INVESTIGASI

Rumah Samad Dilempari, Johan Budi Ditabrak

“Ada perintah tak tertulis dari pimpinan KPK untuk tidak mengekspos hal-hal seperti itu, (supaya) tidak terkesan kita takut.”

Foto: Ari Saputra 

Jumat, 18 Januari 2019

Teror terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, ibarat puncak gunung es. Teror banyak menimpa penyidik hingga pimpinan KPK saat sedang menggeber sebuah kasus korupsi. Hanya, selama ini teror-teror itu tidak pernah diungkap ke publik oleh KPK.

Bulan Ramadan, Minggu, 29 Juni 2015, sekitar pukul 06.00 WIB, Kompol Apip Yulian Miftah hendak berangkat ke kantor KPK dari rumahnya di Jalan Anggrek Blok A Nomor 160, RT 002 RW 016, Jaya Mulya, Bekasi, Jawa Barat. Namun ia terkejut melihat ban mobilnya yang terparkir di depan rumah kempis. Satu ban depan bagian kanan dan dua ban belakang.

"Hari pertama itu, saya keluar rumah mau kerja, tahu-tahu mobilnya dikempesin, tahunya pagi," kata Apip mengawali cerita aksi teror yang menimpa dirinya tiga tahun silam itu kepada detikX di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa, 15 Januari 2019.

Barangkali memang kempis saja, benak Apip berkata waktu itu. Namun, yang mencurigakan, ada sebelas lubang pada ban depan dan tampak karena ditusuk dengan benda tajam. Dua ban belakang masing-masing ada lima lubang tusukan.

Mobil Kompol Apip yang disiram air keras.

Bom yang ditemukan di depan rumah Kompol Apip


Langsung memukul mobil di sampingnya menggunakan palu. Tapi, karena di depan sekolah banyak orang berkerumun dan berteriak, akhirnya pelaku langsung kabur."

Saat itu juga, Apip menyuruh istrinya melaporkan kejadian itu kepada ketua RT setempat. Saat berada di kantornya pada pukul 21.00 WIB, ia ditelepon istrinya yang mengabarkan mobilnya mengeluarkan asap di kap mesin. Setelah pulang, Apip melihat cat kap mobilnya melepuh. Begitu juga dengan kaca mobil bagian depan. "Mobil disiram air keras pas istri lagi ketemu Pak RW untuk melaporkan kejadian ban dikempesin. Ada yang ngasih tahu," kata Apip lagi.

Keesokan harinya, Selasa, 30 Juni 2015, Apip melaporkan dua kejadian itu ke Polsek Bekasi Selatan. Apip pun meminta bantuan ke kantornya agar rumahnya dipasangi kamera CCTV. Setelah beberapa hari sejak rumahnya dipasangi kamera, kejadian sempat mereda. Namun, Minggu, 5 Juli 2015, pukul 22.00 WIB, saat Apip bersama keluarganya pulang menghadiri acara buka puasa bersama, mereka mendapati benda mirip bom di dekat pagar rumah. Rangkaian kabel, lampu LED, switch, dan kotak tertutup lakban hitam melekat pada benda itu.

Apip lalu menghubungi Kapolsek Bekasi Selatan, yang saat itu dijabat Kompol Agung Budi. Setelah datang, Kapolsek menghubungi tim Jihandak Polda Metro Jaya. Benda itu sulit dipindai dengan mesin X-ray karena dilapisi aluminum foil sehingga tim Jihandak kesulitan mendeteksinya. Setelah dilakukan disposal atau peledakan, baru diketahui bahwa benda itu tak mengandung bahan peledak.

"Siapa pun pembuatnya, bom rakitan ini sepertinya memang sengaja dibuat sedemikian rupa, sehingga tim Jihandak sekalipun akan yakin bahwa benda tersebut adalah benar-benar bom rakitan," kata Apip mengutip kembali keterangan seorang tim Jihandak saat itu.

Mantan Wakil Ketua KPK, Abraham Samad
Foto : Ari Saputra/detikcom

Dari rekaman CCTV, terlihat ada dua orang pria yang meletakkan benda di depan pagar pada Minggu, 5 Juli 2015, pukul 21.20 WIB, atau satu jam sebelum benda itu ditemukan. "Dilihat dari CCTV, tersangka tidak naik sepeda motor. Ada dua orang. Tidak mungkin dari depan kompleks jalan kaki," ujar Apip.

Pelaku, menurut Apip, memang sangat memahami situasi lingkungan di perumahannya. Pelaku juga mengetahui Apip dan keluarganya sedang di luar serta kapan pulang ke rumah. "Ini sudah sangat direncanakan," imbuhnya.

Mantan juru bicara dan Deputi Pencegahan KPK Johan Budi SP juga tak luput dari teror. Kendaraan pribadi Johan dikerjai dengan cara semua baut roda bannya dilonggarkan oleh orang tak dikenal. Bahkan, saat tengah mengendarai sepeda motor, Johan pernah ditabrak pada malam hari.

"Tapi kan kita tidak pernah ekspos itu. Ada perintah tak tertulis dari pimpinan KPK untuk tidak mengekspos hal-hal seperti itu, (supaya) tidak terkesan kita takut, begitu," ucap Johan, yang kini menjadi juru bicara Kepresidenan, kepada detikX, Kamis, 17 Januari 2019. 

Hal yang sama diungkapkan oleh mantan Ketua KPK Abraham Samad, yang sering menerima teror. Samad mengatakan, semasa memimpin KPK, mobilnya pernah diikuti orang tak dikenal. Ia juga banyak mendapat ancaman melalui pesan pendek. Beberapa kali pula rumahnya dilempari orang.

Mantan Jubir KPK Johan Budi SP
Foto : Rengga Sancaya/detikcom

Bahkan setelah dia tak lagi di KPK pun teror masih dialaminya. Tahun lalu, mobilnya, yang tengah membawa istri menjemput anaknya di sekolah di Rawamangun, Jakarta Timur, dipepet dua orang tak dikenal. Pria yang berboncengan dan mengenakan helm itu memukul-mukul bodi mobil Samad.

"Langsung memukul mobil di sampingnya menggunakan palu. Tapi, karena di depan sekolah banyak orang berkerumun dan berteriak, akhirnya pelaku langsung kabur," kata Samad kepada detikX, Kamis, 17 Januari 2019.

Kejadian itu tak dilaporkan Abraham ke polisi. Ia hanya melaporkannya ke bagian keamanan di KPK. Saat itu tim keamanan KPK pun mendatangi dan menjagai rumah Samad. Sampai saat ini dia tak tahu bagaimana tindak lanjut pengungkapan kasus itu. "Mungkin keamanan KPK yang melanjutkannya," ujarnya. 

Samad tak mau berspekulasi soal siapa peneror pegawai, penyidik, dan pimpinan KPK. Yang jelas, tujuan para pelaku atau otak teror adalah ingin memperlambat kinerja pemberantasan korupsi dan melumpuhkan secara total KPK. Juga menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap KPK.

Kalau lembaga antikorupsi Indonesia lumpuh, masyarakat tak akan lagi percaya. Hal itulah yang diyakini akan membuat para koruptor bebas tak dijerat hukuman. "Tapi masyarakat percaya, merasa memiliki KPK. Apa saja yang dialami KPK, masyarakat segera datang berbondong-bondong memberikan dukungan moril," jelas Samad.

Tentunya KPK memiliki manajemen risiko untuk mengatasi masalah keamanan bagi pegawai, penyidik, dan pimpinan KPK. Hanya, negara masih dianggap perlu hadir memberikan perlindungan maksimal lagi. Bila tidak, dikhawatirkan pekerjaan pemberantasan korupsi terhambat.

Koalisi Masyarakat Sipil menyatakan dukungan terhadap KPK
Foto : Gresni Arela F/detikX

Pengamanan di KPK memang sejak dulu ada, tapi masih dianggap minim. Misalnya, satu pimpinan KPK hanya dilindungi satu ajudan. Sekarang sudah ada dua orang, tapi masih belum maksimal. Berbeda dengan pengawalan pada pejabat negara lainnya. Bahkan seorang calon presiden pun dikelilingi banyak pengawal.

"Itu kan tak sebanding dengan KPK. Padahal, menurut saya, yang rentan menghadapi risiko teror itu pimpinan KPK," pungkas Samad.


Reporter/Penulis: Gresnia F Arela
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE