INVESTIGASI

Setengah Babak Pilpres

Kegagalan
The New Prabowo

Sandiaga Uno bilang Prabowo berubah dari yang terkesan galak dan keras menjadi humanis. Namun jargon The New Prabowo hanya dimiliki Sandi.

Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Senin, 24 Desember 2018

The New Prabowo. Itulah narasi yang diusung Sandiaga Uno di pengujung Agustus 2018 beberapa hari setelah dirinya didapuk menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto. Kata Sandi di hadapan sejumlah pewarta, Prabowo yang sekarang lebih cair dan mau mendengarkan.

"Pak Prabowo itu orangnya asyik. The New Prabowo yang kita selalu bilang sekarang orangnya sangat cair, sangat mendengar, menghormati. Pak Prabowo sudah melewati dinamika politik kita, sangat menghargai bahwa proses demokrasi harus mempersatukan, jangan memecah-belah,” ucap Sandi di Masjid At-Taqwa, Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Agustus 2018.

Dengan perubahan tersebut, Sandi yakin Ketua Umum Partai Gerindra itu bisa menggaet suara milenial, karena dirinya dan Prabowo bakal menonjolkan sisi autentik biar disukai masyarakat. "Harus tetap autentik. Kita jangan dibuat-buat. Milenial nggak suka yang dibuat-buat. Harus relevan yang dirasakan oleh mereka, yang nyambung sama mereka. Dan harus seru, harus bisa diviralkan. Kita punya banyak konten yang nanti akan menarik," ujarnya.

Soal The New Prabowo, disebut Sandi, juga saran Didit Hediprasetyo, putra semata wayang Prabowo Subianto dan Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto). "Mas Didit bilang (pesan) ke saya, 'Papa juga kasih tahu dong, jangan pakai baju empat kantong terus. Ganti-gantilah. Nggak milenial. Mas Sandi ingetin juga, ya, Papa.’ Begitu kata Mas Didit. Minta agar Pak Prabowo lebih lentur dalam berpakaian," kata Sandi.

Sandi menyambut baik saran Didit. Menurutnya, Prabowo memang sosok yang luwes, santai, dan penuh humor, sehingga pas jika tampil lebih lentur dalam berpakaian. Prabowo selama ini dianggap sejumlah elite sebagai sosok yang temperamental dan militeristik. Padahal, dalam tiga atau empat tahun terakhir ini, sikap temperamental mantan Danjen Kopassus itu sudah jauh berkurang.

Capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
Foto: dok. Instagram Prabowo

Sandi mencontohkan, sewaktu kalah dalam Pilpres 2014, Prabowo dengan kesatria mengucapkan selamat kepada Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla sebagai pemenang. Prabowo juga hadir di sidang umum MPR yang menetapkan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wapres RI 2014-2019. "Jadi saya melihat ada satu diskoneksi persepsi masyarakat terhadap Pak Prabowo, persepsi elite masyarakat (terhadap Prabowo). Ibu-ibu kalau ketemu Pak Prabowo suka auww…," papar Sandi.

Namun, dalam pertarungan Pilpres 2019, yang sudah memasuki setengah babak ini, narasi The New Prabowo itu belum juga terlihat. Prabowo masih sering menunjukkan sifat meledak-ledaknya. Sebut saja saat Prabowo berkunjung ke Ponorogo, Jawa Timur, 1 November 2018. Dalam kampanye yang dilakukan di depan rumah makan Sate Lego, Prabowo geram melihat emak-emak berebut buku 'Paradoks Indonesia' yang dibagikan timnya saat dirinya berpidato.

“Saudara bisa diam nggak? Saudara, kalau mau saya bicara, harus sopan, nunggu saya selesai bicara. Jangan rebutan sendiri. Saudara ingin saya lanjut atau tidak?” tanya Prabowo dengan nada tinggi. Setelah suasana kondusif, Prabowo melanjutkan pidatonya di hadapan ratusan simpatisan.

Dalam acara tersebut, Prabowo juga masih memakai kemeja khasnya yang berkantong empat berwarna cokelat muda, yang coba ingin diubah dengan konsep baru seperti harapan Sandi dan Didit.

Sikap emosional Prabowo juga terlihat pasca-Reuni 212, yang digelar di Monumen Nasional, Jakarta, 2 Desember 2018. Kali ini yang menjadi sasaran kemarahan Prabowo adalah media massa. Prabowo kesal karena Reuni 212 itu tidak menjadi laporan utama sejumlah media. Selain itu, Prabowo mengkritik media yang dia nilai tak objektif dalam memberitakan jumlah orang yang hadir dalam reuni tersebut.

Prabowo saat hadir di Reuni 212
Foto: Pradita Utama/detikcom

Di acara reuni itu, menurut Prabowo, belasan juta orang hadir, yang datang sejak pukul 03.00 WIB. Belum pernah terjadi di dunia orang berkumpul sebanyak itu tanpa dibiayai oleh siapa pun. Namun banyak media tidak meliriknya. Hal itu, katanya, merupakan bagian dari partisipasi media dalam memanipulasi demokrasi di Indonesia.

“Mereka mengira dengan uang yang besar, uang yang didapat dari praktik-praktik yang tidak benar--kasarnya uang yang mereka dapat dari mencuri uang rakyat Indonesia--dengan uang itu mereka mau menyogok semua lapisan bangsa Indonesia, semua lapisan. Partai politik mau dibeli, pejabat-pejabat mau dibeli di mana-mana. Rakyat mau dibohongi, rakyat dicuci otaknya dengan pers yang, terus terang saja, banyak bohongnya dari benarnya,” katanya.

Pada 27 September, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan survei terhadap The New Prabowo itu. Menurut LSI, sebetulnya jargon tersebut mampu menjadi magnet bagi elektoral Prabowo-Sandi. Sekitar 50 persen lebih responden menyukai jargon tersebut dan mendukungnya. Namun memang belum banyak yang mengenalnya. Tim Prabowo seharusnya mengkapitalisasi jargon itu agar makin menimbulkan sentimen positif bagi Prabowo.

Dua hari setelah dirilisnya hasil survei itu, Sandi kembali menggemakan The New Prabowo saat menyambangi Kediri, Jawa Timur. Namun, praktis, setelah itu tidak ada upaya yang terlihat dari Sandi maupun Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk mempopulerkan. Ditanya soal itu, Bendahara BPN, Thomas Djiwandono, mengatakan narasi Prabowo Baru hanya pernyataan Sandi. Ia juga tidak tahu mengapa harus ada istilah The New Prabowo. Sebab, karakter Prabowo dari dulu memang keras dan tegas. “Makanya terkadang suka disalahartikan oleh media. Padahal maksudnya tidak begitu,” terang Thomas kepada detikX di Menara Mid Plaza 1, 11 Desember 2018.

Veri Muhlis Arifuzzaman
Foto: dok. pribadi

Pengamat politik Konsepindo Research, Veri Muhlis Arifuzzaman, menilai istilah The New Prabowo dilontarkan Sandi lantaran ada kegelisahan atas sosok Prabowo yang selama ini dipandang menakutkan. “Wajar Sandi, yang kini jadi cawapres Prabowo, menginginkan perubahan. Dia mau Prabowo yang baru, yang berbeda dari yang dulu. Maunya Sandi, Prabowo yang baru adalah yang lebih cair dan mau mendengar, asyik, menghormati pihak lain, dan berorientasi mempersatukan, bukan memecah-belah,” jelas Veri.

Masalahnya, yang tampil adalah Prabowo lama yang garang, suka marah-marah, dan justru banyak menebar ketakutan. Kemudian, tak jarang keluar dari mulut Prabowo kata yang merendahkan, seperti kepada wartawan atau pekerja ojek online.

Ditambahkan Veri, gagalnya membentuk kesan Prabowo baru berpengaruh terhadap penambahan pendukung. Elektabilitas Prabowo sampai hari ini masih berada di bawah 50 persen. Ia menilai lebih baik tim BPN banyak mengkampanyekan program dibanding menjual image baru Prabowo.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE