INVESTIGASI

‘Perang’ 100 Hari

Gerilya Lewat Kedai Kopi Jokowi

Mesin politik Jokowi-Ma’ruf makin panas 100 hari menjelang Pilpres 2019. Seperti apa strategi kampanye yang mereka rancang?

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 01 Januari 2019

Bangunan berkelir putih yang terletak di Jalan Pakubuwono Nomor 26, Jakarta Selatan, tersebut tampak seperti sebuah coffee shop biasa. Sebuah mesin kopi berjenis single group berikut barista ada di situ.

Namun hanya segelintir penikmat kopi yang berkunjung ke sana saban hari. Kedai itu jadi titik kumpul sejumlah aktivis yang menjadi mesin pemenangan pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Mereka berada di bawah payung Kopi Politik Syndicate (KPS).

“KPS itu perkumpulan aktivis serta kalangan profesional yang mendukung Pak Jokowi untuk memimpin kembali periode mendatang. Komunitas ini sudah setahun berdiri,” kata Direktur Eksekutif KPS Indra Budiman saat berbincang dengan detikX.

Sejauh ini, ujar Indra, KPS sudah memfasilitasi sejumlah deklarasi dan diskusi, baik yang diadakan di Jalan Pakubuwono maupun di Rumah Aspirasi Jokowi-Ma’ruf, Jalan Diponegoro Nomor 46, Jakarta Pusat.

Jokowi temui Ma'ruf Amin di Rumah Situbondo
Foto : Ray Jordan/detikcom


Partai-partai koalisi bertugas memperkuat wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nah, pembagian tugas itu dilakukan dengan sangat cermat, sehingga sisa waktu 100 hari ini menjadi sangat penting buat kita.”

Nah, memasuki ‘perang 100 hari’, ke depan KPS punya gawean besar. Lembaga yang digagas Budi Karya Sumadi ini bertugas memonitor serta melakukan kampanye door to door di tiga wilayah, yakni Jabodetabek, Banten, dan Sumatera Selatan.

“Kita juga menyiapkan tiga orang saksi untuk masing-masing TPS (tempat pemungutan suara) di tiga wilayah tersebut,” sebut Indra.

Untuk keperluan tersebut, KPS sudah menyiapkan lima unit armada untuk mobilisasi. Mobil boks tersebut punya multifungsi. Selain untuk mengangkut logistik, kendaraan tersebut bisa dijadikan panggung untuk kampanye.

Soal pembagian tugas wilayah ‘perang’ menjelang pencoblosan itu, Direktur Relawan dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Maman Imanulhaq, mengakui memang menargetkan provinsi mana saja yang jadi prioritas. Misalnya Ma’ruf, yang dibantu sejumlah relawan seperti KPS, melakukan tugas khusus di wilayah Banten, Jabodetabek, dan Jawa Barat. Sedangkan Jokowi lebih banyak hadir di sejumlah proyek infrastruktur, seperti di Aceh, Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

“Partai-partai koalisi bertugas memperkuat wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nah, pembagian tugas itu dilakukan dengan sangat cermat, sehingga sisa waktu 100 hari ini menjadi sangat penting buat kita,” ujar Maman.

Pembagian wilayah tersebut dilakukan agar kampanye berjalan efektif, sehingga tidak ada penumpukan tokoh di satu tempat. Misalnya Erick Thohir dalam 100 hari ke depan akan bertugas membidik kalangan milenial dan emak-emak. Adapun Maman mengaku berkonsentrasi pada rumah-rumah relawan. “Saya sudah berbagi isu untuk para relawan, misalnya ada isu untuk perempuan, lingkungan, buruh, dan pesantren,” tutur Maman.

Maman Imanulhaq, Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin.
Foto : Adhi Wicaksono/CNN Indonesia

Untuk penggodokan isu dan edukasi buat relawan, Maman memiliki dua basecamp di Jakarta, yakni di Rumah Aspirasi dan KPS. Di dua tempat ini sejumlah isu terhangat dan edukasi politik dilakukan kepada para relawan.

Menurut Maman, gerilya politik lewat kedai kopi menjadi salah satu strategi yang akan dijalankan TKN dalam 100 hari ke depan. “Kopi Politik akan menjadi prototipe untuk diterapkan di daerah-daerah lain, misalnya Cirebon, Kepulauan Riau, Medan, Kebumen, terutama wilayah Jabodetabek. Kita akan berdiskusi dan melakukan edukasi politik lewat kedai-kedai kopi semacam itu,” ujar Maman.

Sementara itu, Direktur Komunikasi Politik TKN Usman Kasong mengatakan pembagian wilayah ‘peperangan’ merupakan hasil evaluasi yang dilakukan di rumah Jusuf Kalla pada Senin, 17 Desember 2018. Malam itu memang sejumlah elite TKN Jokowi-Ma’ruf berkumpul di kediaman Ketua Dewan Pengarah TKN Jusuf Kalla. Sejumlah hal terkait persaingan Pilpres 2019 dibahas dalam pertemuan ini.

Pertemuan itu dihadiri anggota Dewan Pengarah TKN, Pramono Anung, serta ketua umum partai pengusung Jokowi-Ma’ruf, seperti Ketua Umum PPP Romahurmuziy; Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar; dan Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang. Hadir pula Ketua TKN Erick Thohir, anggota Dewan Pengarah TKN Akbar Tandjung, anggota Dewan Pengarah TKN Hajriyanto Thohari, dan seluruh sekjen partai pengusung Jokowi-Ma’ruf.

Budi Karya Sumadi sebagai penggagas Kopi Politik.
Foto : Istimewa

Usman Kasong mengungkapkan, dari pertemuan itu, ada evaluasi hasil kampanye yang telah berlangsung setengah babak, yakni September-Desember. Dan di situ diputuskan, dalam 100 hari ke depan, TKN harus melakukan langkah ofensif atau mulai menyerang, model kampanye door to door, dan pembagian wilayah ‘perang’.

“Kiai Ma’ruf diputuskan berfokus di tiga provinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Nah, Jokowi main di semua wilayah,” ungkap Usman.

Tiga wilayah yang menjadi tugas Ma’ruf memang merupakan wilayah ‘panas’ buat pasangan nomor urut 01 itu. Sebab, ketiga wilayah tersebut saat ini dikenal sebagai basis kekuatan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dengan penetrasi di ketiga wilayah tersebut, TKN berharap setidaknya kubu Jokowi-Ma’ruf bisa menang tipis atau minimal bisa seri. “Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah kita (kuasai)-lah. Kan survei terakhir dari Unair (Universitas Airlangga) kami menang. Tiga wilayah yang dipegang Pak Ma’ruf ini yang justru berat. Apalagi jumlah penduduk dan pemilih terbesar kan di Jawa Barat,” kata Usman.

Sekalipun berat, khusus untuk wilayah Jawa Barat, TKN mematok target menang 70 persen. Sebab, saat ini, berdasarkan survei internal, kubu Jokowi-Ma’ruf mengklaim telah mengantongi 54 persen di wilayah Pasundan tersebut.

Salah satu armada yang bakal digunakan untuk kampanye dan mobilisasi massa
Foto : Deden Gunawan/detikX

Untuk wilayah Banten, Usman juga mengatakan, Jokowi-Ma’ruf menang tipis. Namun dia yakin 100 hari ke depan bisa menang besar. “Karena kan Pak Ma’ruf Amin lahir di sana. Tokoh-tokoh Banten juga sudah digalang oleh Pak Jokowi, seperti keluarga Atut (Ratu Atut Chosiyah),” jelas Usman.

Pengaruh keluarga besar Atut, yang dianggap bisa mendongkrak suara Jokowi-Ma’ruf di Banten, juga disampaikan pengamat politik dari Lembaga Survei Konsep Indonesia Veri Muhlis Arifuzzaman. Menurut Veri, pengaruh keluarga besar Chasan Sochib, orang tua Atut, di Banten masih sangat kuat. Apalagi di situ keluarga besar Atut menjadi pemimpin wilayah, seperti Andika Hazrumy (Wakil Gubernur Banten), Ratu Tatu Chasanah (Bupati Serang), serta Airin Rachmi Diany (Wali Kota Tangerang Selatan).

Keluarga besar Chasan Sochib dianggap berpengaruh besar karena cukup berpengalaman membina dan memelihara jaringan TPS. Bahkan, saat deklarasi mendukung Jokowi-Ma'ruf, menurut Veri, jaringan TPS yang berjumlah 33.101 (secara nasional berjumlah 801.838), mereka hadirkan. Faktor itulah, menurutnya, yang akan membuat perubahan di Banten.

“Di Pilpres 2014, Golkar dan keluarga besar Chasan Sochib mendukung Prabowo. Kini pada Pilpres 2019 sebaliknya. Kita tahu bagaimana Rano Karno, yang selalu unggul di survei, bisa dikalahkan oleh Wahidin-Andika pada pilkada lalu. Itu karena mereka menggarap betul TPS dan cukup canggih menentukan daerah prioritas,” kata Veri. Dengan potensi tersebut, Veri memprediksi, wilayah Banten akan jadi lumbung suara baru bagi Jokowi.

Armada itu dapat digunakan sebagai panggung untuk kampanye
Foto : Deden Gunawan/detikX

Namun, di mata pengamat politik dari Media Survei Nasional Rico Marbun, sekalipun Jokowi-Ma’ruf bisa menguasai wilayah Banten, kemenangan itu tidak cukup berpengaruh pada hasil pemenangan secara nasional. Sebab, Banten secara persentase hanya sekitar 4 persen dari pemilih se-Indonesia. “Kalaupun Jokowi menang di Banten, itu tidak akan membuat suara Jokowi di tingkat nasional mendekati 70 atau 80 persen,” ujar Rico Marbun.

Yang jadi kunci untuk kemenangan Jokowi, imbuh Rico, justru ada di Jawa Barat. Menurutnya, bila berhasil mempertipis kekalahan di Jabar atau bahkan bisa unggul sedikit saja, Jokowi akan menang secara nasional.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE