INVESTIGASI

Bagus, Kornas Prabowo, dan Probowaseso

Bagus Bawana Putra membela Prabowo sejak Pilpres 2014. Dipecat karena mendirikan organisasi di luar Kornas Prabowo.

Ilustrator: Edi Wahyono

Selasa, 15 Januari 2019

Bagus Bawana Putra kini seperti yang hilang dan terbuang. Setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran berita bohong alias hoax terkait surat suara Pilpres 2019 sebanyak tujuh kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sejumlah kawan dan koleganya terkesan balik badan.

Bagus pernah berkecimpung sebagai relawan calon presiden Prabowo Subianto, yang berada di bawah naungan Koalisi Relawan Nasional (Kornas) Prabowo. Sebagai seorang relawan, dia banyak menghadiri dan berkumpul dengan para pendukung capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno.

Namun Kepala Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra Habiburokhman mengaku tidak mengetahui adanya kelompok relawan bernama Kornas Prabowo. Bahkan dia merasa kaget, salah satu relawan kelompok itu belakangan diketahui menjadi pembuat dan penyebar hoax 70 juta surat suara sudah tercoblos untuk pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Sebetulnya kita saja kaget. Dan sejujurnya kita baru tahu kalau ada deklarasi setelah kejadian ramai-ramai ini. Waktu tanggal 22 Mei (2018) itu ada deklarasi (Kornas Prabowo). Apalagi saat itu Pak Prabowo belum dapat pasangan. Jadi kita nggak tahu siapa dia (Bagus) dan siapa organisasi ini (Kornas Prabowo),” ujar Habiburokhman kepada detikX, Rabu 9 Januari 2019.

Anhar Tanjung, bekas Sekjen Kornas Prabowo
Foto: dok pribadi


Saya pernah juga memfasilitasi pertemuan Lefiandi dan Bagus untuk bertemu Zulkifli Hasan di Widya Chandra untuk bersilaturahmi pascadeklarasi Kornas.”

Bagus diketahui merupakan bekas Wakil Ketua Kornas Prabowo. Hal ini dikatakan Anhar Tanjung, yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal Kornas Prabowo. Anhar kini aktif di Relawan Macan Asia, yang bermarkas di salah satu ruko di Kalideres, Jakarta Barat.

Dari salinan akta notaris yang diperlihatkan Anhar kepada detikX, Kornas Prabowo didirikan dan didaftarkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) pada Mei 2018. Organisasi ini didaftarkan atas nama Lefiandi Airlangga dan Anhar.

Adapun susunan organisasinya: Ketua dijabat Lefiandi Airlangga, Wakil Ketua Bagus Bawana Putra; dan Sekjen Anhar Tanjung. Kornas Prabowo kemudian mendapat pengukuhan dari Kemenkum HAM pada 9 Juni 2018. Ide pembentukan Kornas Prabowo sendiri muncul pada 2017.

“Ide pembentukan Kornas itu berawal dari saya dan Raja Agung Nusantara. Awalnya sekretariatnya di Tebet, Jakarta Selatan, yakni di Candidate Center, yang merupakan milik Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria,” jelas Anhar saat berbincang dengan detikX di Kalideres, Rabu, 9 Januari.

Seiring dengan berjalannya waktu, sejumlah relawan berdatangan, seperti Lefiandi Airlangga, yang mengaku sebagai pengusaha. Saat datang ke Candidate Center pada April 2018, Lefiandi bersama Bagus. “Makanya kalau ditanya kedekatan saya dengan Bagus seperti apa, ya, saya tidak terlalu dekat karena kami kenal hanya sebatas relawan,” ujar Anhar.

Singkat cerita, Lefiandi dan Bagus kemudian menggelar deklarasi Kornas Prabowo pada 22 Mei 2018 di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Pusat. Sistem kepengurusan pun disusun, yakni ada Dewan Nasional yang diduduki Bagus dan Lefiandi, yang bertugas menyiapkan konsep, pendanaan, dan stategi. Sementara itu, Raja Agung dan Anhar duduk di Koordinator Pusat, yang bertugas membentuk pengurus provinsi hingga kabupaten.

Namun sistem tersebut rupanya tidak berjalan lama. Karena terjadi tumpang tindih kewenangan, akhirnya Dewan Nasional dibubarkan. Rapat pembubaran itu diadakan di Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Juli 2018. Hadir dalam rapat tersebut Anhar, Lefiandi, Bagus, serta Raja Agung.

Bagus Bawana Putra (memakai baju tahanan)
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Dalam pertemuan itu disepakati Dewan Nasional dibubarkan dan dibentuk sistem baru. “Jadi yang dibubarkan itu bukan Kornas-nya, tapi Dewan Nasional-nya. Kornas-nya tetap lanjut, diganti kepengurusannya saja,” terang Anhar.

Namun, dengan alasan rentan konflik, setelah perombakan itu, Anhar memilih hengkang dari Kornas Prabowo yang dia gagas. Dia memilih membentuk relawan Gerakan Milenial Nusantara. Sejak itu pula Anhar tidak lagi punya hubungan dengan Bagus. Dan belakangan dia tahu Bagus dipecat dari Kornas pada Juli 2018.

Saat ditanyakan soal kiprah Bagus di dunia aktivis dan relawan, Anhar mengaku tidak banyak mengetahui. Yang dia tahu, Bagus merupakan rekan bisnis Lefiandi dan sejak 2014 mengaku sudah menjadi relawan pendukung Prabowo.

Bagus juga tidak punya akses ke sejumlah tokoh politik. Itu sebabnya, ketika Lefiandi dan Bagus bertemu tokoh, semisal Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, Anhar-lah yang memfasilitasi.

“Saya pernah juga memfasilitasi pertemuan Lefiandi dan Bagus untuk bertemu dengan Zulkifli Hasan di Widya Chandra untuk bersilaturahmi pascadeklarasi Kornas. Dan bagus sama sekali tidak punya akses ke BPN karena saya yang punya akses, termasuk ke Pak Djoko Santoso,” beber Anhar.

Anhar mengaku melihat Bagus datang ke acara Deklarasi Akbar Relawan Prabowo-Sandi, yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada November 2018. Bagus datang bersama para relawan Kornas Prabowo lainnya. “Namun saya hanya melihat, tidak bertegur sapa,” katanya.

Acara deklarasi dan pembekalan relawan Prabowo-Sandi di Senayan, 22 November 2018
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Anhar baru mendengar kembali kabar Bagus saat ribut-ribut soal berita hoax tujuh kontainer surat suara tercoblos. Dia berusaha menghubungi telepon seluler Bagus, namun sudah tidak aktif. Ternyata bekas koleganya itu sudah ditangkap polisi pada 7 Januari .

Sekjen Kornas Prabowo Ricky Sebastian Hafiz mengaku tak melihat Bagus saat acara relawan di Senayan. Saat itu, sejumlah pengurus daerah Kornas Prabowo hadir, seperti dari Depok dan Tangerang. “Saya nggak tahu Bagus datang apa tidak, dan datang pakai organisasi sendiri atau bagaimana,” kata Ricky kepada detikX, Sabtu, 12 Januari 2018.

Soal posisi Bagus di Kornas Prabowo, Ricky menegaskan yang bersangkutan tidak lagi tergabung di organisasi relawan ini terhitung 24 Juli 2018, sebelum Prabowo-Sandi deklarasi capres. Sejak saat itu pula Ricky mengaku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Bagus.

Bagus dipecat dari Kornas Prabowo lantaran membentuk organisasi lain di Jawa Tengah. Organisasi itu bernama Probowaseso. Organisasi itu dibentuk diam-diam oleh Bagus setelah roadshow Kornas Prabowo ke Jawa, Juli 2018. Probowaseso disebut sebagai organisasi kebudayaan. Namun Bagus memasukkan relawan Kornas Prabowo ke  organisasi barunya itu. “Kita akhirnya mengambil sikap. Karena takutnya dia menyalahgunakan Kornas Prabowo,” kata Ricky.

Selain membentuk Probowaseso yang dianggap sebagai penggembosan, Bagus juga jarang ikut rapat Kornas karena sibuk dengan bisnis kopi dan lada di luar kota. Namun Bagus tidak punya perusahaan. “Jadi saya bingung juga kegiatan-kegiatan dia itu apa,” cetusnya.

Ricky terakhir kali bertemu dengan Bagus saat hendak pulang dari roadshow Kornas Prabowo di Yogyakarta, Juli 2018, itu. Bagus turun di Klaten, Jawa Tengah, yang merupakan kampung halamannya. Setelah itu, dia tidak datang lagi ke rapat Kornas Prabowo sampai akhirnya Bagus mengirim voice note berisi hoax surat suara tercoblos ke salah satu pengurus Kornas Prabowo. Ia menegaskan Kornas Prabowo juga belum terdaftar di Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.

Surat pemecatan Bagus dari Kornas Prabowo
Foto: dok. Facebook Kornas Prabowo

Sementara itu, kakak ipar Bagus, Nugroho Setiawan, bilang Bagus sebelumnya bekerja di Jakarta. Lalu adik iparnya itu menjadi seorang pebisnis. Dia berdagang lada dan kopi. Bisnis itu dijalani dari satu tempat ke tempat lain. Bagus pun menitipkan baju di rumahnya di Tanon, Sragen, Jawa Tengah. Bagus tak pernah mengajak ngobrol soal politik bila bertemu dengan Nugroho.

“Keluarga tidak ada yang tahu. Kalau pas dia mampir ke sini, saya tanya cuma bilang mau jual kopi ke teman pengusahanya. Jadi dia dapat dari mana, ya, dijual sini. Atau kalau dapat rempah di sini, dijual ke Jakarta atau ke mana. Jadi dia itu memang nggak punya perusahaan,” kata Nugroho kepada detikX, Jumat, 11 Januari 2019.

Sejak berbisnis kopi dan rempah, menurut Nugroho, Bagus kemudian menikah dengan seorang perempuan asal Bekasi, Jawa Barat. Bagus dan keluarganya pun sekarang ini tinggal di Kota Delta Mas, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sayang, ketika detikX menyambangi rumah Bagus pekan lalu, tidak ada keluarganya yang bersedia untuk diwawancarai.


Reporter/Penulis: Ibad Durohaman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE