tinggi. Entah, Daperum berbicara dengan siapa. Talita pun tak tahu apa yang dibicarakan, karena pria asal Sumatera Utara itu menggunakan bahasa Batak. “Saya dengar Om Ucok telepon pakai bahasa Medan, jadi saya nggak paham, dengan nada tinggi kayak orang marah,” ujar Talita kepada detikX, Rabu ,14 November.

Tim penyelidik gabungan Polresta Bekasi dan Polda Metro Jaya langsung memburu pelaku yang diduga membunuh secara sadis satu keluarga itu. Polisi juga tengah melacak keberadaan mobil Nissan X-Trail bernopol B-1075-UOG. Dalam olah TKP, polisi sempat mengerahkan anjing pelacak menyusuri kampung untuk mengendus jejak pelaku yang diduga lebih dari satu orang itu.

Polisi juga sudah meminta keterangan kepada saksi sebanyak 12 orang, baik penghuni kosan maupun warga sekitar, termasuk Soleh, Hasyim, dan Agus yang bertugas ronda malam saat kejadian, serta Douglas, kakak Daperum. Beberapa barang yang sempat disentuh pelaku juga sudah dipindai dan diperiksa tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis).

Diduga motif pembunuhan berlatar belakang dendam, bukan masalah ekonomi (perampokan). “Hasil olah TKP belum ada, tapi diamankan barang-barang yang diduga dipegang pelaku,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

Suasana di dalam rumah korban pembunuhan sekeluarga di Bekasi
Foto: Gresnia Area F/detikX

Rabu, 14 November, polisi menemukan mobil X-Trail itu di sebuah rumah kos di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Saat ditemukan, mobil dalam keadaan kosong dan banyak jejak darah. Mobil tersebut kini dibawa ke Mapolres Bekasi. Seorang pria berinisial HS, yang membawa mobil itu, sudah diamankan. HS ditangkap ketika hendak mendaki gunung Guntur, Garut. HS membawa kunci mobil Nissan dan uang Rp 4 juta. "Yang bersangkutan masih saudara dengan korban yang istri,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Setelah dilakukan autopsi, jenazah satu keluarga korban pembunuhan itu disemayamkan dan dilakukan pemberkatan di Gereja Lahai Roi, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu, 14 November, pukul 11.00 WIB. Jenazah satu keluarga itu pukul 13.00 WIB diterbangkan ke Medan, Sumatera Utara. Jenazah Daperum, Maya, Sarah, dan Yehezkiel dikuburkan di Kampung Nainggolan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.


Reporter: Gresnia F Arela
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE