INVESTIGASI

Tak Ada Jalan Kembali untuk Sandi

Setengah triliun rupiah lebih saham dijual Sandiaga Uno untuk membiayai kampanye. "Saya harus all-out, berapa pun yang dibutuhkan." 

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 14 Desember 2018

Lebih dari setengah triliun rupiah saham di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) dilepas Sandiaga Uno. Keperluan logistik untuk menghadapi Pilpres 2019 jadi alasannya. Sandi, yang menjadi cawapres Prabowo Subianto, saat ini sedang melakukan persiapan ‘perang’ selama 100 hari menjelang hari pencoblosan Pilpres pada 17 April 2019. Namun, apa daya, donasi dan sumbangan masih jauh dari harapan.

"Seperti saya sudah ungkapan, saya dengan Pak Prabowo memastikan giat kampanye tetap bergulir. Karena sampai kini belum ada donasi, dan saya sampaikan siap untuk terus all-out," ujar Sandi saat berkampanye di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu, 5 Desember. "Sudah melewati bulan Desember, hasil survei telah melewati angka 40 persen, makanya saya harus all-out, berapa pun yang dibutuhkan," lanjut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Menghadapi pertarungan di pilpres, apalagi menghadapi capres petahana Joko Widodo-Ma'ruf Amin, memang bukan perkara gampang. Butuh dana besar untuk memuluskan proses kampanye, dari biaya konsolidasi, mobilisasi simpatisan, serta alat peraga kampanye, seperti spanduk dan kaus.

Sandiaga Uno
Foto: Ari Saputra/detikcom


Saat maju jadi cawapres, dia berkomitmen untuk membiayai kontestasi ini. Istilahnya maju sebagai cawapres ini adalah ‘one way ticket’, artinya nggak ada jalan pulang atau kembali. ‘Saya sudah berkomitmen dan saya akan maju ke depan.'”

Setidaknya, menurut Bendahara Umum Partai Gerindra dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Thomas Djiwandono atau Tommy, pada 2014 Prabowo, yang berduet dengan Hatta Rajasa, telah menghabiskan dana Rp 470 miliar. Apalagi untuk pilpres kali ini, yang diprediksi kebutuhan biayanya akan semakin tinggi.

Dari catatan yang dikumpulkan detikX, dalam waktu dua bulan, Sandi sudah menjual saham Saratoga sebesar Rp 567 miliar. Rentetan aksi jual saham Saratoga yang dilakukan Sandi pertama pada awal Oktober 2018. Kala itu Sandi melepas 51,4 juta lembar saham Saratoga pada harga Rp 3.776. Nilai total transaksinya mencapai Rp 194,08 miliar.

Dia menjual saham Saratoga dalam dua kali transaksi. Transaksi pertama dilakukan pada 2 Oktober 2018 dengan menjual 12 juta lembar saham dan 3 Oktober 2018 sebanyak 39,4 juta lembar saham.

Kemudian dia melepas saham Saratoga pada 8 Oktober 2018 sebanyak 28 juta lembar pada harga Rp 3.776 dan 9 Oktober 2018 sebanyak 2,1 juta lembar saham pada harga Rp 3.802. Total nilai transaksi pada dua hari itu mencapai Rp 113,7 miliar.

Sandi melaporkan empat kali transaksi penjualan saham dari kurun waktu 27 November 2018 hingga 4 Desember 2018. Total jumlah saham yang dilepas Sandi tercatat mencapai 41,8 juta lembar. Dari empat kali transaksi tersebut, harga jual setiap transaksi Rp 3.776 per lembar saham. Artinya, Sandi mendapatkan dana Rp 157,84 miliar.

Thomas Djiwandono
Foto: Ari Saputra/detikcom

Perincian transaksinya, 27 November 2018 sebanyak 5 juta lembar saham, 28 November 2018 (15,9 juta lembar saham), 3 Desember 2018 (10 juta lembar saham), dan 4 Desember 2018 (10,9 juta lembar saham).

Sebelumnya, pada 26 November ada penjualan saham Saratoga di pasar negosiasi. Berdasarkan data transaksi bursa, terjadi transaksi jual-beli saham Saratoga senilai Rp 37,76 miliar yang tercatat dilakukan investor asing. Jumlah saham yang ditransaksikan sebanyak 10 juta lembar saham.

Teranyar, Sandi melego sahamnya di Saratoga pada 6, 7, dan 11 Desember dengan volume 17,05 juta lembar pada harga Rp 3.776. Sandi mengantongi Rp 64 miliar dari penjualan saham yang terakhir itu. Praktis, Sandi, yang sebelumnya memiliki 754.115.429 lembar saham Saratoga atau 27,79 persen, kini mempunyai 613.765.429 lembar atau sekitar 22,65 persen. Meski begitu, Sandi tetap menjadi pemegang saham terbanyak ketiga di perusahaan yang digagasnya itu, setelah PT Unitras Pertama dan Edwin Soeryadjaya.

Faransyah Jaya, relawan Sandi yang juga sebagai Ketua Perkumpulan Gerakan OK OCE (PGO), kepada detikX mengatakan aksi jual saham sudah menjadi komitmen Sandi sejak awal memilih maju sebagai cawapres. “Saat maju jadi cawapres, dia berkomitmen untuk membiayai kontestasi ini. Istilahnya maju sebagai cawapres ini adalah ‘one way ticket’, artinya nggak ada jalan pulang atau kembali. ‘Saya sudah berkomitmen dan saya akan maju ke depan,'” jelas Faransyah menirukan ucapan Sandi.

Sandi, kata Faransyah, tidak terlibat dalam penggalangan dana. Sebab, untuk urusan itu hanya satu pintu, yakni dilakukan tim Prabowo, yang salah satunya lewat #GalangPerjuangan. Sementara itu, bagi Sandi, karena berlatar belakang pengusaha, sahamlah yang paling mudah dijual untuk pembiayaan pilpres.

Pasangan capres-cawapres mengikuti Pawai Deklarasi Pemilu Damai 2019-2024 di kawasan Monas dan Patung Kuda.
Foto: Andry Novelino/CNN Indonesia

Bagi Sandi, melepas saham bukan suatu masalah. Sebab, cara tersebut bagian dari mewakafkan harta bendanya untuk perjuangan membangun Indonesia yang lebih baik. “Makanya, waktu beliau jual saham, malah dia bilang, ‘Cukup nggak, ya?’ Itu saja, sih. Kan karena dia background-nya investment, ya, wajar mempertanyakan itu,” beber Faransyah.

Beban Sandi sebagai cawapres lebih berat. Selain membiayai dirinya sendiri untuk bersosialisasi dengan masyarakat, dia harus ‘melumasi’ mesin parpol pendukung Prabowo-Sandi, yakni Gerindra, Partai Amanat Nasinal, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Demokrat. Komitmen tersebut sempat dia nyatakan saat namanya dielus menjadi cawapres pendamping Prabowo pada 9 Agustus 2018.

Sesaat sebelum deklarasi di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara No 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, parpol-parpol pendukung menanyakan kesanggupan Sandi membiayai kampanye. Komitmen itu kemudian bergulir menjadi isu 'uang kardus' setelah Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief melontarkan hal itu ke media sosial dan menjadi viral.

“Padahal bukan begitu (uang kardus) yang sebenarnya. Saat ditanya apakah sanggup membiayai pilpres dengan nilai segitu, Bang Sandi bilang ‘sanggup’. Terus mungkin malah dipersepsikan kayak apa. Itu kan cuma komitmen, belum ada duitnya atau apa. Wong jual sahamnya juga baru sekarang,” ungkap Faransyah.

Meskipun Sandi sudah menjual sahamnya senilai lebih dari setengah triliun rupiah, uang yang masuk ke kas BPN dari Sandi baru tercatat Rp 28 miliar. Ditanya mengenai hal itu, Tommy menyatakan tidak tahu-menahu. Perkara Sandi mulai menjual-jual saham pun, Tommy mengaku tidak ikut campur.


Sandiaga Uno
Foto: dok. Saratoga

“Mengenai penjualan saham Pak Sandi, itu saya nggak tahu apa-apa. Itu kan pribadi beliau. Ini banyak nih yang menanyakan ke saya juga. Saya nggak tahu masalah penjualan saham Saratoga,” jelas Tommy kepada detikX di Gedung Mid Plaza 1, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa 11 Desember 2018.

Sejauh ini, kata dia, dana yang sudah masuk dari Sandi per November lalu tercatat Rp 28,5 miliar. Dana tersebut kemudian digunakan untuk kegiatan operasional terkait mobilisasi. Misalnya, jika Sandi berkunjung ke daerah, uangnya dari BPN. Jadi Sandi tidak perlu membeli tiket pesawat sendiri.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE