INVESTIGASI

Tsunami Selat Sunda

Rumah Saya
Tidak Ada Bekasnya

Pemerintah berencana merelokasi rumah warga korban tsunami Banten. Akan dibicarakan setelah masa tanggap darurat selesai.

Foto: Irwan Nugroho/detikX

Minggu, 30 Desember 2018

Sabtu, 22 Desember 2018, pukul sekitar 21.00 WIB, Maskani ditemani istrinya sedang menata barang dagangan di warung tepi pantai miliknya di Kampung Asem, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Pandeglang, Banten. Belum selesai dari pekerjaannya itu, listrik di warung padam. Maskani masuk ke warung dan minta lilin kepada ibunya yang sedang di dalam bersama ayah dan adik perempuannya.

Belum sempat lilin itu dinyalakan, suara gemuruh kencang terdengar dari arah laut. Sang ibu memerintahkan Maskani mengecek asal suara bising itu. Maskani menyingkap tirai yang menutupi jendela warung. Dari balik jendela itu, Maskani melihat gelombang air laut setinggi 10 meter datang menerjang. “Saya teriak tiga kali, ‘Ombak… ombak… ombak…,’” kata Maskani saat ditemui detikX di Posko Pengungsian Cikadu, Desa Tanjung Jaya, Rabu, 26 Desember.

Dengan sigap, Maskani menarik lengan istrinya dan berlari menuju bukit di seberang jalan raya. Sedangkan ayah dan ibunya masih sibuk membangunkan adik perempuannya yang tertidur pulas di kasur. “Belum sempat adik saya turun dari ranjang, ombak lebih dulu menerjang,” kata Maskani berkaca-kaca.

Maskani, warga Desa Tanjung Jaya yang terkena dampak tsunami.
Foto: Ibad Durohman/detikX

Coba kalau dia mau dengar perkataan saya, anak saya tidak akan menjadi… yatim."

Sani Astuti, warga Kampung Cikujang, Desa Tanjung Jaya, Pandegeglang, korban tsunami Selat Sunda

Maskani masih terus berlari. Namun nalurinya mengatakan dia dan istrinya tidak akan sempat mencapai bukit. Akhirnya ia memutuskan berhenti berlari dan berlindung di balik pohon randu. Maskani memeluk erat batang pohon itu sambil menggenggam tangan istrinya. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata, lalu sepersekian detik kemudian, byurr… gelombang air menerjangnya.

Upaya Maskani bertahan di balik pohon randu itu sia-sia belaka. Pohon itu tumbang, tercerabut hingga akar-akarnya. Istrinya pun terlepas dari genggaman tangannya. Tsunami menenggelamkan Maskani. Di dalam air, tubuhnya beberapa kali membentur pepohonan dan puing-puing.

Maskani terseret arus sekitar 150 meter ke arah daratan hingga tubuhnya tersangkut di pohon kembang. Dia tertahan di pohon itu sebelum akhirnya gelombang air berbalik arah menuju lautan. “Ketika air mulai kembali ke arah laut, pohon kembang itu patah. Saya berpegangan pada puing-puing hingga akhirnya saya selamat, tidak terbawa ke laut,” ujarnya mengenang.

Air belum betul-betul surut saat Maskani melihat tubuh istrinya tenggelam tertindih puing-puing bangunan rumah. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Maskani membopong istrinya yang tak sadarkan diri itu. “Saya pompa-pompa dadanya. Dari mulut dan hidungnya keluar air. Alhamdulillah, istri saya sadar. Dia menangis karena linglung,” Maskani bercerita.

Sani Astuti (kanan) harus kehilangan suaminya karena tsunami 
Foto: Ivan Fadly/detikcom

Maskani dan istrinya lalu dievakuasi warga desa yang selamat ke dataran tinggi. Nasib anggota keluarga Maskani yang lain kurang beruntung. Ibu dan adik perempuannya ditemukan tewas terseret ombak hingga 500 meter dari tempatnya semula. Sementara itu, ayahnya saat ini dalam keadaan kritis. “Kedua kakinya patah. Sekujur tubuhnya penuh luka. Saat ini ayah saya masih dirawat di Rumah Sakit Pandeglang,” tuturnya.

Kehilangan keluarga karena diterjang gelombang tsunami tidak hanya dirasakan Maskani. Sani Astuti, warga Kampung Cikujang, Desa Tanjung Jaya, juga berduka kehilangan suami tercinta. Suaminya tewas diterjang tsunami saat sedang memancing ikan di pinggir pantai, tak jauh dari rumahnya.

Sani bercerita, pukul 20.00 WIB, beberapa jam sebelum tsunami menerjang kawasan pesisir Tanjung Jaya, suaminya meminta izin pergi memancing bersama kawan-kawannya. Sani melarang karena firasatnya tidak enak. “Jangan berangkat mancing, Pak. Kasihan. Capek. Mending tidur saja di rumah,” ujar Sani Astuti kepada suaminya.

Suami Sani tidak menggubris perkataan istrinya itu dan tetap pergi memancing. Ibu Sani pun sempat membujuk menantunya itu agar tidak berangkat memancing, tapi dia tetap memaksa pergi. Firasat Sani tidak meleset. Baru satu jam suaminya berangkat, gelombang tsunami menerjang. Sani bersama anak dan ibunya sedang di rumah saat gelombang tinggi itu datang. Ketiganya berhasil menyelamatkan diri ke perbukitan.

Di pengungsian, Sani teringat akan nasib suaminya. Setelah air surut, dia mengajak kakak iparnya menyisir pantai mencari suaminya. Kondisi kampung yang sudah porak-poranda menyulitkan pencarian Sani. “Saya mencari-cari dua hari dua malam sampai ke kampung sebelah, tapi tak kunjung ketemu,” ucap Sani kepada detikX di Posko Pengungsian Cikadu.

Suasana pinggir pantai di Desa Tanjung Jaya, Rabu 26 Desember 2018. Tampak puing-puing bekas terjangan tsunami pada Sabtu, 22 Desember 2018
Foto: Irwan Nugroho/detikX

Hingga akhirnya Senin, 24 Desember 2018, menjelang petang, Sani mendapat kabar dari kakak iparnya bahwa suaminya telah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Suaminya ditemukan di bawah reruntuhan bangunan tak jauh dari lokasinya memancing. “Saya sudah ikhlas. Tapi coba kalau dia mau dengar perkataan saya, anak saya tidak akan menjadi… yatim,” tuturnya.

Kini Sani harus menghidupi anak perempuannya yang baru berusia 3 tahun seorang diri. Sebagaimana Maskani, bukan hanya kehilangan keluarga yang dia cintai, Sani juga kehilangan tempat tinggal karena tersapu ombak. “Rumah saya sudah tidak ada bekasnya. Saya sekarang bingung mau tinggal di mana,” kata Sani sambil menangis.

Desa Tanjung Jaya, berdasarkan pantauan detikX pada Rabu, 26 Desember, sebagian besar rusak parah. Rumah, tempat ibadah, dan fasilitas umum warga yang berada persis di pinggir pantai rata dengan tanah.

Pemerintah rencananya akan merelokasi permukiman di sepanjang pesisir, khususnya yang rawan terdampak tsunami di sepanjang pesisir Anyer sampai Kecamatan Sumur, Pandeglang. Prioritas akan dilakukan pada bangunan yang hancur akibat tsunami.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita di Posko Pengungsian Cikadu, Rabu 26 Desember 2018
Foto: Bahtiar Rifai/detikcom

“Prioritas yang sekarang yang sudah rusak karena bencana tsunami,” kata Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita kepada wartawan di Posko Pengungsian Cikadu Rabu, 26 Desember.

Rencana relokasi ini akan dibicarakan bersama pemerintah daerah dan kementerian terkait. Rencana relokasi dan rehabilitasi ini akan dilakukan setelah periode 14 hari tanggap darurat bencana di Pandeglang selesai. Berapa jumlah permukiman yang akan direlokasi, pemerintah menunggu data dari pemda setempat.


Reporter/Penulis: Ibad Durrohman
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE