INVESTIGASI

Dapur Debat Capres

Prabowo dan
Saran Kalem
dari Sang Maestro

SBY memberi saran Prabowo untuk kalem saat diserang dalam debat agar mendapat simpati rakyat. Namun penampilan Prabowo yang kurang galak dalam debat perdana pekan lalu justru banyak dikritik.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 22 Januari 2019

Dua hari menjelang debat perdana calon presiden-wakil presiden yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum pada Kamis, 17 Januari 2019, politikus Partai Gerindra Habiburokhman bergegas meninggalkan rumahnya di Jakarta menuju kediaman Prabowo Subianto di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Siang itu ia, yang tergabung dalam Direktorat Hukum dan Advokasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, diminta hadir oleh Sudirman Said selaku Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandi.

Selasa, 15 Januari 2019, Prabowo menggelar simulasi debat di paviliun rumahnya yang luas di Hambalang. Simulasi dimulai pukul 14.00 WIB dan berakhir menjelang Magrib. Sesuai dengan tema debat pertama tentang hukum, HAM, korupsi, dan terorisme, Habiburokhman diminta memberikan update masalah-masalah hukum di Indonesia. “Saya hadir untuk diskusi sedikit-sedikitlah. Kita kasih update info-info yang secara garis besarnya masalah hukum,” kata dia kepada detikX, Jumat, 18 Januari.

Dalam simulasi hari itu, hadir juga mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto dan mantan komisioner Komnas HAM Hafidz Abas, yang digaet BPN sebagai pakar. Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas tak hadir dan menitip catatan untuk Prabowo. Sedangkan dari BPN hadir Sufmi Dasco Ahmad, Ferry Mursyidan Baldan, dan Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dahnil berperan sebagai moderator. Format simulasinya, pertama-tama, Prabowo dan Sandi diberi kesempatan menguraikan permasalahan dan perspektif mereka soal penegakan hukum, korupsi, HAM, dan terorisme. Setelah itu, tim BPN dan para pakar yang hadir memberi masukan serta kritik.

Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam debat perdana Pilpres 2019
Foto: Safir Makki/CNN Indonesia


Pak SBY memberikan masukan kepada Prabowo bagaimana cara baik pidato, untuk pidato kebangsaan maupun untuk debat nanti. Nah, SBY kan sang maestro, sudah dua kali debat dan menang.”

“Pak BW (Bambang Widjojanto) memberikan masukan soal korupsi, Prof Hafidz Abas soal HAM. Intinya, kita diskusi dan saling koreksi. Kalau ada yang kurang, kita tambahkan. Fokus kita adalah logic berpikir dan sinkronisasi waktu yang diberikan KPU,” kata Dahnil kepada detikX, Jumat, 18 Januari.

Habiburokhman, yang sudah menyiapkan ‘amunisi’, lalu membuka data-data dalam simulasi debat itu. Ia meminta Prabowo-Sandi menyerang pasangan capres-cawapres petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin tentang operasi tangkap tangan KPK di dua kementerian dan 36 kepala daerah pada masa kepemimpinan Jokowi. “Saya dan Pak Dasco berusaha meyakinkan beliau soal itu, karena datanya jelas sekali. Ada 32 OTT KPK kepala daerah di era Jokowi. Ketika itu beliau bilang, ‘Oh, iya, iya,’” katanya.

Namun, seperti terlihat dalam debat yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta, Prabowo-Sandi tak banyak menyerang kubu Jokowi-Ma’ruf. Sebaliknya, Jokowi-Ma’ruf selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan lawan. Serangan Jokowi antara lain mengenai keterwakilan perempuan dalam Partai Gerindra, partai besutan Prabowo, yang amat sedikit. Juga tentang caleg-caleg bekas koruptor yang kembali diusung Gerindra dalam pemilihan legislatif.

Sebetulnya, bukan berarti Prabowo-Sandi tak berusaha mengimbangi Jokowi-Ma'ruf. Prabowo, misalnya, mempertanyakan perihal aparat hukum yang tebang pilih terhadap oposisi. Sandi juga mempertanyakan penunjukan aparat hukum yang berafiliasi terhadap partai politik di era Jokowi.

Namun Prabowo-Sandi tidak terlalu ngotot melawan Jokowi-Ma'ruf. Malah, di tengah-tengah jeda debat, Prabowo merasa sudah memimpin debat yang berlangsung dalam enam sesi itu. “Sudahlah, kita sudah leading, jangan kita pojokkan terus,” begitu kata Prabowo kepada tim BPN di Hotel Bidakara, seperti diungkapkan Habiburokhman.

Momen capres Prabowo Subianto joget-joget di debat Pilpres 2019.
Foto: dok. BPN Prabowo-Sandi

Pengamat politik dari Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun pun melihat Prabowo-Sandi kurang agresif dalam melontarkan argumen dan seperti menahan diri ketika diserang kubu petahana. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Prabowo-Sandi kurang bergigi, jauh lebih keras dan menohok pertanyaan yang disampaikan Jokowi-Ma’ruf.

“Seperti ketika Jokowi berani membawa hal yang bersifat pribadi ke ranah publik dalam debat. Pak Jokowi berani bilang bahwa dia tidak punya latar belakang yang melanggar HAM. Itu jelas menyindir Prabowo,” kata Rico kepada detikX, Jumat, 18 Januari.

Salah satu isu terkini terkait HAM adalah seretnya pengusutan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Namun kasus itu juga tidak diangkat oleh Prabowo-Sandi dalam debatnya. Menurut Rico, setidaknya ada dua alasan paslon nomor urut 02 itu setengah-setengah. Pertama, secara psikologis Prabowo terlalu menghormati Jokowi, jadi ada rasa ewuh-pekewuh (sungkan). Kedua, hal itu mungkin merupakan saran dari konsultan politiknya yang ingin memoderasi anggapan bahwa Prabowo keras atau arogan. “Tapi, sayangnya, moderasinya itu overdosis,” tambah Rico.

Sehari sebelum debat yang dipandu moderator Ira Koesno dan Imam Priyono itu berlangsung, Sandi memang sempat mengakui adanya usulan dari BPN agar tampil menyerang. Namun, dirinya dan Prabowo sama-sama menolak. “Kita tidak siapkan khusus untuk menyerang, karena menurut saya ini adalah bukan budaya kita saling menyerang. Budaya kita adalah dengan sopan santun menyampaikan gagasan kita,” kata Sandi, Rabu, 16 Agustus.

Prabowo-Sandi mendatangi rumah SBY di Kuningan, Jakarta Selatan, 10 Januari 2019.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Saran agar Prabowo-Sandi tampil kalem itu rupanya datang dari Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Seperti diketahui, Prabowo-Sandi bertamu ke kediaman Presiden ke-6 Republik Indonesia itu di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 10 Januari. Ketiganya melakukan pertemuan enam mata hari itu.

Prabowo-Sandi meminta masukan kepada SBY dalam perumusan naskah pidato kebangsaan sekaligus acara debat capres-cawapres. SBY memberikan sejumlah masukan dan koreksi terhadap naskah pidato berjudul 'Indonesia Menang' yang dibacakan Prabowo di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, pada Senin, 14 Januari 2019.

“Pak SBY memberikan masukan kepada Prabowo bagaimana cara baik pidato, untuk pidato kebangsaan maupun untuk debat nanti. Nah, SBY kan sang maestro, sudah dua kali debat dan menang,” ujar juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, kepada detikX, Rabu, 16 Januari.

Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean bilang, dalam pertemuan di Kuningan itu, Prabowo menyodorkan kepada SBY naskah pidato kebangsaan yang terang dan blak-blakan. Namun SBY ingin menjaga suasana politik agar tidak terlalu panas. Maka dari itu, ada beberapa kalimat dalam pidato Prabowo yang dikoreksi SBY, meskipun itu sebuah kebenaran dan fakta. 

“Kan tidak semua fakta dan kebenaran itu bisa kita utarakan. Itu dilakukan untuk menjaga kestabilan dan untuk menjaga kesejukan politik kita,” kata Ferdinand kepada detikX saat dihubungi Selasa, 22 Januari.

Dengan tujuan menjaga kesejukan politik itu pula, lanjut Ferdinand, SBY berpesan kepada Prabowo agar lebih lembut saat debat. Masyarakat pun tidak menyukai debat yang terlalu keras. Berdasarkan pengalaman SBY ketika debat 2009 dan 2014, masyarakat justru berempati terhadap SBY yang sering menjadi sasaran serangan lawan debat.

Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean
Foto : Hesti Rika/CNN Indonesia

“Nah, ternyata sekarang ini ada perubahan yang cukup drastis dalam politik. Sebetulnya kita dalam debat kemarin ingin terlihat lebih ramah, lebih bersahabat, santun, ternyata malah menghadirkan kritik yang cukup besar. Ini kita maknai sebagai animo masyarakat yang ingin mengganti presiden itu tinggi sekali. Makanya kita fasilitasi dengan menampilkan sosok Pak Prabowo yang lebih agresif namun tidak brutal. Menyerang lewat fakta,” katanya.

Kendati begitu, Ferdinand menyebut format debat KPU juga mempengaruhi penampilan Prabowo-Sandi yang kurang maksimal malam itu. Waktu yang terbatas membuat Prabowo-Sandi tak punya banyak kesempatan untuk mengelaborasi gagasan. “Makanya saya minta waktu oleh KPU diperpanjang, agar penjabaran capres-cawapres lebih jelas, tidak terpotong-potong seperti kemarin kita tidak mendapat substansinya,” pungkasnya.


Reporter: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE