INVESTIGASI

Penyawer Prabowo,
Dari Ahok hingga Ustaz Heriansyah

Sejak awal masuk gelanggang pertarungan Pilpres 2019, pendukung Prabowo melakukan penggalangan dana. Baik menyasar masyarakat biasa hingga pengusaha Tionghoa.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 13 Desember 2018

Lagu mandarin berjudul 'Ni Wen Wo Ai', yang dipopulerkan Teresa Teng, dengan fasih dinyanyikan oleh Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto. Dalam sekejap, suara Mbak Titiek membuat riuh hadirin yang hadir di Super Ballroom Sun City, Gedung Lindeteves, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, Jumat, 7 Desember 2018, itu.

Prabowo Subianto, mantan suami Titiek, yang berada satu panggung, tampak sesekali melempar senyum ketika ada hadirin yang menggodanya. Malam itu Prabowo, yang menjadi calon presiden nomor urut 02, dan sejumlah anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) menghadiri acara yang digelar Panitia Sembilan, yang mengusung tajuk 'Tionghoa dan Bisnis di Mata Prabowo Subianto'.

Sebelum memulai sesi tanya-jawab, secarik kertas untuk menulis aneka pertanyaan hadirin diletakkan di masing-masing meja makan yang berbentuk bundar. Seusai acara, para hadirin memberikan sumbangan. Ada yang Rp 10 juta, Rp 30 juta, bahkan ada seorang bernama Kasidi alias Ahok memberi sumbangan Rp 250 juta. Total sumbangan yang terkumpul dari 16 tamu malam itu Rp 460 juta.

Ketua panitia penyelenggara, Chandra Suwono, bilang donasi yang diberikan kepada tim Prabowo, yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, bersifat spontan. “Itu inisiatif dari para tamu yang betul-betul mendukung Prabowo agar 2019 bisa terpilih jadi presiden," kata Chandra. Ia menambahkan, tamu-tamu yang hadir merupakan undangan, tapi tanpa diminta membayar. Donasi yang diberikan pun murni tanpa paksaan.

Prabowo dalam acara ramah tamah dengan masyarakat Tionghoa di Ballroom Sun City, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018).
Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom


Jadi begini, kita terus terang bahwa selama ini kita belum menerima donasi yang besar-besar. Yang kita terima itu donasi yang kecil-kecil, mulai Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu. Terus kemarin yang gala dinner tuh paling lumayan.”

Juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, mengatakan hal yang sama. Menurutnya, tidak ada paksaan terkait sumbangan dana yang secara spontan diberikan para pengusaha keturunan Tionghoa itu.  Sumbangan tersebut, kata Andre, menjadi bukti stigma Prabowo anti-China terbantahkan.

“Yang jadi poin penting dari pertemuan Pak Prabowo dengan pengusaha dari keturunan Tionghoa, ada yang bergeser pada Pilpres 2019 ini dari Pemilu 2014. Sebab, saat itu para pengusaha Tionghoa ada di tempat Pak Jokowi,” terang Andre kepada detikX.

Dari penelusuran detikX, Joko Widodo, kini capres petahana, memang pernah menghadiri acara sejenis menjelang Pilpres 2014. Jokowi saat itu datang ke Ballroom Sun City, Kamis, 26 Juni 2014 atas undangan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti). Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 2.000 pengusaha Tionghoa itu, Jokowi menyampaikan visi-misi bila terpilih menjadi presiden. Para hadirin saat itu begitu antusias mendengarkan pemaparan Jokowi.

Dan pertemuan Prabowo dengan pengusaha Tionghoa di Sun City mempunyai makna tersendiri di tengah kesulitan pasangan capres-cawapres tersebut, yang mengklaim sedang cekak dananya. “Jadi begini, kita terus terang bahwa selama ini kita belum menerima donasi yang besar-besar. Yang kita terima itu donasi yang kecil-kecil, mulai Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu. Terus kemarin yang gala dinner tuh paling lumayan,” tutur Andre.

Sejak awal, para pendukung Prabowo memang masif melakukan penggalangan dana lewat medsos. Misalnya lewat #galangdanaperjuangan, yang dimulai sejak beberapa bulan lalu. Dan, per November 2018, dana yang sudah terkumpul Rp 1.822.958.651. Selain lewat Instagram, penggalangan dana juga masif melalui Twitter. Dari pantauan detikX, sejumlah pengguna Twitter mem-posting bukti transfer untuk penggalangan dana. Besarannya beragam, mulai dari Rp 8.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Wasekjen Gerindra Andre Rosiade
Foto: Tsarina Maharani/detikcom

Penggalangan dana secara langsung atau tatap muka juga tidak kalah agresifnya. Sebut saja saat Sandiaga mendapatkan sumbangan kampanye dari sejumlah emak-emak di acara temu kader dan bincang santai 'Penguatan Ekonomi Lokal bersama Cak Sandi' di gedung Wahana Ekspresi Pusponegoro, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Sumursango, Sidokumpul, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Senin, 3 Desember 2018.

Dari situ, Sandiaga mendapat sumbangan Rp 7 juta lebih, yang dibagi dalam dua stoples plastik. Sebelumnya, Sandiaga pernah menerima sumbangan dari kota yang dikunjunginya dengan jumlah bervariasi. Sebagai contoh di Medan pada 12 Desember 2018, Sandiaga mengumpulkan sumbangan Rp 8 juta dari masyarakat yang berkumpul. Dana Rp 1 juta di antaranya disumbang warga bernama Ustaz Heriansyah.

Respons publik terhadap penggalangan dana untuk Prabowo-Sandiaga dianggap Thomas Djiwandono, Bendahara Umum Gerindra dan BPN Prabowo-Sandiaga, sangat menggembirakan. “Apalagi waktu Pak Prabowo deklarasi di Istora Senayan, Jakarta, 22 November lalu. Dari sumbangan Galang Perjuangan yang sejak bulan Juni terkumpul Rp1,5 miliar melonjak menjadi Rp 3,1 miliar per minggu lalu (awal Desember),” ujar Tommy ketika ditemui detikX di Tower Mid Plaza 1, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, 11 Desember 2018.

Meski begitu, jika melihat nilai nominal, kata pria yang akrab disapa Tommy ini,  memang tidak bisa menutupi kebutuhan biaya kampanye, apalagi dengan skala nasional. Lebih lanjut Tommy mengatakan, penggalangan dana yang dilakukan bukan lantaran Prabowo atau adiknya, Hashim Djojohadikusumo, sedang pas-pasan, melainkan untuk menguji seberapa besar animo masyarakat terhadap pencapresan Prabowo.

Prabowo Subianto di Reuni 212
Foto: M Guruh Nuary/detikcom

“Dan dari penggalangan dana, terlihat animo masyarakat terhadap Prabowo sangat baik meskipun sumbangan secara langsung cukup rumit pembukuannya. Kecuali penggalangan dana lewat transfer, yang mudah dipertanggungjawabkan secara transparan,” kata Tommy.

Untuk memudahkan proses pembukuan dan audit, Tommy menggandeng sejumlah tenaga accounting, yang semuanya perempuan. Tugas mereka mencatat semua transaksi, baik donasi maupun pengeluaran. Seluruhnya dilampirkan dalam sebuah laporan yang di-update oleh Sandiaga ke publik. Sampai November lalu, misalnya, total dana kampanye yang terkumpul Rp 41,9 miliar dan sudah digunakan Rp 34,5 miliar.

Data BPN menginformasikan, dana sumbangan kampanye paling banyak berasal dari Sandi, yaitu Rp 28,5 miliar. Sedangkan dari Prabowo Rp 4,96 miliar dalam bentuk jasa dan Rp 7 miliar dalam bentuk uang. Untuk menambal-nambal, Tommy mengaku telah mendekati beberapa pengusaha besar, tapi masih sulit dirayu. Sekalipun ada yang menyumbang, angkanya tidak sebesar seperti yang diperkirakan. “Ada satu-dua pengusaha yang menolong, tapi belum seperti yang kita harapkan,” kata Tommy.

Donasi dalam jumlah besar dari sejumlah pengusaha sangat diharapkan pasangan Prabowo-Sandiaga. Pasalnya, pada  Pilpres 2014,  Prabowo, yang waktu itu berpasangan dengan Hatta Rajasa, selama tiga bulan saja menghabiskan dana sekitar Rp170 miliar. Itu di luar keperluan uang untuk saksi.

Pada Pilpres 2014, jumlah tempat pemungutan suara sekitar 600 ribu. Jika dikalikan satu saksi Rp 200 ribu bisa mencapai Rp 300 miliar. Dengan kata lain, biaya yang dihabiskan pasangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 totalnya mencapai Rp 470 miliar.

Sandiaga uno kampanye di Kebumen, Jawa Tengah
Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Untuk Pilpres 2019, Tommy memperkirakan biaya kebutuhannya jauh lebih tinggi karena jumlah TPS bertambah 200 ribu. Otomatis biaya untuk membayar saksi pun bakal melambung. Dari mapping yang dilakukan Tommy, biaya paling besar akan dibutuhkan pada Januari-Februari 2019. Dan puncaknya pada Maret atau sebulan sebelum waktu pencoblosan. Sebab, akan banyak kampanye akbar yang melibatkan banyak orang dan tentunya logistik.


Reporter: Ibadurrahman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE