INVESTIGASI

Tsunami Selat Sunda

Derita Warga
Kampung Nelayan Teluk

Kampung nelayan di Desa Teluk, Pandeglang, juga diterjang tsunami. Warga tak tahu bagaimana mesti bangkit dari keterpurukan akibat bencana.

Kampung nelayan Desa Teluk, Pandeglang, Banten, setelah diterjang tsunami.
Foto-foto: Irwan Nugroho/detikX

Rabu, 26 Desember 2018

Waryani, 33 tahun, terlihat sangat lelah. Sudah dia bolak-balik gunungan puing bekas terjangan tsunami di ruang tamu dan halaman rumahnya. Namun yang dicari tak kunjung dia temukan. “Saya lagi nyari dokumen-dokumen kalau-kalau masih bisa ditemukan,” katanya kepada detikX di rumahnya, Jalan Pelelangan Ikan, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin, 24 Desember.

Pria berkulit hitam legam itu bersyukur tsunami tak sampai merenggut diri dan anggota keluarganya. Istri, anak, dan kedua orang tuanya selamat. Mereka kini mengungsi ke rumah saudaranya di Saketi, Lebak, Banten. “Pada saat gelombang tsunami terjadi Sabtu (22 Desember) malam itu, kami alhamdulillah masih bisa berlari menyelamatkan diri. Anak (saya) kebetulan sedang pergi ke pasar malam yang agak jauh dari sini,” tuturnya.

Namun ia mengalami kerugian tak sedikit. Rumah Waryani hanya berjarak sekitar 10 meter dari pantai di kampung nelayan itu, berimpitan dengan rumah-rumah tetangga di sepanjang garis pantai yang dekat dengan tempat pelelangan ikan itu. Di depan rumah berukuran sekitar 40 meter persegi itu, dibangun sebuah gudang penampungan ikan.

Waryani, warga Desa Teluk, Labuan, Banten, di rumahnya yang berantakan diterjang tsunami.

Sudah saya siapkan juga untuk jualan pada tahun baru, tapi ya sudahlah.”

Sutiah, warga Desa Teluk korban tsunami

Tak lagi menjadi nelayan sejak lima tahun silam, Waryani memutuskan berjualan ikan. Saat tsunami terjadi, ia baru saja memborong aneka ikan laut untuk dijual kembali. Jualannya itu sudah dimasukkan ke kardus-kardus di gudang. “Ya, kalau kerugian dari ikan sendiri ada sekitar Rp 25 juta. Rencananya, ikan akan dijual ke Pasar Labuan,” tuturnya.

Sayang, gelombang tsunami meruntuhkan gudangnya. Ikan-ikan yang masing-masing jenisnya terbungkus plastik itu terdorong ombak ke rumahnya bersama sampah kayu. Gelombang tsunami setinggi 2 meter itu juga meruntuhkan dinding bagian depan, memorakporandakan seluruh isi rumahnya. “Kulkas untuk menyimpan ikan, televisi, lemari, semuanya hancur,” kata Waryani lemas.

Ia tidak tahu kapan bisa membangun kembali kehidupannya bersama keluarga. Sejak lahir hingga dewasa di kampung nelayan Teluk, baru kali ini tsunami terjadi. Ombak tinggi memang sudah biasa, tapi seringnya cuma mencapai tanggul pantai. Tak berbeda halnya dengan Gunung Anak Krakatau, yang letusan dan lava pijarnya menjadi pemandangan sehari-hari dari depan rumahnya. “Ini mungkin cobaan. Mudah-mudahan pemerintah memperhatikan nasib kami,” harap Waryani.

Sutiah di dapur rumahnya 

Begitupun Sutiah, 51 tahun, tetangga Waryani yang rumahnya berjarak 100-an meter tapi lebih dekat dengan Lapangan Batako. Lapangan itu biasa dipakai untuk kulineran ikan dan nongkrong warga Teluk maupun dari luar daerah. Ibu tiga anak ini belum tahu bagaimana harus bangkit dari kondisinya saat ini pascatsunami. Ia tak punya modal untuk menjalankan kembali usahanya berdagang nasi dan bumbu-bumbu masakan.

“Saya kalau siang jualan nasi di rumah kecil ini. Malamnya jualan bumbu-bumbu di Lapangan Batako. Bumbu, ya, untuk dibeli warga maupun untuk yang jualan ikan bakar,” ucapnya.

Sutiah kini ingin terlebih dulu membereskan rumahnya yang dihantam tsunami. Sama dengan rumah Waryani, rumah sempit yang sehari-hari dia tinggali bersama keluarganya itu hancur di bagian depan. Meja untuk jualan nasi, perkakas masak, dan televisi masih berserakan.

Beruntung, ombak tak menjangkau lantai dua rumah, yang biasa dipakai untuk tidur. Lantai rumah itu terbuat dari kayu dengan tangga nyempil di dekat dapur. “Ya, beginilah kondisinya. Harta benda rusak semua. Bumbu-bumbu dagangan yang saya beli sebelum tsunami hilang entah ke mana. Sudah saya siapkan juga untuk jualan pada tahun baru nanti, tapi ya sudahlah,” tutur Sutiah pasrah.

Tempat pelelangan ikan juga tak luput dari terjangan tsunami.

Ketika tsunami terjadi, Sutiah belum lama membuka lapak dagangannya di Lapangan Batako. Karena malam Minggu, lapangan tersebut ramai pengunjung yang kongko-kongko. Cuaca sedang bagus. Bulan di langit Pandeglang bersinar sangat terang. Tiba-tiba orang-orang melihat ombak tinggi datang dari arah lautan.

Mereka berlari tunggang-langgang, mencari tempat aman. Sutiah memilih berlari masuk ke gang-gang kampung karena berpikir air laut bakal tertahan saat mencapai perkampungan padat itu. Akhirnya Sutiah dan keluarga benar-benar selamat dari amukan tsunami. “Alhamdulillah. Saya sempat terjatuh sewaktu berlari di gang. Lutut saya berdarah,” katanya sambil menunjukkan luka yang dideritanya.

Tak cukup tsunami, warga Desa Teluk harus menanggung derita banjir bandang pada Rabu, 26 Desember, sekitar pukul 09.00 WIB. Banjir itu disebabkan oleh meluapnya Sungai Cipunteun Agung, yang makin diperparah oleh air pasang laut. Banjir setinggi 1-1,5 meter itu merendam sekitar 500 rumah. Namun, pada siang harinya, air mulai surut.


Reporter/Penulis: Ibad Durrohman
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE