INVESTIGASI

OBOR RAKYAT PADAM, INDONESIA BAROKAH TERBIT

Pada Pilpres 2014 ada Obor Rakyat, kini terbit Indonesia Barokah. Sementara Obor Rakyat memfitnah Jokowi, Indonesia Barokah memuat berita yang menyudutkan kubu Prabowo.

Foto: Wisma Putra/detikcom

Kamis, 24 Januari 2019

Nama Jalan Haji Kirinkeman di Kampung Rawa Bacang, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, mendadak tenar. Jalan itu menjadi tempat yang dicari-cari aparat kepolisian, TNI, hingga Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Musababnya, di jalan itulah penerbit tabloid Indonesia Barokah mencantumkan alamat kantor redaksinya.

Sudah hampir sepekan ini tabloid itu menjadi sorotan karena memuat berita-berita yang menyudutkan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Banyak pihak yang kemudian menyamakan tabloid itu dengan Obor Rakyat, sebuah terbitan berisi fitnah terhadap Presiden Joko Widodo yang muncul saat Pilpres 2014.

Sarsono, Ketua RT 07 RW 013, Kelurahan Jatirahayu, mengaku sejak Sabtu, 19 Januari 2019, ikut disibukkan oleh urusan tabloid itu. Kabar adanya tabloid itu pertama kali menyebar di acara Musyawarah Lembaga Pengembangan (Muslembang) RT dan RW se-Kelurahan Jatirahayu pada hari itu. Banyak warga yang menerima foto-foto tabloid itu melalui WhatsApp.

Itu bagian dari black campaign yang sudah sama-sama kita sepakati untuk tidak kita lakukan."

Kemudian, bersama pengurus RT lainnya, yaitu RT 01 RW 013, ia memeriksa setiap rumah warga yang mungkin disulap menjadi kantor media berlogo masjid dan kepulauan Indonesia berlatar merah putih itu. Ia juga mencocokkan nama-nama pengelola tabloid Indonesia Barokah dengan daftar nama warga yang berada di buku besar miliknya.

"(Hasilnya) tidak ada. Di sini tidak ada yang memproduksi tabloid. Pokoknya, sekecil apa pun, pasti harus izin RT, begitu. Saya rasa, mohon maaf, ya, nama jalannya saja sudah dipelesetkan. Aslinya Jalan Haji Kirinkeman, bukan Jalan Haji Kerenkemi. Kirin itu anak Pak Haji Keman," kata Sarsono saat ditemui detikX di Jatirahayu, Rabu, 23 Januari.

Jalan Haji Kirinkeman, Kampung Rawa Bacang, Jati Rahayu, Kota Bekasi
Foto: Gresnia Arela F/detikX

Menurut Sarsono, kebanyakan warganya adalah pegawai negeri sipil, pekerja bangunan, buruh pabrik, dan pensiunan. Ia pun sudah memberi keterangan kepada polisi dan Bawaslu yang datang untuk mengumpulkan keterangan. "Rata-rata kerja di luar kampung. Yang anak muda ada yang kuliah dan kerja di luar kota," imbuh Sarsono.

Ketua Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Pondok Melati, Syamsul Bahri, mengatakan informasi soal peredaran tabloid itu sampai ke telinganya pada Jumat, 18 Januari, sore dari Ketua Bawaslu Kota Bekasi Tommy Suswanto. Tak menunggu lama, pada pukul 19.30 WIB, Syamsul bersama timnya langsung menyelidiki ke alamat tabloid tersebut.

"Tanggal 18 Januari saya dikirimi alamat redaksi ini sebagai penyuplai. Setelah itu, saya cari tabloid pun tidak ketemu. Begitu saya ke lapangan, tidak ada. Kantor saya juga nggak jauh dari Jalan Haji Kirinkeman," terang Syamsul, yang biasa disapa Puri atau Ferry, kepada detikX, Selasa, 23 Januari. Syamsul pun mencoba menghubungi nomor kontak pemasaran yang tercantum di tabloid itu, tapi tidak aktif.

"Walaupun penerbitnya masih misterius, Indonesia Barokah sampai saat ini sudah tersebar ke masjid-masjid di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten. Tabloid setebal 16 halaman tersebut dikirim memakai amplop cokelat besar tanpa alamat pengirim. Tabloid itu dikirim melalui layanan PT Pos Indonesia di Jakarta Selatan dan Bekasi.

Di Jawa Barat, ribuan eksemplar tabloid ditemukan di Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, Subang, Ciamis, dan Cirebon (Jawa Barat). Di Jateng, tabloid itu tersebar ke Magelang, Blora, Semarang, Banjarnegara, Sukoharjo, Kebumen, Banyumas, serta Gunungkidul dan Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan di Provinsi Banten, Kota Tangerang, Kota Serang, dan Kabupaten Pandeglang menjadi sasaran tabloid itu. Temuan terbanyak adalah di Tasikmalaya dengan total pengiriman 3.482 eksemplar.

Pada boks susunan redaksinya, tertulis Pemimpin Umum adalah Moch Shaka Dzulkarnaen, Pemimpin Redaksi Ichwanuddin dan Redaktur Pelaksana Khusnaedi. Sementara mukadimahnya menyebut tabloid tersebut merupakan edisi perdana dan rencananya bakal terbit dua bulan sekali. Untuk promosi, edisi perdana yang meluncur pada Desember 2018 itu dibagikan secara gratis.

Sandiaga Uno
Foto: Mochamad Solehudin/detikcom

Tabloid diterbitkan untuk menjawab tantangan Islam di Indonesia yang rentan akan paham-paham radikal. Selain itu, untuk menambah pengetahuan tentang Islam. Sedangkan target pembaca adalah para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), jemaah masjid, pengurus dan pemimpin pondok pesantren, santri, kepala dan guru madrasah, serta para penyuluh agama.

Dalam debutnya, Indonesia Barokah mengangkat isu Reuni 212 sebagai cover story. Judulnya pertanyaan apakah reuni itu untuk kepentingan umat Islam atau politik. Adapun liputan khususnya mengangkat tema strategi kebohongan kubu Prabowo-Sandi untuk menang Pilpres 2019 mendatang. Kabar hoax penganiayaan terhadap bekas anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ratna Sarumpaet, dijadikan salah satu contohnya.

Ada pula boks berisi ulasan Prabowo ditantang untuk menjadi imam salat, yang pernah dilontarkan bekas kader Partai Gerindra, La Nyalla. Sebaliknya, berita mengenai Jokowi seluruhnya bernada positif. Di antaranya tentang Jokowi yang akan membangun 1.000 balai latihan kerja di pondok pesantren. Selain itu, Jokowi memberikan bantuan beasiswa kepada 100 santri melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan alias LPDP.

Tabloid Indonesia Barokah tiba di Solo, 24 Januari 2019
Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Atas dasar itu, Majelis Ulama Indonesia menilai tabloid itu rawan menimbulkan perpecahan di masyarakat. MUI pun meminta agar tabloid itu tidak disebarkan lagi ke masjid-masjid. "Menyudutkan Prabowo tidak boleh, menyudutkan Jokowi tidak boleh. Tabloid itu media, kan bicara tentang kebenaran. Media itu tempat orang mengungkap kebenaran, bukan tempat orang menyudut-nyudutkan. Menurut saya, itu sudah keluar dari jati diri media," kata Sekjen MUI Anwar Abbas, Rabu, 23 Januari.

Sementara itu, calon wakil presiden Sandiaga Uno menganggap tabloid Indonesia Barokah merupakan kampanye hitam terhadap dirinya dan Prabowo. Ia merasa prihatin dan menyerahkan permasalahan itu kepada penegak hukum. "Itu bagian dari black campaign yang sudah sama-sama kita sepakati untuk tidak kita lakukan," ujar Sandi. Namun juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, mengatakan ulasan tabloid itu berisi fakta dengan mengutip pemberitaan media massa. Jadi Prabowo-Sandi tak perlu merisaukannya.

Bawaslu telah berkoordinasi dengan Polri agar tabloid Indonesia Barokah tidak menyebar ke daerah lain. Hal itu juga agar tidak terjadi keresahan di masyarakat. Terkait tuduhan adanya unsur hinaan kepada salah satu paslon tengah dikaji oleh tim Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) dan Dewan Pers.

"Kami minta tidak disebarluaskan atau ditahan biar tidak ada dampak ke publik sebagai bagian dari pencegahan. Kalau ada unsur hinaan dan lain-lain, di situ tentu dikaji Gakkumdu," kata anggota Bawaslu RI, Mochammad Afifuddin.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE