INVESTIGASI

Novel dan Teror ke KPK yang Belum Berakhir

“Dulu yang diserang pegawainya, sekarang pimpinannya langsung. Mereka berharap 1.500 pegawai di KPK ini ciut.”

Ilustrasi: Edi Wahyono 

Kamis, 17 Januari 2019

Teror terhadap penyidik dan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi terus terjadi. Teror dalam bentuk serangan psikis maupun fisik kepada awak lembaga antirasuah itu belum berhenti. Terakhir, teror menimpa dua pimpinan KPK, yaitu Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif. Teror terjadi pada hari dan jam yang sama, Rabu, 9 Januari 2019, sekitar pukul 05.00 WIB.

Teror kepada Agus berawal dari penemuan tas hitam yang tergantung di pagar rumahnya oleh Aipda Sulaeman di Perumahan Graha Indah, RT 04 RW 014, Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat. Sulaeman, yang memang bertugas jaga di rumah Agus, pagi itu hendak membuka gerbang pagar karena sebentar lagi sopir yang akan menjemput Agus datang.

Setelah didekati, tas itu ternyata berisi pipa dengan kabel-kabel dan baterai yang terpasang. Tak mau mengambil risiko, Sulaeman segera menghubungi Polsek Jatiasih. Tak lama polisi datang bersama pasukan penjinak bom, tim Gegana. Mereka langsung mengevakuasi tas yang tergantung itu ke tempat lebih aman, tak jauh dari rumah Agus.

Salah seorang anggota Gegana, Brigadir Kepala Satu (Bripka Satu) I Nyoman Ardana, berusaha menjinakkan bom rakitan itu dengan melepas baterai dan dotenator. Bom terbuat dari pipa paralon yang disambungkan dengan dotenator dan baterai kotak merek Panasonic Neo 9 Vol dengan kabel berwarna kuning, biru, dan oranye. Pipa paralon terisi serbuk semen putih dan paku sepanjang 7 sentimeter. “Iya, itu tersangkut di pagar. Isinya paralon,” ujar Sulaeman.

Bom molotov juga ditemukan di kediaman Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Jalan Kalibata Selatan, RT 01 RW 03, Kelurahan Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Bambang, sopir Laode, pada pukul 05.30 WIB menemukan pecahan botol di lantai dua. Setelah dilihat, ternyata tembok dinding di halaman garasi rumah itu menghitam akibat benda terbakar.

Rumah Wakil Ketua KPK Laode Syarif Dilempar Molotov
Foto: Grandyoz Zafna/detikcom

Laode beserta istrinya sempat ke luar rumah menuju halaman untuk melihat keadaan. Ternyata di halaman masih ada satu bom molotov yang tutupnya ada sumbu dengan api sedikit menyala. Polisi dan tim Gegana pun mendatangi rumah Laode untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.

Sebelumnya, teror sangat fatal menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan, yang disiram cairan kimia setelah menunaikan salat Subuh di Masjid Jami Al-Ihsan, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017. Novel disiram air keras ke wajahnya oleh dua orang tak dikenal dengan mengendarai sepeda motor.

Akibat penyerangan itu, Novel mengalami kesulitan bernapas, mata dan wajahnya menderita luka bakar hingga hampir buta menyeluruh. Setelah operasi di Singapura, penglihatan Novel berangsur-angsur pulih. Namun ia tidak dapat melakukan kerja pemberantasan korupsi. Novel harus menjalani pengobatan selama satu tahun.

“Kami melihat upaya untuk membuat nyali pegawai KPK ciut. Kalau dulu yang diserang adalah pegawainya, sekarang pimpinannya langsung. Mereka berharap 1.500 pegawai di KPK ini ciut,” ujar Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo saat ditemui detikX di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa, 15 Januari 2019.

WP KPK mencatat sudah ada sembilan kali teror yang menimpa pegawai dan pimpinan KPK. Kesembilan kasus itu adalah penyerbuan dan teror terhadap fasilitas KPK, ancaman bom ke gedung KPK, teror bom ke rumah penyidik KPK, penyiraman air keras, ancaman pembunuhan terhadap pejabat dan pegawai KPK, perampasan perlengkapan penyidik KPK, penculikan terhadap pegawai KPK yang sedang bertugas, percobaan pembunuhan terhadap penyidik KPK. Terakhir adalah teror kepada dua pimpinan KPK pekan lalu.

Ada upaya untuk menutupi jejak penyidikan yang tidak sesuai dan menghancurkan kredibilitas korban. Penyidik menyalahkan korban dengan memberikan beban pembuktian kepada korban."

Laporan Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi terkait dengan teror terhadap Novel

Novel Baswedan
Foto: Ari Saputra/detikcom

Menurut Yudi, ia dan para pegawai KPK dari awal sudah menduga bakal ada teror baru pascaserangan terhadap Novel. Apalagi saat ini KPK sedang bekerja mengungkap berbagai kasus korupsi dan menangkapi pelakunya. Ditambah, beberapa waktu lalu pimpinan KPK menyatakan tengah menangani 200 kasus korupsi pada 2019 ini.

Mantan Ketua KPK Abraham Samad menyesalkan belum adanya pelaku teror terhadap KPK yang bisa diungkap kepolisian, termasuk kasus Novel. Sebab, masih berkeliarannya para pelaku dengan bebas membuat eskalasi teror terhadap KPK terus meningkat. “Saya dulu berkali-kali bilang, si Novel disiram air keras. Kalau tidak diungkap pelakunya, kemungkinan besar akan terjadi berikutnya yang menimpa pimpinan KPK. Dan itu terbukti,” kata Abraham kepada detikX melalui telepon, Rabu, 16 Januari 2019.

Terkait dengan teror terhadap Novel, yang April nanti kasusnya bakal berumur dua tahun, Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi merilis laporan pemantauan atas penanganan kasus itu pada Rabu, 16 Januari. Koalisi ini terdiri atas YLBHI, Kontras, LBH Jakarta, ICW, LBH Pers, PSHK Amar, Pusako FH Universitas Andalas, dan Pukat UGM.

Mereka menyatakan kepolisian patut diduga sengaja tidak mengungkap kasus itu. Di samping itu, ada indikasi pengaburan dan upaya mengambangkan pengusutan teror tersebut. Hal itu terlihat dari penghilangan sidik jari pada cangkir yang digunakan pelaku untuk menyiram air keras ke wajah Novel. Lalu ada beberapa CCTV yang tidak diambil penyidik. Polisi pun tidak pernah memberikan keterangan tentang sketsa wajah pelaku yang valid dari dua sketsa yang pernah diterbitkan.

Orang-orang yang sebelumnya disinyalir sebagai pelaku dibebaskan dengan dalih mereka adalah ‘mata elang’ kredit kendaraan bermotor. Pemeriksaan terhadap saksi dilakukan tanpa surat panggilan, tidak terkoordinasi antara Polsek Kelapa Gading, Polres Jakarta Utara, dan Polda Metro Jaya. Hasilnya pun tidak sinkron dan pemeriksaan terhadap para saksi tidak manusiawi karena sangat lama, dari siang sampai pagi.

Yudi Purnomo, Ketua Wadah Pegawai KPK
Foto: Gresnia Arela F/detikX

“Ada upaya untuk menutupi jejak penyidikan yang tidak sesuai dan menghancurkan kredibilitas korban. Penyidik menyalahkan korban dengan memberikan beban pembuktian kepada korban. Kepolisian (juga) memunculkan kesan seolah-oleh penyidikan penyiraman air keras terhadap Novel adalah perkara sulit,” tulis laporan itu.

Kepolisian sebetulnya telah mengetahui adanya serangan terhadap Novel itu sejak awal, namun tidak dilakukan pencegahan, karena ada keterlibatan petinggi Polri. Terkait dengan hal itu, Novel sendiri sebelumya mengungkap dugaan adanya jenderal yang terlibat ini dan telah melaporkannya ke Komnas HAM pada April 2018. Komnas pun telah memasukkan fakta itu ke dalam laporan akhirnya tentang kasus Novel.

Merespons Komnas HAM, Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus Novel pada 11 Januari 2019. Tim ini diketuai oleh Kepala Polda Metro Jaya Irjen Idham Azis dengan wakil Kepala Biro Pembinaan dan Operasional Bareskrim Polri Brigjen Nico Afinta serta jajaran penyidik dan penyelidik polisi. Setidaknya tujuh pakar bakal digaet. KPK dan Novel pun bakal dilibatkan.

Namun Novel, yang juga mantan penyidik kepolisian, menolak bergabung. Sebab, yang dia inginkan adalah tim gabungan pencari fakta (TGPF), bukan tim penyidik. Itu pulalah yang disuarakan Wadah Pegawai KPK. Kendati begitu, Novel tetap menanti hasil kerja dari tim gabungan itu. “Tentu kita semua akan menilai tim ini bekerja dengan benar atau tidak. Indikatornya adalah ini bisa diungkap dengan benar,” kata Novel.


Reporter: Gresnia F Arela
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE