INVESTIGASI


MENGAPA MEREKA DIBUNUH DI NDUGA, PAPUA

Dulu, pembangunan jalan Trans Papua dikerjakan oleh Zeni Tempur TNI Angkatan Darat. Kini OPM curiga, TNI menyamar jadi pekerja.

Jenazah Sertu Anumerta Handoko, korban penembakan di Nduga, Papua

FOTO : Antara

Jumat, 7 Desember 2018

Hari itu, Sabtu 1 Desember 2018, Jimmy dan kawan-kawannya hanya bersantai menghabiskan waktu dalam kamp PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Mereka semua diliburkan lantaran hari itu ada peringatan ulang tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Ada kabar, OPM akan melakukan pengibaran bendera Bintang Kejora dan upacara Bakar Batu di distrik tersebut bersama masyarakat setempat. Jimmy dan kawan-kawannya sebenarnya tengah mengerjakan pembangunan dua jembatan di Distrik Yigi, yaitu jembatan Kali Aurak dan Kali Yigi. Dua jembatan itu merupakan bagian dari proyek jalan Trans Papua.

Tak ingin mengambil risiko dengan keselamatan pekerjanya, pimpinan proyek Istaka Karya memutuskan meliburkan karyawan saat ulang tahun OPM. “Kami memang sudah memberi peringatan agar tak ada kegiatan lain selama dua hari,” kata Pendeta Benny Giay, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia, kepada detikX. Acara pada Sabtu lalu itu, menurut dia, tak melulu peringatan OPM, tapi juga misa untuk persiapan Natal. “Istilah kami, Gerbang Natal.”

Belum terang betul bagaimana mulanya, segerombolan orang membawa rupa-rupa jenis senjata menggeruduk kamp Istaka Karya sekitar pukul 15.00. Menurut Benny, ada orang diam-diam memotret kegiatan warga dan OPM. Padahal warga Ndagu, seperti juga beberapa daerah di Pegunungan Tengah, Papua, selama bertahun-tahun mengalami tindak kekerasan dari aparat keamanan.

“Luka itu belum sembuh,” ujar Pendeta Benny. Sehingga mereka gampang curiga kepada orang, terutama anggota TNI. "Nduga itu daerah 'merah'....Makanya kami minta TNI jangan masuk dulu ke daerah itu." Melihat ada orang diam-diam memotret kegiatan mereka, sebagian peserta acara mengejar pemotret gelap itu. Mereka, kata Pendeta Benny, meminta foto itu dihapus. Masih banyak hal yang gelap dari kejadian pada Sabtu itu, misalnya siapa pemotret gelap itu dan bagaimana pemotretan itu bisa berujung penembakan?

Proyek jembatan Trans Papua di Kabupaten Nduga, Papua
Foto : Kementerian PUPR

Di kamp Istaka, hati Jimmy makin ciut ketika mereka ditodong senjata api dan senjata tajam. Kemudian gerombolan itu mengikat tangan para pekerja Istaka Karya dan menggelandangnya ke luar kamp. Jimmy dan pekerja Istaka digiring menuju Kali Karunggame. Keesokan harinya, , mereka kembali berpindah tempat dan dipaksa berjalan jongkok menuju Bukit Puncak Kabo. “Kami makin ketakutan ketika semua gerombolan itu berloncat-loncat menari kegirangan sambil meneriakkan yel-yel khas Papua,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Infanteri Muhammad Aidi, menirukan cerita Jimmy Aritonang, kepada detikX.

Dalam hitungan beberapa detik, senjata api mereka menyalak. Para pekerja Istaka bertumbangan. Sebagian pekerja tewas saat itu juga. Ada sebagian lagi yang terluka, tetap berbaring di tanah, pura-pura telah mati. Setelah melihat sanderanya tewas, gerombolan bersenjata itu angkat kaki sambil berteriak-teriak kegirangan. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Puncak Kabo.

Kami makin ketakutan ketika semua gerombolan itu berloncat-loncat menari kegirangan'

Lantaran sudah merasa aman, ada 11 pekerja, termasuk Jimmy Aritonang yang ternyata tak terluka, bangkit dan melarikan diri. Tapi nahas, upaya mereka diketahui anggota gerombolan. Mereka pun kembali dikejar lagi. Beberapa pekerja yang terluka berlari sekuat tenaga. Tapi malang, lima orang pekerja tertangkap. Jimmy sempat melihat gerombolan itu langsung menggorok leher kelima rekannya dengan golok dan tewas seketika. Jimmy dan lima rekan lainnya terus berlarian tak tentu arah menjauhi gerombolan itu.

Setelah berhasil lolos, Jimmy dan bersama tiga rekannya yang terluka berusaha menuju Distrik Mbua. Sementara dua orang rekannya yang lain berpisah dan hilang entah ke arah mana. Saat berada di jalan menuju Distrik Mbua itu lah, Jimmy dan ketiga rekannya bertemu dengan anggota TNI dari Pos Batalyon Infanteri (Yonif) 755/Yalet yang berada di Distrik Mbua. Mereka berempat segera dibawa ke Pos TNI.

Rupanya, gerombolan KKSB belum puas, mereka mencari keempat korban ini sampai ke Pos TNI itu. Puluhan anggota gerombolan bersenjata itu mengepung pos dan melempari pos dengan batu. Sersan Dua (Serda) Handoko membuka jendela untuk melihat siapa yang melempar batu. Tiba-tiba terdengar rentetan tembakan senjata api. Handoko yang tak siap tumbang dan gugur di tempat itu juga.

Baku tembak terjadi antara personil TNI Angkatan Darat yang berusaha mempertahankan pos dan empat pekerja PT Istaka Karya yang diselamatkannya itu. Baku tembak itu berlangsung lama hingga malam. Merasa kalah jumlah, Komandan Pos TNI sempat meminta bantuan pasukan melalui radio. Karena posisinya makin terdesak dan pertempuran tak berimbang ditambah medan yang tak menguntungkan, Komandan Pos TNI memutuskan untuk mundur mencari perlindungan.

Pasukan gabungan TNI-Polri bersiap mengevakuasi korban penembakan di Nduga, Papua
Foto : Wilpret Siagian/Detik.com

Saat mereka meninggalkan pos, gerombolan itu kembali melakukan penyerangan. Akibatnya, Prajurit Satu Sugeng tertembak pada bagian lengannya. Kontak tembak tak berimbang antara personel TNI dengan gerombolan itu pun kembali pecah. Akhirnya, pada Selasa pagi, sekitar pukul 07.00, datang bala bantuan dari Satuan Tugas Gabungan TNI-Polri.

Lima orang korban, termasuk Jimmy, dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Jaya Wijaya di kota Wamena dengan menggunakan helikopter. "Menurut keterangan saudara JA (Jimmy Aritonang), jumlah korban yang dipastikan meninggal dunia dibantai oleh gerombolan itu di lereng Bukit Puncak Kabo ada 19 orang," kata Kolonel Infanteri Muhammad Aidi.

Begitu tiba di Nduga, pasukan gabungan TNI-Polri langsung menyebar dan mengejar gerombolan bersenjata yang lari ke hutan. “Tim Nanggala dan Tim Belukar sudah berada di sekitar Puncak Kabo dan sampai saat ini masih terjadi kontak tembak,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Papua, Inspektur Jenderal Martuani Sormin Siregar.

Sehari setelah pernyataan Polri bahwa pelaku penembakan adalah gerombolan yang dipimpin Egianus Kogoya, kelompok yang mengaku sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan para pekerja dan anggota TNI di Nduga itu. Pernyataan itu diunggah di laman Facebook bernama TPNPB, pada Rabu lalu.

"Ya benar Operasi di Kali Aworak, Kali Yigi, Pos TNI Distrik Mbua, kami yang lakukan dan kami siap bertanggung jawab penyerangan ini," kata Pemne Kogeya, Komandan Operasi Kodap III Ndugama. Panglima Kodap III Ndugama adalah Egianus Kogoya. Menurut Pemne, yang mereka serang bukan warga sipil, tapi aparat militer.

Dia mengklaim telah mengawai pekerjaan pembangunan jembatan itu selama tiga bulan. “Kami sudah secara lengkap mempelajari pekerja di Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua adalah satu kesatuan. Pos Mbua adalah pos resmi sebagai pos kontrol dan yang bekerja di Kali Aworak dan Kali Yigi adalah murni anggota TNI (Zipur-Zeni Tempur),” dia menulis di Facebook.

Kolonel Muhammad Aidi membantah pernyataan Pemne Kogeya. "Para korban itu kan sebagian meninggal, sebagian hidup. Kalau memang dia mengatakan bahwa itu TNI, ya silakan aja diperiksa, ada yang hidup di situ, jelas datanya. TNI kan jelas datanya, silakan diperiksa. Kemudian itu disebutkan karyawan Istaka Karya, cek aja ke Istaka Karya,” kata dia kepada detikcom.

Presiden Joko Widodo bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meninjau proyek jalan Trans Papua beberapa waktu lalu 
Foto : Laily Rachev/Biro Pers Setpres

Ribuan kilometer dari Nduga, pejabat tinggi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Jakarta terkejut bukan main mendengar laporan soal penembakan para pekerja PT Istaka Karya. Mereka mendengar kabar itu pada hari Senin, 3 Desember. Mendengar kabar duka itu, karyawan di lingkungan Kementerian PUPR dan PT Istaka Karya bersepakat mengikatkan pita hitam di lengan.

Proyek pembangunan dua jembatan di Kabupaten Nduga itu merupakan bagian dari proyek jalan Trans Papua segmen V, yaitu ruas Wamena - Habema - Mugi - Kenyamanan - Batas Batu - Mumugu sepanjang 278,6 Km. Di ruas segmen V antara Wamena-Mumugu ini terdapat 35 jembatan yang tengah dibangun. Ada 11 jembatan dibangun oleh PT Istaka Karya dengan nilai kontrak Rp 184,4 miliar. Sedangkan 21 jembatan dikerjakan PT Brantas Abipraya dengan nilai kontrak Rp 246,8 miliar.

Pemerintah berharap, pembangunan jembatan di Bumi Cendrawasih ini akan membuka akses ke daerah-daerah terisolir di pedalaman. "Kami merasa terkejut dan sangat menyesalkan terjadinya kembali tindakan penembakan terhadap para pekerja kontruksi pembangunan dua jembatan itu. Kami menyampaikan dukacita yang mendalam kepada keluarga korban penembakan dari PT Istaka Karya," kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, di kantornya, Selasa lalu.

Mereka sangat welcome karena kami melakukan pendekatan kebudayaan dan mendayagunakan masyarakat setempat

Kepolisian baru menerima laporan soal pembunuhan pekerja PT Istaka Karya, Senin sore. Polisi menerima laporan melalui radio SSB (Single Sideband) dari Pendeta Wilhelmus Kogoya, tokoh gereja di Distrik Yigi. Menurut Pendeta Wilhelmus, ada dua pekerja sempat melarikan diri dan selamat sampai di Distrik Mbua. Data korban selamat yang diperoleh PT Istaka antara lain, Martinus Sampe (luka tembak kaki kiri), Ayub (luka tembak di tangan kanan), Jefrianto (luka tembak di pelipis kiri) dan Jimmy Aritonang (tak menderita luka). Juga ada enam warga lain yang berhasil dievakuasi, yaitu Nofianus, Yulianus Seram, Siman, Selpianus Martir, Jhon Fanbua, Yulman Mange. "Informasinya masih simpang siur," kata Direktur Utama PT Istaka Karya, Sigit Winarto kepada detikX.

Sebenarnya, menurut Menteri Basuki, wilayah yang paling rawan justru di wilayah kerja PT Brantas Abipraya. Bahkan sudah empat bulan ini, ada sembilan proyek jembatan dihentikan akibat gangguan keamanan. "Mulai hari ini, kami hentikan sementara pembangunan jembatan antara ruas Wamena - Habema - Mugi - Kenyam - Batas Batu - Mumugu. Pengerjaan akan dimulai lagi setelah ada rekomendasi dari pihak TNI dan Polri," kata Basuki.

Menurut mantan Ketua Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), Letnan Jenderal (purn.) Bambang Darmono, jalur jalan Trans Papua dari Wamena hingga Nduga dari dulu memang sangat rawan. Oleh karena itu, saat dia masih memimpin UP4B, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, untuk membuka akses jalan tersebut dilakukan oleh satuan Zeni Tempur TNI Angkatan Darat (AD).

“Nah, sekarang saya tidak tahu, kenapa kebijakan pembangunannya dialihkan kepada kontraktor. Sejauh yang saya tahu dulu, masyarakat yang bekerja di situ sangat senang. Mereka sangat welcome karena kami melakukan pendekatan kebudayaan dan mendayagunakan masyarakat setempat,” kata Bambang Darmono kepada detikX.


Reporter: GRESNIA ARELA, SYAILENDRA HAFIZ, FAIQ HIDAYAT
Redaktur: M. RIZAL MASLAN
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE