INVESTIGASI

JEJAK PENGIRIMAN TABLOID INDONESIA BAROKAH

Tabloid Indonesia Barokah yang dikirimkan ke seantero Pulau Jawa total berjumlah 260.792 paket. Ongkos kirimnya mencapai Rp 1,4 miliar.

Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA Foto

Sabtu, 26 Januari 2019

Tabloid Indonesia Barokah dikirim melalui jasa pengiriman PT Pos Logistik Indonesia, anak perusahaan PT Pos Indonesia (Persero). Tercatat ada sekitar 260.792 paket amplop kiriman, yang operasional pendistribusiannya melalui Kantor Pos Jakarta Selatan di Jalan RS Fatmawati, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Ratusan ribu eksemplar tabloid ber-tagline Membumikan Islam Rahmatan Lil’alamin disebar ke seluruh daerah di Pulau Jawa.

PT Pos Indonesia menyatakan, tabloid Indonesia Barokah edisi Desember 2018 itu dikirim dengan jenis layanan Porto Dibayar Tunai. Artinya, paket kiriman besar itu menggunakan sistem pembayaran tunai tanpa perangko dan hanya satu resi. Ada dua kali pengiriman tabloid itu yang dialamatkan ke masjid-masjid dan pondok pesantren.

“Pertama tanggal 10 Januari 2019. Kedua, tanggal 15-16 Januari 2019. Jumlah total kiriman sebanyak 260.792 pack, berat paket 2.000 gram per pack,” ucap Manager Public Relation PT Pos Indonesia, Tita Puspitasari, dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikX, Jum’at, 25 Januari 2019.

Pihak Kantor Pos Jakarta Selatan menyebut, paket tabloid itu awalnya diterima PT Pos Logistik Indonesia, yang beralamat di Gedung Pos Ibukota, Jalan Lapangan Banteng Utara, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Setelah itu, semua barang dikirimkan ke kantor Pos Jakarta Selatan untuk didistribusikan.

Kantor Pos Jakarta Selatan, Jalan RS Fatmawati, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Foto : Gresnia Arela F

“Pegawai Pos Logistik yang bawa ke pusat, kita cap dan kirim. Periode pengirimnya, ya, itu tadi seperti yang ada di rilis,” ungkap Kepala Kantor Pos Jakarta Selatan, Hayudi Yulianto, saat ditemui detikX di kantornya, Sabtu, 26 Januari 2019.

Jumlah total kiriman sebanyak 260.792 pack, berat paket 2.000 gram per pack."

Hayudi bilang, Porto Dibayar Tunai merupakan paket kiriman besar. Setelah dicap, paket disortir per kecamatan, setelah itu disortir lagi dan di-backing atau dibungkus dengan pelapis kantong berdasarkan daerah alamat yang akan dituju. Layanan ini sifatnya tak terbukukan sehingga tidak dapat dilacak dalam sistem track and trace PT Pos Indonesia. Berbeda dengan porto dibayar dengan perangko, yang akan tercatat.

Pihak tabloid Indonesia Barokah sebagai pengirim menuliskan alamat masjid dan pondok pesantrennya yang akan dituju. Semua paket dimasukkan ke dalam amplop tertutup. “Kita kirim lah, backing dan langsung jalan. Kiriman itu tertutup. Saya saja sampai kaget, ini kok jadinya kayak begini?” imbuh Hayudi dengan heran.

Ada standard operating procedure (SOP) baku setiap perusahaan jasa kurir yang tidak boleh membuka paket kiriman, karena sifatnya kerahasian surat itu sendiri. Dan semua ini dilindungi oleh aturan Undang-undang Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos.


Kepala Kantor Pos Jakarta Selatan, Hayudi Yulianto -- Foto : Gresnia Arela F/detikX

Hayudi tak tahu siapa dan alamat pengirim tabloid itu, karena proses awal berada di PT Pos Logistik. Menurut dia, biaya pengiriman paket antara Rp 3.000-37.000. Namun, ia menolak menyebutkan total nilai pembayaran pengiriman tabloid tersebut. "Ya, perkirakan sendiri saja," katanya.

Sedangkan Kantor Pos Tulungagung, Jawa Timur, yang bisa melihat data ongkos kirim barang dari pusat mengungkap, pembayaran tunai semua kiriman tabloid itu mencapai Rp 1,4 miliar.

“Total dari pendapatan yang diterima (dari pengirim) Rp 1,458 miliar, itu nasional,” kata Kepala Kantor Pos Tulungagung, Ardiantha Saputra, kepada wartawan di kantornya, Jumat, 25 Januari 2019.

Dari sisi produksi sendiri, tabloid Indonesia Barokah cukup fantastis. Dari temuan di daerah, satu amplop besar cokelat berisi tiga eksemplar tabloid. Jika dikalikan dengan 260.792 paket, maka hasilnya adalah 782.376 eksemplar. Jumlah itu melampuai produksi media cetak manapun di Indonesia. Rata-rata perusahaan media cetak hanya mencetak 50.000-200.000 eksemplar setiap edisi. Dan tak semua percetakan ada yang bisa mencetak sebanyak itu dalam waktu singkat.

Dari informasi yang diperoleh detikX, untuk ongkos cetak tabloid dengan berbagai format, yaitu delapan halaman, 12 halaman, dan 16 halaman, itu berbeda-beda. Ongkos cetak di perusahaan percetakan kelas menengah saja, untuk tabloid format 18 halaman dengan kertas HVS 70 gram full colour harganya Rp 16 juta (5.000 eksemplar), Rp 29 juta (10.000 eksemplar), Rp 41 juta (15.000 eksemplar) dan Rp 67 juta (25.000).

Bila diambil harga tengah saja, Rp 2.500 per eksemplar, maka biaya untuk mencetak tabloid Indonesia Barokah itu mencapai Rp 1,96 miliar.

Tabloid indonesia Barokah tiba di Brebes, Jawa Tengah
Foto : Imam Suripto/detikcom

Indonesia Barokah tak hanya berbentuk tabloid, tapi ada versi online-nya, yaitu www.indonesiabarokah.com. Mereka juga menggunakan berbagai channel media sosial seperti Youtube, Facebook, Twitter dan Instagram. Untuk media online dan channel Youtube sama, tak mencantumkan identitas pengelolanya.

Sampai saat ini, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) belum menemukan otak penyebarluasan tabloid yang alamat redaksinya di Kota Bekasi, Jawa Barat, fiktif itu. Sedangkan Dewan Pers menyatakan, nama Indonesia Barokah tidak ada dalam data perusahaan pers di Indonesia. Dan para pengelola di boks susunan redaksinya juga tidak ada dalam daftar kompetensi jurnalis.

Yang jelas, kubu pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah melaporkan tabloid yang isinya dinilai menyudutkan paslon 02 itu ke polisi. “Kami harus pastikan langkah hukum ini bisa ditindak dengan cepat dan kepolisian bisa tangkap siapa pelaku dan aktornya dari penyebaran tabloid itu,” tegas Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Jumat, 25 Januari 2019.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar tabloid yang sudah tiba di masjid-masjid dibakar. JK menekankan untuk tidak menjadikan masjid sebagai tempat penyebaran berita bohong atau hoax. "Jangan masjid jadi tempat bikin hoax macam-macam. Jangan diadu," ujar JK yang juga Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin ini.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE