INVESTIGASI

Sejoli Pencabut Nyawa Dufi

“Suami saya tanya, bagaimana kalau (Dufi) di-gap. Maksudnya gap itu kalau pengertian aku dibunuh.”

Ilustrator: Fuad Hasim

Jumat, 23 November 2018

Sebagai ibu rumah tangga, Bayu Yuniarti Hendriani saban hari selalu beres-beres rumah, mulai menyapu, mengepel lantai, hingga membersihkan perabotan. Tapi Kamis, 15 November 2018, pagi itu, ia bisa sedikit bersantai. Sang suami, Abdullah Fithri Setiawan atau Dufi, di luar kebiasaan, sibuk merapikan rumah mereka di Telaga Gading Serpong, Kelurahan Medang, Kecamatan Pagedangan, Tangerang, Banten.

Seluruh lantai ruangan dipel. Meja dan kursi di ruang tamu dikeluarkan dari rumah untuk dilap. Namun barang-barang itu dibiarkan saja di halaman rumah hingga keesokan harinya. “Nanti saja, kalau saya sudah pulang, dibereskan lagi,” begitu ucap Dufi kepada Yuniarti sembari pamit berangkat kerja, Jumat, 16 November, itu.

Pukul 07.30 WIB, mobil Toyota Kijang Innova warna putih yang dikemudikan Dufi meninggalkan rumah. Dufi punya kantor perusahaan teknologi informasi dan agen pemasaran bernama PT Cahaya Gemilang di Jakarta. Setiap hari ia naik mobil ke kantor. Tapi ada kalanya mobil itu diparkir di Stasiun Rawa Buntu dan Dufi melanjutkan perjalanan dengan KRL.

Pada pukul 09.00 WIB, Dufi mengirimkan pesan melalui WhatsApp kepada Yuniarti bahwa dirinya sudah tiba di Stasiun Rawa Buntu. “Ma, saya sudah di stasiun, mobil di parkiran.” Beberapa kali Yuniarti masih berbalas pesan dengan suaminya. Tapi setengah jam kemudian, pesan-pesan yang dikirim Yuniarti itu tak lagi dibaca.

Hingga sore hari, karena tak ada respons, Yuniarti kembali mengirim pesan. Namun hasilnya sama saja. Hingga malam menjelang, Dufi tak kunjung pulang. Dufi memang kadang tidak pulang sehari atau dua hari karena pekerjaan. Tapi, karena kontaknya sulit dihubungi, Yuniarti diselimuti kekhawatiran. Minggu, 18 November, akhirnya Yuniarti menghubungi adik suaminya, Muhammad Ali Ramdoni, memberitahukan keganjilan itu.

Almarhum Dufi dan istrinya
Foto : Facebook

Ramdoni pun datang ke rumah kakak iparnya dan mencoba menenangkan. Namun, beberapa saat kemudian, sejumlah personel Polsek Klapanunggal, Bogor, datang ke rumah dan memberi kabar adanya penemuan mayat di kawasan industri di RT 01 RW 03 Kampung Narogong, Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada pukul 06.30 WIB.

“Saya kaget dan lemas. Nggak ada firasat sebelumnya. Ya itu mungkin firasatnya soal Abi (Dufi) beres-beres rumah. Semua dikeluarin, kursi dan meja. Sampai sekarang belum dimasukkan. Eh, nggak tahunya begini,” tutur Yuniarti kepada detikX, Selasa, 20 November 2018.

Ihwal penemuan mayat Dufi bermula dari seorang pemulung bernama Santi, 56 tahun, di Kampung Narogong. Sebuah drum berwarna biru memikat perhatian Santi. Ia pun mendekati drum itu dan membuka penutup yang dilakban warna hitam. Alangkah kagetnya ketika Santi melihat sosok manusia yang sudah tak bernyawa di dalam drum.

Santi lari terbirit-birit meninggalkan lokasinya memulung sambil berteriak kencang. Warga pun langsung menghubungi Polsek Klapanunggal. Setelah diperiksa, mayat berjenis kelamin laki-laki itu dipenuhi luka-luka akibat senjata tajam di bagian leher, dada, dan punggung. Polisi tak menemukan tanda pengenal karena dompet korban raib.

Polisi lantas mengevakuasi korban ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk diidentifikasi lebih mendalam. Setelah diambil sidik jarinya, diketahui bahwa korban bernama Abdullah Fithri Setiawan, kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1975, yang beralamat di Telaga Gading, Serpong.

Nurhadi dan Sari
Foto : Istimewa

Selain keluarga, sejumlah wartawan terkejut atas penemuan mayat Dufi. Sebab, Dufi memang dikenal sebagai wartawan di koran Rakyat Merdeka sejak tahun 2000. Setelah bekerja di koran grup Jawa Pos itu, Dufi pindah ke iNews TV sebagai tenaga marketing. Habis itu, Dufi tercatat sebagai staf khusus Dewan Pengawas TVRI dan freelance marketing di TV Muhammadiyah.

“Dari dulu memang begitu, orangnya kreatif semenjak mulai di Indopos, iNews TV. Jadi bukan sekadar kerja, tapi juga cari peluang membuka usaha,” ujar Ramdoni saat pemakaman Dufi di TPU Budi Dharma, Semper, Jakarta Utara, Senin, 19 November.

Bagi keluarga, Dufi dikenal sebagai pribadi yang baik dan tak pernah menyimpan dendam kepada siapa pun. Sekalipun Dufi suka berdebat tentang pekerjaannya, hal itu dianggap lumrah. “Tapi kalau nyari musuh sampai akhirnya begini, sepertinya, apakah ada persaingan bisnis atau apa, karena kan beliau pengusaha juga,” kata Ramdoni.

Selang dua hari sejak penemuan mayat Dufi, Selasa, 20 November, polisi dari Subdirektorat III Reserse Mobil Polda Metro Jaya yang dipimpin Kompol Handik Zusein, AKP Resa F Marasabessy, dan AKP Rovan R Mahenu menangkap pelaku pembunuhan itu di Bantargebang, Bekasi. Pelaku bernama M Nurhadi, 35 tahun, ditangkap saat memakai ponsel milik Dufi di belakang kantor Kelurahan Bantargebang, Kecamatan Bantargebang, Bekasi, sekitar pukul 14.30 WIB.

Dari tangan warga yang beralamat di Jalan Narogong Cantik Raya Nomor D140, RT 01 RW 023, Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi, itu ditemukan KTP, SIM, kartu ATM, dan buku tabungan milik Dufi. Saat diinterogasi, Nurhadi mengaku melakukan pembunuhan itu di rumah kontrakan Ibu Laksmi di RT 03 RW 04 Kampung Bubulak, Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Sabtu, 17 November, pukul 14.00 WIB.

Rumah kontrakan di Bogor yang menjadi lokasi pembunuhan Dufi.
Foto : Samsudhuha Wildansyah/detikcom

Dalam menjalankan aksinya, Nurhadi rupanya bersekongkol dengan sang istri, Sari. Jumat malam sebelum dibunuh oleh pasangan suami-istri itu, Dufi menelepon Sari untuk mengabarkan bakal bertamu ke kontrakan keduanya pada Sabtu. Rencana kedatangan Dufi dimanfaatkan pelaku untuk berbuat kejahatan. Karena tengah dibelit masalah keuangan, Nurhadi pun mencetuskan ide untuk membunuh Dufi dan menjual mobilnya.

“Suami saya tanya, bagaimana kalau (Dufi) di-gap. Bahasa dia di-gap. Maksudnya gap itu kalau pengertian aku ‘dibunuh’,” kata Sari.

Sabtu pagi, Sari mengirim pesan WhatsApp, menanyakan apakah Dufi jadi berkunjung dan dijawab jadi. Benar saja, siang hari, Dufi tiba di kontrakan keduanya dengan mengendarai mobil. Singkat cerita, terjadilah peristiwa pembunuhan di kamar kontrakan pada siang bolong itu. Nurhadi menyabetkan golok ke leher dan tubuh Dufi. Saking membabi-butanya, sabetan senjata tajam itu sempat melukai tangan kanan Sari.

Setelah Dufi tewas bersimbah darah, mayatnya kemudian dimasukkan ke dalam drum dan dibuang. Jenazah Dufi dibuang oleh pelaku lain yang membantu aksi sejoli pencabut nyawa itu. “Motifnya sementara ini adalah perampokan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo lewat keterangan persnya di Jakarta, Rabu, 21 November.

Kini polisi masih memburu pelaku lainnya yang identitasnya masih misterius itu. Pelaku lain itu jugalah yang diduga akan menjual mobil Dufi. Sedangkan Nurhadi dan Sari dijerat Pasal 340 sub 338 KUHP dan/atau Pasal 365 ayat (3) sub Pasal 363 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan Perampokan dengan ancaman sampai 20 tahun penjara dan hukuman mati.


Reporter/Penulis: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE