INVESTIGASI

Wedang Jahe Terakhir Bagus

“Sudah dibilang, ‘Hati-hati, Mas, bisa menyebar hoax.’ Tapi Bagus nggak mau dengerin, dan malah disebar-sebar.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 14 Januari 2018

Ketukan pintu pada pukul 03.00 WIB membuat keluarga Nugroho Setiawan, 48 tahun, yang beralamat di RT 9 Dukuh Kulon, Desa Karangasem, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, terkesiap. Begitu pintu dibuka, ternyata tamu yang datang pada Senin, 7 Januari 2019, dini hari itu adalah aparat kepolisian.

Tim Cyber Crime Mabes Polri datang ke rumah Nugroho untuk mencokok Bagus Bawana Putra, tersangka pembuat dan penyebar berita hoax tujuh kontainer berisi total 70 juta surat suara Pilpres 2019 yang sudah tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok lewat media sosial. Nugroho merupakan kakak ipar Bagus.

Bagus sebenarnya baru beberapa jam tiba di rumah sang kakak, Esty Ningrum, 43 tahun, atau istri Nugroho. Dia tiba pada Minggu, 6 Januari, sekitar pukul 22.00 WIB. Setelah mengobrol sejenak dan minum wedang jahe di kediaman Nugroho, yang juga dijadikan rumah pengobatan bekam itu, Bagus pun bergegas tidur di kamar tamu.

“Bagus itu belum lama di rumah saya. Dia kan besok paginya mau nyekar ke makam ibunya. Eh, belum sempat, dia sudah keburu ditangkap dan kembali lagi ke Jakarta,” kata Nugroho kepada detikX melalui telepon, Jumat, 11 Januari.

Bagus Bawana setelah ditangkap polisi
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Penangkapan Bagus, menurut Nugroho, membuat Esty dan dirinya kaget karena Bagus tak pernah cerita sedang ada masalah. Saat menangkap Bagus, polisi sempat menerangkan kasus yang menjerat adik iparnya itu, tapi ia tak langsung dapat memahaminya. “Kalau saya tahu, mungkin Bagus akan saya tegur dari dulu. Mungkin Bagus cuma iseng-iseng kan bisa,” ujarnya.

Sejak ditangkap, Bagus meringkuk di ruang tahanan Bareskrim Mabes Polri. Ia disangka melanggar Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang menyiarkan kabar bohong untuk membuat keonaran di masyarakat. Ancaman hukuman 10 tahun penjara menanti pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu.

Kasus Bagus bermula dari kehebohan di jagat medsos dengan beredarnya kabar ada tujuh kontainer berisi kertas suara yang sudah tercoblos untuk pasangan capres-cawapres nomor 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu, 2 Januari. Kabar itu membesar setelah Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief ikut mencuitkannya di Twitter pada pukul 20.00 WIB.

Kalau saya tahu, mungkin Bagus akan saya tegur dari dulu. Mungkin Bagus cuma iseng-iseng kan bisa."

Nugroho Setiawan, kakak ipar Bagus Bawana Putra

Pramono Ubaid, komisioner Komisi Pemilihan Umum
Foto: Dwi Andayani/detikcom

Andi meminta agar kabar itu segera dicek oleh Komisi Pemilihan Umum. Komisioner KPU, Pramono Ubaid, bilang malam itu, setelah jumpa pers terkait laporan dana kampanye, ada wartawan yang meminta konfirmasi tentang cuitan Andi Arief. KPU tak percaya karena surat suara untuk Pilpres 2019 belum dicetak.

Namun informasi itu berkembang kian liar dan masif. Bahkan Pramono mendapat kiriman pesan suara, tangkapan layar Twitter, dan lain-lain tentang surat suara tercoblos itu. Karena kabar itu dinilai sudah serius, sejumlah komisioner KPU berkoordinasi dengan KPU Jakarta, KPU Jakarta Utara, Polres Pelabuhan, serta dan pihak TNI Angkatan Laut yang bertugas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Namun, setelah dicek, keberadaan kontainer berisi 70 juta kertas suara tercoblos itu ternyata nihil. Alhasil, KPU pun melaporkan kabar bohong yang diduga bertujuan untuk mendelegitimasi KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu itu ke Bareskrim Polri.

“Malam itu juga kita koordinasi dengan Bareskrim. Besok paginya itu hanya laporan resminya. Ini kita dapat informasi seperti ini tolong ditelusuri, ini suara siapa, siapa akun-akun awal yang menyebarkan,” kata Pramono kepada detikX, Rabu, 9 Januari.

Sebelum membekuk Bagus, polisi lebih dulu mengamankan tiga penyebar hoax surat suara tercoblos. Mereka masing-masing ditangkap di Bogor, Jawa Barat; Balikpapan, Kalimantan Timur, dan Brebes, Jawa Tengah. Setelah Bagus ditangkap, seorang guru di Banten juga ditangkap karena ikut-ikutan termakan hoax itu dan menyebarkannya.

Brigjen Dedi Prasetyo, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri
Foto: M Guruh Nuary/detikcom

Dari hasil pelacakan Direktorat Siber Mabes Polri, diketahui orang pertama yang membuat hoax itu adalah Bagus. Setelah membuat pesan suara, Bagus menyebarkannya ke grup WhatsApp dan sejumlah platform media sosial. Setelah unggahannya viral, dia lalu membuang ponselnya dan kabur.

“Setelah (berita itu) viral, tersangka menutup akun, membuang handphone, membuang kartu (SIM card), dan melarikan diri," jelas Direktur Siber Bareskrim Polri Brigjen Albertus Rachmad Wibowo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu, 9 Januari.

Polisi memburu Bagus ke rumahnya di Kota Delta Mas, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Setelah lima hari melakukan pengejaran, akhirnya polisi menangkap Bagus di Sragen. “Kemudian kita bawa ke Jakarta dan kita lakukan pemeriksaan dan melalui scientific investigation, dan suara yang beredar otentik dengan suara Bagus," imbuh Albertus.

Pascapenahanan Bagus, beredar kabar bahwa ia adalah Ketua Umum Koalisi Relawan Nasional Prabowo (Kornas Prabowo), barisan relawan pemenangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal itu buru-buru dibantah oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi dan para elite Partai Gerindra. Kornas Prabowo bukan jaringan relawan yang terdaftar resmi di BPN.

Pada hari ditangkapnya Bagus, tersebar pula dua helai surat berkop Kornas Prabowo, yang berisi pemecatan Bagus dari jabatan Wakil Ketua Umum Kornas Prabowo serta pernyataan resmi Kornas terkait statusnya. Surat pemecatan itu bertanggal 24 Juli 2018 dan ditandatangani oleh Lefiandi Airlangga sebagai Ketua Umum dan Ricky Sebastian Hafiz sebagai Sekretaris Jenderal Kornas.

Ferry Juliantono, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

Dimintai konfirmasi detikX, Ricky membenarkan soal surat pemecatan itu. Karena Bagus sudah tidak lagi di Kornas Prabowo, menurut Ricky, perbuatannya adalah persoalan pribadi. “Kami sudah rapat kemarin. Jadi itu memang pribadi Bagus sendiri, karena dia ketika menyebarkan voice note itu juga sudah dikeluarkan dari Kornas,” begitu kata Ricky kepada detikX, Sabtu 12 Januari.

Ricky memastikan suara dalam rekaman itu memang Bagus. Bagus sempat mengirimkan rekaman itu kepada salah satu pengurus Kornas Prabowo bernama Billy. Billy mengingatkan terkait bahaya penyebaran hoax, tapi rupanya Bagus tak peduli. “Sudah dibilang, ‘Hati-hati, Mas, bisa menyebar hoax.’ Tapi Bagus nggak mau dengerin, dan malah disebar-sebar. Salahnya dia di situ. Itu kebodohan dia,” kata Ricky.

Ricky juga hafal betul dengan kebiasaan Bagus mengirim voice note. Saat masih berkecimpung di Kornas Prabowo, Bagus sering berkomunikasi menggunakan voice note di grup WA karena malas mengetik di ponsel. Dia juga gonti-ganti nomor telepon seluler. “Bagus itu tipikal malas ngetik. Makanya saya nggak heran kalau itu adalah voice note Bagus,” tutur Ricky.

Kornas Prabowo memang tidak terdaftar di BPN karena belum menyerahkan berkas untuk mendaftar. Dengan adanya kasus Bagus ini, persoalan menjadi tambah runyam. Karena merasa ikut dirugikan, Ricky juga mendorong agar kasus hoax ini diusut tuntas, terutama motif dan orang yang menyuruh. “Saya takutnya memang untuk mendelegitimasi KPU. Saya juga tidak setuju kalau begitu, nggak boleh. Kami apresiasi kerja KPU, polisi, dan pemerintah, walaupun kami berseberangan politik,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mencurigai penyebaran hoax itu merupakan bagian dari operasi intelijen. Namun sejauh ini polisi menyatakan perbuatan Bagus merupakan inisiatifnya sendiri. “Nanti didalami lagi ke mana dia larinya, siapa aktor intelektualnya dalam kasus penyebaran berita hoax ini," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Habib Rifa'i

[Widget:Baca Juga]
SHARE