INVESTIGASI

Tsunami Selat Sunda

Terjebak Lumpur
di Pesisir Sumur

Sumur, kecamatan terpencil di tepi pantai bagian barat Pandeglang, paling menderita akibat tsunami. Akses yang berat disertai desas-desus tsunami susulan membuat suasana kacau.

Foto: Irwan Nugroho/detikX

Jumat, 28 Desember 2018

Mendung tebal menggelayut di langit Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur. Hujan deras mengguyur tiada henti sejak pagi. Angin dari pantai berembus kencang. Ombak dengan ketinggian sedang berkejaran dan pecah di tanggul pantai. Bunyi dentuman erupsi Gunung Anak Krakatau terdengar nyaris tiap 30 detik.

Sumberjaya bak desa mati ketika kami tiba menjelang petang, Selasa, 25 Desember 2018, itu. Sisa-sisa empasan tsunami dua hari sebelumnya masih terlihat jelas pada rumah-rumah penduduk, pertokoan, sekolah, dan kantor-kantor yang hancur. Sejumlah perahu nelayan yang rusak teronggok di Tempat Pelelangan Ikan Sumur.

Agak ke utara, sebuah kampung bernama Sumur Legon seolah hilang dari muka bumi. Rumah-rumah penduduk yang berada di barisan depan dekat pantai tinggal lantainya saja. Puing-puing berserakan di sejauh mata memandang.

Satu-dua warga yang selamat dari tsunami menyambangi kembali rumah mereka. Pandangan mereka hampa sekaligus waswas memikirkan kemungkinan tsunami susulan. “Ini rumah nenek saya, habis, nggak ada sisa,” kata Aldo, salah satu remaja setempat, sambil menunjukkan lokasi rumah neneknya saat masih tegak berdiri.

Waktu di Cigorondong, kami sempat panik ada isu tsunami, sekitar pukul 14.00-15.00 WIB. Kami ngacir ke gunung juga.”

Sumarsono Ulik, Ketua Komunitas Suzuki Katana Jimny Indonesia Chapter Bekasi Raya

Suasana kemacetan lalu lintas dari arah Cibaliung menuju Sumur
Foto : Irwan Nugroho/detikX

Sementara itu, ribuan warga lain mengungsi ke posko-posko yang didirikan di tempat yang lebih tinggi dan aman. Bantuan kemanusiaan sudah mengalir pada Selasa itu, baik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kementerian, TNI/Polri, maupun relawan bencana.

Masalahnya, distribusi bantuan untuk pengungsi itu terhambat akses jalan ke Sumberjaya yang sangat parah. Belum lagi ke desa-desa di selatan yang juga tersapu tsunami dengan skala berat, yaitu Ujung Jaya, Taman Jaya, Cigorondong, Tunggal Jaya, Kertamukti, dan Kertajaya. Semua desa itu berdekatan dengan hutan Taman Nasional Ujung Kulon.

Buruknya infrastruktur di pedalaman Banten memang cerita yang sudah sering terdengar. Namun menjangkau daerah-daerah terpencil itu terasa lebih sulit dan payah saat bencana terjadi, seperti tsunami yang melanda pada Sabtu, 22 Desember. Di sisi lain, para korban butuh penanganan cepat.

detikX merasakan bagaimana beratnya medan ke Sumur. Sumur bisa dijangkau melalui dua rute dari Tanjung Lesung. Satu lewat pesisir barat Tanjung Lesung ke arah selatan, dan satunya lagi jalur tengah menuju Cibaliung dan lantas belok ke arah barat.

Siang itu kami memutuskan lewat Cibaliung karena ada kabar sebagian pesisir belum bisa dilalui karena terdampak tsunami. Ada jembatan putus. Berangkat dari Carita, kami mengarah ke selatan begitu tiba di Tanjung Lesung, menyusuri Jalan Nasional III yang relatif lebar dan mulus.

Mobil sedang ditarik ketika melewati lumpur dalam 
Foto: Bahtiar Rifai/detikcom

Jalan mulai terasa bergelombang selepas Pasar Cibaliung menuju Sumur. Aspal jalan selebar sekitar 7 meter itu berlubang di sana-sini. Air hujan menggenang dan membuat jalanan licin. Ditambah kontur daerah yang berbukit-bukit, sebagian kendaraan terengah-engah ketika menanjak. Polisi sempat memberlakukan sistem buka-tutup di sebuah tanjakan cukup terjal, sekitar 2 kilometer selepas Pasar Cibaliung.

Masuk ke Desa Citangkil, kondisi jalan makin tak bersahabat. Truk pembawa bantuan, ambulans, serta mobil-mobil tim SAR, TNI, media, dan milik warga berjalan tersendat. Bahkan lalu lintas macet parah karena banyak kendaraan yang diparkir di pinggir jalan.

Suasana di Citangkil menjadi sedikit kacau ketika orang-orang dari Sumur bergerak ke arah Cibaliung akibat isu tsunami susulan. Baik korban tsunami maupun pendatang naik ke Citangkil dengan sepeda motor dan mobil masing-masing. Kami perkirakan kendaraan yang terjebak kemacetan itu seribuan unit.

Sebagian kendaraan yang hendak menuju Sumur putar arah setelah mendengar teriakan orang-orang bahwa air laut naik. Akibatnya, kemacetan lalu lintas kian parah. Ruas jalan ke arah Sumur baru terasa lengang menjelang kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon Seksi Pengelolaan Sumur, sekitar 1,5 kilometer dari pantai.

Akhirnya kami tiba di Sumberjaya sekitar pukul 17.00 WIB. Dalam kondisi normal, Carita-Sumur, yang jaraknya 92 kilometer, bisa ditempuh dalam waktu tiga jam. Hari itu perjalanan kami dari Carita hingga Sumur makan waktu enam jam, yakni pukul 11.00-17.00 WIB.

Hanya satu jam kami di Sumberjaya, karena hari mulai gelap. Khawatir terjebak sampai pagi bila lewat jalur saat berangkat, kami sepakat kembali ke Carita lewat pesisir barat yang sepi. Sempat muncul rasa khawatir tentang kondisi jalan yang lebih parah karena sebagian belum beraspal.

Lampu penerangan tidak tersedia di seluruh jalur. Di lokasi-lokasi tertentu, situasi gelap gulita. Sinyal telepon di beberapa titik juga blank. Update informasi terbaru mengenai kondisi laut Selat Sunda sudah tentu sulit didapatkan.

Panjang jalan berlumpur itu mencapai 3 km.
Foto : Ivan Fadly/detikcom

Karena itu, bila terjadi tsunami lagi, kami bakal kesulitan mengantisipasi. Namun, berdasarkan informasi terakhir, erupsi Gunung Anak Krakatau belum ada tanda-tanda peningkatan. Kami akhirnya berani menempuh jalur berisiko tersebut.

Sekitar 4 kilometer pertama melewati ruas Sumur-Cigeulis itu, jalan bebatuan menyambut. Setelah itu, jalan pasir padat harus kami lalui dengan kubangan-kubangan besar penuh air hujan. Mobil MPV kami pun anjut-anjutan. “Tolong ada yang mengawasi sisi kiri, ke arah pantai,” kata pengemudi kami, Ivan Fadly.

Setiba di pertigaan menuju Desa Banyuasih, perjalanan berubah menjadi tegang. Rombongan Komunitas Suzuki Katana Jimny Indonesia (SkIn) meneriaki kami agar tak melanjutkan jalan yang lurus karena di depan air sedang pasang. Kami pun cepat-cepat mundur dan bergabung dengan mereka untuk melewati rute lain yang agak memutar.

Namun, rute sepanjang 3 kilometer itu ternyata berlumpur. Sudah tentu mobil MPV tidak cocok untuk medan tersebut. Namun, untuk berputar arah kembali ke Sumberjaya juga tidak memungkinan. Para anggota SKIn meyakinkan kami untuk melampaui tantangan tersebut dan akan memberikan bantuan penuh.

Benar saja, mobil tak kuasa menerjang lumpur. Roda hanya berputar di tempat, sehingga mobil berulang kali harus ditarik. Di beberapa ruas, lumpur begitu dalam, mencapai 30 sentimeter. Besi pengait pada bumper lepas berkali-kali. Hujan mengguyur di tengah upaya mengalahkan medan berat itu. Sementara itu, debur ombak terus terdengar di tengah kegelapan malam, juga dentuman Anak Krakatau. "Injak gasnya, tapi jangan konstan agar membantu traksi," pinta member senior SKIn yang dipangil "Opa". 

Setelah hampir 2,5 jam berjibaku dengan lumpur, akhirnya kami tiba di tempat aman di Desa Banyuasih. Rasa lelah tak terperi lagi. Perih akibat luka ketika berjalan dengan kaki telanjang di kubangan lumpur mulai terasa. Namun, setidaknya kami lega bisa melewati malam penuh ketegangan di pesisir barat Pandeglang itu.

Pemandangan jalan dekat pantai di Desa Tanjungjaya. Tampak bekas terjangan tsunami di sepanjang jalan.
Foto : Irwan Nugroho/detikx

Ketua SKIn Chapter Bekasi Raya Sumarsono Ulik mengatakan medan di pedalaman Banten memang berat. Namun ia dan para anggota SKIn berhasil menembus Sumur pada Minggu, 23 Desember, atau sehari setelah tsunami. Pada Selasa, 25 Desember, itu, ia dan rombongan baru saja kembali dari Desa Cigorondong untuk menyerahkan bantuan.

“Waktu di Cigorondong, kami sempat panik ada isu tsunami, sekitar pukul 14.00-15.00 WIB. Kami ngacir ke gunung juga,” ucap pria yang bisa disapa Den Ulik oleh rekan-rekannya tersebut.

Setelah memasak air dan menyeduh kopi dari peralatan yang mereka bawa, sekitar pukul 23.00 WIB, rombongan SKIn melanjutkan perjalanan. Kami ditawari ikut konvoi lagi bersama mereka. Namun kami memilih menginap seadanya di Kantor Desa Banyuasih dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Setelah Banyuasih, jalan sudah dibeton mulus hingga Desa Tanjungjaya dan Tanjung Lesung.


Penulis/Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE