INVESTIGASI

Setengah Babak Pilpres

ADU POPULER ADU TAGAR

Jokowi lebih banyak disebut namanya, namun #2019GantiPresiden paling aktif sepanjang 2018.

Joko Widodo bersama Prabowo Subianto, Foto : Detik.com

Rabu, 26 Desember 2018

Cuitan di Twitter ini baru muncul kemarin malam, 25 Desember 2018. Penulisnya akun @goodfat64169923. Dia menulis persis seperti ini, “Sebagai rakyat indoneisa wajar dong kalua kami curiga Jokowi itu anak turunan PKI,sebab sering ganti ibu, tolong pak @jokowi hilang orasangka curiga kami rakyat Indonesia denagn tes DNA untuk pastikan asal usul bapak.”

Ada dua foto Presiden Joko Widodo, entah foto asli atau palsu, yang dia unggah bersama cuitan dengan banyak salah ketik itu. Sudah ‘berbusa-busa’ Presiden Jokowi, juga ibunya, membantah tudingan bahwa keluarganya ada kaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tapi seperti alang-alang, gosip itu susah betul dibasmi. Hoax soal PKI ini hanya satu dari sekian berita bohong soal Jokowi yang bergentayangan di jejaring sosial media, juga lewat jaringan pesan instan semacam WhatsApp.

Jokowi memang bukan satu-satunya ‘korban’ berita palsu dan kabar bohong. Lawannya dalam Pemilihan Presiden 2019 nanti, Prabowo Subianto, juga senasib. Meski serangan hoax kepada Prabowo tak sebanyak terhadap Jokowi. Menurut penelusuran Kementerian Komunikasi dan Informatika, sejak bulan April hingga Desember 2018 ini ada sekitar 1100 kasus. Sekitar 65 persen berita bohong itu menyerang Jokowi, sementara hoax soal Prabowo kurang lebih 35 persen.

Sayangnya, Kementerian Komunikasi belum tahu siapa penyebarnya dan dari mana sumber berita bohong tersebut. “Kami bekerjasama dengan Markas Besar Kepolisian RI untuk Polri menelusurinya,”kata Ferdinandus Setu, juru bicara Kementerian Komunikasi, beberapa hari lalu.

Satu hal yang menarik, menurut Ferdinan, bukan anak-anak milenial jaman now yang sulit lepas dari ponselnya, yang jadi penyebar hoax terbanyak. Sangat sedikit anak-anak muda milenial yang meneruskan berita bohong terkait Pilpres 2019. “Justru yang paling banyak meneruskan hoax itu orang-orang yang sudah berusia 40 tahunan,” kata Ferdinan.

Joko Widodo
Foto : Rengga Sancaya/Detik.com

Menurut Ferdinan, walaupun namanya berita bohong, tetap saja bisa mempengaruhi dan menggiring opini. Itu lah yang terjadi dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 2016 lalu. Berdasarkan kajian Ohio State University pada Agustus lalu, berita palsu dan kabar bohong punya andil lumayan besar dalam membelokkan dukungan dari Hillary Clinton kepada pihak lawan, Donald Trump.

Berita bohong soal dukungan Hillary terhadap penjualan senjata kepada kelompok teroris ISIS dan buruknya kondisi kesehatan mantan Menteri Luar Negeri Amerika itu misalnya ternyata dipercaya oleh hampir seperlima basis pendukung Partai Demokrat, partai pengusung Hillary. Jadi jangan anggap enteng pengaruh berita bohong.

Mereka yang tidak memahami dan menguasai pun ikut bersuara dan ikut menyebarkan berita bohong'

Makin dekat dengan waktu Pemilihan Presiden 2019 pada April nanti, menurut Direktur Operasional Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Dewi S. Sari, peredaran berita bohong ini makin kencang. Efek buruknya meski tak terlihat, bisa dirasakan. Berita bohong dan ujaran kebencian terkait Pemilihan Presiden mengakibatkan masyarakat terbelah. Di Sampang, Pulau Madura, cekcok soal dukungan pada Pilpres 2019 ini berujung kematian.

“Masyarakat yang tadinya tidak paham politik, karena arus informasi yang begitu cepat dan mudahnya, menjadi mengetahui,” ujar Dewi. Repotnya, berita-berita bohong pun ikut ditelan mentah-mentah. “Mereka yang tidak memahami dan menguasai pun ikut bersuara dan ikut menyebarkan berita bohong. Kondisi itu yang harus kita hadapi sekarang.”

Serupa dengan penelusuran Kementerian Komunikasi, berdasar penelitian Mafindo, kubu Jokowi paling banyak menerima serangan hoax. Kubu Prabowo juga bukan aman dari serangan. Namun kubu Prabowo pun tak bebas dari gempuran berita bohong dan ujaran kebencian.

Penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian ini mati satu tumbuh dua ribu. Begitu sulitnya menghadang hoax dan ujaran kebencian, karena itu lah, Mafindo mengajak masyarakat bersama-sama melakukan ‘Siskamling Digital’. Untuk melaporkan berita bohong atau mengecek kebenaran suatu kabar, masyarakat bisa membuka situs turnbackhoax.id yang dikelola Mafindo atau cekfakta.com.

Prabowo Subianto
Foto : Ristu Hanafi/Detik.com

‘Medan perang’ dalam Pemilihan Presiden RI 2019 kali ini sepertinya memang sudah jauh beda dengan Pilpres 2009 atau Pilpres 2004 saat untuk pertama kalinya Presiden Indonesia dipilih secara langsung. Lima belas tahun lalu, saat Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan kursi Presiden, Facebook masih bayi dan Twitter maupun WhatsApp belum lahir.

Sepuluh tahun lalu, ketika dia kembali terpilih jadi Presiden, pengguna Facebook dan Twitter masih terbatas, sementara umur WhatsApp baru beberapa bulan. Hari ini, siapa tak pakai WhatsApp, Facebook atau Twitter? Per April 2018 lalu, dikutip The NextWeb, jumlah pemakai Facebook di Indonesia kurang lebih 140 juta. Sementara pelanggan Twitter di negeri ini sekitar 6,6 juta. Berdasarkan penelitian We Are Social yang bekerjasama dengan Hootsuite, pengguna WhatsApp kurang lebih sama dengan Facebook.

Jejaring sosial pun berubah menjadi ‘medan tempur’ sengit antara dua kubu yang berebut jadi tuan di Istana pada April nanti. Masing-masing kubu berusaha mempengaruhi opini dan merebut suara lewat Facebook, Twitter, WhatsApp, YouTube, Instagram, dan sebagainya. Ismail Fahmi, doktor lulusan Universitas Groningen, Belanda, dengan Drone Emprit buatannya, memelototi ‘perang siber’ antara dua kubu Calon Presiden sepanjang 2018 ini.

Dalam hal jumlah mention di semua media selama sebulan dari 9 November hingga 9 Desember 2018, Jokowi ‘unggul’ lumayan jauh dari Prabowo. Menurut Drone Emprit, Jokowi disebut hingga 2,8 juta kali, sementara Prabowo 1,7 juta kali. Untuk posisi Calon Wakil Presiden, Sandiaga Uno, ‘unggul’ jauh dari Ma’ruf Amin. Nama Sandiaga disebut 891 ribu, sedang Ma’ruf Amin hanya 110 ribu.

Ismail juga menganalisis percakapan yang melibatkan dua kandidat lewat tagar-tagar terkait masing-masing kubu. Dua tagar yang dikampanyekan kubu Prabowo, #2019GantiPresiden dan 2019PrabowoSandi, ternyata jauh lebih aktif dibanding tagar terkait pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sepanjang setahun terakhir hingga 6 Desember 2018 lalu.

Dua tagar terkait kubu Prabowo itu disebut 6,6 juta dan 1,4 juta kali di semua media. Sementara dua tagar terkait Jokowi, #2019TetapJokowi dan #01IndonesiaMaju, hanya disebut 1 juta kali dan 383 ribu kali. Dalam sebulan terakhir, jika dilihat data DroneEmprit, kubu Jokowi sepertinya makin rajin bermain di jejaring sosial media. #2019GantiPresiden yang terus didengungkan kubu Prabowo memang masih jadi tagar paling aktif terkait Pilpres, namun dua tagar terkait kubu Jokowi, #01IndonesiaMaju dan #01JokowiLagi, menempel di posisi kedua dan ketiga.

“Konten postingan dari kubu Jokowi sangat banyak tentang program dan capaian pembangunan oleh pemerintahan Jokowi selama ini. Sedangkan dari kubu Prabowo, lebih banyak berupa isu-isu tertentu yang kemudian diviralkan secara bersama-sama oleh pasukan siber mereka, dan masih miskin program dan gagasan,” Ismail Fahmi menyimpulkan. Menurut dia, kedua kubu sama-sama memakai robot alias bot untuk memviralkan isu. Hal itu bisa dilihat dari jumlah akun-akun baru dengan follower kurang dari 50. “Drone Emprit menemukan total 37,1 persen akun dengan kurang dari 50 follower pada kubu Prabowo, dan total 46,6 persen akun pada kubu Jokowi.”


Reporter: Gresnia Arela
Redaktur: M. Rizal
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE