INVESTIGASI

‘Perang’ 100 Hari

Pola Serangan 5-2 Prabowo-Sandi

Prabowo-Sandi bakal memakai pola serangan 5-2 untuk seratus hari ke depan. Termasuk upaya menguasai jantung lawan. Bakal menang?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 2 Januari 2019

Bangunan bercat oranye yang terletak di Jalan Adi Soemarmo Nomor 299, Klodran, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, kini menjadi pusat komando tim sukses Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Gedung di lahan seluas 6.000 meter persegi tersebut letaknya hanya sekitar 1,5 kilometer dari kediaman Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sumber, Banjarsari, Solo.

Gedung tersebut awalnya merupakan toko swalayan Nova, yang beroperasi sejak 2008. Namun, memasuki 2014, swalayan yang menjual aneka bahan kebutuhan pokok tersebut mulai merugi hingga akhirnya tutup pada 2016. “Sejak 2014 mulai merugi, tapi saya paksakan beroperasi. Akhirnya semakin parah dan terpaksa saya tutup pada 2016,” ujar Agus Sahid, pemilik Swalayan Nova, kepada detikX.

Agus Sahid adalah caleg DPR RI Dapil V Jawa Tengah dari Partai Gerindra. Dan untuk memenangkan capres-cawapres jagoannya, yakni Prabowo-Sandi, dia pun rela meminjamkan propertinya untuk dijadikan pusat komando.

Siapa sangka, sebelum terjun ke dunia politik dua tahun belakangan ini, Agus dan Jokowi berteman baik. Bahkan dia merupakan salah satu pendukung militan Jokowi pada Pilpres 2014. “Jokowi itu teman lama saya, ha-ha-ha…. Saya kenal sejak 1998 saat sama-sama jadi anggota Komite Sekolah SDN 16 Solo. Saya di bagian pengembangan SDM, Jokowi jadi Wakil Ketua Komite Sekolah,” tutur Agus.

Agus Sahid (caleg DPR dari Partai Gerindra pemilik swalayan Nova)
Foto: dok. pribadi


Jawa adalah kunci. Makanya kita akan buat skema 5-2 atau 5 hari di Jawa Tengah-Jawa Timur dan 2 hari mereka (timses) akan di luar Jawa. Itu akan kita lakukan di 100 hari ke depan.”

Karena urusan itu, Agus dan Jokowi sering rapat bersama, bahkan sering kali salat bersama. “Jadi bukan teman di politik, ya. Wong kita nggak politik-politikan dulu. Tapi saya dukung Jokowi, ya, mulai saat ingin menjadi Wali Kota Solo sampai Pilpres 2014,” imbuh Agus.

Pertemuan terakhir Agus dan Jokowi terjadi saat mantan Wali Kota Solo tersebut terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dalam sebuah acara makan bareng. Lantas bagaimana bisa Agus kemudian berpaling? “Kenapa saya pindah haluan, ya saya ingin perbaikan saja. Bukan perubahan, tapi ingin perbaikan,” katanya.

Bisnis swalayan yang lesu dan bangkrut menjadi alasan utama Agus bermain di politik praktis dengan bergabung ke Gerindra dan menjadi calon anggota legislatif dari partai yang dipimpin Prabowo tersebut. Bukan hanya itu. Bekas swalayannya pun direlakan untuk menjadi posko pemenangan Prabowo-Sandi di Solo Raya. Posko tersebut resmi dibuka oleh Sandi pada Minggu, 30 Desember 2018.

“Sudah lama kita sampaikan akan banyak berkegiatan di Jawa Tengah. Dan hari ini, untuk menjawab mobilisasi itu, Seknas, yang berpusat di Cokroaminoto, Jakarta, memutuskan membuka basisnya di Solo Raya,” kata Sandi.

Sandi ingin posko Seknas ini dapat digunakan sebagai pusat koordinasi BPN dengan relawan. Dia berharap posko berfungsi optimal selama 100 hari ke depan.

Posko pemenangan Prabowo-Sandi milik caleg Gerindra Agus Sahid di Solo.
Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Sebenarnya, sebelum bekas swalayan itu dijadikan posko pemenangan oleh BPN pusat, Agus sudah membuka posko pemenangan Prabowo-Sandi di sana sejak awal Agustus 2018. Lantaran lokasinya yang luas dan letaknya yang strategis, bekas swalayan itu kemudian dijadikan BPN sebagai posko.

“Halaman parkir luas, ada meeting room, dan listrik memadai sampai 75 ribu watt. Ada genset juga berkapasitas 200 ribu watt. Dan secara akses, dekat pintu tol dan dari Bandara Adi Soemarmo hanya 10 menit,” kata Agus.

Peresmian posko BPN di Jalan Adi Soemarmo, Solo, merupakan langkah pembuka serangan 100 hari menjelang pencoblosan 17 April 2019. Sebab, kubu Prabowo bertekad akan berperang di wilayah yang menjadi kekuatan dominan Jokowi dan PDI Perjuangan sebagai partai pendukung utamanya.

Wilayah Jawa Tengah, pasca-Reformasi, menjadi ‘kandang banteng’, istilah untuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Di setiap pemilu yang digelar sejak Reformasi, wilayah tersebut menjadi penyumbang terbesar PDI Perjuangan, termasuk saat Pilpres 2014, yang mempertemukan Jokowi-Jusuf Kalla dengan Prabowo-Hatta Rajasa.

Berdasarkan hasil rekapitulasi perolehan suara di Provinsi Jawa Tengah pada Pilpres 2014, Jokowi-JK unggul di 35 kabupaten/kota dengan persentase 66,65 persen atau 12.959.540 suara. Sedangkan pasangan Prabowo-Hatta 33,35 persen dengan jumlah 6.485.720 suara. Persentase terbanyak keunggulan Jokowi-JK di Jawa Tengah berada di Kota Surakarta dengan 84,36 persen atau 336.902 suara. Sedangkan jumlah suara terbanyak disumbang oleh Kota Semarang, yaitu 68,10 persen atau 624.289 suara.

Prabowo-Sandi bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Presiden PKS Sohibul Iman.
Foto: Nathania Riris Michico/detikcom

Untuk Pilpres 2019, menurut Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto, berdasarkan hasil survei internal, Jokowi bisa meraup 70,4 persen suara. “Kecintaan rakyat Jateng pada Pak Jokowi itu tinggi. Saya mengatakan ini dari survei,” kata Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul di Panti Marhaen Semarang, Jumat, 19 Oktober 2018.

Dikatakan Bambang, selain meningkatnya elektabilitas Jokowi di Jawa Tengah, elektabilitas PDI Perjuangan di wilayah itu juga cukup moncer, yakni 38,5 persen dan kader PDI Perjuangan yang memilih Jokowi 95,7 persen.

Namun peta kekuatan yang diungkapkan Bambang tidak membuat gentar kubu Prabowo-Sandi. Dalam 100 hari ke depan, sejumlah tim sukses pasangan capres-cawapres nomor urut 02 itu akan menggempur habis-habisan kandang banteng, yang jadi basis kekuatan PDI Perjuangan dan Jokowi. Begitu pula dengan Jawa Timur, yang didominasi kalangan nahdliyin, yang mayoritas pendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Jawa adalah kunci. Makanya kita akan buat skema 5-2 atau 5 hari di Jawa Tengah-Jawa Timur dan 2 hari mereka (timses) akan di luar Jawa. Itu akan kita lakukan di 100 hari ke depan,” jelas juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, saat berbincang dengan detikX.

Komandan tim pemenangan Prabowo-Sandi di Jawa Tengah akan dipimpin oleh Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah Abdul Wahid dan mantan Menteri ESDM Sudirman Said. Keduanya akan langsung di bawah supervisi Ketua BPN Djoko Santoso.

Anggota Badan Komunikasi Gerindra Andre Rosiade
Foto: Tsarina/detikcom

“Posko di Jateng ini posko pertempuran paling sengit. Kebetulan ada teman Jokowi yang meminjamkan propertinya ke kita. Jadi akhir Januari sudah kelihatan sih kayaknya kita sudah mulai unggul. Kita lihat trennya saja,” ucap Andre.

Andre pun menyebut ‘perang’ 100 hari di Jawa Tengah bak Perang Baratayuda. Sebab, mereka akan menggempur habis-habisan kandang banteng. Ada dua strategi utama BPN Prabowo-Sandi di Jawa Tengah, yakni sosialisasi program-program perbaikan ekonomi, lapangan pekerjaan, dan kebutuhan bahan pokok terjangkau.

Kedua, door to door relawan di seluruh Indonesia. Prabowo-Sandi akan berfokus di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Kita sudah mendapatkan komitmen bahwa SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) akan turun tangan dan full kampanye, khususnya di Jawa Timur. Apalagi untuk wilayah Kabupaten Pacitan, SBY berkomitmen 70 persen untuk Prabowo,” kata Andre.

Hal tersebut dibenarkan Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Menurutnya, Presiden ke-6 RI itu akan berfokus di Jawa Timur. Bukan itu saja. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Soekarwo akan ikut bertempur di seluruh Jawa Timur.

Secara umum, basis pemilih kawasan Jawa Timur dikelompokkan menjadi tiga, yakni Tapal Kuda, yang meliputi daerah Probolinggo hingga Madura; Mataraman, yang meliputi Tulungagung hingga Banyuwangi; dan Arek, yang meliputi Surabaya hingga Malang.

Ketum Gerindra Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

“Pakde Karwo kuat sekali di Mataraman. Pak SBY, AHY, dan Ibas juga kuat sekali di Jatim. Kita sudah uji di Pilkada Jatim. Kita bisa taklukkan dua kekuatan raksasa di Jatim, yakni PKB dan PDI Perjuangan,” tutur Hutahaean kepada detikX.

Untuk pembagian wilayah itu, kata Hutahaean, keempat penggawa Demokrat tersebut akan berbagi peran. “SBY kan kuat di wilayah Tapal Kuda. Pakde Karwo akan menyapu sebagian Mataraman. Jalur tengah nanti akan tandem dengan AHY, sisanya Ibas akan di Pacitan,” beber Hutahaean.

Dengan kekuatan yang dimiliki PD di Jawa timur, Hutahaean menargetkan menang di Jawa Timur sebanyak 55 persen. Dan untuk skala nasional, setidaknya dia berharap suara Prabowo bisa meraih 35 persen saja di Jawa Tengah, di Jawa Barat mendapat 60 persen, serta di Jawa Timur 55 persen. Maka kemenangan diprediksi akan di tangan Prabowo-Sandi.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE