INVESTIGASI

Tragedi Dukun Santet Banyuwangi

Setelah Si Kumbang Hitam Pulang Ke Sarang

Ini adalah kisah Soemarno, korban pertama pembantaian dukun santet
yang merebak di Banyuwangi pada 1998.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 5 Februari 2019

Pada Rabu siang, 4 Februari 1998, Taufik Kurniawan, kala itu ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, sedang asyik bermain interkom di rumah tetangganya, Sukir. Belum lama ia interkoman dengan temannya, dari arah barat rumah Sukir terdengar sayup-sayup suara orang berteriak, “Si Kumbang Hitam datang, Si Kumbang Hitam datang.”

Orang itu berteriak lantang sambil diboncengkan tukang ojek. Semakin dekat, Taufik terkejut ketika melihat orang itu adalah Soemarno, sosok yang oleh para warga Dusun Sumberwadung, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sedang diburu karena dianggap sebagai dukun santet.

“Pak No (Soemarno) itu kembali lagi pulang ke Sumberwadung setelah sebulan lebih berguru ke Banten,” ujar Taufik, yang kini menjadi Kepala Dusun Sumberwadung, saat ditemui detikX di Kantor Desa Kaligondo, Kamis, 24 Januari 2019.

Tak berselang lama setelah kepulangannya itu, Soemarno tewas dibantai warga. Tewasnya Si Kumbang Hitam itu oleh beberapa pihak disebut sebagai pembuka atas rentetan pembantaian terduga dukun santet yang melanda Banyuwangi, Jember, dan Malang sepanjang Februari-September 1998.

Santet atau ilmu sihir memang sejak lama hidup di tengah-tengah budaya masyarakat Osing, kelompok etnis yang merupakan penduduk asli Banyuwangi. Perkara santet biasanya diselesaikan dengan sumpah pocong, yang difasilitasi oleh ulama setempat di masjid-masjid.

Taufik Kurniawan, saksi mata pembunuhan Soemarno, pria yang diduga dukun santet di Banyuwangi pada 1998
Foto: Ibad Durohman/detikX

Namun beberapa kali pula terjadi kekerasan yang membuat terbunuhnya lebih dari satu orang dukun santet dalam waktu yang bersamaan. Antropolog dari Universitas La Trobe, Australia, Nicholas Herriman, dalam bukunya, Negara Vs Santet: Ketika Rakyat Berkuasa, mencatat, sebelum tahun 1998, setidaknya terjadi tiga kali 'ledakan pembunuhan' terhadap dukun santet di wilayah ujung timur Pulau Jawa itu.

Warga kan ada juga yang mengejar pakai sepeda motor, tapi kalah cepat."

Pertama, pada masa-masa ketidakpastian atau revolusi tahun 1945-1946, di mana ada dua dukun santet yang dibunuh ketika Belanda datang. Kedua, bersamaan dengan pembunuhan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965-1966. Meski tak tercatat sebagai anggota PKI, sejumlah dukun santet dibunuh lantaran dinilai mengancam keamanan masyarakat.

Ledakan pembunuhan ketiga adalah pada saat operasi pembunuhan penjahat atau dikenal dengan penembakan misterius (Petrus) tahun 1982-1983. Sementara di daerah lain target Petrus adalah benar-benar bromocorah, di Banyuwangi, kata Herriman, yang ditarget sebetulnya adalah mereka yang diduga sebagai dukun santet.

Pada 1998, mereka yang dituding sebagai dukun santet kembali menjadi korban kekerasan yang dilakukan warga. Pembantaian makin merajalela setelah Bupati Banyuwangi saat itu, Turyono Purnomo Sidik, menerbitkan radiogram dua hari setelah tewasnya Soemarno.

Radiogram diterbitkan Purnomo agar jajaran di bawahnya mencegah sedini mungkin terjadinya perusakan akibat kasus dukun santet. Namun, radiogram itu berujung pada pendataan orang-orang yang diduga menguasai ilmu hitam. Bocornya nama-nama mereka menjadikan suasana tambah mencekam. Bukan hanya dukun santet, yang juga jadi korban antara lain petani, kiai, dan guru mengaji.

Kembali ke cerita Soemarno, penyebab dibunuhnya pria itu terjadi beberapa bulan sebelumnya. Saat itu di pengujung 1997, warga Sumberwadung resah oleh banyaknya ternak sapi milik warga yang mati secara misterius. Warga meyakini ternak yang mati itu adalah kelinci percobaan dari dukun santet yang sedang melatih ilmu hitamnya.

Salah satu foto penangkapan dan penganiayaan terhadap dukun santet di Banyuwangi
Foto: repro buku Geger Santet Banyuwangi

Kecurigaan mengarah pada Soemarno, pendiri sebuah perguruan bela diri di desa, yang oleh warga dianggap sakti dan memiliki ilmu kanuragan. Dalam beberapa kesempatan, Soemarno kerap unjuk kesaktian. Taufik mengisahkan pernah dalam suatu waktu Soemarno mematikan listrik di seluruh dusun ketika sedang ada hiburan layar tancap. “Itu banyak yang menyaksikan. Setelah listrik dimatikan, dia bisa menyalakan lagi,” kata Taufik.

Tudingan warga kepada Soemarno sebagai dukun santet juga diperkuat oleh pengakuan Jembling, mantan murid kesayangan Soemarno. Untuk lebih meyakinkan, Jembling bahkan mendemonstrasikan ilmu yang telah diajarkan gurunya itu ke sebatang pohon kelapa. Pohon kelapa itu konon sampai layu, menghitam, lalu mati.

Belakangan, Jembling diketahui menyimpan dendam kepada Soemarno karena persoalan bisnis cabai dan lalu keduanya terlibat perselisihan. Hingga akhirnya Jembling memberanikan diri melaporkan aktivitas mantan gurunya itu kepada warga. Warga yang telanjur tersulut emosinya akhirnya datang berbondong-bondong menuju rumah Soemarno didampingi oleh Zubaidi, tokoh agama setempat.

Kepada Soemarno, Zubaidi memberikan dua pilihan: pergi dari desa atau melunturkan seluruh ilmunya. Soemarno menolak mentah-mentah dua opsi itu. Beberapa waktu kemudian, eskalasi kebencian warga terhadap Soemarno kian menjadi. Soemarno, yang merasa terancam, memilih mengevakuasi diri ke rumah gurunya di Banten sambil berlatih ilmu kebatinan.

Sebulan kemudian, 4 Februari 1998, Soemarno kembali ke Sumberwadung dan justru dilihat warga kian jemawa. Nasib tragis akhirnya menimpa Soemarno. Belum satu jam Soemarno beristirahat di rumah, ratusan warga dusun dari dua rukun tetangga sudah mengepung. Kalah jumlah, Soemarno melarikan diri ke arah kantor kecamatan. Menurut beberapa kesaksian warga, Soemarno berlari dengan sangat cepat dan tidak wajar. “Warga kan ada juga yang mengejar pakai sepeda motor, tapi kalah cepat,” kata Taufik.

Di dekat stasiun kereta api Sumberwadung, sekitar 5 kilometer dari rumah Soemarno, massa yang sudah membekali diri dengan aneka rupa senjata akhirnya berhasil melumpuhkannya. Tidak ada perlawanan berarti dari Soemarno. Ilmu kebal yang ia pelajari dari Banten sia-sia belaka. Di tengah siang bolong itu, Soemarno tewas mengenaskan.

Dusun Sumberwadung, Desa Kaligondo (yang ditandai merah) -- Foto : googlemaps

Setelah dieksekusi, jasad Soemarno dibawa kembali oleh warga ke desa untuk dimakamkan. Ketika peristiwa itu terjadi, istri Soemarno sedang mengandung anak kedua. Karena alasan keamanan, setelah kejadian tersebut, istri Soemarno melarikan diri ke Malaysia dan hingga kini belum kembali ke kampung halamannya.

Jembling sendiri hingga hari ini masih tetap tinggal di Sumberwadung. Dia mengganti namanya menjadi Rahmat Hidayat setelah dia bersedia dirontokkan ilmunya oleh Zubaidi. Pada saat eksekusi terjadi, Jembling tidak terlibat. Dia diamankan warga ke Pondok Pesantren Sumberwadung. Sehari-hari Jembling saat ini bekerja sebagai buruh tani. Jembling menolak diwawancarai detikX.

Seluruh warga desa yang terlibat dalam pembunuhan Soemarno akhirnya diadili. “Warga sangat banyak yang ditangkap, ada dua RT itu ditangkap semua. Jadi sepi tuh di sini, lelakinya ditangkap polisi semua. Hukumannya bervariasi. Paling lama dipenjara itu 2 tahun,” pungkas Taufik.

Suhalik, anggota tim lokal yang membantu penyelidikan Komnas HAM terkait kasus pembantaian dukun santet ini, mengakui peristiwa pertama pembunuhan dukun santet terjadi di Kecamatan Genteng. "Awal mula pembantaian dukun santet itu bulan Februari, setelah Pak Harto turun serentak itu. Puncaknya di bulan September 1998. Itu terus meluas. Awal kejadian dukun santet itu di Genteng,” katanya kepada detikX.

Di Kecamatan Genteng, berdasarkan buku Geger Santet Banyuwangi terbitan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), jumlah korban pembantaian dukun santet berbeda-beda. Menurut versi Tim Pencari Fakta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, korban lima orang. Menurut versi Kompak sembilan orang. Sedangkan versi pemda Banyuwangi hanya dua orang.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE