INVESTIGASI

TSUNAMI SELAT SUNDA

Saat Tsunami Lumat Keramaian Pasar Malam di Sumur

“Saya melihat dengan sangat jelas ombak setinggi tiang listrik berwarna putih hasil pantulan sinar bulan datang ke arah saya. Saya langsung teriak ‘ada tsunami!”

Foto: Warga Sumberjaya berlarian mendengar air kembali pasang pada Selasa 25 Desember (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Kamis, 27 Desember 2018

Anak bungsu Elan yang baru berusia dua tahun merengek-rengek di pangkuan ibunya. Anak itu rewel minta diantar naik bianglala di pasar malam Desa Sumberjaya. Si ibu kemudian menggendong anak yang sedang menangis itu ke samping rumah untuk menghampiri Elan, yang sedang memperbaiki jaring ikan. Istrinya yang kesal kemudian meminta suaminya itu untuk mengantar si anak ke pasar malam.

Pak anteur wae atuh iyeu budak ti kamari hayang ka koresel. Mumpung libur malam minggu ieu /(Pak, antar saja sih ini anak dari kemarin ingin naik ke koresel (pasar malam). Mumpung libur malam minggu,” kata Elan menirukan ucapan istrinya saat ditemui detikX di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Selasa, 25 Desember 2018.

Elan akhirnya mengiyakan permintaan istrinya itu dan pergi ke pasar malam untuk mengantar anaknya naik bianglala. Pasar malam di Desa Sumberjaya berjarak 300 meter dari bibir pantai dan digelar dua kali dalam setahun, yaitu menjelang Hari Kemerdekaan RI di bulan Agustus dan menjelang tahun baru di bulan Desember.

Di sana, puluhan pedagang menggelar aneka dagangan, mulai dari makanan, minuman, pakaian, aksesori, perabot dapur, hingga alat-alat elektronik. Untuk wahana permainan, selain bianglala, ada juga mandi bola dan komidi putar.

Saat Elan dan anaknya tiba sekitar pukul 21.00, Sabtu 22 Desember 2018, pasar malam itu sudah dipadati pengunjung. Anak-anak yang ingin menaiki bianglala sudah mengantre panjang. Elan ikut antre di barisan paling belakang. Sambil menunggu, ia menyalakan sebatang rokok kretek miliknya. Baru dua kali hisapan, Elan mendengar suara gemuruh kencang seperti suara helikopter.

Elan, warga Desa Sumberjaya Sumur yang menjadi saksi kedahsyatan tsunami 22 Desember 2018 
Foto : Ibad Durohman/detikX

Elan mendongak ke langit, tapi tidak mendapati ada helikopter. Begitu matanya beralih ke arah laut, Elan terperanjat. Dia melihat gelombang setinggi tiang listrik datang menuju daratan. “Saya melihat dengan sangat jelas ombak setinggi tiang listrik berwarna putih hasil pantulan sinar bulan datang ke arah saya. Saya langsung teriak ‘ada tsunami!’” Elan mengisahkan.

Semua orang yang ada di pasar malam itupun lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Elan segera membopong anaknya dan berlari sekencang-kencangnya ke arah dataran tinggi. Kurang dari satu menit tsunami sudah berada persis di belakang Elan. “Saya kejar-kejaran dengan ombak. Sambil lari, saya melihat gerakan ombak di belakang saya. Banyak pengunjung pasar malam tersapu dan tergulung ombak, tidak sempat terselamatkan,” kata Elan penuh kengerian.

Setelah lari sejauh 2 kilometer, Elan akhirnya tiba di dataran tinggi, tepatnya di Desa Citangkil, Kecamatan Sumur. Elan selamat meski tubuhnya penuh luka-luka akibat menabrak rumah dan pepohonan. “Arah lari saya itu ke mana tidak tahu. Pokoknya selurusnya saja ke arah gunung. Saya tabrak rumah, tabrak motor, tabrak pohon. Badan saya penuh luka-luka. Ini kepala saya bocor menabrak pohon kelapa,” terangnya.

Istri dan dua anak Elan lainnya juga selamat. Mereka bahkan lebih dulu tiba di pengungsian Desa Citangkil. Saat tsunami menerjang, ketiganya sedang berada di rumahnya di Kampung Sumur Legon, Desa Sumberjaya. Rumah itu hanya berjarak 200 meter dari bibir pantai. Mereka sedang bersiap-siap untuk tidur.

“Istri saya alhamdulillah selamat. Dia sedang di kamar mau tidur. Terus dia dengar suara ramai orang berteriak ‘tsunami-tsunami’ mereka langsung lari. Istri saya bahkan tidak sempat pakai baju. Dia bertelanjang pakai BH saja,” tambah Elan.

Dede Lukman, warga Kampung Sumur Legon lainnya juga punya kisah tak kalah dramatis. Saat tsunami menerjang, Dede baru saja pulang memasang jaring ikan di dekat Pulau Umang, sekitar 3 Km dari bibir pantai. Dia berangkat melaut pukul 17.00 WIB dan baru sampai di rumah sekitar pukul 20.00 WIB. Selesai mandi dan bersih-bersih, Dede minum kopi dan mengobrol dengan tetangganya di teras depan rumahnya.

Rumah-rumah penduduk yang diterjang tsunami di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang
Foto : Ibad Durohman

Sekitar satu jam mereka bercakap, tiba-tiba terdengar suara bising dari arah pantai. Dede mengira suara itu berasal dari knalpot motor anak-anak muda yang sedang balapan liar di pinggir pantai. Dede akhirnya mengecek ke pantai.

Sesampainya di pantai, tak ada satupun motor atau anak muda yang nongkrong di sana. Matanya lantas tertuju ke laut. Ia terperangah melihat ombak tinggi dan panjang sedang menuju ke daratan. “Laut saya lihat putih semua. Ombak setinggi pohon di Pulau Umang datang menuju daratan. Saya sudah yakin itu adalah tsunami,” ujar Dede kepada detikX di Sumberjaya, Selasa 25 Desember 2018.

Dede cepat-cepat kembali ke rumahnya untuk membangunkan anak-anak dan istrinya yang sudah tidur. Mereka berempat lari menyelamatkan diri ke hutan. Lima menit kemudian gelombang tsunami sudah menyapu rumah Dede dan tetangganya. Mereka semua tiba di pengungisan Desa Citangkil dengan selamat.

Sesampainya di posko pengungsian, Dede teringat akan nasib ayah dan ibu mertuanya. Dia berkeliling posko untuk mencari mereka. Dede menemukan sang ayah mertua dan memeluknya. Tangis ayah mertuanya pecah ketika ditanya keberadaan sang ibu. “Ibu kamu sudah enggak ada. Dia hilang terbawa arus,” kata Dede menirukan ayah mertuanya.

Tanpa pikir panjang, Dede segera kembali ke rumah mertuanya yang juga berada di Sumur legon. Sesampainya di lokasi pukul 23.00 WIB, Dede melihat rumah mertuanya tersapu rata. Dede memanggil-manggil nama ibu mertuanya, tapi tidak ada jawaban. “Saya berpikir, tidak mungkin orangtua saya berhasil selamat dalam kondisi seperti itu.”

Di tengah keputusasaan, Dede kembali ke pengungsian. Betapa gembiranya Dede setelah tiba di pengungsian ia mendapati ibunya ada di sana. Kondisinya selamat meski sekujur tubuh penuh luka. Ibu mertuanya sempat tergulung ombak selama 10 menit hingga jungkir balik. Di dalam air, tubuhnya bertubi-tubi terbentur puing-puing bangunan. Saat tsunami kembali ke laut, dengan sisa-sisa tenaganya, ibu mertuanya meraih ranting pohon dan bertahan hingga air surut.

Dede Lukman berdiri di samping perahunya yang dihempaskan tsunami ke darat.
Foto : Irwan Nugroho/detikX

“Ibu saya setelah itu ditemukan warga dan di evakuasi ke pengungsian. Saat ditemukan ibu saya dalam keadaan telanjang bulat, seluruh pakaiannya tersapu ombak,” kata Dede.

Ayah dan ibu mertua Dede saat tsunami menerjang sedang berada di rumah. Ketika mendengar teriakan warga yang mengabarkan ada tsunami, mereka lari sambil berpegangan tangan. Sayang, ibu mertuanya  jatuh tersandung batu. Belum sempat bangkit, air sudah terlanjur menenggelamkan tubuh nenek berusia 60 tahuan itu. “Ayah saya tidak punya pilihan selain melanjutkan berlari menuju gunung” tutur dede.

Keluarga Elan dan Dede kini mililih tetap bertahan di pengungsian sampai kondisi benar-benar aman. Mereka kembali ke tempat tinggalnya. Apalagi rumah dan seluruh harta bendanya sudah hanyut. “Saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Harta saya tinggal baju yang di badan saja. Uang, harta dan beras semua sudah hilang,” Kata Elan dengan getir.

Pantauan detikX, Selasa 25 Desember, kondisi Sumberjaya memang sangat memperihatinkan. Banyak rumah di Sumur Legon rata dengan tanah. Lokasi pasar malam luluhlantak. Satu-satunya tanda bahwa di lokasi itu pernah ada pasar malam adalah bianglala warna pink yang masih tegak berdiri di kejauhan.

Bupati Pandeglang Irna Narulita bilang Sumur adalah daerah paling parah terdampak tsunami. Ribuan warganya harus mengungsi. "Yang paling banyak meninggal di Sumur. Ada 63 per siang ini. Dan hampir 8.000 orang harus kita tolong," kata Irna di Sumur, Pandeglang, Banten, Selasa, 25 Desember 2018.

Menurut Irna, ada 7 desa yang paling parah kondisinya, antara lain Ujung Jaya, Taman Jaya, Cigarondong, Tunggal Jaya, Kertamukti, Kertajaya, dan Sumberjaya. Lokasi ketujuh desa itu berdekatan dengan kawasan Ujung Kulon.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE