INVESTIGASI

Tsunami Selat Sunda

Duka Bulan Desember
di Anyer

Tsunami menyapu pantai-pantai di Banten barat dan Lampung. Ratusan jiwa melayang. Longsor akibat erupsi Gunung Anak Krakatau diduga penyebabnya.

Foto: dok. KKP

Senin, 24 Desember 2018

Acara family gathering PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat di Tanjung Lesung Beach Resort, Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, malam itu, Sabtu, 22 Desember 2018, berlangsung meriah. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Grup band Ibu Kota Seventeen naik ke panggung, menambah malam Minggu di bibir pantai Tanjung Lesung itu semakin semarak dan hidup.

Sang vokalis Seventeen, Refian Fajarsyah alias Ifan, menyanyikan dua buah lagu sebagai pembuka konsernya. Ratusan pegawai PLN yang menonton konser itu pun larut dalam kegembiraan. Tak canggung mereka mengarahkan kamera ponsel merekam suasana. Mereka tak sadar, gelombang tsunami tengah datang bergulung-gulung dari arah laut Selat Sunda.

Benar saja, seketika ombak ganas itu menerjang panggung dari belakang dengan dahsyat. Jarak panggung dengan pantai cuma 3 meter. Panggung yang terbuat dari besi itu langsung roboh ke depan. Beberapa personel Saventeen terempas, tergulung oleh tsunami. Penonton yang berdiri dan duduk di bawah panggung histeris dan kocar-kacir. Setelah itu, tak tahu apa lagi yang terjadi. Video berakhir.

Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah karena belum semua korban dievakuasi."

Video detik-detik tsunami menerjang Tanjung Lesung itu, entah diambil siapa, menyebar pagi keesokan harinya. Nyaris tidak ada tanda-tanda orang sadar bakal terjadi tsunami. Sirene tsunami yang terpasang di Tanjung Lesung, menurut beberapa warga setempat, juga tak berbunyi. "Nggak ada tanda-tanda. Pukul 21.30 WIB air pasang menyapu bersih panggung, yang letaknya sangat dekat dengan laut," kata Yulia Dian, Manajer Seventeen, kepada detikX pada Minggu, 23 Desember 2018.

Menurut Dian, personel Seventeen ada yang berhasil selamat, tapi sebagian lainnya tak menemukan tempat untuk berpegangan. Seventeen akhirnya kehilangan Herman Sikumbang (gitaris), M Awal Purbani alias Bani (bassist), dan Oki Wijaya (road manager). Ketiganya ditemukan sudah dalam kondisi tewas. Sang pembawa acara malam itu, komedian Aa Jimmy, juga tewas. "Alhamdulillah yang lain sudah ditemukan walaupun dalam kondisi luka-luka. Kita ikhlas," ungkap Yulia.

Dampak tsunami di Selat Sunda
Foto: dok. KKP

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN I Made Suprateka menyatakan acara family gathering dihadiri 199 peserta. Dari jumlah itu, 31 orang dinyatakan meninggal, 9 orang hilang, dan 157 orang selamat.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata, hingga Senin, 24 Desember, pukul 07.00 WIB, 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang mengalami luka-luka, dan 57 orang hilang. Selain itu, kerusakan material meliputi 611 unit rumah rusak, 69 hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, dan 420 kapal/perahu rusak. Jumlah korban yang tewas dan luka-luka serta kerusakan material itu terjadi di empat kabupaten, yaitu Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, dan Tanggamus.

"Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah karena belum semua korban bisa dievakuasi, belum semua puskesmas melaporkan korban, dan belum semua lokasi dapat didata secara keseluruhan. Kondisi ini menyebabkan data akan berubah," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya kepada detikX.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, pada Jumat, 21 Desember, pukul 13.51 WIB, pihaknya mengumumkan terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau yang meningkatkan level gunung itu ke status waspada. Sabtu, 22 Desember pukul 07.00 WIB, BMKG memberikan peringatan dini karena adanya potensi gelombang tinggi di Selat Sunda.

Pukul 09.00-11.00 WIB, tim BMKG melakukan uji coba instrumen di perairan Selat Sunda. Tapi, karena hujan lebat dengan gelombang dan angin kencang, tim kembali ke darat. Pukul 21.03 WIB diumumkan terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau. Kemudian tide gauge Badan Informasi Geospasial yang terekam BMKG menunjukkan adanya kenaikan muka air pantai secara tiba-tiba.

"Ada kenaikan air. Kami analisis, kami memerlukan waktu apakah kenaikan air pasang akibat fenomena atmosfer yang ada gelombang tinggi yang ada bulan purnama. Namun ternyata, setelah dianalisis lanjutan, gelombang itu merupakan gelombang tsunami. Jadi tipe pola mirip dengan tsunami di Palu," terang Dwikorita dalam keterangan persnya, Minggu, 23 Desember.

BMKG juga menyatakan tidak ada gejala tektonik yang menyebabkan tsunami. Tetapi erupsi Gunung Anak Krakatau secara langsung atau tidak langsung memicu terjadinya tsunami.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudy Suhendar, yang dihubungi via telepon, mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak 29 Juni 2018 cukup besar. Pada Sabtu, 22 Desember, sejak pukul 13.39 WIB, 17.00 WIB, 19.00 WIB, dan 21.00 WIB, gunung di tengah Selat Sunda itu terus-menerus meletus.

Upaya pencarian korban tsunami di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan 
Foto: Ardiansyah/Antara

Lontaran material gunung api itu sampai di atas ketinggian 1.500 meter. Tapi yang terjadi pukul 19.00 WIB, yang masih bisa dipantau dari Pos Pengamatan Badan Geologi, rata-rata lemparan material hanya 100-300 meter di atas puncaknya. Pukul 21.03 WIB, terjadi lagi letusan, tapi cuaca tak mendukung untuk pengamatan visual. "Jadi yang menyebabkan tsunami itu, Gunung Anak Krakatau ini sifatnya dugaan. Kami bersama BMKG akan melakukan verifikasi di lapangan," terang Rudy.

Senada dengan itu, Deputi Infrastruktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaludin mengatakan pihaknya akan melakukan survei laut untuk membuktikan adanya endapan-endepan material longsor yang diduga menjadi penyebab gelombang tsunami. "Jadi, kalau ada, tadi kan dugaannya kurang-lebih 64 hektare yang longsor," jelas Ridwan.

BNPB meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di pantai karena kemungkinan potensi tsunami susulan masih terjadi. Pasalnya, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berlangsung. Masyarakat diminta menjauh 50-100 meter dari pantai.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut Gunung Anak Krakatau mengalami letusan pertama pada 20 Juni 2016. Letusan merupakan erupsi magmatik yang eksplosif lemah atau strombolian dan erupsi efusif berupa lava.

Letusan yang sama terjadi pada 19 Februari 2017. Sedangkan tahun ini, letusan terjadi pada 29 Juni 2018. Saat itu lontaran material sebagian besar jatuh di tubuh Gunung Anak Krakatau atau kurang dari 1 km dari kawah. Tanggal 23 Juli 2018, lontaran material pijar lava jatuh hingga sekitar pantai atau 2 km dari kawah.

PVMBG mengimbau masyarakat tak mendekat ke Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 km dari kawah. "Masyarakat di wilayah Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami," ujar Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan. Sampai saat ini, BNPB, TNI, Polri, Tagana, dan Tim SAR masih terus melakukan evakuasi korban


Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE