INVESTIGASI

Kisruh Duit Kemah Pemuda Muhammadiyah

Duit kemah pemuda menyeret Dahnil Anzar. Bagaimana nasib Dahnil yang kini jadi Koordinator Jubir Prabowo-Sandi itu ke depan?

 Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 30 November 2018

Rumah dinas Menteri Pemuda dan Olahraga di Jalan Widya Chandra III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kedatangan banyak tamu sore itu. Sang tuan rumah Menpora Imam Nahrawi mengundang dua organisasi massa pemuda terbesar di Indonesia, yaitu Pemuda Muhammadiyah dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Dari Pemuda Muhammadiyah, hadir dalam pertemuan pada September 2017 itu sang ketua, Dahnil Anzar Simanjuntak, yang didampingi lima pengurus. Begitu pula dengan GP Ansor, hadir sang ketua, Yaqut Cholil Qoumas. Setelah berbincang bersama-sama, Imam lantas mengajak Dahnil dan Yaqut ke sebuah ruangan terpisah untuk berbicara enam mata.

Imam menyampaikan kekhawatiran pemerintah terhadap konflik horizontal karena maraknya isu anti-Pancasila, antitoleransi, serta tudingan anti-Islam terhadap Presiden Joko Widodo. Imam meminta pendapat untuk mengatasinya. Imam juga punya gagasan dibuatnya acara bersama Pemuda Muhammadiyah dan GP Ansor sebagai simbol persatuan dan meredam konflik horizontal.

Dahnil tak langsung menanggapi ajakan itu karena harus berkonsultasi dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Setelah Dahnil mendapat izin, kepanitiaan pun dibentuk dengan ketua Ahmad Fanani. Karena waktu itu masih berfokus pada rapat kerja nasional di Palangka Raya, panitia baru mengajukan proposal pada 23 November 2017.

Pemuda Muhammadiyah mengajukan proposal pengajian akbar di lima kota di Indonesia. Namun rupanya Kemenpora sudah menyiapkan kegiatan lainnya sesuai dengan mata anggaran tahun 2017, yaitu Apel Pemuda Islam, yang bakal digelar di kawasan Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Meski kegiatannya berbeda, Pemuda Muhammadiyah ikut meneken perjanjian kerja sama pada 27 November 2017.

Dahnil Anzar Simanjuntak
Foto : Indrianto Eko Suwarso/ANTARA

Kemenpora menyiapkan dana bantuan pemerintah untuk perhelatan itu sebesar Rp 5 miliar. Pemuda Muhammadiyah mendapat Rp 2 miliar, sedangkan GP Ansor Rp 3,5 miliar. Dana untuk GP Ansor lebih besar karena kebagian menyiapkan tenda dan makanan bagi semua peserta, sedangkan Pemuda Muhammadiyah hanya memobilisasi massa mereka.

Uang cair pada 11 Desember 2017. Apel Pemuda Islam atau kemah pemuda pun berlangsung meriah pada 16-17 Desember 2017. Ribuan peserta dari kedua ormas hadir. Presiden dan sejumlah pejabat, seperti Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menpora Imam Nahrawi , serta Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir.

Namun, hampir setahun berselang sejak acara kemah pemuda itu bubar, muncul kabar tidak sedap tentang Dahnil dkk. Ia dan panitia penyelenggara dari Pemuda Muhammadiyah dipanggil penyidik Polda Metro Jaya untuk diperiksa terkait dana bantuan kemah pemuda itu. Dua kali dilayangkan surat untuk diperiksa pada 19 dan 23 November, Dahnil dkk baru memenuhi pemeriksaan itu pada Jumat, 23 November.

Penyidikan kasus ini bermula dari laporan adanya dugaan penyimpangan dana kemah oleh Pemuda Muhammadiyah. Selain memeriksa Dahnil dan panitia, polisi menyurati Kemenpora untuk meminta dokumen laporan pertanggungjawaban serta meminta audit kepada Badan Pemeriksa Keuangan. Penyidik pun terbang ke Yogyakarta untuk meminta keterangan kepada sejumlah pihak, termasuk pegawai hotel tempat menginap panitia.

Polisi menduga ada penggunaan dana fiktif yang dicantumkan dalam laporan pertanggungjawaban oleh Pemuda Muhammadiyah kepada Kemenpora. Panitia juga diduga melakukan markup dalam laporan pertanggungjawaban dana kemah itu. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut tak semua uang Rp 2 miliar itu dihabiskan. Dana yang masih sisa hampir setengahnya. Sesuai dengan perjanjian kerja sama, uang yang menganggur itu harus dikembalikan ke negara. Sedangkan seorang sumber detikX menyebutkan dana sisa itu Rp 800 juta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono
Foto : Kanavino/detikcom

Adanya potensi pelanggaran hukum dari laporan pertanggungjawaban itu juga ditemukan dan diakui oleh kuasa hukum Pemuda Muhammadiyah, Trisno Raharjo. Menurut dia, ada beberapa item pembayaran yang mengandung persoalan. Namun apakah berarti benar ada markup dalam laporan pertanggungjawaban itu, Trisno menolak berkomentar. “Biarlah polisi bekerja untuk selesaikan bersama BPK,” katanya.

Trisno memastikan Dahnil tak terlibat dalam penyusunan laporan pertanggungjawaban. Sebagai Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah waktu itu, Dahnil juga tidak terlibat dalam teknis acara. Tanda tangan Dahnil dalam dokumen laporan pertanggungjawaban juga hasil pemindaian (scan).

“Tanda tangan dalam dokumen LPJ (laporan pertanggungjawaban) tersebut adalah hasil scan yang tidak diketahui oleh Saudara Dahnil. Karena panitia berasumsi kegiatan tersebut telah terlaksana dengan baik, dan kami menganggap pelaporan tersebut hanya pelengkap administrasi," tuturnya.

Dahnil dalam berbagai kesempatan menampik tudingan yang menyudutkan dirinya dalam kasus dana kemah itu. Mantan dosen ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, yang kini menjabat Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, itu justru menuding kasus tersebut seperti sengaja dicari-cari.

"Kalau kemudian pihak kepolisian justru mempermasalahkan kegiatan yang diinisiasi oleh Menpora dan Pak Presiden untuk kepentingan Pak Presiden, saya pikir pihak kepolisian sedang justru menghina Presiden bagi kami," kata Dahnil. "Jadi yang jelas bagi kami, pada saat itu adalah membantu Presiden. Kami ingin memastikan Pak Presiden tidak terus dituduh anti-Islam dan sebagainya," imbuh dia.

Dahnil juga mengaitkan pelaporan dana kemah itu dengan persaingan di ajang Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII di Yogyakarta. Hal itu diungkapkan kepada Imam saat dia bertemu dengan Dahnil. Muktamar memilih ketua pengganti Dahnil, yang menjabat pada 2014-2018. Muktamar itu berlangsung pada 25-28 November 2018 dengan hasil Sunanto sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah yang baru.

Menpora Imam Nahrawi (berbatik hijau) diapit oleh Dahnil Anzar Simanjuntak (kanan) dan Yaqut Cholil Qoumas di acara Apel Pemuda Islam 2017.
Foto : Ristu Hanafi/detikcom

Namun, sebelum kepengurusan berganti, Pemuda Muhammadiyah telah mengembalikan dana Rp 2 miliar itu pada 23 November. Menurut Fanani, pengembalian uang itu dilatari oleh masalah harga diri organisasi. Sebab, Pemuda Muhammadiyah sejak dulu keras menyuarakan gerakan antikorupsi. Alasan kedua adalah perbedaan acara antara usulan serta program yang terlaksana.

Ketika ditanya apakah benar uang sisa apel pemuda di kepanitiaan Pemuda Muhammadiyah masih Rp 800 juta, Fanani tidak mengiyakan ataupun menyangkalnya. “Kami malah kembalikan bulat Rp 2 miliar, demi harga diri Pemuda Muhammadiyah,” katanya saat dihubungi detikX, Selasa, 27 November.

Namun Kepala Bagian Hukum Kemenpora Yusuf Suparman mengatakan dana bantuan kemah pemuda disalurkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 173 Tahun 2016 tentang Perubahan Peraturan Menteri Keuangan No 168 Tahun 2015 tentang Mekanisme Bantuan Pemerintah kepada Lembaga Kepemudaan.

Di situ disebutkan pengembalian dana bantuan bisa dilakukan jika kegiatan nyata-nyata tidak dilakukan atau apabila dana yang digunakan ternyata tidak digunakan sepenuhnya sesuai dengan rencana awal. “Misalnya, itu anggaran kan Rp 2 miliar untuk mendatangkan 1.000 orang. Tapi ternyata yang hadir itu 500 orang. Nah, yang 500 sisanya kan tidak terkerahkan. Inilah yang dalam konstruksi harus dikembalikan ke kas negara,” katanya kepada detikX, Senin, 26 November.

Polda Metro Jaya sendiri menyatakan kasus dana kemah terus berlanjut meski Pemuda Muhammadiyah sudah mengembalikan dana bantuan itu. Kasus itu sudah masuk ke tahap penyidikan. “Kalau mereka dari awal tahu ada masalah di kontrak, seharusnya ditolak. Kenapa saat itu digunakan? Sekarang naik ke penyidikan, 'Wah, kami dianggap korupsi.’ Oh, nggak," kata Kepala Subdirektorat Tipikor Ditkrimsus Polda Metro Jaya AKBP Bhakti Suhendarwan.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE